Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
121. Tadi ada tamu


__ADS_3

“Baiklah kalau begitu, saya permisi. Maaf sudah mengganggu ketenangan keluarga Tante,” ucap Firly dengan lesu.


Dia berharap apa yang dikatakannya akan membuka pemikiran Hanif dan membuat pria itu memikirkan kembali pertunangan itu. Firly pun pergi meninggalkan rumah keluarga Hanif. Sementara itu, di ruang tamu keadaan masih tampak tegang.


“Ma, percaya sama aku. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku tidak mungkin bisa melakukan hal sejauh itu. Kinan juga bukan wanita gampangan,” ucap Hanif.


Pria itu mencoba menjelaskan pada mamanya. Dia juga sangat mengenal Kinan, tidak mungkin wanita itu seperti itu. Pasti hanya fitnah yang dibuat Firly.


“Iya, Mama tahu. Mama juga merasa ada yang aneh. Tadi Aisyah hubungi Mama, katanya dia saat ini sedang ada di salon bersama dengan Kinan, jadi Mana mungkin dia berada di dua tempat yang berbeda,” ujar Mama Aida.


“Jadi Aisyah sedang mengajak Kinan ke salon?” tanya Papa Wisnu.


“Iya, Pa. Baru satu jam yang lalu Mama telepon Aisyah. Berarti Kinan masih ada di salon, kan? Terus yang dimaksud sama Firly siapa? Dilihat dari cara berbicaranya tadi, sepertinya tidak mungkin Firly berbohong."


Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka masih memikirkan siapa di sini yang sedang berbohong. Apa mungkin Aisyah sedang menutupi sesuatu tentang Kinan atau sebenarnya yang ditemui Firly adalah orang lain. Siapa yang sedang berbohong di sini?


“Apa mungkin Firly salah alamat, Ma? Atau mungkin yang dimaksud itu Kak Zayna. Bukannya dia sedang hamil,” ujar Hanif.


“Bisa jadi, istri Ayman ‘kan memang sedang hamil, tapi apa mungkin seperti itu?” tanya Mama Aida balik.


“Mungkin saja, Ma. Mama seperti nggak kenal Firly saja. Dia 'kan suka nuduh orang yang tidak-tidak, padahal belum tentu kebenarannya. Mungkin itu juga terjadi pada Kak Zayna, sebelum Kak Zayna memperkenalkan diri, dia sudah marah.”


“Bisa jadi seperti itu. Lebih baik nanti kamu tanyakan sama Kinan. Mama nggak enak kalau tanya sama Tante Aisyah.”


“Iya, Ma. Nanti Hanif coba.”


“Ya sudah, kamu kembali istirahat saja sana. Biar nanti malam nggak capek.”


“Iya, Ma.” Hanif pun kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Papa Wisnu yang kembali ke taman belakang.


Hanif sangat percaya pada Kinan. Tidak mungkin gadis itu seperti yang Firly katakan. Bukan berarti dia harus diam saja. Pria itu harus membuktikan jika calon tunangannya adalah gadis baik-baik. Tidak seharusnya difitnah seperti itu.

__ADS_1


****


Kinan dan mama Aisyah sudah selesai memanjakan tubuhnya di salon. Keduanya memutuskan untuk pulang karena ini sudah hampir sore. Mereka harus bersiap untuk acara nanti malam. Dalam perjalanan, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Kinan. Ternyata dari Hanif yang menanyakan keberadaannya.


Gadis itu pun menjelaskan di mana keberadaannya saat ini. Hanif juga meminta pada Kinan jika sampai di rumah, gadis itu harus menghubunginya karena ada sesuatu yang ingin ditanyakan pria itu. Kinan mengiyakan saja. Dia pikir jika Hanif hanya ingin bertanya mengenai pertunangannya saja.


“Siapa, Kin?” tanya Mama Aisyah.


“Mas Hanif, dia tanya aku ada di mana.”


“Perhatian banget, baru juga mau tunangan, belum jadi istri.”


“Apaan sih, Ma. Dia nanyanya juga biasa saja," kilah Kinan.


Dia masih merasa malu jika ada orang yang menggodanya tentang Hanif. Meski itu keluarga sendiri.


“Iya, deh, iya!”


“Halo, assalamualaikum,” ucap Hanif yang berada di seberang telepon.


“Waalaikumsalam, Mas. Memang ada apa, ya, Mas? Kenapa memintaku untuk menghubungi Mas sekarang?”


“Sebenarnya ... itu ....”


Hanif merasa ragu untuk bertanya pada Kinan, mengingat apa yang ingin ditanyakannya. Dia takut jika gadis itu merasa tersinggung dengan apa yang diucapkannya. Namun jika tidak ditanya, pasti akan mengganjal di hati.


“Ada apa sih, Mas? Sepertinya serius sekali. Katakan saja, tidak perlu ragu."


“Tidak juga, sebenarnya begini ... tadi Firly datang ke sini, dia bilang habis dari rumah kamu. Apa benar?” tanya Hanif dengan pelan, berharap tidak menyinggung hati Kinan. Namun, usahanya tidak sesuai. Gadis itu tetap tersinggung.


“Aku nggak tahu. Aku ‘kan baru saja pulang. Mungkin dia ketemu sama Bik Ira atau Kak Zayna. Memang ada apa dia ke sini?” tanya Kinan yang merasa kesal.

__ADS_1


Dia mengira jika Hanif mengkhawatirkan keadaan Firly. Padahal bukan itu maksudnya. Pria itu hanya diam, dia bingung tidak tahu harus menjawab apa.


“Biar nanti aku tanyakan sama Kak Zayna, tapi aku yakin kalau Kak Zayna ataupun Bik Ira nggak mungkin macam-macam sama wanita yang bernama Firly itu. Jadi Mas jangan khawatir, wanita itu pasti baik-baik saja. Ya sudah, begitu saja, kan? Aku mau mandi dulu. Aku juga masih capek, assalamualaikum.” Kinan mematikan ponselnya begitu saja.


Dia kesal pada Hanif karena mengira pria itu masih mencintai wanita yang bernama Firly itu. Jika masih ada rasa kenapa Hanif harus melamarnya? Kenapa tidak kembali saja? Begitulah pikir gadis itu.


Kinan keluar kamar dan mencoba mencari keberadaan Bik Ira. Pasti asisten rumah tangganya itu tahu mengenai kedatangan wanita yang bernama Firly itu. Sampai di dapur ternyata ada Mama Aisyah juga di sana.


“Bik, tadi ada yang datang, nggak?” tanya Kinan sambil mengambil air minum di lemari pendingin.


“Oh, iya, Non. Tadi ada wanita yang cariin Non, namanya Firly,” jawab Bik Ira.


“Oh, jadi dia beneran ke sini? Ngapain dia ke sini, Bik?”


“Kalau dari yang Bibi tangkap, sih, dia itu seperti marah-marah gitu, Non. Dia nggak terima kalau Non Kinan bertunangan dengan Den Hanif.”


Bik Ira pun menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi Tidak ada yang ditutupi sama sekali, termasuk apa yang sudah dilakukan Zayna. Kinan dan Mama Aisyah menutup mulutnya karena menahan tawa mendengar semuanya. Mereka tidak habis pikir dengan kejahilan ibu hamil itu.


“Begitulah, Non. Apa ada masalah? Saya takut jika hal ini akan menjadi masalah. Padahal Neng Zayna tidak mengatakan jika anak yang ada dalam kandungannya itu anak Den Hanif. Wanita itu saja yang berasumsi seperti itu.”


“Iya, Bik. Saya juga mengerti, biarin saja apa katanya. Yang dia temui juga bukan aku," ucap Kinan.


“Iya, Bik, nggak usah dipikirin. Biarin saja mereka berpikir apa, itu terserah dia," sahut Mama Aisyah yang kemudian menatap putrinya. "Kinan, apa itu juga yang membuat Hanif tadi menghubungi kamu?”


“Iya, Ma. Tadi Mas Hanif tanya, apakah Firly datang ke sini atau tidak,” jawab Kinan dengan ketus.


“Jangan bilang dia juga berpikir kalau kamu hamil?” Pertanyaan Mama Aisyah membuat Kinan terdiam. Pantas saja Hanif dari tadi ragu untuk bertanya, apa dia salah paham dalam mengartikan pertanyaan dari Hanif tadi? Sebaiknya dia bertanya lagi pada pria itu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2