Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
261. S2 - Berpura-pura


__ADS_3

"Adam, kamu kenapa dari tadi diam saja?" tanya Alin, saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tua gadis itu.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang lelah saja," jawab Adam dengan tersenyum hambar.


Pria itu masih kepikiran mengenai keadaan adiknya. Dia juga tidak menyangka jika gadis yang selama ini dianggap adik, ternyata memiliki perasaan padanya. Adam tidak sampai hati melihat apa yang Papa Hanif lakukan tadi. Pasti saat ini Zea sangat terluka.


Biasanya jika sudah seperti ini, dirinya yang akan datang menghibur adiknya. Akan tetapi, kini justru dia yang jadi alasan luka hatinya. Adam mencoba menghubungi Arslan dan meminta si kembar untuk menghibur Zea. Namun, sayang nomornya tidak aktif.


“Kalau kamu lelah, biar aku yang menyetir.”


“Tidak perlu, aku masih kuat.”


Alin merasa ada yang Adam sembunyikan, pasti ini tidak jauh dari adiknya karena hanya Zea yang bisa membuat sang kekasih tidak fokus. Namun, membawanya kembali pulang bukanlah hal yang tepat, dia sudah sangat lama menantikan hari ini. Alin pun memejamkan matanya, berpura-pura tidak tahu.


Sementara itu, Zea masih mengunci kamarnya, dia tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk. Kinan pun membiarkannya, dia yakin jika sang putri pasti butuh waktu untuk berpikir. Dalam hati Kinan takut jika perasaan Zea pada Adam, memang benar-benar perasaan seorang wanita dan laki-laki. Entah bagaimana nanti mereka menyelesaikan masalah ini.


“Mas, bagaimana kalau Zea benar-benar mencintai Adam? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kinan saat dirinya dan sang suami sedang sarapan pagi. Meskipun tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam mulutnya. Selera makannya benar-benar hilang.


“Maka Zea harus mengubur perasaan itu. Kita membesarkan mereka bersama agar mereka menjadi saudara, tidak seharusnya perasaan seperti itu ada.”


“Apa salahnya? Mereka memang tidak ada hubungan darah. Jika mereka menikah juga tidak diharamkan,” ucap Kinan sambil menatap sang suami, berharap pria itu mau mengerti.


“Sayang, saat pertama kali kita mengangkat Adam sebagai anak, kita sudah sepakat untuk menjadikannya putra tertua keluarga ini. Bagaimana bisa kita menikahkan mereka. Pokoknya tidak akan ada pernikahan untuk mereka. Nanti hubungan mereka juga baik-baik saja, setelah Adam menikah dengan Alin.”


“Tapi aku yakin setelah ini hubungan mereka akan renggang, tidak seperti dulu lagi.” Kinan menatap kosong ke arah depan, memikirkan perasaan putrinya.


Hanif tidak menanggapi ucapan sang istri lagi. Dalam hati, pria itu mengiyakan apa yang dikatakan sang istri. Namun, membiarkan anak-anak mereka menikah bukanlah hal yang baik. Apa kata orang yang selama ini mengenal Adam sebagai putra sulungnya, mereka pasti akan menghinanya.

__ADS_1


Zea yang berada di kamar hanya bisa menangis, di saat seperti ini biasanya dia akan bercerita pada si kembar, tetapi nomor mereka tidak bisa dihubungi sejak semalam. Gadis itu juga tidak bisa ke mana-mana sekarang. Tidak ada yang bisa Zea lakukan selain menangis.


“Kenapa Kak Adam ingkar janji? Bukankah Kak Adam sudah janji akan menjagaku seumur hidup? Kenapa sekarang meninggalkanku? Apa aku tidak pantas mendapatkannya?” gumam Zea sambil memandangi foto dirinya yang sedang dirangkul Adam, saat mereka sedang liburan keluarga.


Tiba-tiba gadis itu teringat dengan Aini. Dia merasa bersalah karena sudah mengkhianatinya. Entah bagaimana Zea menjelaskan nanti. Apa pun yang akan terjadi nanti, gadis itu siap menerimanya, termasuk dibenci oleh si kembar.


Malam hari Kinan dan Hanif mengajak Zea ke rumah Ayman. Hari ini Mama Aisyah dan Papa Hadi akan pulang dari luar negeri, setelah menjenguk Mama Aida. Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Zea. Entah kenapa tiba-tiba perasaan terhadap dua orang tuanya menjadi berbeda.


Bukan dia ingin memaksakan kehendak pada Hanif maupun Kinan. Akan tetapi, gadis itu hanya tidak tahu, bagaimana lagi meminta restu kepada mereka. Dia masih ingin mempertahankan cintanya.


"Nanti kalau di rumah Om Ayman, sebaiknya kamu lupakan dulu perasaan kamu terhadap kakakmu. Anggap tidak terjadi apa-apa. Papa tidak mau Oma Aisyah dan Opa Hadi yang baru saja pulang, kepikiran dengan apa yang terjadi pada kamu. Itu juga sekaligus untuk melupakan perasaanmu pada kakakmu," ucapan Hanif pada putrinya.


Zea hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun, hingga sampailah mereka di rumah keluarga besar Papa Hadi. Ketiganya masuk ke dalam rumah bersama. Tampak Zayna di ruang tamu sambil memainkan ponsel.


"Assalamualaikum," ucap ketiganya saat memasuki rumah.


"Tidak juga, Kak. Kami memang belum ada waktu untuk datang."


Zayna meminta Hanif dan Kinan untuk duduk di ruang tamu. Zea juga memberi salam pada tantenya. Dia yang biasanya akan langsung ke kamar si kembar, memilih duduk di ruang tamu. Kinan yang melihat arah pandang Zayna pun merasa jika kakak iparnya pasti menyadari sesuatu.


“Kak Ayman mana, Kak?”tanya Kinan agar Zayna tidak curiga.


“Ada di dalam, sebentar biar aku panggilkan,” ucap Zayna, dia berpikir jika keponakannya seperti itu karena hukuman dari Hanif, tetapi sampai detik ini wanita itu tidak tahu hukuman apa yang diberikan adik iparnya pada Zea.


“Kalian sudah datang?” sapa Ayman sambil menyalami mereka. “Zea, tumben ikut duduk di sini? Nggak ke kamar si kembar?” lanjutnya.


Zea bingung, apa dia harus menemui mereka atau tidak. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana bersikap nanti. Ayman dan Zayna saling pandang, merasa ada yang aneh dengan keponakannya.

__ADS_1


“Zea, sebaiknya kamu ketemu sama sepupu kamu, sana! Bukankah kamu bilang kalau kamu rindu pada mereka?”


Gadis itu pun mengangguk dan berjalan menuju kamar sepupunya. Dalam hati dia bertanya-tanya haruskah dia jujur atau menyembunyikan ini semua. Sejak kecil Zea tidak pernah berbohong, pasti dirinya akan merasa kesulitan nanti.


"Kalian tidak memberi hukuman yang berat pada Zea, kan? Kenapa dia seperti tertekan begitu?" tanya Zayna sambil menatap kedua adik iparnya.


Kinan menghela napas lega, kakak iparnya mengira jika Zea sedih karena hukuman, bukan lainnya. "Tidak, Kak. Kami memberi hukuman padanya untuk tidak keluar rumah selama satu bulan saja."


"Benar seperti itu? Atau ada yang lainnya?"


"Iya, Kak. Hanya itu saja. Kalau nggak percaya, tanya saja sama anaknya. Mungkin karena sudah terbiasa pergi ke mana-mana dan sekarang harus dikurung, makanya dia sedih," jawab Kinan yang membenarkan ucapan Zayna. Semoga saja tidak ada yang curiga dengan perubahan Zea, terutama si kembar yang selalu bersama dengan sang putri.


"Syukurlah kalau begitu. Bagaimanapun juga Zea terlibat juga karena kesalahan Arslan jadi, jangan melimpahkan semua kesalahan padanya."


"Iya, Kak," jawab Kinan, sementara Hanif hanya mengangguk saja. "Oh ya, Kak. Mama kapan datangnya? Kenapa belum datang juga?"


"Tidak tahu, tadi sore bilangnya sedang dalam perjalanan. Entah pesawatnya jam berapa. Tadi bilangnya mungkin sampai rumah jam sembilan malam," jawab Hanif.


"Terus siapa yang jemput mama dan papa di bandara?"


"Tadi kakak sudah suruh seseorang buat jemput. Mama dan papa 'kan tidak suka dijemput ramai-ramai, lebih baik disambut di rumah."


Kinan mengangguk, memang sudah jadi kebiasaan kedua orang tuanya yang tidak mau dijemput ke bandara. Mereka selalu saja ingin disambut di rumah dengan seluruh anak dan cucunya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2