
"Zayna, kamu ikut mama ke mall ya kita belanja bulanan. Semuanya sudah habis. Nanti kamu lihatin apa saja yang ada di lemari pendingin. Kamu tanya sama Bik Ira juga, apa saja yang perlu dibeli, nanti kamu catat!" perintah Mama Aisyah pada menantunya.
"Iya, Ma. Aku ambil kertas dulu." Zayna pun melaksanakan perintah mertuanya. Dia melihat isi kulkas dan memang benar semuanya habis hanya tersisa satu ekor ikan. Wanita itu juga menanyakan pada Bik Ira apa saja yang perlu dibeli nanti. Asisten rumah tangganya itu hanya mengatakan beras dan bumbu dapur saja. Mengenai lainnya ikan dan sayur biar majikannya sendiri yang memilih.
"Sudah, Bik, ini saja?" tanya Zayna setelah selesai mencatat.
"Iya, nanti sisanya biar nyonya yang pilih. Saya takut nanti saya sudah bilang ini, nyonya malah bilang itu."
"Iya, aku mengerti. Aku pergi dulu, Bik."
"Iya, Nyonya," sahut Bik Ira sambil memperhatikan kepergian majikannya. "Nyonya Zayna memang wanita yang baik. Beruntung keluarga ini memilikinya," gumamnya.
Zayna menuju kamar untuk mengambil tasnya. Terlihat sang suami masih asyik dengan pekerjaannya. Dia pun mendekati Ayman untuk pamit, takut jika pria itu mencarinya nanti.
"Mas, aku izin keluar sebentar. Mau pergi belanja sama mama," ucap Zayna pada sang suami.
"Mama ngajak kamu?"
"Iya, Mas, kebetulan keperluan dapur semuanya habis. Kasihan Mama juga kalau pergi sendiri."
"Iya, hati-hati. Tunggu sebentar! Aku cuma ada uang segini. Kamu bawa kartu kredit ini, siapa tahu nanti perlu, tapi nanti saat belanja, kalau mama yang bayarin, kamu diam saja, ya! Mama tidak suka belanja dibayarin orang lain. Walaupun keluarga sendiri."
"Kok, kamu tahu?"
"Dulu aku, kan, dulu sering juga ngantarin mama, tapi mama nggak pernah mau kalau aku yang bayarin."
"Iya, Mas, aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati." Zayna mencium punggung tangan sang suami kemudian pergi keluar. Terlihat Mama mertuanya duduk di ruang tamu sedang menunggunya.
Sebenarnya bisa saja Ayman ikut. Toh, dia juga tidak ada pekerjaan, tetapi pria itu ingin memberi waktu mama dan istrinya untuk saling mengenal satu sama lain. Mungkin dengan seringnya kebersamaan membuat kedua wanita itu semakin dekat. Semoga saja.
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" tanya Mama Aisyah setelah Zayna keluar.
"Sudah, Ma."
Mereka pergi bersama dengan diantar oleh Pak Doni. Zayna masih merasa sungkan terhadap pria itu. Entahlah tiba-tiba merasa aneh melihat orang yang selama ini dia anggap paman, menundukkan kepala padanya.
"Ayo, Pak Doni, kita ke supermarket!" perintah Aisyah.
"Baik, Nyonya." Doni pun membukakan pintu untuk majikannya.
Sepanjang perjalanan, Zayna mencoba untuk berbicara dengan mertuanya. Namun Mama Aisyah hanya menanggapinya dengan deheman saja, tanpa mengucapkan satu kata pun. Zayna masih tidak putus asa, dia tetap berusaha agar bisa melunakkan hati wanita paruh baya itu.
Zayna yakin suatu saat nanti, Mama Aisyah akan menerimanya dengan tangan terbuka. Tidak peduli bagaimana caranya nanti, dia akan berusaha keras. Bukan berarti wanita itu akan menghalalkan segala cara. Zayna tetap berada di jalan yang benar untuk meraih hati mertuanya.
Hingga sampailah mereka di sebuah supermarket yang cukup besar. Tanpa berkata apa pun Mama Aisyah turun dari mobil. Zayna hanya mengikutinya dari belakang.
Doni hanya menggelengkan kepala melihat sikap majikannya itu. Zayna sudah sangat baik, tetapi entah apa yang membuat Aisyah tidak menyukainya. Namun, melihat kegigihan Zayna dalam menaklukkan hati mertuanya, membuat pria itu kagum.
"Kita belanja apa dulu, Ma?" tanya Zayna.
Zayna mengangguk sambil mendorong troli menuju tempat yang ditunjuk mama mertuanya. Dia begitu kagum dengan supermarket yang begitu besar ini. Semuanya tertata rapi dan berurutan. Sayuran pun terlihat masih segar.
Di tempat tinggalnya yang dulu, wanita itu tidak pernah belanja di tempat yang seperti ini. Setiap belanja pasti hanya di pasar atau penjual sayur keliling. Ini pertama kali untuknya datang ke tempat seperti ini. Sejujurnya Zayna takut membuat malu mertuanya, tetapi dia berusaha setenang mungkin.
Wanita itu melihat sekitar, bagaimana cara mereka berbelanja sehingga Zayna pun mengikuti mereka. Dia melihat catatan dan mengambil satu persatu. Hingga akhirnya semua selesai dan troli yang dibawa juga cukup banyak isinya. Entah perasaan wanita itu saja atau memang belanja keperluan keluarganya seperti itu. Apa pun yang dilihat Mama Aisyah, pasti dimasukkan ke dalam troli. Zayna hanya diam memperhatikan saja.
"Semuanya sudah! Kamu bawa ke kasir sana. Mama tungguin di mobil," ucap Mama Aisyah yang segera berlalu menuju mobil.
Zayna membuang napas kasar, bukan masalah ditinggalnya, tapi apakah nanti dia bisa membawa belanjaan semua Ini sendiri? Sudahlah, mobil juga tidak terlalu jauh. Nanti dia bisa bolak-balik.
Di depan kasir untungnya hanya dua orang saja yang sedang antre jadi tidak perlu waktu lama. Benar saja, ternyata semuanya ada enam kantong kresek yang besar kalau dibawa ke mobil bisa tiga kali bolak-balik. Tidak apalah, untung saja suaminya tadi memberi kartu kredit jadi, dia tidak malu karena tidak bisa membayar.
__ADS_1
Saat akan keluar, tiba-tiba Mama Aisya datang dengan terburu-buru. Zayna mengira ada sesuatu milik mertuanya yang tertinggal. Namun, ternyata karena mertuanya lupa membayar.
"Eh, Mama, apa ada yang kurang?" tanya Zayna yang melihat wajah panik mertuanya.
"Tidak, tadi Mama lupa memberi kamu kartu kredit," jawab Mama Aisyah sambil memperlihatkan kartu miliknya.
"Oh, sudah, kok, Ma, tidak apa-apa. Tadi Mas Ayman sudah memberiku kartu kredit," sahut Zayna dengan tersenyum.
"Oh, jadi sudah kamu bayar?"
"Iya, Ma, sudah tidak apa-apa. Ini aku mau bawa mobil mungkin nanti balik lagi. Aku nggak bisa bawa semuanya."
"Mama minta maaf, ya! Tadi mama lupa beneran jadi kamu yang bayar, kan?"
Zayna terdiam beberapa saat. Dia tidak percaya kalau Mama Aisyah mengucapkan kata maaf. Wanita itu tersenyum menanggapinya. Meski Mama Aisyah orang yang tidak menyukainya, tapi Zayna menyukai cara mertuanya. Apa pun keadaannya jika salah harus tetap meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Ma. Ayo, kita ke mobil!" ajak Zayna.
"Sebentar, Mama bantu bawa belanjaannya," ucap Mama Aisyah dengan meraih dua kantong kresek.
Zayna mengangguk dengan tersenyum. Keduanya berjalan menuju mobil di mana Pak Doni sudah menunggu. Terkadang Zayna merasa aneh melihat Mama Aisyah. Terkadang judes dan suka marah-marah. Kadang juga lembut dan baik meski tetap suka marah-marah.
"Ini Paman Doni, sebentar saya ambil lagi di dalam. Masih ada dua lagi." Saat akan berbalik Pak Doni mencegahnya. Biar dirinya saja yang mengambil.
"Jangan! Nyonya, di sini saja, biar saya yang ambil."
"Tidak perlu, Paman. Biar saya saja."
"Tidak apa-apa, biar Pak Doni saja Kamu duduk di dalam mobil. Pasti kamu capek dari tadi keliling," sela Mama Aisyah. Zayna pun mengangguk mengikuti permintaan Mama Aisyah.
.
__ADS_1
.
.