Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
267. S2 - Pengkhianat


__ADS_3

Kebetulan hari ini tidak ada kelas di kampus jadi, Zea dan Aina bisa bebas menghabiskan waktu seharian bersama. Keduanya juga jalan-jalan di mall. Untung saja masa hukuman Zea sudah berakhir jadi gadis itu bisa keluar. Dia sangat senang bisa menikmati hari ini bersama dengan sang sepupu.


Setidaknya dia bisa melupakan masalahnya sejenak. Hingga sore hari akhirnya Aina pulang mengantar Zea pulang terlebih dahulu, setelah itu barulah dia pulang ke rumah. Sampai di rumah gadis itu melihat Aini sedang bermain ponsel di ruang tengah. Aina pun ikut duduk di sana, tubuhnya benar-benar lelah seharian berkeliling.


Namun, dia senang karena bisa melihat senyum Zea kembali. Saat gadis itu datang tadi, jelas-jelas Aina melihat wajah sepupunya yang begitu sedih. Itulah kenapa dia mengajak Zea jalan-jalan untuk menghibur diri. Biasanya jika diantara mereka ada yang sedih, pasti yang lain akan mencoba menghibur, itulah yang dilakukan Aina.


"Aina, kamu dari mana?" tanya Aini.


"Dari rumah Zea, habis jalan-jalan."


"Kami menemui dia! Ngapain?"


"Memang apa masalahnya? Dia 'kan juga sepupu kita."


"Tapi dia ...."


"Dia apa? Mengkhianati kamu? Bukannya sama saja? Kamu juga menghianatinya. Bukankah dulu kita pernah berjanji, kalau tidak akan ada yang pernah bisa merusak persaudaraan kita. Apalagi itu karena laki-laki, tapi apa sekarang? Kamu malah menjauhinya karena laki-laki juga."


"Itu juga karena kesalahannya sendiri yang tidak jujur pada kita."


"Kamu tidak melihat saja bagaimana sedihnya Zea saat ini. Di saat kakaknya sendiri yang selama ini menjadi tempatnya mengadu, malah tidak mau memilihnya. Kedua orang tuanya juga menentang perasaannya. Sepupunya juga ikut-ikutan memusuhinya. Jika itu terjadi padaku mungkin aku akan pergi dari rumah itu. Sudah tidak ada lagi yang peduli padaku, itulah kenapa aku datang menghiburnya. Mungkin aku kecewa dengan perasaan Zea, tapi aku lebih mencintai ikatan persaudaraan ini. Aku tidak ingin ada yang merusaknya dan yang lebih menakutkan lagi, aku tidak ingin dia pergi dan mengorbankan semuanya demi orang-orang yang dia cintai," ujar Aina dengan pandangan lurus ke depan.

__ADS_1


Dia sudah memikirkan hal ini dari kemarin, Zea adalah orang yang selalu mengalah pada orang-orang di sekitarnya. Aina takut jika kali ini juga seperti itu. Kalau memang sepupunya harus pergi, mereka tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Untuk menyembuhkan luka di hati bukanlah hal yang mudah.


Aini yang mendengar perkataan saudaranya pun menjadi terdiam. Dia tidak berpikir ke arah sana. Akan tetapi, sangat mungkin Jika Zea memang pergi karena memang seperti itulah karakter sepupunya, yang lebih memilih dirinya terluka, daripada harus menyakiti orang lain. Jika Zea benar pergi seperti apa yang dikatakan kembarannya, dia akan sangat merasa bersalah.


"Aku mau ke kamar dulu, ya. Aku capek banget, seharian pergi sama Zea," ucap Aina yang segera berlalu dari sana, sementara Aini masih terdiam di tempat duduknya. Dia bingung harus melakukan apa.


"Apa aku sudah salah memperlakukan Zea?" tanya Aini dalam hati yang merasa sedih.


****


Hari ini Adam dan Alin ada janji dengan pemilik butik untuk melakukan fitting baju pengantin. Namun, saat Adam ingin menjemput sang kekasih, wanita itu justru mengatakan jika dirinya ada pekerjaan mendadak. Padahal ini hari Minggu, pria itu juga sudah dalam perjalanan ke sana. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi.


Adam memutuskan untuk menunggu Alin di depan perusahaan tempat gadis itu bekerja. Mudah-mudahan saja nanti setelah makan siang kekasihnya bisa pergi bersama. Namun, saat sampai di depan perusahaan, satpam mengatakan jika hari ini Alin tidak datang ke perusahaan. Memang ada beberapa karyawan yang datang, tetapi Alin tidak ada di daftar tersebut.


Adam dibuat terkejut karena tidak biasanya sang kekasih berbohong. Dia pun mencoba menghubungi Alin. Namun, sayang ponsel itu sudah tidak aktif. Pria itu tidak mudah menyerah dan terus mencoba untuk menelepon, tetap saja tidak tersambung.


"Ke mana Alina? Apa mungkin dia ke rumah orang tuanya? Tapi rasanya tidak mungkin. Kalau Alina pergi ke sana, pasti dia sudah bilang sama aku," tanya Adam dalam hati.


Pria itu pun memutuskan untuk pergi ke apartemen Alin. Semoga saja gadis itu ada di sana. Setengah jam perjalanan, akhirnya Adam sampai juga di gedung apartemen sang kekasih. Dia langsung saja naik ke lantai atas, menuju unit apartemen milik Alin.


Begitu sampai di depan apartemen wanita itu, segera Adam menekan nomor PIN di samping pintu. Pria itu juga sudah sering ke sini jadi, dia sangat tahu di segala hal tentang Alin dan tempat tinggalnya. Adam juga sengaja tidak ingin menekan bel. Itu karena sudah bisa dipastikan jika sang kekasih tidak akan membukankan pintu untuk menghindarinya. Jelas-jelas tadi gadis itu bilang pergi ke kantor, tapi satpam justru berkata sebaliknya.

__ADS_1


Begitu memasuki apartemen, tempat itu begitu sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Namun, ada yang menarik perhatiannya, yaitu ada sepasang sepatu pantofel laki-laki di samping sofa. Jika memang ada keluarga Alin yang datang, rasanya tidak mungkin jika mereka menggunakan sepatu seperti itu. Dirinya saja jarang memakainya, kecuali jika orang tersebut pekerja kantoran.


Adam melihat rak sepatu di samping pintu, terlihat dua sepatu kerja Alin masih di sana, sepertinya tidak mungkin jika gadis itu pergi bekerja. Memang tidak pergi, pak satpam juga berkata seperti itu. Dia melangkahkan kakinya memasuki apartemen, berharap menemukan jawaban dari kebohongan yang dikatakan sang kekasih.


Dalam hati Adam berdoa, semoga apa yang dia pikirkan tidak terjadi. Ingin sekali pria itu pergi dari sana, tetapi hatinya menolak dan memintanya untuk tetap masuk. Adam pun melangkahkan kakinya dengan ragu, menelusuri setiap ruangan yang ada.


Hingga sampailah di depan kamar kosong di dekat tangga.


Adam bisa mendengar ada suara orang di dalam yang sedang memadu kasih. Jelas dia tahu suara itu memang milik Alin, tetapi bersama siapa. Tangan pria itu mengepal dengan sempurna, hingga tangannya memutih. Amarah di dalam dadanya begitu memuncak. Tega-teganya Alin mengkhianatinya seperti ini.


Pernikahan mereka akan dilaksanakan sebentar lagi, tetapi wanita itu justru melakukan hal yang tidak bermoral bersama degan pria lain. Pantas saja Alin seperti enggan mempersiapkan semuanya, ternyata ini alasannya. Kalau memang kekasihnya itu sudah tidak mencintainya lagi, kenapa tidak mengatakan yang sejujurnya saja. Dia juga tidak akan memaksa dan akan melepaskannya dengan ikhlas.


Adam yang tidak tahan mendengar suara menjijikkan mereka. Pria itu pun akhirnya membuka pintu dengan kasar. Benar saja terlihat seorang pria berada di atas tubuh Alin, keduanya pun sudah tidak memakai sehelai pakaian pun. Dua orang yang sedang menikmati aktivitasnya pun segera menghentikan kegiatan dan melihat siapa yang datang.


Si pria mendengus kesal karena kesenangannya diganggu orang.


Adam begitu terkejut melihat siapa pria yang sedang bersenang-senang dengan Alin. Entah bagaimana mereka bisa saling mengenal. Pria itu yang melihat keterkejutan di wajah Adam pun tersenyum sinis.


.


.

__ADS_1


__ADS_2