Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
318. S2 - Dijelekkan


__ADS_3

Aina pun menatap dalam-dalam ke arah sang mertua, mulutnya kini tampak tertutup rapat seakan tidak tahu harus merespon bagaimana ucapan sekaligus perintah dari sang mertua.


"Tapi, Ibu. Aina gak bisa masak. Bahkan Aina juga sama sekali belum pernah ke dapur, menyentuh peralatan-peralatan untuk masak sekalipun Aina belum pernah melakukannya. Tolong, Bu. Maafin Aina. Aina janji nanti Aina bakalan belajar masak tapi sekarang Aina istirahat dulu ya, Bu. Badan Aina pegel-pegel semua. Aina mau istirahat dulu," balas Aina mengungkapkan keinginannya apa adanya.


Bagaimanapun juga, ada titik kelelahan bagi Aina untuk terus bersabar. Sekarang, Aina harus bisa jujur kepada wanita itu jika ia merasa lelah sekarang. Aina butuh istirahat agar tubuhnya bisa kembali fit bukan malah marah yang menyakitkan hatinya itu.


Namun, sepertinya kini jiwa sosial di dalam diri mertuanya itu sudah lenyap dan hilang entah kemana. Tanpa memperdulikan bagaimana wajah Aina yang sudah sangat pucat seperti sekarang, Bu Nur justru menegaskan kepada Aina agar segera pergi ke dapur.


Bu Nur seolah tidak peduli, mau Aina sakit ataupun nanti pingsan sekali pun, wanita paruh baya itu sama sekali tidak peduli.


Ia hanya ingin sekarang Aina menuruti apa yang ia katakan bukan malah membantah dirinya seperti itu. Bu Nur sangat tidak suka dengan orang-orang yang justru membantah apa yang ia katakan.


"Cepat pergi ke dapur! Ibu bilang masak makanan sekarang juga!" bentak Bu Nur kepada Aina yang membuat tubuh Aina bergetar tersentak saat itu juga.


Aina lantas mengangkat wajahnya, menatap dalam-dalam ke arah sang mertua.


"Tapi, Bu. Aina..."


Aina yang juga terlihat tidak menyerah untuk meminta waktu istirahat kepada mertuanya itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bu Nur.


"Oh, atau kamu memang pengen saya adukan kepada orang tua kamu, sekarang? Saya akan bilang ke mereka, jika kamu tidak ingin menjadi istri yang baik untuk Ali. Mereka bukan tidak mungkin pasti akan memarahimu habis-habisan karena telah mempermalukan mereka di hadapan keluarga besannya," balas Bu Nur terdengar sengaja mengancam Aina.


Aina pun lantas mengangkat wajahnya, menatap tak percaya ke arah mertuanya yang tega ingin melakukan hal seperti itu.


Merasa tidak ada lagi yang bisa Aina lakukan sekarang, Aina pun menganggukkan kepalanya pelan.


"Aina ke dapur sekarang. Ibu jangan telpon orang tua Aina," tutur Aina yang langsung bergegas pergi dari hadapan sang mertua.


Setelah kepergian dari Aina itu, senyuman miring pun perlahan terukir di wajah Bu Nur. Entah mengapa, Bu Nur tampaknya sangat tidak menyukai menantunya itu.


Sampai kapan pun, rasanya tidak akan ada pintu masuk untuk Aina ke dalam hatinya.


"Kamu yang sudah bermain-main dengan saya. Maka kamu juga yang akan bertanggung jawab atas keputusan yang kamu ambil. Saya tidak peduli entah yang saya lakukan ini benar atau tidak. Yang pasti, saya tidak suka dengan kamu. Saya akan memberikan pelajaran terus menerus kepada kamu yang asal masuk ke keluarga saya," gumam Bu Nur pelan yang kemudian ikut berlalu dari ambang kamar anaknya itu.


Sementara di dapur, Aina tampak menatap satu persatu benda-benda asing yang terdapat di dapur sang mertua.


Demi apapun, Aina sama sekali tidak mengenali benda-benda dapur itu. Karena memang seumur-umur ia belum pernah menyentuh dapur, saat masih di rumahnya.


"Masak dengan benar! Jangan sampai kamu justru ingin membakar rumah saya, paham kamu?!" ucap Bu Nur yang entah darimana asal datangnya itu. Yang pasti, Aina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Saya akan tunggu di ruang tamu saja. Tidak akan sanggup rasanya jika melihat cara masak kamu yang pasti jauh dari cara memasak wanita pada umumnya," gumam Bu Nur terasa begitu menyakiti hati Aina.


Aina yang memang sudah mengerti jika Bu Nur masih belum menerima dirinya sebagai istri dari anaknya itu, hanya bisa mengembangkan senyumannya saat ini.


Aina mengerti, seperti Aina yang sekarang berusaha keras untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya dan menerima lingkungan yang sangat asing baginya itu, maka seperti itu juga Bu Nur.


Wanita paruh baya itu pasti juga tengah mencoba untuk beradaptasi dan menerima kehadiran Aina di dalam keluarganya.


"Oke! Aku gak boleh sampai menyia-nyiakan kepercayaan yang Ibu mertua udah kasih ke aku. Aku percaya, aku pasti bisa masak makanan yang bakalan buat Ibu mertua jadi terkesan sama aku. Bagaimanapun caranya, aku harus tetap berusaha dan semangat! Aku gak boleh merasa sedih atau putus asa," gumam Aina mensugesti dirinya sendiri untuk menjadi bersemangat.


Aina lantas menghembuskan nafasnya panjang, sebelum melakukan kegiatan memasaknya, tak lupa sesuai dengan ajaran sang suami. Aina pun mengucapkan basmalah sekarang. Karena jika ditinjau dari ceramah yang Ali sampaikan padanya, setiap apapun yang kita lakukan baik itu hal kecil ataupun hal yang besar sekalipun harus selalu mengucapkan basmalah di awal.

__ADS_1


Agar apa yang kita lakukan kelak diridhoi dan dibantu oleh Allah.


Aina pun kini mengeluarkan ponselnya, ia mencoba mencari satu persatu nama yang ada di dapur itu. Hingga ia benar-benar ingat akan semua nama-nama benda di dapur itu, barulah Aina mulai membuka youtube untuk menonton tutorial memasak di sana.


"Harusnya sih gak sulit ya! Karena kan aku cuman tinggal ikutin step by step dari arahan di youtube ini. Semoga aku gak salah dalam memasaknya. Ya Allah, tolong bantu Aina hari ini. Aina gak mau membuat Ibu mertua kecewa," gumam Aina sebelum memulai acara memasaknya itu.


Meski sesekali Aina harus terkena cipratan minyak panas serta tangannya yang beberapa kali tergores oleh pisau tajam, nyatanya Aina tidak menyerah begitu saja.


Aina tetap melakukan sebagaimana mestinya ia lakukan. Keringat yang mulai mengalir dari pelipisnya pun segera Aina seka secepat mungkin.


Setelah beberapa lama berkutat di dapur, akhirnya senyuman pun mengembang sempurna di wajah Aina. Aina merasa bangga dan senang karena sekarang ia berhasil membuat satu masakan yang pertama di dalam hidupnya.


"Bismillah, semoga aja Ibu mertua bakalan suka sama masakan yang aku buat," gumam Aina mengembangkan senyumannya.


Aina pun mengangguk, menyakinkan dirinya jika ia harus percaya pada masakannya.


"Bu, masakannya sudah jadi," tutur Aina pelan saat memanggil sang mertua di ruang tengah.


Bu Nur yang mendengar itu pun lantas menegakkan tubuhnya, berjalan mendahului Aina menuju dapur.


Dari segi tampilan, harus Bu Nur hargai ini cukup menawan dan mempesona.


"Ambilkan Ibu sendok," titah Bu Nur yang langsung membuat Aina bergegas mengambilkannya sendok.


Bu Nur lalu mulai mencicipi masakan yang dibuat oleh Aina. Kunyahan pertama tampak tidak ada yang janggal hingga saat Bu Nur mulai melakukan kunyahan berikutnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Bu Nur langsung menyemburkan masakan yang dibuat oleh Aina itu.


Amarah yang membuncah di dalam diri Bu Nur pun tampaknya tidak bisa wanita itu kendalikan lagi.


Bu Nur pun langsung saja menarik cepat tangan Aina untuk mengikuti langkahnya. Sesekali Aina pun mengucapkan maaf yang tak dihiraukan oleh Bu Nur sama sekali.


"Mulailah membersihkan kamar mandi ini! Lalu setelah itu, lanjutkan dengan dua kamar mandi yang lainnya. Ini adalah hukuman buat kamu karena telah main-main dengan saya! Masakanmu itu memang sengaja untuk membunuhku, bukan? Cepat kerjakan! Sampai benar-benar bersih!" bentak Bu Nur kembali memerintahkan Aina.


Aina pun menatap dalam ke arah wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu. Bu Nur tampak memperlihatkan ketegasannya, seakan memperjelas jika apa yang ia katakan tidak boleh sampai ditawar lagi oleh sang menantu.


"Tapi, Bu. Aina baru saja selesai mencuci pakaian dan membersihkan seluruh rumah. Apa tidak bisa jika Aina istirahat saja dulu? Aina janji, pasti nanti bakalan jalani hukuman dari Ibu. Tapi, Aina mohon sekarang izinin Aina buat istirahat dulu ya, Bu. Aina benar-benar cape banget. Aina butuh istirahat sekarang," pinta Aina dengan memasang raut wajah memelasnya.


Aina terus saja memohon kepada sang mertua agar waktu melaksanakan hukumannya bisa diundur olehnya. Namun, Bu Nur yang sudah terlampau marah dan kesal atas apa yang sudah diperbuat oleh Aina itu, membuatnya langsung membuang wajah, menghindari tatapannya dengan sang menantu.


"Memangnya kamu pikir saya akan peduli dengan apa yang kamu minta? Saya tidak peduli, mau kamu capek atau gak itu sama sekali bukan urusan saya. Tidak ada hubungannya dengan saya. Pokoknya saya gak mau tau, cepat bersihkan seluruh kamar mandi yang ada di rumah ini tanpa meninggalkan noda barang setitik pun. Cepat kamu kerjakan atau saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan penolakan kamu ini kepada orang tua kamu sekarang juga," balas Bu Nur yang memang sengaja mengancam sang menantu.


Sebab, wanita paruh baya itu sudah sangat tahu apa kelemahan dari Aina. Gadis itu pasti akan selalu menuruti apa saja yang ia minta, jika dari mulutnya sudah keluar kata-kata yang mengancam dirinya.


"Tak perlu memasang wajah memelasmu itu karena itu tidak akan pernah mempan bagi saya. Apa yang telah menjadi hukuman untuk kamu, maka kamu harus melaksanakannya sekarang juga. Saya tidak peduli dengan alasan apapun yang kamu ucapkan. Yang saya tau, seluruh kamar mandi harus menjadi bersih dan kinclong. Jangan sampai ada satu titik saja debu atau kotoran yang menempel di kamar mandi!" tegas Bu Nur tidak terbantahkan lagi.


Aina yang merasa tidak memiliki pilihan lain lagi pun seketika hanya mampu menganggukkan kepalanya lemah. Ingin memprotes bagaimana pun lagi tetap saja Aina yakin mertuanya itu tidak akan mendengarkannya.


Apalagi ketakutan Aina kepada kedua orang tuanya membuat wanita paruh baya itu menjadi bisa mengontrol diri Aina sepenuhnya sekarang.


"Baik, Ibu. Aina bakalan bersihkan semua kamar mandinya. Maaf karena sudah membuat Ibu merasa tidak nyaman. Maaf juga untuk masakannya, gara-gara Aina, Ibu pasti jadi tidak nafsu untuk makan lagi," balas Aina dengan suaranya yang terdengar diucapkan begitu pelan.

__ADS_1


Sementara Bu Nur, wanita paruh baya itu tampak mengalihkan wajahnya dari gadis itu. Meski raut wajahnya tidak bersahabat sekarang, nyatanya Bu Nur pun tetap menganggukkan kepalanya kepada Aina.


"Pokoknya dengerin apa yang sudah saya pesankan tadi! Jangan sampai karena pekerjaan kamu yang gak becus, membuat saya harus memarahimu lagi," ucap Bu Nur yang langsung pergi, meninggalkan Aina sendirian di sana.


Perlahan, Aina pun mulai memasuki kamar mandi itu. Terlihat di setiap sudutnya, ada begitu banyak kotoran yang menempel di sana. Kamar mandi ini benar-benar terlihat seperti kamar mandi yang tidak memiliki penghuni rumah.


"Huft... sabar Aina, sabar. Bagaimanapun juga kamu harus dengerin apa yang mertua kamu bilang. Jangan sampai kamu melawan sampai akhirnya kamu justru membuat Ayah jadi marah besar. Tahan aja dulu semuanya! Tetap sabar siapa tau mungkin saja amarah dari Bu Nur itu adalah salah satu bentuk betapa beliau sangat menyayangi kamu. Udah ya sabar! Kuatin hati dan pikiran kamu, jangan gegabah dulu. Bu Nur itu orang yang baik, gak mungkin buat dia berlaku jahat sama kamu. Cuman sekarang kamu harus sabar aja. Kamu pasti bisa bertahan pada keluarga yang menjadikan kamu asisten rumah tangga ini," gumam Aina pelan yang ada setengah sindiran di dalam ucapannya itu.


Aina yang tidak pernah membersihkan kamar mandi seperti itu pun kembali membuka ponselnya, ia mencoba mencari tutorial untuk membersihkan kamar mandi.


Dengan mata yang terus fokus pada layar ponselnya itu, Aina pun kini mulai membersihkan kamar mandi itu. Semula, Aina pun tampak menyikat kamar mandi itu dengan air busa dari daia pencuci pakaian. Sebenarnya memang ada pencuci khusus untuk kamar mandi, akan tetapi karena di tutorial itu hanya disebutkan sabun. Jadi, Aina pikir tidak ada salahnya jika menggunakan daia, asalkan nanti ia bisa menyiram semua busa itu agar tidak licin.


Satu kamar mandi pun tak terasa sudah selesai dibersihkan oleh Aina, ia lalu kembali berlanjut pada kamar mandi lainnya hingga akhirnya semua pun telah selesai ia bersihkan tuntas.


"Cukup memuaskan. Ya sudahlah, kamu boleh pergi ke kamar sekarang. Istirahatlah sesukamu. Tapi, jangan lupa untuk bangun sebelum suamimu datang. Seorang istri harus selalu menyambut kepulangan suaminya," tutur Bu Nur yang langsung diangguki mengerti oleh Aina.


Akhirnya, setelah beberapa saat Aina pun bisa mengistirahatkan tubuhnya.


"Kasur kesayangan! Aina akan segera datang untuk menemuimu!" pekik Aina di dalam hati.


***


"Assalamualaikum, Mas pulang!" ucap Ali seraya membuka pintu kamarnya yang memang tidak terkunci itu.


Tidak ada balasan salam dari dalam kamar itu membuat kerutan tampak jelas di kening Ali sekarang. Beberapa saat setelahnya, barulah Ali mengerti mengapa salamnya hanya diabaikan.


Semua itu karena Aina yang ternyata masih terlelap pulas dengan pakaian yang masih menggunakan setelan tadi paginya.


Ali pun mendekat ke arah sang istri, tanpa diberitahu pun Ali sudah tau jika Aina pasti sedang kelelahan sekali sekarang. Tampak jelas dari dengkuran halus yang berasal dari gadis itu.


"Pasti kamu belum shalat Ashar sekarang. Entah apa yang hari ini kamu kerjakan hingga membuat kamu menjadi lelah seperti ini," gumam Ali seolah sekarang telah menerima Aina sepenuhnya sebagai istrinya.


Ali akui, memang pernikahannya dengan Aina karena usulan dari keluarga sang istri. Namun, Ali yang sudah paham jika semua terjadi atas takdir Allah memilih untuk menerima semuanya.


"Ya ampun, tangan kamu? Entah apa yang sudah kamu lakukan sampai tangan kamu luka seperti ini. Apa kamu sengaja membiarkannya menganga begini? Aku akan mengobatinya," gumam Ali seraya meletakkan tas kerjanya.


Ali pun lantas membalut luka di tangan Aina dengan hansaplast yang ada di kotak P3K di kamarnya. Sebelum akhirnya, Ali pun memilih untuk menuju ke dapur di mana dia bisa membuat kopi di sana.


"Biar Ibu saja yang buatkan kopinya untuk kamu, Nak. Kasihan sekali kamu, sudah menikah tapi seolah-olah sekarang kamu tidak memiliki istri. Entah apa yang sudah gadis itu lakukan, sampai-sampai hingga sekarang masih belum bangun. Sebelumnya, padahal sudah jelas Ibu katakan untuk ia menunggu kamu pulang. Tapi dia tetap saja membandel seperti itu," tutur Bu Nur seraya mengambil alih gelas kopi yang ingin diseduh oleh Ali.


Ali pun hanya terdiam, memilih mendengarkan saja apa yang dikatakan oleh Ibunya itu.


"Kamu tau, Nak? Dia itu hanya berdiam seharian di kamar. Entah apa yang dia lakukan, tapi dia tidak ada sekalipun menginjakkan kakinya keluar dari kamar itu. Sampai-sampai Ibu akhirnya datang ke kamarnya meminta dia untuk membantu pekerjaan rumah, tapi kamu tau nak? Dia malah mengusir Ibu untuk pergi dari kamarnya. Entah harus seperti apalagi cara Ibu menghadapi dia," tutur Bu Nur tentunya penuh dengan kebohongan.


"Tidak apa-apa, Bu. Aina masih perlu banyak bimbingan lagi. Suatu saat nanti Aina pasti akan mengerti," balas Ali mengembangkan senyumannya.


Akan tetapi, tanpa mereka sadari semua percakapan itu telah didengar jelas oleh seorang gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka kala itu.


Gadis itu tampak mengepalkan tangannya kuat, merasa tak percaya dengan tingkah sang mertua.


"Sejahat ini?" batinnya merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2