
"Kamu sudah enakan, Na?" tanya Mama Aisyah saat melihat menantunya sudah keluar.
"Iya, Ma, biasanya juga seperti itu."
Zayna mengambil Baby Ars yang ada di gendongan Mama Aisyah. Bayi itu terlihat begitu senang melihat mamanya. Terkadang dia merasa heran, bagaimana mungkin putranya yang begitu kecil, selalu bersikap seolah mengerti kesulitan mamanya. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin.
"Kamu sudah minum vitamin dari dokter tadi, Na?" tanya Mama Aisyah.
"Belum, Ma. Lagi males saja minum obat. Bawaannya malah makin mual jadi, aku nggak minum dulu."
"Sebaiknya dipaksain minumnya, biar kamu cepat sembuh."
"Iya, Ma. Nanti aku minum setelah makan siang. Sekarang juga masih belum makan apa-apa dari pagi, males makan nasi." Zayna menggelengkan kepala, saat membayangkan makanan yang akan membuatnya semakin mual.
"Terus kamu maunya makan apa? Biar Mama cariin."
"Nggak perlu, Ma. Aku masih belum ingin makan. Nanti kalau aku mau sesuatu, pasti aku cari sendiri," sahut Zayna yang merasa tidak enak pada mertuanya yang sudah sangat baik padanya.
"Beneran, ya! Nanti kamu makan cari sendiri. Jangan sampai kamu nggak makan. Ingat kalau ada janin yang perlu kamu beri makan dalam tubuhmu."
"Iya, Ma. Nanti aku akan makan."
Mama Aisyah pun mengangguk dengan pelan. Dia segera kembali ke kamar karena wanita itu juga belum minum obatnya. Dari pagi Mama Aisyah sudah direpotkan oleh Baby Ars. Bukan dia merasa keberatan, hanya dirinya saja yang terlalu asyik hingga lupa waktu.
"Bibi, lagi buat apa itu?" tanya Zayna saat melihat asisten rumah tangganya itu sedang membuat sesuatu, yang sepertinya menyegarkan.
"Nggak lagi buat apa-apa, Neng. Ini cuma minuman, Bibi lagi mau minum teh manis, makanya bikin minuman sendiri," jawab Bik Ira yang merasa tidak enak pada majikannya.
“Tidak apa-apa, Bik. Kenapa Bibi seperti takut begitu sama aku? Dapur itu 'kan sudah menjadi tempat Bibi jadi, Bibi bebas mau melakukan apa pun. Lagian cuma minum doang."
"Bibi pikir Eneng marah."
"Nggak, tapi jangan lupa buatin buat aku juga, ya, Bik. Aku juga lagi ingin yang manis-manis." Zayna tertawa setelah berkata demikian.
"Siap, Neng. Nanti Bibi bawain," sahut Bik Ira dengan semangat.
__ADS_1
Zayna meletakkan Baby Ars di stroller dan membuatkan anaknya itu susu formula. Dia memang sudah memutuskan, untuk memberi susu formula saja pada putranya karena dari kemarin, diare Baby Ars juga tak kunjung sembuh. Setelah dibawa ke dokter juga masih tetap sama. Hari ini wanita itu mencoba dengan susu formula mudah-mudahan secara sembuh.
Saat sedang berbincang dengan Bik Ira di dapur dengan tangan yang juga sibuk, terdengar suara langkah kaki mendekat. Kedua wanita itu pun menoleh. Ternyata Mama Aisyah yang sudah rapi. Entah mau ke mana mertuanya itu.
"Na, apa kamu nggak pa-pa kalau Mama tinggal sebentar. Mama mau lihat keadaan Kinan, dia sudah membaik atau tidak," ucap Mama Aisyah.
"Iya, tidak apa-apa. Aku kalau siang juga sudah biasa lagi, cuma memang kalau pagi saja suka lemas."
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, Mama pergi dulu," ucap Mama Aisyah pada Zayna yang kemudian beralih menatap cucunya. "Cucu Oma baik-baik sama Mama, ya!" Mama Aisyah mencium pipi cucunya kemudian pergi meninggalkan rumah. Kini hanya tinggal Bik Ira dan Zayna bersama Baby Ars.
"Ini, Neng. Teh manisnya," ucap Bik Ira sambil meletakkan segelas teh di meja makan depan Zayna, sementara wanita itu sedang memberikan susu pada anaknya yang terlihat begitu menyukainya.
"Baby Ars sepertinya sangat suka, Neng.”
"Iya, Bik. Syukurlah saya jadi tidak harus mencari merk yang lain. Ini juga atas rekomendasi dokter," jawab Zayna sambil memperhatikan putranya. "Bik, memang kalau wanita hamil ada yang seperti aku. Pagi-pagi sudah muntah, badan lemas, tapi agak siangan sudah seperti biasa lagi, seperti tidak terjadi sesuatu."
"Memang ada juga yang seperti itu, Neng. Bahkan ada yang lebih parah, seharian muntah-muntah terus. Ada juga yang muntahnya hanya malam hari saja. Bawaan bayi memang beda-beda," jawab Bik Ira membuat Zayna menganggukkan kepala.
Waktu kehamilan pertama, dia sampai tidak sadar kalau sedang hamil. Yang kehamilan sekarang, terasa sekali keberadaan bayinya. Dia berharap anaknya kali ini bisa sehat sampai waktu lahiran tiba. Semoga saja tidak ada halangan seperti kelahiran anak pertamanya.
Zayna pun menatapnya dan bertanya, "Bibi, mau bicara apa? Katakan saja."
Meski ragu, Bik Ira tetap mengatakannya. Dia tidak mungkin terus menundanya. "Begini, Neng. Kemarin anak Bibi yang paling kecil, diterima kuliah di kota ini. Dia bilang mau ikut Bibi tinggal di sini. Nanti dia akan bantu-bantu, tapi Neng dan Nyonya tidak usah membayarnya. Anggap saja sebagai ganti karena dia tinggal di sini."
Zayna terlihat berpikir, dia tidak bisa mengambil keputusan sepihak begitu saja. Bagaimanapun semua keputusan ada di tangan mertuanya. Wanita itu tidak mau dianggap lancang karena sudah memberi izin tanpa bertanya lebih dulu.
"Saya tidak bisa memutuskan sendiri, Bik. Bibi juga tahu kalau saya di sini anak menantu. Meskipun Mama Aisyah sudah menganggapku seperti anak sendiri, tapi tetap saja aku hanya menantu jadi, tidak bisa mengizinkan begitu saja. Nanti akan aku coba bicara sama Mama mengenai hal ini. Keputusannya nanti bagaimana, saya tidak bisa ikut campur. Semua ada di tangan beliau."
"Iya, Neng, Bibi mengerti. Eneng membantu bibi bicara sama nyonya saja itu sudah cukup. Mudah-mudahan nyonya dan tuan juga setuju agar Bibi juga tidak lagi jauh-jauhan sama anak Bibi. Anak Bibi yang belum berumah tangga cuma dia. Selama ini dia tinggal di asrama. Baru kali ini ada kesempatan untuk tinggal sama Bibi jadi, Bibi ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya."
"Iya, Bik. Mudah-mudahan saja. Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Memangnya dia diterima kampus mana, Bik?"
"Tidak jauh dari sini, Neng. Bibi senang karena kampus itu termasuk kamus elite. Apalagi anak Bibi diterima lewat jalur beasiswa, itu semakin membuat Bibi bangga."
"Alhamdulillah kalau kayak gitu. Saya juga ikut senang kalau anak Bibi jadi orang yang hebat," ucap Zayna dengan tersenyum.
__ADS_1
****
"Adam, ayo pulang!" panggil Hanif pada putranya yang masih asyik bermain.
"Iya, Pa," teriak Adam yang kemudian berlari ke arah sang papa.
Keduanya pergi meninggalkan sekolah dengan bergandengan tangan. Kali ini tujuan Hanif ada toko peralatan sekolah. Banyak yang dibutuhkan oleh Adam, Hanif yang memilih berbagai perlengkapan dengan dibantu oleh Adam dan penjaga toko. Untung saja seragam tadi sudah beli di sekolah jadi, tidak perlu memikirkan itu lagi.
Tidak lupa juga Hanif membawa Adam ke toko sepatu. Anak itu begitu senang melihat deretan sepatu yang dari dulu sangat dia inginkan. Teman-temannya selalu memiliki model terbaru, tetapi tidak dengan dirinya. Setiap kali meminta yang baru, malah akan berakhir dengan hukuman.
"Pa, ini bagus! Aku mau yang ini," seru Adam saat melihat salah satu sepatu yang dari dulu sangat dia inginkan.
"Mbak, mau yang itu. Tolong dicari nomor yang pas," ucap Hanif pada pegawai.
"Iya, Pak. Tunggu sebentar."
Pegawai pun melayani Adam dengan baik dan mencarikan nomor sepatu yang pas. Setelah semua perlengkapan sudah terpenuhi, Hanif segera mengajak putranya untuk pulang. Hari ini keduanya harus pulang. Setelah jam makan siang pria itu harus sampai di perusahaan. Ada meeting bulanan yang harus dia hadiri.
"Pa, nanti kita beliin mama buah dulu, ya? Di kulkas sudah habis semuanya," ucap Adam saat dirinya sedang berada di perjalanan.
"Boleh, memang Bibi nggak beli buah kemarin? Kenapa bisa sampai habis?"
"Aku juga nggak tahu. Kemarin aku lihat sudah habis, hanya tinggal jeruk dua saja."
"Ya sudah, di depan ada toko buah. Kita mampir di sana, ya! Kamu bisa pilih apa pun yang kamu suka. Kebetulan sekarang sedang musim buah alpukat, pasti Mama juga senang."
"Mama suka buah alpukat, Pa?" tanya anak itu lagi karena sebelumnya memang dia tidak tahu ap
"Iya, Mama kamu sangat suka buah itu. Mudah-mudahan saja sekarang saat hamil masih tetap suka.”
"Memang kalau hamil suka berubah kesukaannya, Pa? Aku lihat mama seperti biasa saja mengenai selera makan. Bahkan Mama juga terlihat sangat aktif, padahal dokter sudah meminta Mama untuk banyak istirahat.
.
.
__ADS_1