
Pagi ini Kinan pergi ke kampus dengan mobil yang biasa dia pakai. Tadi pagi saat dia mengaktifkan ponselnya, terdapat beberapa panggilan masuk dari Niko, serta puluhan pesan juga dari pria itu. Namun, Kinan sama sekali tidak berniat untuk membacanya. Mudah-mudahan saja di kampus nanti pria itu tidak mengganggunya. Terlalu malas jika harus menanggapinya.
Apalagi jika sampai membuat dia berurusan dengan Nayla. Bisa-bisa mantan sahabatnya itu akan semakin menjadi. Mengingat bagaimana karakter Nayla yang tidak ingin dikalahkan.
Begitu sampai di kampus, Kinan turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Masih ada tiga puluh menit sebelum kelas dimulai. Dia ingin pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku lebih dulu.
“Kinan!” panggil seseorang dari arah belakang membuat gadis itu menoleh.
Dia pun memutar bola matanya malas, ternyata mantan kekasihnya itu tidak menyerah juga. Setelah tadi malam beberapa panggilan pria itu tidak direspon sama sekali, kini malah mendatanginya. Kinan terus melanjutkan langkahnya tanpa peduli teriakan Niko. Hingga pria itu pun mengejarnya.
“Kinan, aku tadi memanggilmu. Kenapa kamu tidak berhenti?” tanya Niko sambil mencekal pergelangan tangan Kinan. Gadis itu pun segera melepaskan cekalan pria itu dengan kasar.
“Buat apa kamu mencariku? Diantara kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" ucap Kinan dengan nada kesal.
“Aku hanya ingin bertanya padamu, tidak bolehkah?”
“Tidak boleh! Kita sudah tidak ada kepentingan lagi,” sahut Kinan dengan cepat.
“Kenapa kamu tidak pernah menceritakan jati dirimu padaku?” tanya Niko tanpa menghiraukan ucapan Kinan.
“Buat apa juga aku menceritakan keluargaku! Memang apa urusannya keluargaku dengan kamu?”
“Saat itu kita pacaran, tentu saja ada hubungannya.”
“Terus kamu mau mempertahankan hubungan kita karena keluargaku orang kaya, begitu? Munafik sekali kamu! Aku tidak menyangka jika aku pernah menjalin hubungan dengan laki-laki seperti kamu.”
“Bukan begitu juga.”
“Terus apa? Sudahlah, kamu nggak ada kepentingan lagi, kan? Kamu juga sudah mendapatkan Nayla. Keluarganya juga seorang pengusaha yang memiliki beberapa cabang restoran, jadi kamu pasti senang dan sangat bahagia.”
__ADS_1
“Kamu salah, Kinan. Justru aku yang salah telah memilihnya. Aku sadar jika aku masih sangat mencintaimu dan aku yakin kamu juga masih merasakan hal yang sama.”
Kinan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Niko. Rasa percaya diri pria itu ternyata sangat tinggi sekali, hingga bisa mengatakan hal seperti itu. Setelah semua yang dilakukan Niko padanya. Tidak ingatkah pria itu seberapa besar luka yang sudah dia torehkan.
“Seharusnya sebelum kamu mengatakan hal itu, kamu pikirkan kembali, apa masih ada cinta dalam hatiku untukmu, setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku? Aku rasa kamu bukan pria yang bodoh. Buat apa juga aku mencintai pria sepertimu. Seorang penghianat dan tidak bisa dipercaya. Aku tidak membutuhkan seorang kekasih yang seperti itu. Lagi pula sekarang sudah ada seseorang yang bisa melindungiku dan menyayangiku dengan sangat-sangat tulus. Aku berterima kasih padamu karena sudah menunjukkan dirimu yang sebenarnya sebelum semuanya terlambat," ujar Kinan dengan nada sinis. "Aku masih ada kelas pagi ini, jadi maaf tidak bisa meladeni ucapanmu.”
“Tidak mungkin kamu dengan begitu mudah mencintai Pak Hanif. Semua orang tahu Pak Hanif itu orang yang sangat kaku. Rasanya tidak mungkin Jika kamu bisa jatuh cinta pada pria seperti itu.”
Kinan yang sudah melangkahkan kakinya pun berhenti. Dia kembali menoleh ke arah Niko dengan sorot mata tajam.
“Kenapa tidak? Apakah aku harus jatuh cinta pada seorang pria yang sudah menghianati kekasihnya dan juga memanfaatkan kekasihnya kini untuk kepentingan pribadi? Lebih baik aku hidup sendiri seumur hidup daripada bersama dengan pria pengecut seperti itu. Permisi! Aku masih ada kelas dan itu jauh lebih penting,” pungkas Kinan yang kemudian berlalu dari sana.
Padahal tadi dia berniat untuk mengembalikan buku ke perpustakaan. Akan tetapi, waktunya terbuang begitu saja karena kehadiran Niko. Pria itu memang suka sekali mengganggu ketenangan orang. Padahal dulu tidak begitu atau mungkin memang Kinan yang buta.
Begitu gadis itu memasuki kelas, sudah tidak ada lagi pandangan sinis seperti hari-hari sebelumnya. Mereka tampak menyapa dan tersenyum pada Kinan. Ada pula yang terlihat biasa saja.
"Aku boleh duduk di samping kamu?” tanya seorang gadis.
“Oh iya, aku hanya bertanya. Barangkali ada seseorang yang ingin duduk di dekatmu.”
“Kebetulan tidak ada.” Gadis itu pun duduk di sana.
Kinan membuka tas dan mengambil bukunya. Dia hanya berfokus pada buku tanpa menghiraukan orang yang tadi duduk di sampingnya. Kinan tahu gadis tadi berusaha mencari perhatiannya. Dia tidak suka seperti ini, lebih baik orang-orang memperlakukannya seperti sebelumnya daripada harus seperti sekarang ini. Banyak orang yang suka mencari muka.
Setelah menyelesaikan kelasnya Kinan akan pergi ke perpustakaan. Namun, baru saja dia mendapat pesan dari Hanif. Pria itu mengatakan jika sudah menunggunya di tempat parkir. Hanif ingin mengajak tunangannya itu jalan-jalan.
Sejak keduanya memutuskan untuk mempublikasikan hubungan. Mereka tidak pernah jalan berdua. Sekarang Hanif belum sibuk di perusahaan, jadi dia meluangkan waktu agar bisa pergi berdua bersama dengan Kinan. Pria itu takut nanti semua waktunya akan tersita untuk pekerjaan dan tidak memiliki lagi waktu bersama Kinan.
“Kinan, kamu mau ke mana? Buru-buru sekali?” tegur Farah saat melihat Kinan melintas di depannya.
__ADS_1
“Farah! Iya, aku ada janji. Ada apa?”
“Tidak ada, aku pikir kamu mau ke perpus, mau sekalian bareng.”
“Sebenarnya tadi pagi memang mau ke sana, tapi besok sajalah. Sekarang sudah terlanjur ada janji juga," ucap Kinan merasa tidak enak.
“Janji sama Pak Hanif?”
“Iya, dia sudah nunggu di depan.”
“Kalau begitu kamu pergi saja. Aku mau ke perpustakaan.”
“Aku pergi dulu, kapan-kapan kita ngobrol lagi.”
“Iya, hati-hati.”
Kinan pergi menuju parkiran. Saat melihat mobil Hanif, gadis itu segera masuk ke dalam mobil. Dia yakin jika pria itu sudah ada di sana karena isi pesannya seperti itu.
“Mas, mau ngajak aku ke mana?” tanya Kinan.
“Ke mana saja, asal jalan-jalan sama kamu,” jawab Hanif dengan tersenyum, membuat Kinan merasa malu.
“Mobilku bagaimana, Mas?” tanya Kinan saat sadar jika dirinya tadi membawa mobil.
“Biar nanti sopirku yang akan mengambilnya. Kemarinkan kunci mobil kamu,” ucap Hanif sambil menadahkan tangannya.
Kinan pun memberikannya pada Hanif. Pria itu memberikan kunci mobil Kinan pada satpam. Dia mengatakan bahwa akan ada orang yang mengambilnya nanti. Pasangan kekasih itu pun meninggalkan kampus. Di perjalanan, Hanif mengirim pesan pada seseorang untuk mengambil mobil di kampus.
.
__ADS_1
.