
"Abi, ayo kita pergi ke rumah sakit! Barusan Bu Zayna telepon Umi, katanya Hira sudah waktunya lahiran," ajak Umi Rikha pada sang suami yang saat ini sedang membaca buku di kamar.
"Yang benar, Umi?" tanya suaminya yang masih belum percaya.
"Iya, Abi. Ayo cepat!"
"Tapi kita ke sana pakai apa, Umi? Abi sudah lama tidak mengendarai mobil. Takutnya nanti malah grogi, apalagi dalam keadaan yang seperti ini."
"Terus kita bagaimana perginya, Abi? Tidak mungkin kita tidak ke sana."
"Sebentar, biar Abi panggilkan Ustaz Ali, semoga saja beliau sedang senggang."
Kyai Hasan memanggil Ustaz Ali lewat sambungan telepon, untung saja beliau tidak ada jadwal mengajar jadi, bisa mengantar ke rumah sakit. Apalagi saat mengetahui tujuan Kyai Hasan pergi, ustaz itu semakin bersemangat. Meski sudah tidak ada kesempatan, tetapi dengan melihat wajah bahagianya saja itu sudah cukup.
****
"Alhamdulillah," ucap Arslan begitu istrinya berhasil melewati masa persalinan yang cukup menguras tenaga. Rasa syukur tidak hentinya pria itu panjatkan karena sang buah hati dan istrinya baik-baik saja.
"Selamat, Pak. Anak Anda perempuan. Perawat akan membersihkan terlebih dahulu. Nanti Anda boleh mengazaninya," ucap dokter yang dianggap oleh Arslan.
Pria itu sama sekali tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi, semuanya tertahan dalam hatinya. Yang pasti dia ingin mengucapkan rasa terima kasih yang begitu besar, pada dokter dan perawat karena sudah membantu persalinan sang istri. Berkali-kali Arslan mencium kening Hira dengan penuh cinta, meluapkan perasaan dan ketegangan yang dia rasakan tadi.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberikanku malaikat yang begitu cantik. Semoga anak kita nanti menjadi anak yang sholehah, berbakti pada kita sebagai orang tua dan orang-orang yang di sekitar, serta negara tempat kelahirannya."
"Amin," sahut Hira dengan suaranya yang lemah. Tenaganya sudah sepenuhnya terkuras tadi.
Dokter membersihkan semua bekas persalinan, sementara perawat yang tadi membawa bayi mendekati Arslan dan memberikan anak kecil itu untuk di azani. Pria itu menerima dengan tangan gemetar. Dia begitu terharu melihat wajah kecil dengan kulit yang begitu tipis, serta tulang yang begitu lemah.
Suara azan dikumandangkan oleh Arslan di telinga sang putri, membuat Hira yang mendengar pun ikut meneteskan air mata. Wanita itu juga tidak menyangka bisa melewati semuanya. Tadi dia sempat menyerah, dirinya merasa tidak sanggup lagi berjuang mengeluarkan bayinya. Berkat dukungan dan doa sang suami yang menemaninya, Hira mencoba menguatkan diri lagi dan berhasil.
Ternyata perjuangan seorang ibu begitu besar, pantas saja jika surga berada di telapak kaki ibu. Nyatanya perjuangan itu sungguh sangat berat. bahkan Hira juga tadi sudah merelakan jika memang dirinya harus kehilangan nyawa. Namun, Tuhan masih begitu baik padanya, Dia masih memberikan waktu untuk merasakan bagaimana merawat dan membesarkan anaknya.
****
"Assalamualaikum, Bu Zayna," ucap Umi Rikha begitu sampai di rumah sakit dan bertemu dengan besannya.
"Waalaikumsalam, Umi Alhamdulillah Hira sudah melahirkan. Anak dan cucu kita selamat." Zayna yang sudah tidak sabar pun memberi kabar sebelum besannya bertanya.
"Alhamdulillah," ucap Kyai Hasan dan Umi Rikha secara bersamaan.
Sementara itu, Aina tidak berkedip sama sekali, saat melihat ada seorang pria yang datang bersama orang tua Hira. Wajahnya begitu tampan, orangnya juga tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun, sungguh sangat memikat. Baru kali ini Aina begitu mengagumi laki-laki.
"Aina, kamu lihatin apa, sih?" tanya Aini sambil memperhatikan saudara kembarnya itu.
Dia yang penasaran, mencoba mengikuti arah pandang saudaranya. Ternyata dia sedang memperhatikan seorang laki-laki yang berada di belakang Kyai Hasan. Entah siapa pria itu, dilihat dari pakaiannya, sudah dipastikan jika dia adalah salah satu penghuni pondok pesantren, tempat kedua orang tua Hira tinggal.
"Sudah, jangan dilihat terus. Memangnya kamu sudah siap menutup kepalamu kalau sama dia," bisik Aini yang seketika membuat Aina tersadar.
Benar apa yang dikatakan saudaranya, tidak mungkin pria itu mau dengannya. Dia terbuka seperti ini, sudah pasti bukan wanita idamannya. Kriteria pria itu pasti adalah wanita seperti kakak iparnya, yang lemah lembut, sopan dan yang paling penting menutup auratnya. Aini sendiri masih suka memakai pakaian seksi, terbuka bahkan menutup rambutnya pun tidak.
Aina menundukkan kepala dengan mengembuskan napas pendek. Perbedaannya sungguh sangat terlihat. Dia jadi berpikir, apakah bisa berubah menjadi manusia lebih baik lagi.
"Jangan khawatir, kamu bisa mendapatkannya kalau kamu berubah." Aini mencoba memberi dukungan pada saudara kembarnya.
"Tapi perbedaan antara aku dan dia begitu jauh, Aini. Kamu lihatlah! Aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan para penghuni pondok."
Aini mengerutkan keningnya sambil menatap saudaranya. "Kenapa jadi bahas masalah penghuni mondok sama kamu? Apa hubungannya?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja mereka itu pasti sangat pandai dalam segala hal, sedangkan aku. Jangankan pandai dalam agama, bersikap sopan saja aku harus pilih-pilih." Aina tertunduk lesu, mengingat dirinya tidak memiliki kelebihan apa pun.
"Siapa bilang? Kalau aku melihat kamu itu, aku masih melihatmu dalam kategori wanita sopan. Kita hanya kurang sopan pada orang yang tidak menghormati kita saja."
"Nah, itu dia! Aku masih memiliki penyakit hati, sementara mereka pasti sangat mudah memaafkan orang lain."
"Kamu terlalu berlebihan dalam menilai mereka. Mereka juga punya hati, pasti pernah sakit hati juga. Sudahlah! Kenapa jadi bahas pondok? Sebaiknya sekarang kita menunggu Kak Hira saja, jangan bahas orang lain lagi," pungkas Aini.
"Kalian berdua ini sedang membicarakan apa, sih? Dari tadi Mama dengar bisik-bisik terus," tanya Zayna dengan suara pelan. Dia memang tidak tahu apa yang kedua putrinya katakan, tetapi tetap saja wanita itu merasa risih. Apalagi di sini ada kedua besannya.
"Kami tidak bicara apa-apa, kok, Ma. Kami hanya sedang membicarakan papa, kenapa sampai sekarang papa belum ke sini juga?" jawab Aini berbohong agar mamanya tidak bertanya lagi.
"Papa kamu sedang ada meeting. Mama sudah kirim pesan padanya, tapi tadi sudah bilang kalau akan diusahakan segera pulang cepat."
Aina dan Aini hanya mengangguk saja dengan saling lirik satu sama lain. Tidak berapa lama ruang bersalin terbuka, tampaklah seorang dokter keluar dengan tersenyum ke arah semua orang yang sudah menunggu.
"Bagaimana keadaan putri dan cucu kami, Dokter?" tanya Kyai Hasan.
"Alhamdulillah, Bu Hira dan bayinya sehat. Perawat akan segera memindahkan mereka ke ruang rawat inap. Saya harap keluarga segera mengurus administrasinya agar kami bisa menentukan di kamar mana pasien harus tinggal."
"Baik, Dok. Kami akan segera mengurusnya.
"Saya permisi dulu." Dokter itu pun pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
"Biar saya saja yang mengurus semuanya," ucap Kyai Hasan.
"Tidak perlu, Kyai. Anda di sini saja, biar saya saja yang mengurus semuanya," sela Mama Zayna.
"Jangan begitu, Bu. Meskipun sekarang Hira sudah menjadi tanggung jawab Arslan, tapi dia juga masih putri kami."
"Biar saya saja Abi, Ma," sela Arslan yang baru saja keluar dari ruang bersalin.
Tampak wajahnya terlihat sangat bahagia. Siapa juga yang tidak bahagia saat memiliki seorang anak lucu.
"Bagaimana keadaan Hira, Ars?" tanya Mama Zayna.
"Alhamdulillah, Ma. Dokter pasti sudah menjelaskan kalau Hira dan anak kami baik-baik saja, keduanya juga sehat. Mama tolong jaga di sini saja, saya mau ngurus administrasinya."
Zayna mengangguk, Arslan segera pergi ke bagian administrasi untuk membayar segala kebutuhannya. Dia bersyukur karena bisa datang tepat waktu jadi, dia bisa menemani sang istri menjalani proses persalinan.
Para orang tua sibuk dengan membicarakan keadaan Hira dan anaknya, Aini pun berjalan mendekati Ustaz Ali. Aina pun melototkan matanya saat melihat itu, dia takut mamanya akan marah karena disaat semua orang sibuk dengan keadaan Hira, dirinya dan saudaranya justru memikirkan hal lain.
"Assalamualaikum, Ustaz. Anda tadi yang datang bersama dengan kedua orang tua Kak Hira, ya?" tanya Aini, sementara orang yang duduk itu hanya bisa mendengarkan gadis itu yang berinisiatif untuk mengajaknya berbincang.
"Oh i–iya, tadi saya datang bersama dengan Kyai Hasan. Maaf jika kedatangan saya mengganggu," sahut Ustaz Ali dengan perasaan tidak enak.
"Tidak–tidak, justru saya berterima kasih karena Anda sudah mengantar mereka."
"Tidak perlu berterima kasih. Kyai Hasan dan Umi Rikha adalah guru saya, sudah sepantasnya saya mengantar beliau," sahut Ustaz Ali yang masih merasa gugup.
Dia belum pernah berduaan dengan wanita yang bukan mahram. Meskipun ini tempat umum, tetap saja sedekat ini dengan wanita membuatnya salah tingkah. Apalagi gadis ini berbeda dengan wanita yang dikenalnya selama ini.
"Aini," panggil Aina dengan berbisik.
Dia melihat ke arah para orang tua, takut jika mereka melihat tingkah konyol saudaranya. Maka dirinya pasti akan mendapat masalah. Namun, sepertinya Aini sama sekali tidak peduli. Gadis itu bahkan lebih banyak bertanya beberapa hal pada Ustaz Ali.
"Oh, jadi nama Ustaz itu Ustadz Ali!"
__ADS_1
"Anda bisa memanggil Ali saja, di luar pondok biasanya saya dipanggil seperti itu," sela Ustaz Ali yang sama sekali tidak melihat ke arah lawan bicaranya.
"Tidak, Ustaz. Itu terdengar tidak sopan karena Ustaz dan juga pengajar di pondok. Waktu Kak Arslan menikah dengan Kak Hira, apa Ustadz juga datang? Kenapa kami tidak melihatnya?"
"Saat itu saya datang, kok! Mungkin memang tidak terlihat."
"Mungkin waktu itu juga keluarga sangat sibuk, tapi jangan panggil Nona, dong! Panggil saja nama, saya Aini dan ini saudara kembar saya namanya Aina."
"I–iya," sahut Ustaz Ali dengan melihat sekilas ke arah si kembar. Pria itu jadi salah tingkah dibuatnya.
Dari arah lorong rumah sakit, terlihat Papa Ayman sedang berlari ke arah mereka, segera Aini menjauh dari Ustaz Ali. Kalau tidak, papanya akan marah saat tahu apa yang sedang dia lakukan. Bisa-bisa dirinya akan segera dinikahkan. Padahal dia masih ingin meraih cita-citanya.
"Katanya tadi mau lebih tahu tentang Ustaz Ali, kenapa sekarang malah menjauh," cibir Aina yang membuat Aini melebarkan matanya pada saudaranya itu.
"Ini juga demi kamu tahu."
Arslan sudah menyelesaikan biaya administrasi. Dia juga sudah memilih kamar yang akan digunakan oleh istri dan anaknya. Pria itu sudah izin pada dokter agar bayi mereka satu kamar saja dengan sang istri. Dokter pun mengizinkan karena bayi itu sehat, hanya saja masih perlu pemeriksaan rutin.
Arslan juga tidak keberatan atas apa pun yang dilakukan pada anaknya, asal itu demi kesehatannya. Dia memang sengaja memilih kamar VVIP agar nanti saat ada keluarga yang datang, dirinya tidak perlu repot untuk menyediakan tempat yang nyaman. Hira sudah dipindahkan ke ruangan, begitu juga dengan bayi mereka.
Seluruh keluarga begitu bahagia, apalagi saat melihat bayi kecil itu. Siapa pun yang melihat Baby Ica pasti tidak mau jauh darinya.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Apa ada yang masih sakit?" tanya Arslan pada istrinya yang masih terlihat lemah. Dia sudah meminta wanita itu untuk tidur agar tenaganya kembali, tetapi Hira menolak karena rasa bahagianya sudah berhasil menjadi seorang ibu.
"Sudah, tidak apa-apa, Mas. Kamu jangan terlalu khawatir."
"Ars, apa kamu sudah mendapatkan nama untuk anak kalian?" tanya Mama Zayna pada putranya.
"Sudah, Ma. Hira yang mencarikan nama untuk anak kami."
"Oh ya! Siapa namanya namanya?"
"Namanya Maratus Sholihah, panggilannya Icha."
"Nama tang bagus, semoga kelak dia menjadi wanita yang sholihah," sahut Kyai Hasan.
"Amin."
Para orang tua pun berbincang cukup lama, hingga Kyai Hasan pamit undur diri. Dia tidak bisa terlalu lama meninggalkan pondok pesantren karena memang, tadi dia pergi begitu saja tanpa menitipkan pondok pada siapa pun. Aina tampak tidak rela saat Ustadz Ali akan pergi juga, tetapi dia juga tidak mungkin menahannya.
"Maafkan Abi dan Umi, tidak bisa terlalu lama di sini," pamit Kyai Hasan pada putrinya.
"Tidak apa-apa Abi, Umi, Hira mengerti bagaimana tugas Abi, lagi pula Abi dan Umi juga bisa datang kapan-kapan ke rumah. Kalau perlu nanti jika keadaanku dan anakku sudah baik-baik saja, kami akan datang ke sana," sahut Hira dengan tersenyum.
"Umi akan menunggunya."
"Ning Hira, selamat atas kelahiran putrinya, maaf saya tidak membawa apa-apa karena memang tadi ke sini juga dadakan," ucap Ustaz Ali yang sejak tadi hanya diam.
"Tidak apa-apa, Ustaz. Anda sudah mau datang saja saya sudah sangat berterima kasih.
"Apalagi sudah mau mengantar kedua orang tua saya. Terima kasih sekali lagi, Ustaz."
"Sama-sama, Ning."
"Kami semua pamit, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Kedua orang tua Hira bersama dengan Ustaz Ali akhirnya meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1