
"Mana mungkin kamu bisa, kamu cuma lulusan SMA," cibir Bu Siska.
"Memang benar, Bu, tapi apa salahnya jika saya mencoba. Daripada menunggu Mbak Vita yang lagi pusing mengerjakannya," ujar Zayna.
"Silakan saja, coba kalau bisa. Anak saya yang S2 saja mikir beberapa menit, apalagi kamu!" sahut Siska dengan nada sinis.
Zayna mengambil buku tersebut dan melihat soal yang ada. Dia segera mengerjakannya, tidak salah lagi hanya butuh waktu lima belas menit, semuanya sudah selesai. Tidak lupa juga wanita itu menjelaskan pada Ina.
"Wah, Kakak, hebat sekali! Walaupun cuma lulusan SMA, tapi bisa mengerjakan soal ini dengan cepat!" seru Ina.
"Alhamdulillah, saya hanya sering membaca buku adik saya jadi, saya masih ingat," jawab Zayna yang tidak sepenuhnya berbohong karena memang setiap ada tugas, kedua adiknya akan meminta dia untuk mengerjakannya. Bahkan tugas kuliah pun dia yang mengerjakan.
"Pasti adik Kakak sering minta tolong sama Kakak buat ngerjain. Kakak hebat sekali. Terima kasih, ya, Kak. Ya sudah, aku mau ke kamar dulu, mau ngerjain tugas yang lain." Anak Bu Indy pun pergi dengan berlari.
"Aduh, terima kasih, ya, Zayna. Untung ada kamu, kalau tidak bisa pecah kepala Tante. Dia bisa terus-terusan merengek," ujar Bu Indy.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya hanya sedikit membantu saja."
"Menantu Bu Aisyah hebat, walaupun cuma lulusan SMA, tapi bisa mengerjakan tugas dengan cepat. Beda sama yang lulusan S2, sudah berpikir setengah jam, tapi belum juga dapat jawabannya," sindir Bu Indy.
"Menantu saya bukannya tidak bisa, Bu. Dia hanya sedang pusing saja. Tadi, kan, dia sudah bilang seperti itu. Anak Bu Indy saja yang memaksa," sahut Bu Sisca yang tidak mau kalah.
"Tapi ini, kan, soalnya mudah, Bu Siska. Menantu Bu Aisyah saja tidak perlu berpikir. Dia langsung saja mengerjakannya, bahkan anak saya bisa mengerti saat dijelaskannya."
"Itu hanya kebetulan saja dia bisa. Kalau ditanya pelajaran yang lain juga saya yakin dia tidak bisa," sahut Bu Sisca yang masih tidak mau mengalah.
"Sudah-sudah, Bu Indi, sebaiknya kita langsung saja ke acara arisannya. Saya nggak enak jadi merusak acara seperti ini," sela Aisyah yang merasa tidak enak, tetapi dalam hati dia senang karena Zayna bisa membuatnya bangga. Meskipun dirinya sama sekali tidak mengharapkan seperti itu. Wanita itu tidak suka pamer mengenai hal-hal yang tidak penting baginya. Mama Aisyah tahu bukan maksud Zayna untuk pamer. Dia sedang membantu saja.
__ADS_1
"Iya, Bu Aisyah. Ayo, kita mulai saja!" sahut Bu Indy.
Mereka pun duduk bersama di ruang tamu. Tampak menantu Bu Siska menatap Zayna dengan memicingkan matanya. Dia tidak suka melihat menantu Bu Aisyah karena merasa telah kalah dengan wanita lulusan SMA. Yang nyatanya memang begitu. Vita kuliah juga tidak pernah mengerjakan tugas. Semua dikerjakan oleh teman-temannya, lebih tepatnya dia memaksa mereka untuk mengerjakan tugas miliknya.
Setelah acara selesai, Mama Aisyah mengajak menantunya pergi ke mall. Dia ingin berbelanja beberapa pakaian. Zayna pun mengikuti saja. Wanita itu senang bisa pergi berdua dengan mertuanya. Hal yang dari dulu sangat dia inginkan, bisa pergi dengan ibunya untuk berbelanja.
Keduanya mengelilingi mall, memilih sesuatu yang cocok. Mama Aisyah juga diam saja saat Zayna bergelayut di lengannya. Mereka tampak seperti ibu dan anak.
"Kamu suka baju yang bagaimana, Na?" tanya Mama Aisyah sambil melihat baju yang tergantung di sebuah toko.
"Apa saja suka, Ma. Yang penting tidak terlalu terbuka."
"Kita ke toko sebelah sana saja!" ajak mama Aisyah dengan menggandeng tangan menantunya, membuat Zayna senang. Dia merasa diperlakukan seperti anaknya sendiri. Wanita itu pun membalas genggaman tangan mertuanya. Mereka memilih beberapa pakaian, bahkan Mama Aisyah sendiri yang memilihkan untuk Zayna.
"Aku nggak mau, Ma. Ini terlalu terbuka, nanti Mas Ayman bisa marah," tolak Zayna saat mertuanya memilihkan satu baju yang sedikit terbuka.
"Nggak mau, Ma. Daripada nanti Mas Ayman marah, aku juga pasti nggak nyaman kayaknya. Lihat ini! Belahan dadanya sedikit rendah."
"Mama carikan yang lain kalau begitu. Mama juga nggak mau Ayman marah sama Mama gara-gara membuat istrinya memakai baju seperti ini," gumam Mama Aisyah yang masih bisa didengar Zayna.
Wanita itu hanya tersenyum mendengarnya. Zayna mengedarkan pandangannya. Hingga berhenti pada baju yang terpasang di manekin. Sebuah baju couple ibu dan anak. Dari dulu dia sangat ingin memakai baju seperti ini, tetapi Mama Savina tidak mau membelikannya. Ibu tirinya itu hanya membeli untuk dirinya sendiri dan kedua adik tirinya.
"Ma, kita beli ini, yuk! Ini baju couple ibu dan anak. Beli, ya, Ma."
"Itu baju untuk anak muda. Mama mana pantas pakai baju seperti itu, nggak mau!" tolak Mama Aisyah.
"Siapa bilang Mama sudah tua? Kita itu terlihat seperti seumuran. Ayo, kita coba! Pasti Mama terlihat cantik. Nanti papa pasti nggak bisa tidur."
__ADS_1
"Tanpa Mama beli baju itu juga, papa pasti nggak bisa tidur kalau nggak ada Mama di rumah," sahut Aisyah membuat Zayna tertawa.
"Iya, deh, percaya sama mama yang pesonanya nggak bisa dikalahin." Keduanya tertawa. Namun, Mama Aisyah tetap mengikuti saran Zayna untuk mencoba pakaian tersebut.
*****
"Ayman, kamu hari Senin pergi ke cabang perusahaan luar kota. Yang ada di tempat mertuamu. Papa sebenarnya ada kerjaan di sana, tapi sepertinya kamu lebih bisa diandalkan di sana. Kamu bisa sambil berkunjung ke rumah mertuamu, sekaligus mengatakan semuanya dan memang sudah saatnya kamu harus jujur pada mereka. Kamu belum mengatakan siapa diri kamu sebenarnya, kan?" tanya Papak
"Iya, Pa. Aku memang belum bilang sama Papa Rahmat. Kemarin juga beliau sempat hubungin aku dan bertanya dari mana uang sebanyak itu buat mengirim mereka. Aku bilang saja nanti saat ke sana aku jelasin."
"Ya sudah, kalau begitu, kamu yang ke sana. Berkas-berkasnya mungkin nanti bisa Ilham siapkan. Kami juga bawa dia ke sana, pekerjaan di sana cukup berat, dia bisa diandalkan."
"Iya, Pa"
"Papa kembali ke ruangan dulu."
Ayman hanya mengangguk. Papa Hadi pun meninggalkan putranya sendiri. Ayman mengirim pesan kepada papa mertuanya bahwa hari Minggu dia akan berkunjung ke sana. Papa Rahmat hanya mengiyakan saja, tanpa banyak bertanya alasan mereka datang.
Baginya itu tidak terlalu penting karena saat ini, dia ingin bertanya mengenai uang kiriman Ayman. Sampai sejauh ini Papa Rahmat tidak mengatakan berapa jumlah kiriman dari menantunya pada sang istri. Dia ingin tahu dengan jelas lebih dulu dari mana uang itu.
Sore hari Ayman pulang dari kantor. Sebelum pulang, dia juga membeli martabak dan minuman kesukaannya Zayna. Sudah lama pria itu tidak membelikan makanan sejak dirinya pindah ke sini. Dulu saat masih tinggal di rumah kontrakan saat pulang, sesekali Ayman akan membawakan cemilan untuk istrinya.
Mobil Ayman memasuki halaman rumah diikuti mobil mamanya yang di sopiri Pak Doni. Pria itu tersenyum melihat istrinya turun. Namun, hal yang membuatnya terkejut adalah pakaian yang dipakai Zayna dan Mama Aisyah. Dia bahkan sampai tidak bergerak saat melihatnya.
.
.
__ADS_1
.