Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
130. Ajakan menikah


__ADS_3

Zayna menceritakan apa yang terjadi tadi di restoran pada sang suami. Dia juga bercerita mengenai dirinya yang mengerjai Hanif dan segala kekesalannya. Ayman menahan tawa saat mendengarnya. Dia bisa membayangkan wajah kesal calon adik iparnya itu.


“Sayang, namanya juga pengusaha, pasti akan bertemu dengan banyak orang. Pemimpin perusahaan juga tidak semuanya laki-laki. Ada juga yang perempuan. Hal seperti itu sudah biasa.”


“Iya, tapi nggak tahu tiba-tiba aku kesel saja. Apalagi wanitanya juga centil luar biasa. Padahal dia sedang bekerja. Hanif juga biasa saja menanggapinya, tapi tetap saja wanita itu terus mencoba cari perhatian.”


Ayman sebenarnya ingin mengatakan pada sang istri jika hal seperti itu, sudah biasa di lingkungan pekerja kantoran. Namun, dia takut jika istrinya akan semakin marah dan membuat mood wanita itu memburuk, jadi lebih baik dia diam dan mendengarkan sang istri saja.


“Mas, pokoknya kamu harus hati-hati kalau ada wanita seperti itu. Aku tidak mau kalau kamu sampai tergoda olehnya," ucap Zayna dengan tegas.


“Iya, Sayang. Kamu harus percaya sama aku. Aku tidak akan mungkin tertarik dengan wanita lain.”


“Maaf, Pak. Ini laporan yang Anda minta,” ucap Ilham yang saat ini berada bersama Ayman. Namun, masih bisa didengar oleh Zayna.


“Kamu taruh sana saja,” sahut Ayman. Wanita itu merasa bersalah karena sudah mengganggu waktu kerja pria itu.


“Ya sudah, Mas. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Nanti malam kita teleponan lagi.”


“Iya, nanti kalau aku sudah pulang kerja, aku yang akan menghubungi kamu.”


“Iya, Mas. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Zayna menutup panggilan, dia merasa lega, setelah mendengar suara sang suami.


Menjadi istri seorang pengusaha memang harus banyak kehilangan waktu untuk sebuah pekerjaan. Akan tetapi, dia bangga pada Ayman karena bisa memimpin perusahaan hingga besar. Pria itu juga mampu memberi lapangan pekerjaan agar tidak semakin banyak pengangguran.


“Kita ke mana, Neng?” tanya Pak Doni.


“Kita pulang saja, Pak.”


“Iya, Neng.” Pak Doni pun melajukan mobil menuju rumah.

__ADS_1


Di perjalanan Zayna melihat dua anak pulang sekolah sambil bergandengan tangan. Kenangan masa lalu tiba-tiba muncul ke permukaan. Dia teringat dengan saudaranya yang saat ini masih berada di dalam penjara. Entah bagaimana keadaannya kini.


Ingin sekali wanita itu datang untuk menjenguk, sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Apalagi sekarang setelah mendengar berita perubahan Zanita. Zayna juga ingin tahu apakah sikap adiknya itu, masih sama seperti dulu terhadapnya atau sudah berubah.


“Mudah-mudahan saat kita bertemu nanti, semuanya sudah menjadi lebih baik. Aku harap kamu juga berubah,” ucap Zayna dalam hati, sekaligus berdoa untuk kebaikan adiknya itu.


Dia tahu jika Zanita bukanlah adiknya, tetapi bagi Zayna, selamanya wanita yang berada di dalam bui itu adalah adiknya. Seberapa banyak kesalahan Zanita, sebagai kakak wanita itu harus memaafkannya.


*****


“Mas, kenapa kita ke sini? Bukankah tadi Mas bilang ada pekerjaan?” tanya Kinan saat Hanif mengajaknya ke sebuah taman.


“Tidak apa-apa, tadi aku sudah bilang sama Papa, untuk pekerjaan hari ini di cancel dulu.”


“Nanti Papa marah sama kamu bagaimana, Mas?”


“Tidak apa-apa, hanya sebentar saja. Sejak aku bekerja, aku juga tidak pernah ambil cuti. Sekarang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Ayo, ikut aku! Kita cari duduk yang lebih nyaman,” ajak Hanif sambil menarik tangan Kinan.


Dia mencari tempat yang enak untuk berbicara berdua tanpa ada gangguan. Gadis itu hanya mengikuti tunangannya. Entah pria itu mau mengajak ke mana. Sampai di tepi danau, Hanif mengajak Kinan duduk di atas rerumputan dengan memandang danau yang ada di depannya. Danau yang bagian tepinya ditumbuhi rerumputan panjang.


Hanif melihat ke kiri dan ke kanan, lalu berkata, “Biasanya tempat ini cukup ramai, tapi kenapa hari ini sepi?"


“Mas, sering ke sini?”


“Nggak, cuma beberapa kali saja, saat pikiran sedang buntu atau sedang ada masalah. Aku memilih tempat ini karena di sini tempatnya menenangkan, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumah. Terlalu malas juga berkendara terlalu lama.”


Kinan mengangguk sambil melihat sekitar. Di tempat ini memang tidak ada yang spesial. Hanya danau yang tidak terawat. Namun, airnya masih jernih. Terlihat ada beberapa ikan kecil yang ada di sana. Ada pula taman bermain untuk anak-anak yang letaknya beberapa meter dari danau.


Tempat ini memang sangat tenang. Meski di sekitar masih ada beberapa orang, tapi mereka hanya bicara sambil berbisik. Mereka hanya tidak mau saling mengganggu.

__ADS_1


“Mas, katanya mau bicara sesuatu. Mau bicara apa?” tanya Kinan memecah keheningan.


“Apakah kamu tidak ingin menghalalkan hubungan kita? Jujur aku sudah tidak bisa menahannya. Setiap kali berdekatan denganmu, aku sudah tidak ingin jauh lagi. Setiap hari aku selalu menahan rindu. Kalau kita halal setidaknya aku bisa melihatmu setiap hari, saat akan tidur dan saat bangun di pagi hari. Kalau kamu takut aku akan mengekangmu. Kamu jangan khawatirkan itu. Kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan. Kamu juga bebas mengejar cita-citamu. Aku tidak akan memaksamu melakukan kewajiban seorang istri. Cukup dengan keberadaanmu di sisiku. Aku tidak mau membebanimu.”


Kemarin Kinan juga berpikir seperti itu, sekarang Hanif yang mengajukan pernikahan. Mungkinkah ini memang takdirnya untuk segera menikah. Gadis itu merasa bingung harus bagaimana.


“Bukankah seorang istri yang tidak melakukan kewajibannya itu juga merupakan dosa?” tanya Kinan pelan.


“Kita sama-sama sedang belajar. Aku juga sedang belajar menjadi imam yang baik. Jadi aku rasa itu tidak masalah daripada kita menjalani hubungan yang tidak halal.”


Hanif menatap wajah Kinan yang masih terdiam, dirinya sadar jika sudah memaksa Kinan untuk bersamanya. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak memaksa gadis itu. Hanif tidak mau kehilangan pujaan hatinya.


“Maafkan aku, bukan maksudku untuk memaksamu. Sebaiknya lupakan saja apa yang sudah aku katakan. Ak—“


“Aku mau,” potong Kinan yang membuat suasana menjadi hening. Hanif masih mencerna apa maksud dari kata-kata Kinan. Pria itu pun bertanya lagi untuk memastikan pendengarannya.


“Maksud kamu, mau apa?”


“Aku mau menghalalkan hubungan kita. Aku juga tidak ingin menambah dosa dengan pergi bersama pria yang bukan mahramku.”


“Jadi kamu mau menikah denganku?” tanya Hanif dengan wajah berbinar.


Dia tidak menyangka akan mendengar jawaban itu dari bibir tunangannya. Kinan mengangguk, membuat Hanif semakin tersenyum lebar. Pria itu menggenggam telapak tangan gadis yang ada di sampingnya.


“Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai calon suamimu. Aku sangat bahagia. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan aku akan berusaha untuk membahagiakanmu.”


Kinan tersenyum mendengarnya. Dia berharap keputusannya kini sudah benar. Gadis itu tidak ingin menimbulkan fitnah dan masalah karena kebersamaan mereka. Jika sudah halal, setidaknya mereka bebas mau melakukan apa pun dan ke mana pun.


.


.

__ADS_1


__ADS_2