Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
265. S2 - Luka


__ADS_3

“Apa maksud kamu dengan pertanyaan seperti itu? Kamu ingin aku meminta maaf padanya?” tanya Aini dengan nada tidak suka.


“Memangnya kenapa? Kamu juga salah, kan? Zea selama ini sudah sangat baik sama kita, tapi kenapa kamu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk mendengar penjelasannya. Ingatlah apa saja yang sudah Zea lakukan untuk kita, terutama kamu,” jawab Aina yang kemudian kembali ke kamarnya.


Rasanya sangat percuma bicara dengan Aini. Dia tidak akan pernah mau mengaku salah kalau belum ada efek jera yang diterima. Lebih baik besok Aina menemui Zea. Gadis itu juga sudah sangat merindukan sepupunya. Dibandingkan dengan Aini, Zea memang lebih enak diajak berbicara dan memecahkan masalah.


Sementara itu, Aini yang sedang sendiri, merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya. Dia juga sebenarnya sangat merindukan Zea. Selama ini sepupunya yang selalu setuju dengan apa pun yang gadis itu katakan. Meskipun dalam hati, Aini tahu jika Zea tidak suka, tetapi demi persaudaraan setuju saja.


"Ada yang melamun nih!" tegur Arslan yang baru saja datang dan duduk di samping adiknya itu.


"Apaan, sih, Kak! Siapa yang melamun? Sudahlah, aku mau masuk dulu."


Aini akan pergi dari sana. Namun, Arslan mencegahnya lebih dulu. "Duduk dulu, Dhek. Kakak baru saja keluar, mau ngobrol sebentar. Sudah lama kita nggak berbincang berdua."


Aini pun kembali ke tempat duduknya yang tadi. "Kakak mau bicara apa? Jangan bilang kalau kakak mau membatalkan perjodohan itu. Kakak nggak suka sama wanitanya?" tanya Aini sambil menatap kakaknya.


"Siapa bilang? Orang ketemu saja belum, main tidak setuju saja."


"Terus Kakak mau bicara apa?"


Arslan memandangi wajah adiknya. Sebenarnya dia ragu untuk mengatakannya, mengingat betapa temperamennya saudaranya. Namun, pria itu tidak ingin semuanya berlarut-larut. Jika memang Aini marah, biarkanlah asal Arslan sudah mengatakan isi hatinya.


"Ini mengenai kamu dan Zea. Kalian berdua pasti sangat mengerti kalau Adam sudah memilih wanita yang dia pilih untuk menjadi istri. Untuk apalagi kalian bertengkar, tidak ada hasilnya. Tidak ada yang dipilih diantara kalian berdua. Kalaupun Adam memang memilih Zea, itu berarti memang mereka sudah berjodoh. Begitupun sebaliknya, kalau Adam memilih kamu, berarti itu adalah jodohmu. Tidak ada yang bisa memaksakan jodoh, semuanya sudah diatur oleh Tuhan."


"Tetap saja rasanya sakit, Kak."


"Kalian sudah sama-sama dewasa, berpikirlah ke depan jangan hanya mementingkan ego masing-masing. Zea juga sama terlukanya."


"Kakak bicara seperti itu karena kakak, tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini jadi, sangat mudah untuk kakak mengatakannya."


"Ini bukan soal merasakan atau tidak, tapi dewasa atau tidak. Kakak tidak akan memaksamu untuk bicara dengan Zea. Pikirkanlah semuanya baik-baik apa yang Kakak katakan. Jangan sampai kamu menyesal saat sesuatu yang tidak kamu inginkan itu datang."


Arslan menepuk bahu adiknya dan kemudian berlalu dari sana. Aini diam dengan menundukkan kepala. Dia merasa apa yang dikatakan oleh kedua saudaranya memang benar. Dirinya hanta terlalu memikirkan perasaannya sendiri, tanpa mau tahu keadaan sepupu dan orang-orang terdekat.

__ADS_1


****


Di rumahnya Zea sekarang lebih pendiam. Setelah Adam tahu perasaan gadis itu, mereka memang sudah tidak banyak bertanya, apalagi berkomentar. Hanya berkata seperlunya saja, itu pun saat ada orang tuanya.


“Zea, ada apa? Kenapa kamu ke sini?” tanya Adam saat melihat adiknya memasuki kamar. Dia takut jika ada orang yang melihatnya.


"Memang kenapa?"


Sudah dari dulu, itu adalah hal yang biasa bagi mereka dan keluarga ini. Akan tetapi, sejak pengakuan perasaan gadis itu, semuanya berubah. Keadaan semakin terasa canggung dan serba salah. Meski diam-diam keduanya saling memperhatikan.


Adam bingung harus menjawab apa, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Memangnya kenapa, Kak? Bukankah sudah bisa kalau aku memasuki kamar ini? Atau Kakak merasa risih dengan keberadaanku?" tanya Zea yang merasa terluka dengan pertanyaan kakaknya.


"Bukan begitu, aku hanya tidak enak sama mama dan papa, kalau kamu ada di sini," sahut Adam yang memang tidak ingin kedua orang tuanya salah paham.


"Dari dulu mereka juga tahu kalau aku sering masuk ke kamar ini, apa Kakak keberatan?"


"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti," sahut Kinan dengan senyum yang dipaksakan.


Adam merasa bersalah karena pasti saat ini adiknya merasa terluka dengan kata-katanya. Sungguh dia benar-benar takut jika kedua orang tuanya memergoki keduanya berada dalam satu ruangan. Pria itu tidak ingin membuat Hanif ataupun Kinan merasa terluka. Selama ini mereka sudah sangat baik, tidak mungkin pria itu membuat keduanya sakit hati.


"Kak, bolehkah aku bertanya sesuatu dan kakak harus jawabnya dengan jujur," tanya Zea sambil menatap wajah kakaknya.


"Tanya apa?" Adam penasaran, kira-kira apa jawaban yg ingin ditanyakan adiknya. Mudah-mudahan tidak ada hubungannya dengan perasaan.


"Apakah tidak ada sedikit pun rasa sayang untukku sebagai wanita, bukan sebagai adik. Selama ini Kakak sudah tahu tentang jati diri Kakak sendiri. Apakah dalam diri Kakak aku ini bukan orang gadis yang menarik, hingga tidak sedikit pun Kakak meliriknya? Apa yang kurang dalam diriku, biar aku bisa merubahnya," tanya Zea yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata.


"Bukan seperti itu, Zea. Kita ini saudara, tidak sepantasnya untuk menjalin hubungan."


“Kita hanya saudara angkat. Maaf bukan maksudku untuk mengungkit masa lalu, tetapi itulah yang sebenarnya. Aku hanya ingin menjadi miliki Kakak sepenuhnya. Tidak bisakah Kakak menumbuhkan rasa untukku?"


"Zea, jangan seperti ini. Kakak tidak bisa melakukan hal seperti itu. Kakak tidak mungkin melempar kotoran ke wajah papa dan mama. Mereka orang yang sudah membesarkan Kakak dengan penuh kasih sayang yang besar. Tidak mungkin Kakak menghianati mereka."

__ADS_1


Tanpa sadar Adam juga ikut meneteskan air mata. Dia terluka saat melihat Zea seperti ini. Pria itu sudah berusaha tetap kuat di depan adiknya, tetapi tetap saja tidak bisa. Dirinya terlalu lemah di depan gadis itu.


"Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apakah perasaanku juga tidak begitu penting untuk Kakak, sampai sampai Kakak tidak memperdulikannya sama sekali!"


"Bukan seperti itu, Kakak sayang sama kamu, tapi hanya sebagai Kakak saja, tidak bisa lebih dari itu."


"Bukannya tidak bisa, tapi Kakak memang tidak mau. Kakak tidak mau memperjuangkan perasaanku karena bagi Kakak perasaanku tidak pernah begitu penting."


Air mata Zea semakin deras membasahi pipi. Luka yang dia dapat ternyata begitu sangat besar dan mendalam. Gadis itu tidak tahu apakah akan ada obat yang bisa mengobatinya, di saat obat itu justru yang menjadi penyebab luka ini.


Adam buru-buru mendekat dan memeluk adiknya. Dia sungguh-sungguh tidak tega melihat gadis itu menangis. Pria itu pernah berjanji tidak akan membuat adiknya menangis, tetapi lihatlah kini dirinya yang membuat air mata kesedihan menetes.


Adam sendiri juga tidak tahu apa yang dia rasakan pada adiknya, Aini dan Alin. Mereka sama-sama wanita dan memiliki tempat masing-masing, tidak mungkin pria itu memaksakan kehendak. Dia yakin jika jodoh sudah diatur oleh Tuhan dan Zea memang bukan jodohnya.


"Jangan bicara seperti itu, kamu sama saja menyakiti hati Kakak. Kamu adalah adik Kakak yang paling Kakak sayangi. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu di hati Kakak," bisik Adam di sela pelukannya.


Zea mendorong kakaknya dan berteriak, "Aku tidak mau! Yang aku inginkan adalah posisi sebagai wanita, bukan adik. Sampai kapan pun aku hanya ingin posisi itu!"


Tentu saja Adam dibuat panik. Dia takut jika kedua orang tuanya mendengar dan mereka akan masuk ke dalam kamar. Pria itu tidak ingin kejadian sebelumnya terjadi lagi. Adam pun mencoba menenangkan sang adik. "Tenangkanlah dirimu, kamu saat ini sedang emosi."


"Sekarang aku mau satu pertanyaanku yang tadi dijawab," tanya Zea tanpa menghiraukan peringatan Adam. Dia mengusap sisa air matanya dengan kasar, bersiap mendengarkan jawaban apa pun yang keluar dari mulut kakaknya.


"Pertanyaan yang mana?"


"Tidak adakah perasaan sedikit saja untukku sebagai seorang wanita?"


Adam menghela napas, tidak tahu harus menjawab apa. Zea yang melihat keraguan di mata kakaknya pun tidak bertanya lagi. Mungkin memang dirinya dan Adam tidak berjodoh dan dia pun sudah siap menerima apa pun yang akan terjadi nanti.


"Baiklah, Kakak tidak perlu menjawabnya. Aku minta maaf jika sudah mengganggu ketenangan Kakak," ucap Zea dengan tersenyum meski air matanya kembali menetes. Gadis itu segera pergi dari kamar kakaknya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2