
Berita mengenai siapa sebenarnya Kinan sudah tersebar di seluruh kampus. Banyak orang yang penasaran, siapa sebenarnya orang tua Kinan. Sampai saat ini, tidak ada yang mau menjelaskan apa pekerjaan sebenarnya pria yang bersama Kinan itu. Tadi pagi mereka yakin jika pria itu bukanlah orang sembarangan.
Dilihat dari cara dia berpakaian dan juga mobil yang dikendarai saja, sudah terlihat jika pria itu orang kaya. Beberapa diantara mereka memuji Kinan, yang tidak mau menyombongkan apa yang gadis itu miliki. Ada beberapa juga yang mengatakan jika itu hanya pencitraan semata. Dia tidak ambil pusing untuk hal itu.
Apa yang mereka katakan, baginya selama mereka tidak mengusik kehidupan gadis itu, biarlah mereka berbicara apa. Kinan tidak pernah peduli omongan orang karena baginya itu tidaklah penting.
“Kinan!” panggil Farah. Dia mendekati sahabatnya yang duduk seorang diri di perpustakaan. Hanya ada beberapa orang di sana dan mereka duduk saling berjauhan.
“Eh, Farah.”
“Kinan, tadi aku mendengar orang-orang membicarakan kamu. Apa benar yang mereka katakan?”
“Memang mereka bicara apa? Sudah, tidak usah dihiraukan.”
“Mereka bilang kamu anak seorang pengusaha. Ada juga yang mengatakan jika ayahmu bekerja di perusahaan yang sangat besar. Apa benar?”
“Ya seperti itulah, sudah tidak usah dihiraukan ucapan mereka lagi. Terserah papalah mau kerja sebagai apa, yang penting halal dan tiap hari aku makan,” jawab Kinan sekenanya.
“Ah, kamu ini ditanya benar-benar, malah ngajak bercanda.”
Farah yakin jika apa yang dibicarakan orang-orang itu pasti benar. Orang tua Kinan pasti bukan orang sembarangan. Mengingat selama ini gadis itu selalu membantunya tanpa berharap kembali. Dia jadi teringat masa lalu bersama Kinan, dari dulu memang sudah menunjukkan jati diri sendiri. Hanya orang-orang disekitar saja yang tidak sadar.
“Siapa yang bercanda? Aku mengatakan yang sejujurnya. Ya sudahlah, sebaiknya kamu duduk. Aku mau kasih kamu undangan ini,” ucap Kinan sambil menyerahkan undangan pertunangannya.
“Kamu mau tunangan! Nanti malam!" seru Farah. Dia menghela napas pelas. "Sepertinya aku nggak bisa datang karena aku ada lembur malam ini, tapi coba lihat nanti. Mudah-mudahan saja aku bisa pulang dan bisa datang.”
“Iya, nggak papa. Aku juga nggak maksa. Aku mengerti kalau pekerjaan kamu juga penting. Kamu masih saja bekerja di sana?”
“Iya, Kin. Aku juga sudah nyaman di sana. Meski Nayla selalu bersikap semena-mena, tapi orang tuanya baik padaku. Mereka tidak pernah marah, apalagi menghinaku."
__ADS_1
“Ya sudah terserah kamu, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, kalau kamu sudah tidak betah katakan saja padaku. Nanti aku bantu carikan kerja.”
“Iya, terima kasih. Kamu sudah baik sekali sama aku.”
“Ya sudah, aku mau pulang dulu. Tadi mama sudah pesan suruh pulang cepat, nggak boleh ke mana-mana.”
“Iya, dong. Kamu harus siap-siap buat acara nanti malam. Kamu harus tampil cantik karena kamu adalah ratunya malam ini.”
“Iya, terima kasih. Ya sudah aku pergi dulu, assalamualaikum.”
Kinan segera beranjak dari sana. Sebelumnya dia sudah menghubungi Pak Doni dan meminta sopir itu untuk menjemputnya. Saat sampai di parkiran, belum ada tanda-tanda kehadiran Pak Doni. Kinan pun mencari tempat duduk di sekitar tempat parkir.
Selang berapa menit, ada beberapa mahasiswa yang duduk di sampingnya. Mereka mencoba mengajak Kinan berbicara. Gadis itu hanya sesekali menanggapi karena dia sangat tahu jika mereka sedang mencari muka.
Begitu melihat kedatangan Pak Doni, Kinan segera berpamitan pada mereka. Dia terlalu malas menghadapi orang-orang munafik. Kinan sangat tahu seperti apa orang-orang seperti mereka. Yang biasanya hanya bermulut manis di depan dan busuk di belakang.
Sudah cukup dengan memiliki teman seperti itu sebelumnya. Kali ini dia ingin berteman dengan orang-orang yang tulus padanya, tanpa memandang siapa dirinya dan keluarga. Apalagi sampai memanfaatkan dirinya seperti yang dulu Naila lakukan.
“Tidak apa-apa, Pak. Aku juga nggak terlalu Lama nunggunya. Lagi pula ada banyak orang yang menemani, jadi tidak berasa,” sahut Kinan yang mencoba untuk tidak membuat sopirnya merasa bersalah.
“Oh ya, Neng. Tadi Nyonya sudah pesan, kalau Neng sudah disuruh untuk pergi ke butik untuk memilih gaun. Nyonya juga sudah menunggu di sana,” ucap Pak Doni.
“Aduh, Mama ada-ada saja, deh. Tadi ‘kan aku sudah bilang kalau aku nggak mau pergi ke butik, tapi kenapa masih memaksaku ke sana.“
“Kalau mengenai itu saya tidak tahu, Neng. Saya hanya menyampaikan pesan beliau saja.”
“Iya, Pak. Saya mengerti. Ya sudah, kita ke butik saja. Nanti kalau nggak diturutin pasti Mama akan sangat marah.”
“Iya, Neng.”
__ADS_1
Kinan sangat malas berdebat dengan mamanya. pasti ujung2nya dia yang akan kalah, jadi lebih baik mengalah sekarang. Papanya saja selalu kalah, apalagi dirinya yang seorang anak. Gadis itu pun pasrah saja, entah mamanya mau apa nanti. Mudah-mudahan saja tidak buang-buang waktu.
Pak Doni pun melajukan mobilnya menuju butik yang dimaksud oleh majikannya. Kinan sendiri sibuk dengan ponselnya. Dia heran melihat banyaknya akun sosial media yang mulai mengikutinya. Gadis itu menggelengkan kepala dengan pelan. Ini semua pasti karena berita yang sekarang sedang beredar.
Sebenarnya Kinan penasaran, sebenarnya apa yang mereka harapkan dari dirinya. Dia sendiri saja tidak pernah menggunakan kekuasaan orang tuanya. Gadis itu juga tidak pernah mengatakan siapa papanya.
Kinan tidak memedulikannya. Biarlah mereka melakukan apa, semoga saja tidak mengganggu kehidupannya. Terlalu asyik dengan benda pintar, hingga gadis itu tidak sadar jika sudah sampai di depan butik.
“Neng, sudah sampai,” ucap Pak Doni.
“Oh, sudah! Terima kasih, Pak.”
Kinan turun dari mobil dan segera memasuki butik. Sudah ada mamanya di sana sedang berbincang dengan pemilik butik. Mama Aisyah terlihat asyik memilih gaun hingga tidak menyadari kedatangan putrinya. Gadis itu pun segera mendekati mamanya.
“Ma,” tegur Kinan sambil mencium punggung tangan mamanya.
“Eh, kamu sudah pulang, Sayang? Kenalin ini Tante Maysa, pemilik butik ini."
"Assalamualaikum, Tante. Saya Kinan," sapa Kinan sambil mengulurkan tangannya.
"Waalaikumsalam, kamu cantik pasti banyak yang naksir," puji Maysa. Kinan hanya tersenyum menanggapinya.
"Kinan, sekarang kamu cobain gaun ini,” pinta Mama Aisyah sambil menunjukkan gaun yang sudah dipilihnya.
Kinan hanya menurut saja. Dia mengikuti seorang pegawai menuju ruang ganti. Mama Aisyah masih memilih gaun untuk dirinya sendiri dan Zayna. Menantunya itu hari ini sangat malas ke mana-mana. Padahal sejak hamil biasanya dia yang paling senang diajak berbelanja.
Mama Aisyah hanya bermodalkan nomor baju dan mengira-ngira saja. Mudah-mudahan saja Zayna menerima apa pun pilihannya. Ibu hamil biasanya sensitif, wanita itu takut menantunya tidak suka. Bisa-bisa malah berdebat panjang nanti.
Tidak berapa lama, Kinan datang dengan gaun yang sudah melekat pada tubuhnya. Dia terlihat begitu cantik. Beberapa orang yang melihat, dibuat kagum pada gaun yang begitu pas di tubuh gadis itu. Mama Aisyah pun tersenyum dibuatnya.
__ADS_1
.
.