Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
149. Janji bertemu Nayla


__ADS_3

“Kak, aku minta maaf. Selama ini aku selalu menyakitimu. Entah itu sadar atau tidak, sudah pasti sangat banyak sekali luka yang kamu dapatkan dariku. Terutama saat aku merebut Fahri darimu. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu. Aku harap Kakak mau memaafkanku,” ucap Zanita yang masih berada di seberang.


Zayna merasa terharu dengan apa yang Zanita katakan. Dia tidak pernah berharap adiknya berkata seperti itu. Mau berbicara dengan dirinya saja, sudah membuat wanita itu bahagia. Apalagi sekarang adiknya itu meminta maaf padanya. Sungguh itu membuat hatinya tersentuh.


Zanita sendiri merasa lega akhirnya bisa berbicara dengan Zayna. Dia senang kakaknya itu masih mau menghubunginya. Beban yang selama ini ada di pundaknya serasa berkurang.


“Tanpa kamu meminta maaf pun aku sudah memaafkanmu. Kita sama-sama manusia yang penuh dengan khilaf. Mungkin aku juga pernah menyakitimu tanpa sadar dan aku juga ingin meminta maaf," sahut Zayna dengan air mata yang sudah mulai menetes.


“Tidak, Kakak tidak pernah melakukan kesalahan. Aku yang selalu menyakitimu, tapi ada satu kesalahan yang kulakukan padamu dan tidak pernah aku sesali,” ucap Zanita membuat Zayna yang menangis pun tiba-tiba terdiam.


“Apa itu?”


“Aku tidak pernah menyesal merebut Fahri darimu, karena dengan begitu kamu bisa bahagia dengan suamimu saat ini. Meskipun saat itu aku sudah sangat menyakitimu, tapi aku yakin saat ini kamu jauh lebih bahagia. Jika saat itu aku tidak merebut Fahri darimu, aku yakin kamu pasti juga akan tersiksa hidup dengan Fahri. Apalagi memiliki mertua yang tidak pernah menyukaimu.”


Air mata Zayna semakin deras. Benar apa yang dikatakan adiknya, dia sudah sangat beruntung Zanita merebut Fahri darinya. Wanita itu kini sangat bahagia memiliki suami dan mertua yang begitu menyayanginya. Tidak jauh berbeda dengan sang Kakak, Zanita juga meneteskan air mata.


Kesalahan yang dilakukan pada Zayna sudah terlalu banyak. Namun, dengan baik hati kakaknya maafkannya begitu saja, tanpa memiliki syarat apa pun. Betapa beruntungnya dia memiliki saudara seperti Zayna. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.


"Tapi karena itu justru kamu yang menderita."


"Aku pantas mendapatkannya. Mungkin itu memang jalan hidupku agar bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Sebenarnya aku ingin sekali bertemu denganmu, tapi kata Mama kamu belum boleh naik pesawat jadi, pertemuan kita pasti tertunda.”


“Doakan saja saat nanti aku periksa, dokter sudah mulai mengizinkanku naik pesawat. Saat itu, aku pasti akan mengunjungimu.”

__ADS_1


“Amin, tapi aku lebih suka mendoakanmu dan ponakanku baik-baik saja. Tidak perlu memaksakan datang ke sini. Nanti saat aku bebas, aku pasti akan mengunjungi keponakanku. Meskipun saat itu dia pasti sudah sangat besar,” ucap Zanita yang di vonis hukuman selama lima tahun dan sekarang dia sudah menjalani hukuman satu tahun.


“Aku akan menunggu hari itu tiba dan semoga setelah apa yang kita lalui selama ini, kita akan selalu bahagia.”


“Amin, sudah dulu, Kak. Nggak enak terlalu Lama di sini. Dari tadi pengawas ngeliatin aku mulu. Aku Jadi ngeri ngelihatnya,” bisik Zanita sambil melirik seseorang yang berada sedikit jauh darinya.


“Laki-laki atau perempuan?”


“Laki-laki.”


“Pasti dia ngelihatin kamu karena naksir sama kamu. Kamu ‘kan cantik.”


“Apaan, sih, ngelihatinnya serem gitu.”


“Jangan terlalu membenci, nanti malah jatuh cinta,” ucap Zayna membuat Zanita tertawa.


“Iya, terima kasih. Jaga keponakanku baik-baik. Assalamualaikum.”


“Itu sudah pasti, waalaikumsalam.”


Zayna merasa lega setelah berbicara dengan saudaranya. Andai saja Zivana juga masih ada, dia ingin adiknya itu juga berubah menjadi lebih baik lagi. Sayang sekali umurnya tidak panjang. Namun wanita itu tetap berdoa untuk kebaikan adiknya. Semoga Tuhan melapangkan kuburnya dan menghapus segala dosa yang pernah Zivana lakukan.


*****

__ADS_1


Kinan yang sedang dalam perjalanan pulang, mendapat pesan dari seseorang, yang ingin bertemu dengannya. Siapa lagi kalau bukan Nayla. Awalnya gadis itu ingin menolak, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh mantan sahabatnya itu. Semoga saja Nayla tidak membuat masalah lagi dan akan semakin menyulitkan hidupnya.


Sudah lima belas menit Kinan menunggu. Namun, Nayla tidak juga menampakkan batang hidungnya. Entah dia benar-benar ingin bertemu dengan Kinan atau hanya omong kosong saja. Gadis itu pun mengirim pesan pada Nayla. Dia hanya akan menunggu lima menit lagi. Jika sampai saat itu tiba Nayla tidak juga datang, Kinan yang akan pergi.


Hingga tidak berapa lama datanglah orang yang ditunggu. Padahal dia yang membuat janji, tetapi orang lain yang disuruh menunggu.


“Maaf, aku datang terlambat,” ucap Nayla yang baru saja mendudukkan tubuhnya di seberang. Kinan hanya mengangguk tanpa mengatakan satu kata pun. “Kamu sudah pesan makanan?”


“Tidak perlu, aku sudah makan tadi. Aku hanya pesan minuman ini saja. Kalau kamu mau pesan silakan saja.”


Nayla pun memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman. Kinan dibuat geleng-geleng kepala saat wanita yang ada di depannya memesan banyak makanan. Dia tahu pasti nanti dirinya yang akan diminta membayar. Namun, gadis itu hanya diam saja karena tidak ingin membuat keributan.


“Ada apa kamu mengajakku bertemu di sini? Biasanya kamu selalu menghadangku di kampus,” sindir Kinan.


“Kamu pasti sudah tahu mengenai apa yang terjadi pada keluargaku dan aku yakin, itu ada sangkut pautnya dengan ancaman yang papamu katakan kemarin.”


Kinan tersenyum sinis. Dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Jadi gadis itu sama sekali tidak terkejut.


“Apakah kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Coba kamu pikir-pikir kembali, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan keluargamu. Apa papaku yang membuat papamu berselingkuh? Apa papaku juga yang membuat restoran keluargamu menggunakan bahan berbahaya? Kalau kamu pintar, kamu pasti bisa memikirkannya dengan baik. Memang Papa yang membongkarnya, tapi Papa hanya mengungkap apa yang dia ketahui. Jadi kalau kamu ingin menyalahkan orang, salahkan saja kedua orang tuamu yang tidak bisa jujur dan setia. Ya mungkin itu juga yang menurun ke dalam dirimu, hingga kamu juga tidak bisa setia pada temanmu. Sampai-sampai kamu harus merebut kekasih temanmu sendiri.”


Nayla mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia sangat marah mendengar apa yang dikatakan Kinan. Namun, jika dipikirkan kembali, memang benar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Semua memang berawal dari keluarganya yang berlaku curang dan membuat orang lain mengalami kerugian.


Gadis itu juga akan marah jika dirinya dicurangi. Tiba-tiba saja Nayla merindukan kebersamaannya bersama dengan Kinan dulu. Andai saja dia tidak gelap mata, pasti saat ini mereka masih berteman.

__ADS_1


.


.


__ADS_2