
"Karena itu, Sayang. Makanya aku minta Mama saja yang temenin aku atau Bik Isa karena memang hanya mereka yang dekat dengan Adam," ucap Hanif yang diangguki oleh Kinan.
"Nanti kalau ada sesuatu yang penting, segera hubungi aku, ya, Mas. Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi nggak mungkin juga harus ambil libur lagi," ujar Kinan dengan lesu.
"Iya, tidak apa-apa. Nanti aku akan kasih kabar sama kamu. Ayo, kita tidur! Ini sudah malam," ajak Hanif yang diangguki oleh Kinan. Keduanya merebahkan tubuh dan menuju ke alam mimpi sambil berpelukan.
Pagi-pagi sekali Kinan sudah siap. Dia ingin menemui Adam karena harus membicarakan mengenai rencana Hanif menuju rumahnya. Mama Aida sendiri tidak bisa ikut karena memang dari kemarin badannya sudah merasa tidak enak jadi, Hanif terpaksa mengajak Bik Isa.
Wanita paruh baya itu pun menyanggupinya. Mengenai pekerjaan, bisa nanti dikerjakan setelah pulang. Namun, Kinan mengatakan jika dirinya saja yang akan mengambil alih pekerjaan Bik Isa. Meskipun hasilnya pasti tidak sebaik wanita itu.
Kinan mengetuk pintu kamar Adam beberapa kali, hingga pintu tersebut terbuka. Tampak anak itu yang sudah rapi. Namun, masih menggunakan pakaian santai. Wanita itu terenyum ke arahnya.
"Boleh Tante masuk?"
"Boleh, Tante," jawab Adam dengan membuka pintu selebar mungkin. Kinan duduk di tepi ranjang dan meminta anak itu untuk duduk di sampingnya.
"Begini, Adam. Om Hanif sudah menemukan rumah kamu dan juga orang tuamu. Hari ini Om Hanif ingin mengajak kamu ke sana. Kamu mau, kan?" tanya Kinan dengan pelan sambil menatap wajah Adam.
Anak itu menggeleng dengan cepat, sambil menggeser tubuhnya agar menjauh dari Kinan. Adam berpikir jika Hanif dan Kinan ingin membuangnya. Sebelumnya anak itu sudah mengatakan bahwa dirinya tidak ingin pulang. Lebih baik dia tinggal di jalanan saja, daripada harus kembali ke rumah yang membuatnya tersiksa.
"Dengarkan Tante dulu. Om Hanif bukan ingin memulangkan kamu, tapi kami juga perlu meminta tanda tangan kedua orang tua kamu agar kamu bisa tinggal di sini selamanya. Om Hanif tidak akan pernah mengulangkan kamu. Kamu tenang saja."
"Tapi kalau nanti papa sama ibu marah dan memukul aku bagaimana?" tanya Adam yang merasa takut terjadi sesuatu padanya.
"Kan ada Om Hanif yang menemani kamu ke sana. Nanti Om Hanif juga sama orang, ada Bik Isa juga yang akan menemani kamu jadi, kamu tidak perlu takut."
"Tante tidak ikut?"
__ADS_1
"Tante harus sekolah. Kemarin sudah libur, jadi tidak bisa libur lagi. Nanti kalau Adam sudah benar-benar bisa tinggal di sini, Adam juga harus sekolah. Nanti biar tante yang cari sekolah yang terbaik buat kamu. Kalau sekarang Om Hanif tidak pulang ke rumah kamu dan meminta tanda tangan dari orang tuamu, kami tidak bisa menerima kamu tinggal di sini. Itu bisa membuat Om Hanif terjerat hukum karena dianggap menculik kamu," ucap Kinan beralasan.
Tampa Hanif berpikir. Kinan tahu anak itu tidak bisa dibohongi, tetapi Adam juga perlu diberi pengertian agar mau ikut bersama dengan Hanif ke tempat tinggalnya. Wanita itu tidak ingin rencana yang disusun oleh suaminya hancur berantakan sesuatu
"Baik, Tante. Nanti aku akan ikut sama Om Hanif," ucap Adam pada akhirnya.
Anak itu juga ingin selamanya tinggal di sini, tanpa ada gangguan apa pun. Dia juga percaya bahwa Hanif akan melindunginya dari papa dan ibunya. Sebenarnya ada rasa takut juga yang Adam rasakan jika orang tuanya menolak melepaskannya.
"Ya sudah, kamu ganti baju dulu. Biar Tante yang pilihin baju untuk kamu pakai."
Kinan berjalan ke arah lemari yang ada di kamar itu dan memilih baju untuk Adam. Anak itu sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Kinan. Dia sudah sangat menghormati wanita itu. Adam yakin apa pun yang dikatakan Kinan adalah untuk kebaikannya.
"Sekarang kamu pakai baju Ini. Tante tungguin di meja makan. Kalau kamu sudah selesai, kamu segeralah ke sana."
Adam pun berdiri dan menerima baju yang diberikan oleh Kinan dan berkata, "Iya, Tante."
Kinan memeluk Adam untuk menyalurkan rasa kasih sayangnya yang sudah sangat dalam. Sangat berat jika harus berpisah dari anak itu.
Adam pun membalas pelukan wanita itu. Dia juga bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar dari Kinan. Anak itu sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti mereka. Keluarganya juga tidak ada yang keberatan dengan keberadaannya di sini.
Mereka orang-orang yang baik. Adam tidak akan pernah melupakan kebaikan keluarga ini. Bahkan untuk seumur hidup mengabdi pada mereka pun tidak akan mampu membalas kebaikan keluarga ini. Betapa beruntungnya dia dipertemukan dengan Hanif dan Kinan.
"Aku akan berusaha agar mempermudah jalan Om Hanif. Terima kasih, Tante dan sekeluarga mau menerima kehadiranku di sini."
Kinan mengurai pelukan dan tersenyum ke arah Adam. "Sudah, tidak usah sedih-sedihan lagi. Sekarang kamu siap-siap dulu, sudah ditungguin sama Om Hanif di bawah."
Kinan berlalu dari sana. Adam hanya memandangi kepergian wanita itu hingga hilang di balik pintu. Setelahnya dia masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian di sana. Kinan sendiri pergi ke lantai bawah menuju dapur.
__ADS_1
Wanita itu ingin melihat apakah meja makan sudah siap atau belum. Ternyata di sana sudah ada Hanif yang sedang memainkan ponselnya. Namun, meja masih kosong. Tampak Bik Isa yang masih sibuk di dapur.
"Kamu sudah di sini, Mas?" tanya Kinan saat sudah ada di dekat sang suami.
"Iya, Sayang. Ini lagi nungguin pengacara juga."
"Sebentar, aku siapin sarapannya. Aku lihat Bik Isa dulu." Kinan pun berjalan mendekati Bik Isa. "Bik, biar aku saja yang bawa ke meja makan. Ini hanya tinggal di bawah saja, kan?"
"Iya, Neng."
"Biar saya yang kerjain. Bibi siap-siap saja, Bibi 'kan mau ikut sama Mas Hanif," ucap Kinan sambil mengambil alih pekerjaan Bik Isa.
"Benar, Neng, tidak pa-pa?" tanya Bik Isa dengan ragu.
"Iya, tidak apa-apa. Nanti Bibi juga ikut sarapan di meja. Untuk kali ini saja jangan menolak, nanti biar nggak kesiangan sampai di sana," cap Kinan yang tidak ingin mendengar penolakan. Pasalnya Bik Isa tidak pernah mau satu meja makan dengan atasannya. Wanita paruh baya itu selalu makan sendiri di dapur.
"Iya, Neng."
Bik Isa kembali ke kamarnya untuk bersiap, sementara Kinan membawa semua makanan ke meja makan. Tidak lupa juga dia membuatkan teh dan kopi untuk masing-masing orang. Sepertinya tadi Bik Isa lupa.
"Biar aku bantuin kamu, Sayang," ucap Hanif yang sudah berada di samping Kinan.
"Kamu duduk saja, Mas. Biar aku yang siapin semuanya."
"Aku tidak apa-apa, aku juga nggak ada kerjaan."
Kinan dan Hanif pun bersama-sama menyiapkan sarapan. Tidak berapa lama semua orang datang satu persatu, termasuk Adam juga. Mama Aida tampak sedikit kurang bersemangat. Namun, masih ingin tetap ikut sarapan bersama. Mereka pun menikmati sarapan bersama dengan tenang.
__ADS_1
.
.