Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
114. Pengganggu


__ADS_3

“Assalamualaikum,” ucap Papa Wisnu sekeluarga saat memasuki rumah keluarga Papa Hadi.


“Waalaikumsalam, akhirnya yang ditunggu datang juga,” sahut Papa Hadi.


“Wah! Kami jadi merasa tersanjung, sudah disambut dengan begitu luar biasa.”


Keluarga Hanif membawa beberapa buah tangan dan memberikannya pada Bik Ira, yang dibantu oleh Zayna. Kedua wanita itu segera membawa semuanya ke dapur.


“Kamu terlalu berlebihan, Wisnu. Hanya seadanya saja.”


“Ayo, silakan duduk! Tidak baik berbincang sambil berdiri,” tegur Mama Aisyah.


Mereka semua duduk di ruang tamu. Papa Wisnu dan Mama Aida juga mengajak Ana—saudara Mama Aida. Hanif biasa memanggilnya Tante Ana. Wanita itu melihat sekeliling dan mengamati satu persatu penghuni rumah.


“Aida, jadi ini yang namanya Kinan? Yang membuat keponakanku jatuh cinta? Cantik sekali, pantas saja Hanif langsung mau tunangan. Selama ini saya kira dia belum move on,” ucap Ana membuat keluarga Kinan menyernyitkan keningnya dengan menatap heran pada Hanif dan orang tuanya.


Selama ini semua orang mengira jika Hanif tidak pernah dekat dengan wanita. Itu yang pernah dikatakan oleh Aida. Kinan juga tidak pernah melihat dosennya itu bersama seseorang. Kenapa sekarang malah dibilang belum move on. Apakah ada sesuatu yang sengaja mereka tutupi?


“Aisyah, masa kita dibiarin haus. Dikasih minum, dong!” seru Mama Aida untuk mengalihkan pembicaraan.


Sebenarnya dia terlalu malas untuk mengajak Ana. Kakaknya ini terlalu ikut campur dengan urusan keluarganya. Aida tidak suka hal itu, apalagi jika harus mengingat masa lalu Hanif yang sebenarnya hanya kesalahpahaman saja. Ingin sekali dia marah pada Ana. Namun, Wisnu dan Hanif selalu memberi pengertian padanya bahwa itu hanya akan sia-sia saja.


“Oh iya, Bik Ira, tolong ambilkan minuman sama cemilannya di belakang!" ucap Aisyah dengan sedikit berteriak.


“Iya, Nyonya.”


Mereka semua duduk di ruang tamu, sementara Bik Ira mengambilkan minuman dan beberapa cemilan. Kinan juga membantu asistennya itu. Ana masih memindai rumah dan pemiliknya. Hal itu tentu saja membuat Mama Aisyah Risih.


“Tuan, Nyonya, silakan dinikmati hidangannya,” ucap Bik Ira.


“Terima kasih, Bik.”

__ADS_1


Mereka pun berbincang sambil menikmati minuman. Pembicaraan mereka masih obrolan santai, sesekali tertawa bersama. Hingga Papa Wisnu memulai menyampaikan tujuannya datang ke sini.


“Jadi begini, Hadi. Seperti yang sebelumnya sudah istriku bicarakan dengan istrimu kalau kedatangan kami ke sini untuk membahas acara pertunangan besok. Kami sudah membooking sebuah restoran karena memang Hanif tidak mau acara yang terlalu mewah, jadi saya ada beberapa rekomendasi dekor ruangan. Barangkali kalian memiliki ide sesuatu atau mungkin mau yang pesta yang mewah?” tanya Papa Wisnu.


"Bagaimana, Ma, Kinan?" tanya Hadi sambil melihat dua wanita yang ada di sampingnya.


“Tidak ada, Pa, Om, saya maunya juga yang sederhana saja, cukup dihadiri kerabat dan keluarga terdekat," jawab Kinan dengan pelan.


“Iya, Wisnu, ini hanya acara pertunangan, jadi kita buat sederhana saja. Nanti jika acara pernikahan, baru kita undang semua orang," sahut Papa Hadi.


“Nggak juga, Pa. Aku nggak mau tamunya banyak-banyak. Meskipun acara pernikahan, aku maunya sedikit saja," sela Kinan.


“Wah! Jadi kamu sudah tidak sabar untuk menikah, Dhek!” sela Ayman menggoda adiknya.


“Ih, nggak gitu juga, Kak. Aku cuma benerin ucapan Papa.”


“Ya, sama saja. Kamu berarti sudah merencanakan untuk acara pernikahan kamu nanti.”


“Nggak gitu, Kak!”


“Sudah, sudah, kalian ini malah berdebat. Ini kita lagi bahas acara pertunangan Kinan. Mengenai nanti acara pernikahan, biar kita bahas nanti lagi setelah acara ini,” ucap Mama Aisyah membuat Kinan semakin kesal, sementara Ayman tertawa kecil karena merasa sudah berhasil mengerjai adiknya.


“Jadi, ibu dan bapak, apa yakin mau menikahkan putrinya dengan Hanif? Secara dia ‘kan pernah gagal. Apa tidak takut jika nanti anak Anda dipermainkan?" tanya Ana.


“Kakak, apa-apaan sih! Hanif, kan, nggak pernah berhubungan dengan siapa pun. Kenapa Kakak bilang seperti itu? Itu hanya imajinasinya Firly saja. Jangan menyalahkan anakku!” seru Mama Aida. Kejadian itu sudah lama, tetapi masih saja dibahas. Semua juga sudah jelas siapa pelakunya.


“Ma, sudah,” tegur Wisnu.


“Lagian Papa, kenapa harus ngajak dia? Sudah baik kita pergi sendiri, pakai ngajakin dia,” ucap Mama Aida dengan nada sinis.


Tadi sebenarnya Tante Ana datang untuk berkunjung. Namun, dia melihat ada barang seserahan yang akan dibawa keluarga Hanif ke rumah keluarga Kinan. Wanita itu bertanya pada asisten rumah tangga mereka dan menjawab bahwa akan ada acara pertunangan. Tentu saja Ana terkejut dan menyalahkan Wisnu dan Aida karena dirinya juga keluarga, tetapi tidak diberitahu apa pun. Akhirnya dengan terpaksa Papa Wisnu pun mengajak Tante Ana ke sini.

__ADS_1


“Kalau Kak ana tidak bisa diam, sebaiknya Kakak pergi saja dari rumah ini. Kakak juga tidak ada kepentingan di sini. Nanti biar sopir yang antar pulang," ujar Mama Aida dengan emosi.


“Kamu ngusir saya?” tanya Ana yang juga ikut emosi


“Iya, kenapa tidak?”


“Ma,” tegur Wisnu.


“Kenapa, Pa? Seharusnya Papa dengar permintaan Mama kalau kita tidak usah mengajak dia karena sudah pasti akan menimbulkan masalah. Sekarang lihat, kan? Dia selalu seperti itu. Masa lalu yang tidak pernah terjadi pun dia bahas lagi!”


Mana Aida sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia benar-benar marah pada kakaknya. Jika sampai acara malam ini hancur, wanita itu tidak akan pernah memaafkan Ana. Mama Aida sudah merencanakan semua dari kemarin.


“Siapa bilang tidak pernah terjadi? Jelas-jelas it—“


“Kak Ana, sebaiknya kamu pulang sekarang juga,” ucap Wisnu dengan tegas. Dia beralih menatap calon besannya. “Di, boleh aku pinjam sopirmu sebentar buat antar Kak Ana?”


“Boleh, sebentar. Kinan, panggil Pak Doni.”


“Iya, Pa,” sahut Kinan yang kemudian memasuki rumah.


Tidak berapa lama Pak Doni keluar bersama Kinan. Papa Wisnu meminta sopir itu mengantar kakaknya. Awalnya Ana menolak karena dia masih ingin di sana sampai acara selesai, tetapi dengan tegas Papa Wisnu melarang. Pria itu takut akan semakin menjadi masalah.


Ana terpaksa pergi dari sana. Sepanjang perjalanan wanita itu menggerutu, tentu saja hal itu membuat Pak Doni kesal. Pria itu pun menanyakan alamat, kemudian menutup telinga dengan head seat.


Sementara itu, di rumah keluarga Hadi, semua masih terdiam memikirkan ucapan Ana. Mau tidak mau Hanif pun harus menceritakannya. Dia tidak ingin menjadi masalah di kemudian hari hanya karena kesalahpahaman. Apalagi yang dimaksud masih keluarga, sudah pasti sering ketemu.


"Saya akan menceritakannya. Saya harap semua percaya dengan apa yang akan saya katakan," ucap Hanif membuat semua orang mengangguk.


.


.

__ADS_1


__ADS_2