
"Kamu sudah bangun, Mas?" tanya Hira saat memasuki kamar.
Terlihat Arslan sedang memainkan ponsel di atas ranjang. Sang suami juga terlihat sudah segar, pasti pria itu sudah mandi. Tempat tidur juga sudah rapi, Arslan memang sudah terbiasa membersihkannya saat terbangun.
"Iya, baru saja. Kamu dari mana?" tanya Arslan balik.
"Dari pondok, Mas. Mau ketemu sama anak-anak. Aku senang lihat mereka yang ceria."
"Sudah ngeluapin kangennya?"
Hira berjalan dan duduk di samping sang suami sambil tersenyum. "Aku senang bisa bertemu dengan mereka. Dari kemarin aku sudah menahannya, sekarang akhirnya bisa bertemu juga."
Arslan senang jika istrinya juga bahagia. Benar kata mamanya, seorang istri juga pasti akan ada masanya merindukan tempat tinggalnya dulu. Apalagi Hira dikelilingi banyak orang, sudah pasti rindu itu sudah menumpuk.
"Ya sudah, sana kamu mandi dulu, sebentar lagi magrib," ucap Arslan pada sang istri.
"Kamu sudah mandi, Mas?"
"Sudah tadi."
Hira pun mengangguk dan segera menuju ke kamar mandi, sementara Arslan pergi ke luar untuk melihat-lihat. Selama ini jika datang ke sini, dia kurang begitu memperhatikan sekitar. Hingga pria itu tidak tahu, apa saja yang ada di pondok ini. Padahal dulu Arslan sangat penasaran apa yang spesial dengan tempat ini.
"Kamu ada di sini, Nak? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Umi Rikha pada menantunya.
Arslan memang tidak begitu dekat dengan keluarga mertuanya. Bukan dia tidak mau, dirinya merasa segan saja saat berada di dekat mereka. Apalagi keluarga Hira orang yang paling terpandang di sini.
"Tidak ada, Umi. Saya hanya ingin melihat sekitar saja."
"Oh iya, silakan. Apa kamu mau ditemani santri di sini, biar Umi carikan orang yang bisa menemani kamu."
"Tidak perlu, Umi. Sebentar lagi juga maghrib, biar nanti malam saya pergi sama Hira saja."
"Baiklah, terserah kamu saja."
Terlihat Kyai Hasan keluar dan bertanya pada Arslan. "Nak Arslan mau ikut Abi sekalian ke masjid atau nunggu azan dulu?"
"Saya boleh sama Abi?"
"Tentu boleh, ayo! Nanti Abi tunjukkan tempat-tempat di pondok ini."
__ADS_1
"Sebentar Abi saya ambil peci dulu." Arslan pun kembali ke kamar, tadi dia sudah menggunakan sarung jadi hanya tinggal ambil peci saja.
Setelah itu Kyai Hasan dan menantunya pun pergi menuju masjid, di mana letaknya berada di tengah-tengah pondok pesantren. Arslan begitu kagum dengan tempat ini, begitu luas dan tidak kalah dengan sekolah elit di luar sana. Sang mertua juga menceritakan apa saja kegiatan yang ada di pondok ini.
"Umi, lihat Mas Arslan?" tanya Hira yang baru saja keluar dari kamar.
"Baru saja keluar sama abimu ke masjid, memang tadi nggak bilang sama kamu?"
"Tidak, Umi. Tadi Hira sedang mandi. Mungkin tadi bilang, tapi aku nggak dengar."
"Ya sudah, kamu cepat siap-siap. Kita pergi ke masjid juga." Hira mengangguk dan segera bersiap-siap pergi ke masjid bersama dengan uminya.
****
"Ramai sekali, ya, Sayang di pondok ini?" tanya Arslan saat dirinya dan sang istri sedang mengeliling pondok setelah salat isya, sekalian Hira juga ingin tahu sudah sampai mana persiapan untuk acara besok.
"Biasanya kalau jam segini, beberapa anak ada yang kumpul di masjid buat tadarusan. Kalau sekarang mereka sedang bersiap untuk acara besok, jadi semuanya sibuk," jawab Hira sambil melihat ke sekeliling.
"Apa para orang tua santri juga diundang, Sayang?"
"Tentu, Mas. Setiap orang tua pasti diundang, hanya saja tidak memaksa. Jika mereka mau datang, alhamdulillah. Jika tidak juga tidak apa-apa. Setiap orang kan punya kesibukan sendiri-sendiri. Kadang juga ada beberapa anak di sini, yang jarang sekali di jenguk oleh orang tuanya karena sibuk. Syukurlah mereka juga tidak pernah mempermasalahkannya. Meskipun teman yang lain setiap minggu dijenguk."
"Tapi sekarang papa sudah tidak terlalu sibuk, Mas. Aku lihat beliau juga selalu ada waktu buat mama dan anak-anaknya."
"Iya, karena sekarang pekerjaannya sudah dibagi sama aku jadi, papa hanya mengurus beberapa hal saja. Kalau dulu 'kan semuanya diurus sama papa sendiri."
Hira mengangguk, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa mereka, membuat keduanya menghentikan langkah.
"Assalamualaikum, Ning Hera," sapa ustaz Ali yang kebetulan sedang berada di sana.
"Ustaz! Ustaz sendirian di sini?" tanya Hira yang sedang berbasa-basi.
"Tidak, banyak santri di sini," sahut Ustaz Ali sambil melihat ke belakangnya. Ada beberapa santri yang sedang membawa permadani.
"Maksud saya para pengurus yang lain, Ustaz?" tanya Hira lagi yang merasa kaku, sementara Arslan hanya diam mengamati keduanya. Dia juga tersenyum ke arah Ustaz Ali.
"Ada di masjid, Ning Hira sama Gus mau ke mana ini?"
"Kami mau melihat-melihat saja, Ustaz. Sudah lama saya tidak melihat keadaan pondok. Suami saya juga ingin tahu situasi di sini."
__ADS_1
"Maaf, Gus. Sebelumnya belajar di pondok mana?" tanya Ustaz Ali pada Arslan. Sebenarnya pertanyaan ini sudah ada di hatinya sejak pernikahan Hira diputuskan. Baru hari ini dia bisa bertanya.
"Saya tidak pernah belajar di pondok, Ustaz. Saya sekolah di sekolahan umum saja." Ustaz Ali menganggukkan kepala, sesekali melirik ke arah Hira dan itu tidak luput dari pandangan Arslan. Dapat disimpulkan jika pria di depannya ini adalah ustad Ali. Nyali Arslan seketika menciut melihat ketampanan pria itu, ditambah kepintaran pria itu tentunya yang pasti dirinya akan kalah.
"Baiklah, Ustaz. Kami mau melanjutkan jalan," pamit Hira.
"Oh iya, silakan, Ning. Saya juga masih harus mengawasi anak-anak."
Hira menundukkan sedikit kepalanya dan berlalu dari sana bersama dengan sang suami.
"Apa itu tadi yang bernama Ustaz Ali?" tanya Arslan tanpa melihat ke arah sang istri.
Pria itu masih terus saja melihat-lihat keadaan sekitar pondok. Itu hanya alasan agar tidak melihat wajah sang istri. Dia tidak ingin melihat wajah memuja dari wanita itu.
"Iya, Mas. Itu tadi yang bernama Ustaz Ali, memang ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja sama yang namanya Ustaz Ali, yang pernah membuat para wanita kagum padanya."
Hira menghentikan langkah sang suami dan menggenggam kedua tangan pria itu. "Mas, itu masa lalu. Aku juga tidak memiliki perasaan apa pun padanya."
Arslan panik, dia melihat ke kiri dan ke kanan, takut jika ada yang melihatnya. Jika di luar mungkin biasa saja, tetapi ini ada di area pondok, tentu saja dia malu.
"Aku tidak membicarakan tentang kamu, Sayang. Kenapa kamu jadi sensi begitu? Sudah tidak usah bahas lagi. Sekarang kamu tunjukkan saja tentang pondok ini. Dulu waktu kamu belajar di sini apa kamu juga tinggal di pondok atau di rumah abi?" tanya Arslan yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku tinggal di pondok juga, Mas. Kalau di rumah aku kesepian makanya aku memilih tinggal di pondok saja, kalau aku kangen sama Umi, baru aku pulang."
Hira juga menceritakan kebiasaan anak-anak di sini. Arslan mendengarkan dengan saksama, kadang juga bertanya pada istrinya itu. Dia penasaran tentang metode belajar di sini, apa bedanya dengan sekolah umum lainnya.
"Mas, kalau nanti anak kita besar, apa kamu setuju kalau dia juga mondok di sini?" tanya Hira dengan menatap sang suami.
"Itu terserah dia, Sayang. Aku tidak akan pernah mengekang keinginan anak-anakku nanti. Sama seperti aku dulu yang tidak ingin dibatasi. Sebenarnya dulu juga Papa ingin sekali aku belajar di pondok pesantren, tapi akunya saja yang bandel dan menolak. Papa setuju saja dengan catatan, aku harus mengikuti semua aturan dari papa mengenai pendidikan. Alhamdulillah, papa berhasil mendidik anak-anaknya."
"Iya, Mas. Aku lihat si kembar juga taat beribadah, ngajinya juga bagus." Hira mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu pernah dengar si kembar mengaji?"
"Pernah, waktu kita menginap di rumah papa dan mama. Aku nggak sengaja dengar si kembar lagi tadarusan."
"Mereka kadang memang gesrek, tapi kalau mengenai agama mereka lebih hebat daripada aku. Ibadah mereka juga sangat rajin."
__ADS_1
Hira kembali mengangguk. Dia juga sangat dekat dengan keluarga mertuanya, otomatis dirinya sangat tahu bagaimana kebiasaan mertua dan adik iparnya. Wanita itu beruntung bisa mengenal mereka, yang selalu baik pada siapa pun.