
Saat semua orang sedang asyik berbincang, bel rumah berbunyi. Kinan akan membukanya, tetapi dicegah oleh Bik Ira. Wanita itu segera pergi ke depan untuk membukakan pintu. Ternyata Hanif yang berada di sana. Pria itu datang dengan pakaian santai, membuat tampilannya terlihat lebih segar.
“Den Hanif. Silakan masuk!” ucap Bik Ira.
“Iya, Bik. Apa Kinan-nya ada?” tanya Hanif dengan tersenyum.
“Ada, semuanya ada di ruang tamu. Mari, masuk!”
Hanif pun mengikuti Bik Ira menuju ruang tamu. Ternyata di sana sudah banyak orang. Ada yang tidak pria itu kenali juga di sana. Tampak Kinan sedikit terkejut dengan kedatangan Hanif. Setahunya pria itu sedang sakit, ternyata sekarang sudah ada di sini.
“Assalamualaikum,” ucap Hanif.
“Waalaikumsalam, Nak Hanif, sendirian?” tanya Mama Aisyah.
Hanif mencium punggung tangan Papa Handi dan Mama Aisyah, kemudian menyalami semua orang yang ada di sana.
“Iya, Tante. Saya ke sini mau bicara sebentar sama Kinan. Boleh, Tante?”
“Tentu Boleh,” jawab Mama Aisyah yang kemudian beralih pada putrinya. “Kinan, sebaiknya ajak Nak Hanif ke taman samping saja. Tidak apa-apa, kan, Nak Hanif?”
Berdua dengan Hanif? Pasti keadaan Kinan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Melihat pria itu saja sudah membuat dia gugup, apalagi harus berdua.
“Tidak apa-apa, Tante. Lebih santai juga," sahut Hanif.
“Mari, Mas!” ajak Kinan.
Hanif pun mengikuti gadis itu menuju samping rumah. Banyak tanaman hias di sana. Dia tahu jika Kinan sedang gugup. Itu terlihat dari tingkah gadis itu. Apalagi dari tadi Kinan mencoba untuk menghindari tatapannya. Sebenarnya Hanif juga gugup, tetapi dia mencoba untuk terlihat biasa saja.
“Mas, silakan duduk dulu, saya ambilkan minum,” ucap Kinan yang kembali masuk untuk mengambilkan minum.
Sebenarnya gadis itu belum siap untuk bertemu dengan Hanif. Dia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Sekarang pria itu sudah ada di sini, tidak mungkin Kinan menghindar. Apalagi sampai mengusirnya.
__ADS_1
“Silakan diminum, Mas,” ucap Kinan sambil meletakkan dua gelas teh manis dan satu piring gorengan yang tadi sudah disiapkan oleh Bik Ira.
“Terima kasih,” ucap Hanif yang kemudian meminum sedikit tehnya.
Kinan duduk di kursi samping Hanif. Keduanya masih terdiam, tidak tahu harus memulai dari mana. Mata mereka juga saling lirik, saat pandangan bertemu, buru-buru keduanya mengalihkan pandangan.
“Ada perlu apa, ya, Mas Hanif, ke sini pagi-pagi?” tanya Kinan memulai pembicaraan.
“Aku ingin bisa memperjelas hubungan kita agar aku bisa melindungimu sepenuhnya,” jawab Hanif sambil menatap Kinan, membuat gadis itu malu.
“Maksudnya?” tanya Kinan yang pura-pura tidak tahu. Padahal kata-kata Hanif sudah sangat jelas.
“Aku ingin kita segera bertunangan. Aku tahu kamu pasti ragu dengan kehadiranku, tetapi untuk saat ini mohon terima permintaanku untuk segera bertunangan. Jika suatu hari nanti kamu menemukan seorang pria yang bisa membuatmu bahagia, katakan saja padaku. Aku akan melepaskanmu dengan ikhlas, tapi untuk saat ini, biarlah aku bisa melindungimu dengan status yang sudah kita miliki.”
Mata Kinan berkaca-kaca, dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari bibir seorang pria yang selama ini dia kenal galak. Apa yang dikatakan mamanya memang benar. Gadis itu bisa melihat kesungguhan dari diri Hanif untuknya. Namun, sejak kapan perasaan itu ada, Kinan tidak tahu atau mungkin tidak memperhatikannya.
Gadis itu menundukkan kepala. Dia bingung harus menjawab apa. Bolehkah Kinan berharap jika hubungannya dengan Hanif bisa selamanya. Akan tetapi, ada juga rasa takut dalam diri gadis itu jika semua ini hanya palsu.
“Apa pun yang aku katakan hari ini, semuanya keluar dari dalam hatiku yang paling dalam. Jangan pernah meragukanku karena aku memang benar-benar sangat mencintaimu,” ucap Hanif, seolah tahu apa yang sedang Kinan pikirkan.
“Tapi jika aku menerimanya, itu pasti sangat tidak adil untuk kamu, Mas. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun dalam menjalin sebuah hubungan.”
“Aku tidak pernah merasa tersakiti. Melihatmu bahagia, itu sudah cukup untukku. Saat ini kamu juga belum ada seseorang yang menjagamu. Izinkan aku yang melakukannya. Aku tidak akan menuntut apa pun terhadapmu. Aku hanya ingin kamu baik-baik saja dan tidak ada yang berani mengganggumu di kampus. Kamu mau kan pertunangan kita dipercepat?” tanya Hanif sambil menggenggam telapak tangan Kinan.
Gadis itu mengangguk dengan air mata yang mengalir. Ucapan Hanif sungguh menggerakkan hatinya yang paling dalam. Entah apa yang terjadi dalam hubungan mereka ke depannya, biarlah waktu yang menjawab. Saat ini dia hanya ingin bahagia. Mudah-mudahan itu bisa tercipta dengan kehadiran Hanif di sisinya.
“Sudah jangan menangis lagi. Aku melakukan semua ini agar kamu tidak terluka. Kenapa sekarang malah menangis?”
“Betapa beruntungnya aku, bisa kenal dengan pria sepertimu. Kamu baik, tapi kenapa harus jatuh cinta padaku? Bukankah di luar sana masih sangat banyak wanita yang lebih cantik dan lebih baik daripada aku?”
“Memang benar, tetapi hatiku sudah terpaut padamu. Aku tidak bisa menyalahkan hatiku yang hanya bertaut padamu. Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik kita bicarakan rencana pertunangan kita. Setelah ini, aku akan bicara dengan Om Hadi dan Tante Aisyah semoga saja mereka setuju.”
__ADS_1
“Iya, Mas," sahut Kinan dengan mengusap air matanya.
“Apa kamu punya keinginan untuk acara pertunangan kita? Barangkali kamu menginginkan sesuatu?”
“Tidak ada, Mas. Aku juga tidak pernah memikirkan hal ini, jadi masih belum kepikiran.”
“Nanti kalau kamu menginginkan sesuatu, bilang saja. Biar nanti aku usahain buat nyari.”
“Iya, Mas. Nanti aku akan bilang sama kamu.”
“Oh, iya, di luar tadi siapa? Aku tidak pernah melihatnya.
“Itu orang tua Kak Zayna. Mereka baru saja datang dari luar kota,” jawab Kinan yang diangguki Hanif.
“Sebaiknya aku bicara dengan orang tuamu sekarang. Satu jam lagi aku harus pergi ke kampus. Kamu juga, kan?”
“Iya, Mas. Sebentar, biar aku lihat dulu mereka lagi ngobrol serius apa nggak. Kalau pembicaraan mereka serius, sebaiknya kita bicaranya lain kali saja.”
“Iya, tidak apa-apa.”
Kinan masuk ke dalam rumah. Dia ingin melihat lebih dulu, apakah orang tuanya sedang berbicara serius apa tidak. Sebenarnya gadis itu merasa tidak enak juga pada keluarga Zayna, baru hari ini mereka datang, tetapi waktu mengobrol dengan besannya harus terganggu. Saat Kinan sampai di ruang tamu, ternyata mereka sedang bercanda.
“Pa, Ma, bisa minta waktunya sebentar. Mas Hanif mau bicara di halaman samping,” ucap Kinan, membuat semua orang yang ada di sana menatap gadis itu.
“Mau bicara apa?” tanya Papa Hadi.
“Wah, jangan-jangan kamu mau dilamar, ya, Dhek?” sela Zayna.
.
.
__ADS_1