
"Kita sarapan dulu, yuk! Kamu belum sarapan, kan? Ini sudah hampir siang," ucap Ayman, seketika membuat Zayna yang berada dalam pelukannya pun tersadar jika sang suami seharusnya bekerja, tapi sekarang pria itu malah berada di sini untuk menenangkannya.
"Mas, seharusnya kamu bekerja, kan? Maaf aku sudah menahan kamu di sini."
"Tidak perlu minta maaf. Kamu selalu seperti itu. Aku adalah Suamiku sudah sepantasnya aku menemanimu dalam keadaan suka maupun duka. Aku tahu istriku sekarang sedang tidak baik-baik saja karena itu tadi aku sudah bilang sama Ilham."
"Kalau hari ini kamu libur, apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Aku 'kan bos di sana, jadi bebas semua."
"Kenapa kamu jadi sombong begini?"
"Bukan sombong, tapi mengatakan yang sejujurnya," sahut Ayman membuat Zayna mencebikkan bibirnya.
"Ayo, kita sarapan! Kalau dingin nanti nggak enak."
Zayna pun mengangguk lalu bangun dari tidurnya, begitupun dengan Ayman. Pria itu mengambil kotak nasi yang tadi dia bawa dan menyerahkannya pada saru sang istri.
"Sebentar, Mas. Aku cuci tangan dul," ucap Zayna yang kemudian berlalu menuju kamar mandi diikuti oleh Ayman. Pria itu juga belum mencuci tangan. Keduanya menikmati sarapan dengan tenang, sesekali Ayman menatap sang istri yang terlihat masih sembab.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu, Mas apa aku jelek habis nangis tadi?"
"Ya iyalah jelek. Mana ada orang habis nangis cantik."
"Kenapa kamu nggak berbohong saja, bilang aku cantik, jadi bete, kan!" sahut Zayna dengan mengerucutkan bibirnya membuat Ayman terkekeh.
"Iya, deh istriku memang yang paling cantik gak ada duanya."
"Nggak usah memuji kalau cuma terpaksa."
__ADS_1
"Nggak dong, Sayang. Kamu wanita yang paling cantik nomor dua dunia ini," ucap Ayman membuat pipi Zayna merona.
Pria itu memang jarang sekali memuji istrinya karena itu saat dia mengatakan sesuatu, pasti Zayna merasa tersipu. Wanita itu juga bukan orang yang gila akan pujian. Akan tetapi, saat pria yang dicintai mengaguminya, pasti ada sesuatu yang membuatnya berbunga-bunga.
"Terima kasih."
"Kamu nggak mau tahu siapa yang nomor satu?"
"Nggak, lah. Aku tahu siapa yang nomor satu."
Ayman tersenyum dan melanjutkan kembali sarapannya. Zayna memang tidak perlu bertanya, semua orang pun tahu siapa wanita tercantik bagi seorang laki-laki. Begitupun sebaliknya bagi seorang wanita. Setelah selesai, Ayman ingin bicara dengan istrinya mengenai keinginannya tadi. Dia tidak ingin mengulur waktu yang nantinya akan semakin membuat Zayna terluka.
"Sayang, aku ingin bicara sesuatu," ucap Ayman dengan nada serius.
"Ya, bicara apa, Mas?" tanya Zayna balik sambil membereskan bekas makanan mereka.
"Bagaimana kalau kita ke rumah orang tuaku?" tanya Ayman membuat Zayna diam sambil menatap pria itu. "Sebelumnya aku minta maaf. Aku mendengar semua pembicaraan kamu dan Papa tadi karena itu, lebih baik kita pulang ke rumah orang tuaku. Kita menenangkan pikiran masing-masing. Setelah perasaan kamu baik-baik saja, kita bisa datang ke sini. Itupun kalau kamu mau."
"Bagaimana dengan Papa? Dia sedang sakit, tidak ada yang merawatnya. Kalau Mama Savina sendiri, pasti kasihan," tanya Zayna pelan.
Ayman tersenyum, ternyata istrinya tidak pernah berubah. Meskipun hatinya sudah disakiti, tapi dia masih tetap memikirkan keadaan kedua orang tuanya. Jika itu orang lain, sudah pasti mereka akan pergi begitu saja tanpa memikirkan keadaan orangtuanya.
Pria itu semakin yakin dengan keputusannya. Mungkin setelah berpisah, akan ada rasa rindu dan perasaan lainnya yang tidak pernah mereka pikirkan. Semoga saja, Papa Rahmat dan Mama Savina juga berubah menjadi lebih baik lagi.
"Kamu memangnya masih mau merawat Papa? Setiap hari ketemu Papa?" tanya Ayman membuat Zayna hanya menundukkan kepala. Tidak tahu harus menjawab apa. "Kamu tidak perlu khawatir soal Papa. Aku akan menyewa seorang perawat agar bisa merawat Papa dan juga sekaligus melatih Papa berjalan. Semoga saja nanti Papa bisa berjalan kembali."
Zayna tersenyum dan segera memeluk sang suami. Dia sangat bersyukur memiliki suami seperti Ayman, yang selalu mengerti keadaannya dan selalu mengerti keinginan istrinya.
"Terima kasih, Mas. Kamu selalu mengerti apa yang aku butuhkan."
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin kamu selalu bersedih. Apa pun keadaannya, aku hanya ingin kamu selalu tersenyum."
****
Keesokan paginya Zayna dan Ayman benar-benar pergi meninggalkan rumah Papa Rahmat. Pria itu juga sudah mempekerjakan seorang perawat. Awalnya mertuanya menolak. Namun, dengan paksaan dan perkataan Ayman yang mengatakan jika ini permintaan Zayna, akhirnya Papa Rahmat menerima saja.
Selama perjalanan Zayna hanya diam. Entah apa yang dia pikirkan, Ayman mendiamkan saja. Pria itu tidak ingin ketenangan sang istri terganggu. Dia yakin jika wanita itu tengah memikirkan masalahnya.
Ayman juga sudah menghubungi mamanya dan menceritakan semua. Dia ingin Mama Aisyah menghibur istrinya nanti, tetapi pria itu tidak ingin sikap mamanya terlalu berlebihan, yang akan semakin membuat Zayna merasa tidak enak. Wanita paruh baya itu pun menyanggupinya. Dia sangat tahu apa yang akan dilakukannya.
Setelah cukup lama mengudara, akhirnya pesawat sampai juga di tempat tujuan. Ayman menuntun istrinya untuk turun. Begitu keluar sudah ada Pak Doni yang menunggu mereka. Pria itu pun segera mendekati majikannya dan membantu membawakan koper.
"Papa sama Mama ada di rumah, Pak Doni?" tanya Ayman setelah mereka menaiki mobil dan meninggalkan bandara.
"Kalau Tuan ada di kantor. Kalau Nyonya ada di rumah. Tadi Nyonya terlihat senang sekali mendengar kepulangan Tuan Ayman dan Neng Zayna. Beliau sibuk membuat kue."
"Benarkah? Tumben sekali Mama membuatkanku kue, aku jadi tidak sabar untuk mencicipinya."
"Aku juga ingin mencicipinya, Mas," sela Zayna membuat Ayman tersenyum, kemudian mengangguk. Begitu sampai di rumah, terlihat Mama Aisyah sedang menunggu di depan rumah Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada seolah sangat marah pada anak dan menantunya. Ayman dan Zayna pun mendekati Mama Aisyah dan mengucap salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kenapa baru sekarang pulangnya? Mama 'kan sudah bilang sama kamu, kalau kamu harus pulang kemarin. Kenapa baru sekarang?" tanya Mama Aisyah dengan nada ketus pada Zayna.
"Ma, aku yang nggak mengizinkan Zayna pulang. Kalau—"
"Ayman, Mama tidak tanya sama kamu. Mama tanya sama menantu Mama ini. Bisa-bisanya dia mengabaikan permintaan mama," gerutu Mama Aisyah dengan nada ketus sambil melirik ke arah menantunya. Dia memang sengaja agar Zayna bicara.
.
__ADS_1
.