Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
127. Menunggu


__ADS_3

Setelah menikmati keindahan alam, Hanif dan Kinan memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan keduanya juga sempat mampir ke sebuah restoran. Terlalu larut dalam kebersamaan membuat mereka lupa waktu.


“Kamu senang?” tanya Hanif saat mereka masih dalam perjalanan pulang.


“Senang sekali, Mas. Kamu bisa tahu tempat seperti dari mana?”


“Dari Pak Munif. Dia sering mengajak istrinya ke sana,” jawab Hanif yang diangguki Kinan. “Ada yang ingin aku sampaikan, mulai Minggu depan aku akan bekerja di perusahaan Papa, jadi aku pasti akan sibuk di sana.”


Kinan yang tadinya melihat ke arah jalanan pun segera melihat ke arah Hanif. Entah apa maksud dari pria itu, mengajak dia pergi hari ini kemudian mengatakan jika besok akan sibuk. Melihat keterdiaman Kinan membuat Hanif berpikir jika gadis itu tidak masalah dengan kesibukannya.


“Jadi apa alasan kamu mengajakku pergi hari ini? Apakah kamu ingin mengatakan jika kamu tidak akan ada waktu untukku lagi? Apakah ini termasuk kenangan?”


Mendengar pertanyaan Kinan membuat Hanif tergagap. “Bukan itu maksudku. Aku akan selalu berusaha untuk meluangkan waktu untukmu, tapi mungkin tidak seperti sebelumnya.”


“Apa bedanya? Itu juga sama saja, sebelumnya kamu jarang sekali mengajak pergi. Bukan maksudku untuk melarangmu bekerja, tapi setidaknya kita masih ada waktu untuk pergi bersama.”


Entah Hanif harus senang atau sedih mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kinan. Senang karena gadis itu sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Sedih karena memang waktunya pasti akan terbatas.


“Aku akan selalu berusaha untuk meluangkan waktu. Aku juga berharap agar kita masih bisa menikmati kebersamaan seperti tadi. Jangan berpikir aku tidak melakukan apa pun karena saat ini aku juga sedang berusaha agar bisa bersamamu. Kalau mau, aku juga ingin menghalalkanmu saat ini juga, tetapi aku tidak mau memaksamu."


Kinan menundukkan kepala, dia merasa sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanif juga memiliki kewajiban di perusahaan ayahnya karena pria itu anak tunggal di keluarga itu.


“Apa bekerja di perusahaan sangat berat, tapi papa masih ada waktu buat keluarganya. Kenapa kamu tidak?”


“Itu berbeda, papamu ada waktu dengan keluarga karena kalian memang tinggal satu rumah, jadi setiap pulang kerja, pasti akan selalu bersama, sedangkan kita pasti punya urusan sendiri dengan keluarga masing-masing. Tidak mungkin ‘kan setiap aku pulang kerja harus menemuimu. Sudah pasti kamu juga sibuk dengan keluargamu sendiri. Apalagi waktunya cuma sebentar.”


Kinan membenarkan apa yang dikatakan oleh Hanif. Apakah ini memang sudah jalannya agar dirinya menghalalkan hubungannya dengan Hanif? Itu terasa sangat sulit baginya. Masih banyak yang ingin dia gapai sebelum dirinya sibuk dengan urusan rumah tangga.


Meski Hanif tidak membebaninya dengan pekerjaan rumah tangga, tetap saja dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


“Jangan terlalu dipikirkan. Aku akan selalu berusaha agar ada waktu bersama denganmu,” ucap Hanif yang melihat keterdiaman Kinan.


Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah keluarga Kinan. Ternyata sudah ada Mama Aisyah dan Papa Hadi yang duduk di teras rumah. Keduanya sedang menikmati angin malam sambil menikmati teh hangat. Pasti mereka juga menunggu putrinya yang belum pulang juga.


“Assalamualaikum,” ucap Hanif dan Kinan secara bersamaan.


“Waalaikumsalam, ehm ... yang baru saja jalan-jalan, sampai lupa waktu,” sindir Mama Aisyah karena memang saat ini sudah malam. Padahal mereka pergi sejak pulang kuliah tadi.


“Maaf, Tante. Saya yang sudah mengajak Kinan," ucap Hanif yang merasa tidak enak. Seharusnya tadi dia mengajak Kinan pulang lebih awal.


“Untuk kali ini, tidak apa-apa. Lain kali jangan terlalu malam pulangnya. Ingat! Kalian belum halal.”


“Iya, Tante. Kalau begitu saya pamit undur diri.”


“Kamu nggak mampir dulu, barangkali mau ngeteh," sela Papa Hadi.


“Tidak usah, Om, ini sudah larut juga. Saya pulang dulu, terima kasih. Assalamualaikum.”


Hanif mencium punggung tangan kedua orang tua Kinan. Setelah itu pergi meninggalkan rumah keluarga Papa Hadi.


“Kamu ke mana saja, Kin? Sampai lupa waktu," tanya Mama Aisyah.


“Maaf, Ma. Di sana itu seru banget, sampai aku lupa waktu dan nggak mau pulang. He he ... maaf, ya, Ma," jawab Kinan sambil bergelayut manja di lengan mamanya.


“Tempatnya apa orangnya yang bikin kamu nggak mau pulang.”


“Mama apaan sih! Ya tentu tempatnya, sudah aku mau masuk, mau istirahat,” ucap Kinan yang segera berlalu dari sana.


Dia masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Setelah semua selesai, Kinan merebahkan tubuhnya, berniat untuk segera tidur. Namun, matanya enggan tertutup, dia masih kepikiran mengenai apa yang dikatakan oleh Hanif tadi. Apakah mungkin ini sudah saatnya bagi gadis itu untuk membina rumah tangga.

__ADS_1


Kebersamaan yang akhir-akhir ini sering terjadi antara dia dan Hanif, membuatnya gadis itu terbiasa untuk selalu bersama. Jika nanti pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Apakah dia sudah siap? Apalagi mengingat di perusahaan juga banyak wanita cantik.


Mungkinkah tunangannya juga akan tertarik dengan mereka? Kinan segera menggelengkan kepala. Dia tidak mau sampai itu terjadi. Baru saja dia merasakan cinta dan perhatian dari Hanif. Bagaimana bisa semuanya hilang begitu saja. Saat berpisah dengan Niko saja, rasanya begitu sakit, bagaimana jika dia harus kehilangan Hanif? Kinan tidak bisa membayangkannya.


Satu bulan telah terlewati dan benar saja waktu Hanif sangat tersita dengan pekerjaan. Apalagi pria itu masih sangat baru di dalam dunia bisnis, perlu banyak sekali belajar. Ada Papa Wisnu dan juga asisten papanya yang mengajari. Sudah beberapa hari ini juga, Hanif jarang sekali menghubungi Kinan jika tidak Gadis itu sendiri yang menghubungi.


“Dhek, kita jalan-jalan ke mall, yuk!” ajak Zayna.


“Nggak mau, Kak. Aku lagi malas,” jawab Kinan yang sedang menonton acara televisi.


“Kenapa? Apa gara-gara nggak ada kabar dari calon imam?”


“Kakak sok tahu.”


“Tahulah, dari kemarin kamu lihatin ponsel terus. Dibuka dimatiin, dibuka dimatiin. Apa coba kalau nggak nungguin seseorang, berharap ada pesan darinya.”


Kinan terdiam, memang benar jika dirinya sedang menunggu pesan dari Hanif. Bagaimana tidak pesannya sama sekali tidak dibalas, bahkan dibaca pun tidak.


“Ayo, kita jalan-jalan ke mall. Daripada menunggu sesuatu yang tidak pasti. Kakak kamu juga hari ini ada pekerjaan ke luar kota. Aku di rumah sendiri, jadi bosan.”


“Tapi mau ke mana, Kak. Aku juga bosan.”


“Nanti kalau sampai juga kamu tahu.”


Mau tidak mau, Kinan pun akhirnya menuruti keinginan kakak iparnya. “Ya sudah, tunggu sebentar. Aku mau ganti baju dulu.”


“Iya, Kakak tunggu di depan. Kakak mau panggil Pak Doni biar bersiap-siap juga.”


Kinan mengganggu dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2