Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
164. Laki-laki


__ADS_3

“Assalamualaikum,” ucap dua orang yang baru saja memasuki ruangan.


“Waalaikumsalam, bagaimana kalian bisa tahu kalau kita semua ada di sini?” tanya Mama Aisyah pada anak dan menantunya.


“Tadi papa yang kirim pesan kalau Kak Zayna melahirkan. Kenapa Mama nggak kasih tahu aku?” tanya Kinan balik pada mamanya. Yang baru saja datang adalah Hanif dan istrinya. Keduanya baru pulang menghadiri acara.


“Mama tuh ngeblank, nggak bisa berpikir dengan jernih tadi. Lagi pula sekarang kalian juga sudah tahu.”


“Iya, kalau Papa nggak kasih tahu juga kita nggak bakal tahu.”


“Sudah, Sayang,” sela Hanif membuat Kinan sadar jika kedatangannya ke sini untuk menjenguk kakak ipar dan keponakannya.


“Bagaimana perasaannya sekarang, Kak? Sudah jadi ibu punya baby yang lucu," tanya Kinan pada kakak iparnya.


“Senang banget tentunya, tapi agak sedih juga karena anak kami harus masuk inkubator," jawab Zayna yang masih terlihat lemas.


“Iya, Kak. Aku juga turut merasa sedih, tapi ini semua juga demi kebaikannya. Mudah-mudahan saat nanti dedek bayinya keluar, sudah benar-benar sehat.”


“Amin, aku juga berharap seperti itu.”


“Dedek bayinya laki-laki apa perempuan?” tanya Kinan.


“Eh, iya, laki-laki apa perempuan? Mama sampai lupa menanyakannya gara-gara kepanikan tadi," sela Mama Aisyah.


“Bayinya laki-laki, mengenai nama kami belum memberinya. Ada beberapa rencana juga, tapi belum memutuskan yang mana yang mau dipakai. Kami pikir lahirnya masih dua bulan lagi jadi, masih berpikir-pikir dulu," jawab Ayman.


“Boleh nggak aku kasih nama buat dedek bayi?”


“Nggak boleh, itu anak aku jadi, cuma aku dan Zayna yang berhak. Kamu kasih nama anak kamu sendiri saja nanti,” sahut Ayman dengan cepat karena dirinya memang sudah rencana memilihkan beberapa nama. Namun, dia dan Zayna belum menentukan nama mana yang akan mereka pakai.


Kinan hanya mendengus mendengar sahutan dari kakaknya. Zayna pun tersenyum melihatnya. Namun, dalam hati dia mengiyakan apa yang dikatakan sang suami. Hanif juga mengucapkan selamat pada kakak iparnya. Dia ikut senang dengan kebahagiaan keluarga mertuanya.


Mereka pun berbincang sejenak, hingga akhirnya Kinan dan suaminya pamit undur diri. Sebelum pulang, wanita itu mengajak suaminya ke ruang bayi. Dia ingin melihat bagaimana keadaan keponakannya saat ini. Mudah-mudahan saja dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


“Kasihan sekali ya, Mas. Tubuh sekecil itu harus merasakan ini semua. Dia juga nggak bisa dekat dengan mamanya,” ucap Kinan saat melihat keponakannya dari luar karena mereka tidak diperbolehkan untuk masuk.


Mata wanita itu berkaca-kaca, dia tidak tega melihat bayi sekecil itu aku merasakan ini semua. Kinan masih bersyukur kakak ipar dan keponakannya masih bisa selamat. Hanif merangkul pundak sang istri dan mengusapnya dengan pelan.


“Iya, Sayang, tapi ini juga demi kesehatan dia. Dokter juga pasti ingin yang terbaik untuk bayi itu," sahut Hanif.


“Padahal tadinya aku ingin menggendong keponakanku, tapi sekarang tidak bisa. Tidak apa-apalah, mudah-mudahan dia bisa segera keluar dari sana dan keadaannya juga sudah sehat," ucap Kinan dengan menampilkan senyumnya.


“Amin, ayo kita pergi! Besok kita ke sini lagi.” Ayman menggenggam telapak tangan sang istri dan membawanya ke luar rumah sakit.


“Mas, kita mau ke mana? Parkirannya sebelah sana, kenapa kamu malah ajak aku ke sini?” tanya Kinan sambil memperhatikan sekitar. Hanif mengajaknya menuju ke arah yang berlawanan dari tempat mobilnya parkir.


“Kita duduk di taman sebentar, aku juga capek kalau menyetir.”


“Ini sudah malam, Mas. Kalau kamu capek nyetir, lebih baik aku saja yang nyetir,” ucap Kinan. Namun, tidak dipedulikan Hanif.


“Sudah, kamu ikut saja kita santai sejenak, sebelum pulang.”


Hanif mengajak Kinan ke taman rumah sakit yang cukup luas. Di sana juga ada beberapa permainan anak-anak, tetapi keadaannya sepi karena ini juga sudah malam. Hanif duduk di sebuah kursi, Kinan yang ingin duduk di samping sang suami pun segera ditarik oleh pria itu, yang akhirnya dia duduk di atas pangkuan Hanif.


“Mas, malu dilihat orang,” bisik Kinan sambil berusaha melepaskan tangan pria itu.


“Kamu nggak usah malu, orang-orang juga nggak akan peduli dengan apa yang kamu lakukan.”


“Tetap saja malu.”


“Ini sudah gelap, tidak akan terlihat orang. Kamu lihat sebelah sana, mereka yang sudah berumur saja masih terlihat romantis,” ucap Hanif sambil menunjuk sepasang manusia dengan dagunya.


Kinan pun mengikuti arah yang ditunjuk. Memang benar di sana ada pria dan wanita yang terlihat begitu mesra. Padahal mereka tidak muda lagi. Sungguh iri rasanya melihat itu. Dia berharap semoga saja nanti dirinya juga bisa seperti mereka.


Akhirnya Kinan pun diam dan tidak lagi memberontak. Dia juga menikmati pemandangan malam di taman itu. Meski lampu taman ada di mana-mana, tempat itu masih terlihat remang-remang. Semakin menambah suasana romantis.


“Sayang, apa kamu tidak ingin pergi berbulan madu?” tanya Hanif.

__ADS_1


Kinan terdiam sejenak kemudian berkata, “Kamu tahu ‘kan, Mas, kalau aku masih sibuk kuliah. Aku juga nggak pernah berpikir mengenai bulan madu.”


“Bulan depan kamu waktunya libur kuliah, kita bisa jalan-jalan sambil bulan madu. Aku bisa ngajuin cuti sama papa."


"Memangnya kamu sudah ada rencana mau ke mana?”


“Belum, kalau mengenai itu, kita bisa merencanakan sama-sama.”


Sebenarnya dia juga ingin pergi bersama dengan sang suami, tetapi untuk bulan madu, rasanya tidak untuk saat ini.


“Nggak perlu, aku maunya liburan itu berkumpul bersama keluarga. Kalau pergi juga kita bisa pergi sama-sama."


“Benar, kamu nggak mau jalan-jalan? Padahal aku ingin pergi hanya berdua saja sama kamu.”


“Lain kali saja, ya, Mas! Kalau kamu mau kita bisa pergi berdua ke tempat terdekat saja. Nggak perlu ke luar kota, apalagi sampai ke luar negeri. Nggak pa-pa, kan, Mas?" tanya Kinan yang sebenarnya merasa tidak enak pada sang suami.


“Tidak apa-apa.” Mereka pun berbincang sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.


“Sudah larut malam, ayo kita pulang, Mas! Nanti mama khawatir sama kita,” ajak Kinan.


“Baiklah, kita juga tidak sempat bilang sama mama tadi mengenai Kak Zayna. Nanti Mama pasti akan marah.” Hanif merangkul pinggang Kinan menuju mobilnya.


Keduanya berjalan ke arah mobil mereka. Entah kenapa pria itu tiba-tiba saja menjadi sangat romantis. Namun, Kinan tidak mau ambil pusing. Mungkin sang suami hanya ingin bermanja-manja dengannya.


Sementara itu, di ruang rawat, kini hanya tinggal Zayna dan Ayman. Papa Hadi dan mama Aisyah memutuskan untuk pulang lebih dulu, besok mereka akan datang lagi. Papa Hadi juga sudah memberi cuti untuk Ayman jadi, putranya bisa fokus pada istri dan anaknya. Mereka juga melihat cucu mereka sebelum pulang. Meskipun hanya dari luar ruangan.


“Mas, kamu sudah memutuskan mau kasih nama anak kita apa?” tanya Zayna.


“Aku terserah kamu, Sayang. Kamu mau kasih nama siapa?"


“Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu sendiri mau kasih nama?” tanya Zayna membuat Ayman yang duduk di samping ranjang tersenyum.


“Aku tadi bilangnya aku sama kamu. Kita sama-sama cari nama untuk anak kita. Aku yakin kamu juga pasti mau kasih nama anak kita," ucap Ayman. Dia sangat tahu bagaimana perjuangan Zayna tadi siang jadi, pria itu memberikan hak pada sang istri

__ADS_1


.


.


__ADS_2