Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
116. Pandangan aneh


__ADS_3

“Selamat pagi,” sapa Kinan pada keluarganya saat dia memasuki ruang makan. Tampak semua orang sudah siap di sana. Berbagai hidangan juga sudah ada di meja.


“Selamat pagi.”


“Kamu mau kuliah, Dhek?” tanya Mama Aisyah.


“Iya, Ma.”


“Mama pikir kamu hari ini libur dulu.”


“Nggaklah, Ma. Ngapain juga libur.”


“Ya, barangkali kamu mau siap-siap untuk nanti malam. Ke salon buat perawatan atau apalah gitu."


“Acaranya ‘kan malam, Ma. Masih sangat lama buat siap-siap sekarang. Aku juga malas ke salon. Ini juga mau sekalian kasih undangan buat Farah.”


“Ya sudahlah, kalau nanti sudah selesai, kamu langsung pulang, ya! Jangan ke mana-mana."


“Iya, Ma. Aku juga nggak ada niat mau pergi ke mana pun.”


“Bagus, habiskan dulu sarapannya sebelum berangkat.”


Mereka semua pun menikmati sarapan dengan tenang. Setelah selesai, semua orang berjalan ke depan. Ayman dan Papa Hadi juga harus ke kantor.


“Pak Doni, mobil saya nggak dikeluarin?” tanya Kinan saat tidak melihat mobilnya.


“Saya kira Non Kinan nggak ke kampus. Lagi pula ada satu bannya yang bocor, ban serepnya juga tidak bisa dipakai, Neng,” sahut Pak Doni yang merasa bersalah karena tidak mengecek sebelumnya.


“Nah, terus aku ke kampusnya bagaimana? Aku ada kelas pagi ini."


“Maaf, Neng. Saya kira tidak ke kampus.”


“Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu sama Papa saja, biar Pak Doni benerin dulu mobil kamu," sahut Papa Hadi. Sudah lama juga dia tidak mengantar putrinya. Pria itu juga bisa menggunakan waktu untuk berbincang dengan Kinan.


“Ya sudahlah, nggak pa-pa nanti pulang taksi.”

__ADS_1


“Kamu mau ikut Papa atau ikut Kakak?”


“Ikut Papa saja, kalau ikut Kakak, terlalu banyak acara. Ayo, Pa!” ajak Kinan sambil bergelayut manja di lengan pria itu, sementara Ayman mendengus hanya kesal saat mendengar ucapan adiknya.


Sepanjang perjalanan Kinan banyak berbincang dengan papanya. Mereka memang jarang sekali bertemu, bukan berarti mereka tidak dekat. Hanya waktu saja yang sulit untuk bertemu kenyataannya setiap kali hanya berdua, justru Kinan terlihat manja pada papanya daripada dengan mamanya. Begitu pula dengan Hadi yang sangat memanjakan putrinya.


Dari kecil setiap apa pun yang diinginkan gadis itu, selalu saja dituruti. Bahkan terkadang dia harus sembunyi-sembunyi kalau memberikan sesuatu pada putrinya. Takut jika sang istri yang mengetahuinya pasti akan marah.


Aisyah sering memarahi suaminya karena terlalu memanjakan Kinan. Dia tidak ingin putrinya menjadi manja, tetapi syukurlah, sekarang gadis itu bisa sangat mandiri dan selalu berpikir dewasa.


“Pa, aku kangen sama masa-masa dulu. Saat aku kecil, Papa selalu manjain aku. Setiap ada waktu luang Papa selalu ngajak aku jalan-jalan, pergi ke mana pun yang aku inginkan. Sekarang saat aku sudah besar, sudah tidak pernah lagi.”


“Ya, itu karena jadwal kamu terlalu padat. Papa juga sibuk.”


“Papa, sekarang sudah ada Kak Ayman, kenapa masih sibuk juga?"


“Tetap saja kasihan kakakmu kalau terlalu sibuk. Apalagi Sekarang istrinya sedang hamil, pasti maunya dimanja-manja. Kamu nanti juga pasti mengerti bagaimana rasanya menjadi wanita hamil.”


“Itu masih lama, Pa.”


“Ih, Papa," ucap Kinan sambil memukul pelan lengan papanya.


“Memang kamu nggak mau cepet nikah? Padahal Papa berharap kamu langsung menikah saja, tidak perlu bertunangan.”


“Nggaklah, Pa. Aku Masih Ingin bebas.”


Kinan mengerti, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Papa Hadi hanya tidak ingin putrinya melakukan dosa karena terlalu seringnya bertemu dan bersama. Namun, gadis itu akan meyakinkan papanya jika dia pasti bisa menjaga diri.


“Memangnya kalau kamu sudah menikah nggak bisa bebas?” tanya Papa Hadi.


“Ya nggaklah, Pa. Setiap pagi aku harus menyiapkan makanan dan juga pakaian untuk suamiku bekerja. Setiap hari juga harus pulang lebih cepat daripada suami. Papa tahu sendiri bagaimana kesibukanku. Mana bisa pulang cepat."


“Itu semua ‘kan bisa diatur. Lagi pula Papa juga yakin kalau Hanif tidak seperti itu. Dia pasti mengerti bagaimana kesibukan istrinya dan tidak akan menuntut yang macam-macam.”


Kinan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan. “Untuk saat ini biarkan saja seperti ini. Aku juga masih ingin mengenal kepribadian Mas Hanif. Masih banyak yang belum aku tahu tentang dia. Aku juga tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari.”

__ADS_1


“Ya sudahlah, terserah kamu saja. Yang penting putri Papa bahagia, Papa juga ikut bahagia.”


“Terima kasih, Pa,” ucap Kinan sambil memeluk papanya.


“Jangan erat-erat, Papa lagi nyetir.”


Kinan pun melonggarkan pelukannya. Dia bersandar di pundak pria yang sudah menjadi cinta pertamanya itu, pria yang tidak pernah menuntut apa pun padanya. Dari dulu Kinan selalu berharap agar mendapatkan seorang suami seperti Papanya. Namun, dia tahu tidak ada manusia di dunia ini yang sama, apalagi sempurna.


Mudah-mudahan Hanif bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Entah kapan itu akan terlaksana. Yang pasti Kinan hanya ingin yang terbaik untuk keluarga dan masa depannya.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di kampus tempat Kinan menimba ilmu. Tampak mahasiswa berlalu-lalang. Adapula yang memperhatikan kedatangan sebuah mobil mewah. Mereka penasaran siapa pemiliknya.


“Aku turun dulu, Pa. Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Kinan sambil mencium punggung tangan papanya yang kemudian turun dari mobil.


“Sayang!” panggil Papa Hadi dengan menurunkan kaca mobil sebelum Kinan menjauh. Sontak gadis itu langsung membalikkan tubuhnya. “Nanti kalau sudah waktunya pulang, hubungi Pak Doni,” lanjutnya.


Kinan hanya mengangkat jempol tanpa mengatakan satu kata pun. Papa Hadi segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Tanpa keduanya sadari, ada beberapa mahasiswa yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Semua mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai gadis itu.


Foto Kinan melambaikan tangan ke arah mobil mewah, menjadi perbincangan hangat di grup mahasiswa hingga dosen. Banyak dari mereka berasumsi yang tidak-tidak. Ada pula yang membela gadis itu.


Saat Kinan memasuki kelas, beberapa mahasiswa ada yang menatap sambil berbisik. Ada pula yang tidak peduli. Sebenarnya gadis itu merasa risih, tetapi dia berusaha untuk biasa saja. Sejak memiliki hubungan dengan Hanif, tatapan seperti itu sudah biasa baginya.


“Selamat siang,” ucap Hanif begitu memasuki kelas.


“Selamat siang, Pak.”


“Maaf, Pak, kami telat,” ucap Nayla saat memasuki kelas. Dia bersama dengan dua temannya.


“Kali ini saya tolerir, tapi tidak untuk lain kali. Duduklah!” perintah Hanif.


Nayla dan temannya pun menuju tempat duduknya. Sebenarnya dia ingin mengatakan apa yang saat ini jadi perbincangan, tetapi sepertinya belum saatnya. Semua akan gadis itu sampaikan saat kelas selesai. Nayla tersenyum sinis ke arah Kinan, seolah mendapat sesuatu yang luar biasa.


.


.

__ADS_1


__ADS_2