
“Mas, kamu nggak ke kantor?” tanya Zayna karena sudah dari tadi Ayman hanya memandangi sang putra. Dia tidak mau pergi ke mana pun.
“Hari ini libur, Sayang,” jawab Ayman tanpa melihat ke arah istrinya.
“Mas, biarin Baby Ars tidur, jangan diliatin terus.”
Ayman tidak memedulikan ucapan sang istri. Dia terus saja memandangi wajah lucu putranya. Terkadang juga pria itu jahil, mengganggu tidur sang anak yang nyenyak. Zayna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.
“Sayang, nanti kita buat lagi, ya!” ucap Ayman tanpa melihat ke arah sang istri.
“Buat apa?” tanya Zayna yang tidak mengerti arah pembicaraan sang suami.
“Buat Baby.”
“Aduh, Mas, yang kemarin saja aku ngilu. Masa lagi!” seru Zayna dengan khawatir. Membayangkannya saja sudah ngeri.
“Ah, iya, kemarin saja sudah membuatku hampir tidak bisa bernapas. Ya sudah, tidak usah dipikirkan hal itu. Kita besarkan Baby Ars dengan baik saja.”
“Iya, Mas.”
Sejujurnya Zayna juga tidak keberatan jika dirinya harus hamil lagi. Namun, untuk saat ini dia belum siap. Selain karena rasa takut yang dia alami, umur Baby Ars juga masih terlalu kecil. Bayi itu masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.
Tidak berapa lama terlihat, Baby Ars menggeliat. Beberapa kali juga menguap hingga akhirnya menangis. Ayman pun mencoba untuk menenangkan putranya.
“Anak Papa kenapa menangis? Apa popoknya basah? Coba Papa lihat,” ucap Ayman sambil memeriksa popok putranya, basah atau tidak. “Nggak basah, anak Papa kenapa? Mau gendong, ya? Papa nggak berani."
“Mungkin dia lapar, Mas. Sini, coba sebentar aku gendong.” Zayna mengangkat sang anak dan menyusuinya. Benar saja, anak itu langsung diam.
“Wah, anak Papa lapar ternyata.”
Pria itu pun mencoba mengajak anaknya berbicara. Meski ucapannya sama sekali tidak dihiraukan, dia terus berbicara panjang lebar. Tiba-tiba pintu kamar diketuk seseorang dari luar. Ayman pun membukanya, ternyata Bik Ira yang ada di sana.
“Ada apa, Bik?” tanya Ayman.
"Di bawah ada Pak Ilham, Den. Katanya ada keperluan dengan Aden."
"Oh iya, Bik. Suruh tunggu sebentar. Nanti aku turun."
"Baik, Den."
"Apa ada pekerjaan mendesak, Mas?" tanya Zayna setelah Bik Ira pergi.
"Tidak, hanya ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani," jawab Ayman dengan mengambil tas kerjanya.
"Kenapa merepotkan orang untuk datang, Mas. Pasti Kak Ilham di perusahaan juga banyak pekerjaan."
"Nggak apa-apa, cuma sebentar saja."
"Bebas kalau bos mah," sahut Zayna membuat Ayman terkekeh.
"Aku turun dulu, ya, Sayang. Nanti kita ngobrol lagi," ucap Ayman pada putranya dan segera pergi meninggalkan istri dan anaknya.
"Papamu nggak mau jauh-jauh dari kamu, Sayang. Sampai pekerjaan pun dibawa ke rumah," ucap Zayna pada Sang putra.
__ADS_1
"Baby Ars masih tidur, Na?" tanya Mama Aisyah yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Baru saja bangun, Ma."
Mama Aisyah berjalan mendekati menantu dan cucunya. Dia duduk di samping mereka. Wanita paruh baya itu memperhatikan Baby Ars yang ada di pangkuan mamanya.
"Kamu kapan mau adain acara buat aqiqah anak kamu?" tanya Mama Aisyah pada menantunya.
"Aku terserah Mas Ayman saja, Ma. Sebenarnya aku kemarin maunya tujuh hari setelah lahiran, tapi kemarin masih sibuk di rumah sakit jadi, nggak bisa. Sekarang terserah Mas Ayman mau adain acaranya kapan. Lagi pula semua yang mengurus semuanya juga Mas Ayman."
"Nanti kamu bicarain lagi sama dia, takutnya Ayman terlalu larut dengan Baby Ars jadi lupa."
Zayna tersenyum mendengar apa yang mamanya katakan. Nyatanya sang suami memang sibuk mengajak bicara anaknya. Zayna memakluminya karena mereka juga cukup lama menunggu kehadirannya.
"Iya, Ma. Nanti aku bicarain lagi sama Mas Ayman," ucap Zayna yang diangguki Mama Aisyah.
“Baby Ars ikut Oma, yuk! Kita ke depan,” ajak Mama Aisyah. Zayna pun menyerahkan sang putra kepada mertuanya.
Wanita paruh baya itu pun membawa cucunya turun. Dia begitu senang dengan keberadaan Baby Ars. Tidak hentinya Mama Aisyah mengajaknya bicara. Padahal bayi itu tidak mengerti sama sekali. Sama seperti yang dilakukan Ayman.
***
"Sayang, kamu pakai baju ini, ya," ucap Hanif saat sang istri sedang belajar.
Kinan yang tadinya sibuk dengan buku pun mendongakkan kepalanya. Dia merasa heran, kenapa tiba-tiba sang suami menginginkannya memakai baju itu. Apa ada undangan pesta, tapi wanita itu tidak mendapatkannya.
"Ngapain pakai baju itu, Mas? Memangnya kita mau ke mana?"
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku malas sekali, Mas. Kamu saja sendiri yang datang," tolak Kinan.
"Mana boleh seperti itu. Kalau aku datang sendiri, nanti akan banyak wanita yang godain aku gimana?"
"Percaya diri sekali Anda," cibir Kinan.
"Bukan maksudnya sombong, Sayang, tapi memang begitu kenyataannya. Sudah, ayo, kamu ganti baju!"
"Seharusnya bilang dari tadi, Mas. Aku masih ada pelajaran yang belum mengerti."
"Nanti aku ajarin, itu, mah, gampang."
"Iya, deh, Pak Dosen," sahut Kinan dengan cemberut. Namun, tetap menuruti keinginan sang suami dengan mengganti bajunya, sedangkan Hanif sendiri juga bersiap. Dia laki-laki jadi, tidak perlu repot.
"Sayang, aku tunggu kamu di bawah, ya!" teriak Hanif pada sang istri yang masih berada di ruang ganti.
"Iya, Mas."
Hanif pun segera turun. Dia perlu menghubungi seseorang sebelum dirinya berangkat. Pria itu ingin memastikan semuanya siap.
"Kamu mau ke mana, Nif?" tanya Mama Aida yang melihat putranya duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"Mau makan malam di luar sebentar, Ma. Aku 'kan nggak pernah ajak Kinan makan di luar. Nggak pa-pa, kan, Ma?" tanya Ayman yang merasa tidak enak.
"Tentu tidak apa-apa. Mama nggak masalah, justru Mama senang kalau kalian semakin hari semakin mesra. Mama takutnya kalian bertengkar. Apalagi Kinan masih terlalu muda, emosinya masih labil. Kamu sebagai suami, harus sering-sering mengalah. Bimbing dia dengan cara yang baik. Kalau memang dia salah dan dia tetap kekeh kalau dirinya benar, iya 'kan saja dulu. Nanti pelan-pelan kamu nasehati dia, jangan langsung marah-marah."
__ADS_1
"Iya, Ma. Terima kasih nasehatnya. Aku akan selalu mengingat apa yang Mama katakan. Mama doakan saja agar kami selalu baik-baik saja," ucap Hanif.
"Tentu, Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," sahut Mama Aida, membuat keduanya tersenyum.
Terdengar suara langkah kaki seseorang menuruni tangga. Mama Aida dan Hanif pun menoleh secara bersamaan. Keduanya takjub dengan penampilan Kinan, yang menurut mereka sangat sempurna. Hanif bahkan tidak berkedip sama sekali. Kinan merasa sang suami dan mertuanya tidak suka dengan penampilannya.
"Apa aku terlihat aneh? Kenapa Mama dan Mas Hanif ngelihatin aku kayak gitu?" tanya Kinan sambil memperhatikan penampilannya, dari kiri dan kanan.
"Tidak, Sayang. Kamu cantik banget malam ini," sahut Hanif yang tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan sang istri.
"Menantu Mama memang paling the best," sahut Mama Aida.
Pipi Kinan bersemu merah. Dia merasa malu dengan pujian mertuanya. Tidak dipungkiri jika dia merasa senang karena usahanya tidak sia-sia.
"Sudah, Hanif, ajak berangkat sekarang. Malah dilihatin terus," tegur Mama Aida.
"Ah, iya, Ma," sahut Hanif yang kemudian mendekati sang istri. "Ayo, Sayang! Kita berangkat, nanti kemalaman." ajak Hanif dengan mengulurkan tangannya.
Keduanya pun berpamitan pada Mama Aida. Mereka segera meninggalkan rumah menuju tempat yang sudah disiapkan oleh Hanif. Sepanjang perjalanan pria itu terus saja mencuri pandang ke arah sang istri.
"Memang kita mau ke pesta apa, sih, Mas? Kenapa harus memakai gaun seperti ini?" tanya Kinan saat sedang dalam perjalanan.
"Nanti juga kamu tahu, Sayang," sahut Hanif dengan santai.
"Memangnya teman kamu ngundang nggak pakai kartu undangan?"
"Kenapa dari tadi kamu protes terus? Biasanya juga mau aja saat aku ajak ke pesta."
"Ya, kan, kamu nggak ada pemberitahuan sebelumnya jadi, aku nggak ada persiapan. Aku juga takut nanti malah bikin malu."
"Kamu itu cantik, mana mungkin buat aku malu. Kalaupun kamu jelek juga, aku nggak bakal malu karena buat seorang suami, istrinya adalah wanita yang paling cantik di dunia ini."
"Kamu sekarang pandai menggombal, ya, Mas."
"Siapa yang menggombal, Sayang. Aku itu mengatakan yang sejujurnya. Kamu memang cantik."
Kinan tidak menanggapi. Dia hanya tersenyum dengan menundukkan kepala, untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Hanif yang melihatnya pun tersenyum.
"Kalau kamu malu seperti ini, aku jadi semakin gemas sama kamu," ucap Hanif sambil mencubit pipi Kinan.
"Apa, sih, Mas. Sudah lihatin jalannya. Awas hati-hati," ucap Kinan mengalihkan perhatian.
Hanif hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang malu-malu. Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di tempat yang dituju. Kinan merasa aneh dengan suaminya. Bukankah pria itu mengajaknya ke pesta. Kenapa sekarang ke perusahaan.
"Kok ke perusahaan, Mas! Apa kamu ada pekerjaan?"
"Tidak, sudah kamu turun saja. Sebentar lagi kamu juga akan tahu."
"Kenapa harus pakai rahasia-rahasiaan segala," ucap Kinan dengan sedikit merajuk. Namun, Hanif tetap sabar menuntun sang istri memasuki gedung.
.
.
__ADS_1