Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
46. Air mata bahagia


__ADS_3

Di dapur Zayna menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka dengan apa yang wanita itu dengar. Dirinya merasa terharu karena Aisyah ternyata selama ini sangat peduli padanya. Mertuanya itu bahkan sampai memikirkan masa depan rumah tangganya bersama dengan Ayman. Hal yang sama sekali tidak pernah dipikirkan olehnya. Selama ini Zayna mengira Aisyah hanya membencinya saja, tanpa sebab yang jelas.


Dia jadi teringat almarhumah mamanya. Sengaja atau tidak, Zayna bisa melihat kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya dari Mama Aisyah. Selama ini Mama Savina memang memberikan kasih sayang pada adik-adiknya, tetapi Zayna tidak bisa merasakan ketulusan yang seperti mertuanya lakukan.


"Sayang, kamu kenapa menangis? Apa ada yang nyakitin kamu?" tanya Ayman yang baru saja memasuki dapur.


Dari tadi dia menunggu Zayna. Namun, istrinya tak kunjung datang. Pria itu khawatir terjadi sesuatu karenanya Ayman menyusul wanita itu. Benar saja, ternyata Zayna menangis tersedu-sedu di dapur. Pasti telah terjadi sesuatu sebelum dia datang.


"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Zayna dengan tersenyum.


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu menangis? Kamu jangan bohong sama aku. Apa karena mama atau Wina?"


"Tidak, Mas!"


"Kamu masih saja berbohong. Jangan membela orang yang salah. Biar aku yang bicara sama mereka." Ayman akan beranjak. Namun, segera dicegah oleh Zayna.


"Jangan, Mas."


"Kenapa melarangku? Mereka pasti sudah menyakiti kamu. Aku tidak bisa membiarkannya."


"Tidak, Mas. Ayo, kita ke kamar saja! Nanti aku cerita di sana. Jangan membuat gaduh di sini. Nanti semua orang akan keluar."


Zayna menarik tangan sang suami. Ayman pun menuruti keinginan istrinya. Dia juga penasaran Apa yang membuat wanita itu menangis seperti itu. Dilihat dari ekspresinya, Zayna seperti tidak sedang sedih, tetapi kenapa menangis?


Ayman dan sang istri menuju kamar. Keduanya duduk di tepi ranjang. Zayna berusaha menghapus air matanya dengan tisu yang berada di meja samping ranjang. Pria itu masih menunggu istrinya hingga tenang dan siap bercerita.


"Sekarang katakan, apa yang sudah terjadi sampai membuatmu menangis?"


"Aku menangis karena bahagia, Mas," ujar Zayna dengan tersenyum.

__ADS_1


"Menangis karena bahagia? Kenapa?"


Zayna pun menceritakan semua yang dia dengar saat mertuanya dan Wina berbicara di teras samping rumah. Wanita itu merasa bahagia karena selama ini ternyata Mama Aisyah peduli padanya. Mertuanya itu juga memikirkan masa depan rumah tangga mereka. Bahkan Ayman pun tidak menyangka hal itu.


Selama ini pria itu berpikir jika Mama Aisyah tidak menyukai istrinya. Dia tahu kalau mamanya orang baik dan itu terbukti sekarang, bahwa semua yang dilakukan wanita itu adalah untuk kebaikan mereka berdua. Ayman jadi teringat nasehat mamanya dulu, jika melakukan kebaikan, janganlah pamer, orang lain pun tidak perlu tahu apa yang sudah kamu lakukan.


Ayman kini ikut meneteskan air mata. Dia terharu dengan apa yang dilakukan mamanya. Semua hal yang tidak pernah terpikirkan oleh pria itu justru Aisyah yang memedulikannya.


"Aku tidak menyangka mama bisa berpikir sejauh itu," ujar Ayman. Zayna pun mengangguk menyetujuinya.


"Mungkin karena mama pernah melalui itu dan tidak ingin rumah tangga kita juga bermasalah di kemudian hari."


"Iya, aku juga memikirkan hal itu. Sudah, kamu tidak usah menangis. Kita seharusnya bahagia karena kita tahu kalau mama sudah merestui hubungan kita. Hanya saja kita perlu meyakinkannya lagi. Aku rasa itu tidak akan sulit."


"Iya, Mas. Aku juga akan berusaha. Mama saja mau berusaha untuk rumah tangga kita. Kita juga harus lebih berusaha lagi."


Ayman mengangguk dan memeluk istrinya. Meski air mata keduanya menetes, tetapi hati mereka benar-benar bahagia. Tidak menyangka, restu yang selama ini Ayman dan Zayna kejar ternyata sudah didapatkan dari dulu. Hanya belum terlihat saja.


"Sudah, ayo, kita tidur! Ini sudah larut. Besok juga aku ada meeting."


"Iya, Mas." Keduanya pun merebahkan tubuh masing-masing dan tidur saling berpelukan menuju ke alam mimpi. Mimpi indah yang akan mereka ciptakan.


*****


"Pa, apa tidak sebaiknya kita mencari asisten rumah tangga! Mama capek setiap hari masak, cuci baju, bersihin rumah," keluh Savina pada sang suami.


"Baru juga satu bulan, masa sudah ngeluh! Zayna yang dari dulu aja tidak pernah ngeluh," sindir Papa Rahmat sambil menikmati kopinya.


"Kenapa jadi samain Mama sama Zayna? Itu, kan, sudah menjadi tugasnya."

__ADS_1


"Tugas Zayna itu juga termasuk tugas kamu. Kenapa itu hanya menjadi tugas Zayna? Selama ini Papa diam karena ingin menjadikan anakku mandiri dan sekarang dia sudah berumah tangga. Sekarang giliran kamu mendidik Zivana agar bisa mandiri. Jangan jadikan dia seperti Zanita yang manja. Lihatlah, sekarang di rumah mertuanya disuruh masak saja harus mengadu pada orang tuanya. Papa tidak mau nanti Zivana juga seperti itu."


Zanita memang setiap hari selalu menghubungi Savina dan merengek padanya. Bahkan akhir-akhir ini putrinya itu minta dibelikan apartemen agar bisa pergi dari rumah mertuanya. Namun, Rahmat dengan tegas menolak. Dari mana pria itu uang sebanyak itu.


Berkali-kali juga Rahmat menasihati istrinya agar tidak selalu mendukung Zanita. Namun, kata-kata pria itu bagai angin lalu bagi Savina. Itulah kenapa dia tidak ingin Zivana seperti kakaknya, tetapi sepertinya terlambat membentuk karakter anak itu yang selalu sombong.


"Enggaklah, nanti aku bakalan cari suami buat Zivana yang lebih kaya. Yang orang tuanya tidak mengandalkan menantunya untuk memasak, seperti Bu Lusi itu. Masa menantunya disuruh masak. Suruh kerja ini itu."


"Itu memang kewajibannya, Ma. Apa salahnya?"


"Tapi mereka, kan, kaya. Mereka bisa menyewa sepuluh pembantu sekaligus. Kenapa harus suruh menantunya."


"Terserah Mama, lah, mau bicara apa. Apa pun yang Papa katakan selalu salah di mata Mama. Padahal apa yang dilakukan Bu Lusi juga untuk kebaikan anak kita." Rahmat segera berlalu meninggalkan istrinya yang masih saja mengoceh.


Berdebat dengan istrinya hanya akan membuat darah tingginya naik. Savina tidak akan pernah mau mengalah begitu saja. Apa pun yang dilakukan wanita itu, selalu saja berakhir masalah dan Rahmat yang harus menyelesaikannya.


"Ma, Zivana nggak mau belajar masak. Apalagi bersih-bersih lainnya. Nanti badan aku bau, kulit aku kasar. Aku nggak mau melakukan pekerjaan itu, aku sudah habiskan banyak uang untuk perawatan. Masa harus disuruh kerja. Pokoknya aku nggak mau. Mama harus bisa bujuk Papa buat cari pembantu. Lagian bukannya Kak Zayna bilang mau kirim uang tiap bulan. Itu saja buat bayar pembantu," ujar Zayna begitu papanya pergi.


Sedari tadi dia menguping pembicaraan orang tuanya. Gadis itu kesal karena sang papa yang ingin dirinya seperti Zayna, pekerja keras. Tentu saja Zivana menolak melakukan pekerjaan yang tiada habisnya itu. Sampai detik ini saja dia belum bekerja karena menginginkan kerja di kantoran.


"Kamu diam kenapa, sih! Ini juga mama lagi usaha. Mama juga capek tiap hari harus masak, bersih-bersih, cuci baju." Savina membuang napas berat. Dia benar-benar lelah dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.


"Ma, apa benar Kak Zanita di rumah mertuanya dijadikan pembantu?" tanya Zivana polos.


"Kamu itu jangan bicara sembarangan. Dia tetap menantu di rumah itu, hanya saja dia harus bekerja keras melakukan semua pekerjaan seorang istri yang sebenarnya. Mama juga kesel sama mamanya Fahri itu kenapa tidak mencari pembantu saja. Mereka, kan, banyak uang."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2