
“Zea, kenapa diam saja? Apa kamu mau menikah denganku?” tanya Adam yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Zea.
“Aku ... aku ....”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Papa Hanif dan Mama Kinan masuk dengan membawa beberapa makanan minuman. Adam dan Zea pun akhirnya terdiam. Keduanya tidak ingin membahas masalah mereka di depan orang tuanya terlebih dahulu.
“Seharusnya tadi Papa ajak Mama keluar jadi, Mama bisa pilih makanan yang pas. Bukan seperti ini semua makanan dibeli, buang-buang makanan,” gerutu Kinan.
Sejak tadi wanita itu terus mengoceh saat tahu sang suami membeli banyak makanan, tanpa memikirkan berapa banyak orang yang berada di ruangan ini. Hasilnya Hanif membeli makanan yang berlebihan. Padahal di sini hanya ada empat, Adam juga belum tahu boleh apa tidak makan makanan seperti itu.
“Iya, nanti Papa ajak Mama. Tadi itu Papa maunya sekalian saja, biar tidak bolak-balik,” sahut Hanif sambil meletakkan kotak makanan di meja.
“Zea, ayo makan dulu. Kamu dari tadi belum makan apa-apa," sahut Kinan sambil menata beberapa nakanan.
"Iya, Ma," sahut Zea yang kemudian mendekati mamanya yang duduk di sofa, meninggalkan Adam seorang diri di ranjang.
"Kakak nggak dikasih makan, Ma?" tanya Zea sambil melirik kakaknya.
"Kakak kamu pasti sebentar lagi dikasih sama pihak rumah sakit. Mama nggak berani kasih dia makanan macam-macam dari luar. Biarin saja dia kelaparan juga."
"Ih, Mama, anaknya sakit bukannya dikasih makan enak, malah disumpahin gitu," sahut Adam yang juga mendengar apa yang mamanya katakan.
"Sudahlah, lebih baik kamu tunggu saja. Sebentar lagi juga makanan untuk kamu datang. Mama nggak mau nanti malah memperburuk keadaan kamu."
Papa Hanif, Mama Kinan dan Zea menikmati makanannya, sementara Adam masih terbaring di ranjangnya. Pria itu berusaha memejamkan mata agar rasa sakit di seluruh tubuhnya hilang. Namun, dia sama sekali tidak bisa tidur. Setelah selesai, akhirnya Kinan kembali duduk di samping ranjang sang putra.
“Apa kakimu masih terasa sakit?” tanya Kinan.
“Nggak pa-pa, kok, Ma. Hanya sedikit ngilu saja,” jawab Adam sambil tersenyum.
“Tetap saja itu sakit. Kamu jangan menutupi rasa sakitmu, katakan saja agar Mama bisa tahu harus berbuat apa.”
__ADS_1
“Iya, Ma.”
Pintu ruangan diketuk seseorang dari luar, masuklah seorang perawat diikuti dua orang dengan menggunakan pakaian polisi. Semua orang yang ada di ruangan tahu, pasti ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang Adam alami. Apalagi ada beberapa kejanggalan pada pengemudi truk.
“Permisi, Tuan, Nyonya, kami ingin berbicara sebentar dengan saudara Adam. Tadi kami juga sudah konsultasi dengan dokter dan tidak masalah,” ucap seorang polisi.
“Silakan saja, apa perlu kami keluar?” tanya Hanif.
“Tidak perlu, Pak. Kami juga mungkin perlu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda dan keluarga."
Hanif pun mengangguk, dia sebenarnya juga ingin bertanya pada sang putra mengenai apa yang terjadi, tetapi sang istri selalu ada di samping anaknya. Pria itu tidak mungkin bertanya di depan istrinya. Kebetulan sekarang pihak kepolisian datang jadi, Hanif bisa mendengar sekalian, tanpa harus bertanya.
"Pak Adam, apa Anda tidak keberatan kalau kami bertanya sesuatu kepada Anda? Jika Anda keberatan tidak apa-apa. Kami tidak akan memaksa."
"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja, silakan saja Anda bertanya.”
"Boleh Anda ceritakan, apa saja yang Anda ingat saat sebelum terjadinya kecelakaan?"
Kinan yang mendengar pertanyaan sang putra pun jadi marah. "Kamu ini! Kamu yang seperti ini, kenapa malah menanyakan keadaan orang lain. Sopir itu salah, sudah nabrak kamu."
"Ma, barangkali pak sopirnya mengantuk dan tidak sengaja menabrak."
Kinan sebenarnya juga tidak yakin, tetapi melihat keadaan sang putra yang seperti ini tentu saja membuat dia marah. Apalagi baru kali ini Adam terlihat tidak berdaya, biasanya pria itu selalu tampil gagah dan berkharisma.
“Apa sebelumnya Pak Adam memiliki musuh atau orang yang tidak menyukai Anda?” tanya polisi itu lagi.
“Apa maksud Anda? Apa kecelakaan yang dialami putra saya ini memang disengaja?” tanya Kinan dengan nada terkejut.
“Kami belum bisa memutuskannya, Nyonya. Dari pemeriksaan sementara, memang seperti ada orang yang sengaja melakukannya, tapi itu masih kemungkinan. Kepastiannya kita tunggu penyelidikan selesai.”
Meskipun polisi belum memastikannya, Kinan sudah yakin jika memang ada yang sengaja mencelakai Adam. Dia tidak akan memaafkan orang yang sudah mencelakai sang putra dengan alasan apa pun. Apakah pelaku tidak berpikir bagaimana jika itu menimpa keluarganya.
__ADS_1
"Kalau dari pihak keluarga, apa memiliki musuh atau orang yang tidak suka?"
"Kalau untuk pastinya, jujur saya juga tidak tahu, Pak, tapi kalau orang yang tidak suka pasti ada. Saya seorang pengusaha, pasti ada beberapa orang yang iri terhadap apa yang sudah saya capai, tapi sejauh ini saya lihat tidak ada orang yang benar-benar nekat, sampai mencelakai keluarga saya. Apalagi seperti apa yang terjadi pada putra saya," jawab Hanif.
"Baik, Pak "
Petugas kepolisian pun menanyakan beberapa hal pada Adam mengenai tujuan pria itu datang ke sini. Saat dilihat dari KTP yang ditemukan di dompet pria itu, dia berasal dari luar kota. Adam pun menceritakan semua, tanpa menutupinya sedikit pun. Sebenarnya dia juga tidak terlalu memusingkan siapa pelaku yang membuatnya seperti sekarang ini. Yang penting adalah tubuhnya bisa sembuh seperti sedia kala.
Sesi tanya jawab akhirnya selesai juga. Dua orang dari kepolisian pun pamit undur diri. Adam pun bernapas lega, sedari tadi dia merasa tidak nyaman.
"Terima kasih atas kerjasamanya. Jika ada perkembangan tentang kasus ini, kami pasti akan segera menghubungi Anda."
Dua orang polisi itu pun pergi dari sana. Kinan masih memikirkan siapa kira-kira yang melakukannya. Dia hanya meyakini dua nama, tetapi mengingat keberadaan sang putra yang berada di luar kota, hanya satu orang tersangkanya. Siapa lagi kalau bukan Akmal, hanya saja dia tidak memiliki bukti apa pun.
“Mama sedang ngelamunin apa?” tanya Hanif yang melihat sang istri hanya terdiam.
“Mama hanya memikirkan kira-kira siapa pelakunya.”
“Jangan terlalu dipikirkan, sudah ada pihak kepolisian yang melakukannya," ucap Hanif yang diangguki Kinan.
“Pa, boleh aku minta tolong?” tanya Adam pada papanya.
"Katakan saja."
"Tolong cari tahu bagaimana keadaan sopir truk itu. Bagaimanapun dia juga korban."
“Kenapa kamu masih memikirkan hal itu? Kamu juga korban di sini. Tidak perlu meminta maaf atau merasa bersalah," sahut Kinan yang sebenarnya marah pada sopir itu
“Iya, Ma. Aku hanya ingin tahu.”
.
__ADS_1