
"Aku sengaja memberikan kejutan untuk kamu. Nggak apa-apa, kan? Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Adam sambil tersenyum ke arah sang kekasih. Pria itu juga senang bisa bertemu dengan Alin.
"Sudah, aku sudah selesai. Ini juga tadinya mau pulang," sahut Alin.
"Baiklah, ayo kita pergi! Kamu mau ke mana saja hari ini, aku akan memenuhinya." Adam menarik tangan sang kekasih dan membawanya ke tempat duduk di samping kemudi.
"Benar?" tanya Alin mencoba bertanya agar lebih meyakinkannya.
"Iya, kamu mau ke mana saja, aku akan ikuti. Asal jangan ke planet lain saja."
"Baiklah, ayo!"
Keduanya menaiki mobil dan meninggalkan kantor tempat Alin bekerja. Beberapa orang yang bekerja di sana juga memperhatikan mereka. Adam terlihat tampan, Alin juga cantik, sungguh pasangan yang serasi.
Alin menyebutkan tempat yang ingin dikunjungi bersama dengan sang kekasih. Gadis itu terlihat sangat bahagia bisa pergi berdua. Sangat jarang ada kesempatan seperti ini. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada ini.
Adam segera melajukan mobilnya ke tempat yang disebutkan sang kekasih. Sepanjang perjalanan Alin terus saja tersenyum. ini untuk pertama kalinya pria itu mau datang menemuinya. Padahal sebelumnya, setiap kali mereka ingin bertemu, ada saja alasan yang diberikan oleh Adam.
Entah itu mengenai pekerjaan atau karena adiknya. Alin tidak ingin merusak suasana dengan menanyakan tentang Zea. Semoga saja sampai dirinya puas berkeliling, tidak ada yang mengganggu.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di sebuah mall yang begitu besar. Alin memang mengajak Adam berbelanja. Sudah lama gadis itu tidak ke mall juga karena kesibukannya. Dia juga ingin menonton film romantis seperti teman-temannya.
Sepanjang malam Adam menghabiskan waktu bersama dengan Alin. Keduanya menikmati makan malam, menonton film dan berkeliling mall. Wanita itu terlihat begitu bahagia dengan kebersamaan yang jarang sekali terjadi ini. Dia berharap akan ada waktu seperti ini lagi.
Adam terlihat begitu lelah mengikuti setiap langkah Alina mengitari mall. Namun, dia tidak ingin merusak suasana hati kekasihnya. Nanti dirinya bisa beristirahat kapan saja, yang penting sekarang gadis itu bahagia. Sangat jarang sekali Adam membuat sang kekasih tersenyum. Pria itu hanya ingin bisa melakukan hal seperti pria di luaran sana, memanjakan wanitanya.
"Aduh! Lelah sekali," keluh Alina saat dirinya sudah selesai berbelanja.
__ADS_1
"Apa kamu mau makan malam lagi? Setelah keliling mall pasti lapar. Ayo makan lagi!" ajak Adam membuat Alin menatap pria itu.
"Nanti aku jadi gemuk bagaimana?"
"Nggak apa-apa, aku juga masih tetap cinta sama kamu."
Alin berpikir sejenak, dirinya memang sudah lapar, tetapi ini sudah hampir tengah malam. Gadis itu ragu untuk makan malam lagi. Dia mengusap perutnya yang datar dan memang sangat lapar.
"Kita cari makanan ringan saja, jangan nasi," ucap Alin pada akhirnya.
"Iya, terserah kamu saja maunya apa."
Sementara itu, di rumah Zea dibuat kesal oleh Aini yang terus saja menghubunginya. Sepupunya itu menanyakan keberadaan Adam. Dirinya saja tidak tahu di mana kakaknya karena tadi, pria itu tidak pamit padanya. Sejak tadi ponsel Adam juga tidak aktif.
Tadi gadis itu sempat bertanya pada kedua orang tuanya saat makan malam. Papa Hanif mengatakan jika Adam memang ada pekerjaan di luar kota. Padahal kemarin baru pulang, tapi hari ini pergi lagi.
"Ada pekerjaan apa lagi, sih! Kemarin baru pulang dari luar negeri. Setelah di sana sebulan, sekarang pergi lagi ke luar kota. Kenapa dia harus meninggalkan aku seperti itu? Nggak ada pamit," ucap Aini dengan kesal.
"Kamu itu nggak bisa ngerasain apa yang aku rasakan. Aku benar-benar khawatir dengan calon suamiku," sahut Aini dengan nada yang dibuat-buat.
Zea hanya bisa memutar bola matanya malas. Kalau tahu begini, dia pasti akan mematikan ponselnya saja sebelum tidur. Padahal besok gadis itu masih ada kelas pagi. Kalau sampai kesiangan, pasti Mama Kinan akan mengomel sepanjang hari.
"Sudah ya! Ini aku benar-benar sudah mengantuk. Nanti kalau Kak Adam sudah pulang, aku akan kabari kamu. Kamu tenang saja, nanti aku akan interogasi dia ke mana saja, kenapa nggak pulang-pulang. Oke, begitu saja, assalamualaikum." Zea segera menutup panggilan dan men-silent ponselnya.
Dia melakukannya agar nanti dirinya tidak mendengar panggilan dari sepupunya lagi.
Sementara itu, di seberang Aini merasa kesel pada Zea karena menutup panggilan begitu saja. Padahal dirinya masih ingin berbincang. Dirinya memang tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Adam, yang entah di mana keberadaannya.
__ADS_1
****
Adam mengantarkan Alin ke apartemen wanita itu saat hampir tengah malam. Sang kekasih juga dalam keadaan sudah tertidur. Pria itu pun terpaksa menggendongnya ke dalam gedung. Suasana sudah tampak sepi, semua orang pasti sudah tertidur.
Dia membawa Alin ke unit apartemen. Untung saja Adam tahu kata sandi pintu apartemen itu jadi, tidak perlu mencari kunci akses untuk masuk ke sana. Pria itu menidurkan sang kekasih di kamarnya. Setelah semua selesai, dia meninggalkan apartemen itu dan menuju rumah.
Tadinya Adam tidak ingin pulang karena takut mengganggu. Namun, pria itu juga tidak punya tujuan lain selain ke rumah. Mau ke tempat tinggal teman pun pasti akan lebih mengganggu. Lebih baik nanti dirinya menghubungi adiknya atau Mbak Erin saja.
Sepanjang perjalanan pulang, Adam memikirkan hubungannya dengan Alin. Sudah saatnya dia berumah tangga. Dirinya bukan lagi remaja, yang bisa mempermainkan sebuah hubungan. Nanti pria itu akan mencoba untuk bicara dengan kedua orang tuanya.
Kalau Papa Hanif dan Mama Kinan setuju, barulah dirinya akan menemui kedua orang tua Alin untuk melamar. Sebelumnya Adam memang sudah mengenal keluarga sang kekasih. Namun, mereka hanya berkomunikasi lewat sambungan telepon saja. Itu pun hanya beberapa kali saat sedang bersama gadis itu.
Keluarga Alin adalah orang yang baik. Mereka mempercayakan sang kekasih padanya karena semuanya tinggal di luar kota. Itulah kenapa dirinya belum mengenal mereka semua.
Terlalu banyak berpikir, tanpa sadar mobil yang dikendarai Adam sampai juga di depan rumah. Dia pun meminta pak satpam untuk membuka pintu gerbang. Pemuda itu sempat menanyakan pada pak satpam, apa memiliki kunci cadangan untuk pintu rumah, tetapi pria itu tidak memegang apa pun.
Adam mencoba menghubungi Zea. Namun, hingga beberapa kali gadis itu tak juga mengangkatnya. Pria itu pun mencoba menghubungi Mbak Erin. Untung saja wanita itu cepat tanggap jadi langsung diangkat dan segera pergi keluar untuk membuka pintu.
"Den Adam, kenapa pulang pagi sekali? Saya pikir tadi siapa yang telepon jam segini," tanya Mbak Erin dengan suara pelan.
"Maaf, Mbak Erin, aku sudah ganggu. Habisnya aku nggak tahu mau pulang ke mana. Mau ke rumah temen juga pasti akan lebih mengganggu," sahut Adam yang merasa tidak enak sudah mengganggu saat menjelang pagi.
"Iya, tidak apa-apa, Den. Saya cuma khawatir saja. Jam segini banyak begal, takutnya terjadi apa-apa. Lain kali sebaiknya menginap di hotel saja jika di jalan ada hotel."
"Iya, Mbak. Makasih nasehatnya, aku masuk dulu," pamit Adam yang diangguki oleh Erin. Wanita itu pun menutup pintu dan kembali ke kamar.
Erin sendiri sebenarnya sudah menikah, tetapi akhirnya bercerai karena sang suami lebih memilih wanita lain. Berapa kali juga ada pria yang ingin melamarnya. Namun, Arin menolak karena merasa trauma dengan laki-laki. Dia lebih memilih bekerja di rumah ini. Adik-adiknya juga sudah berkeluarga.
__ADS_1
.
.