
"Saya tidak punya sesuatu yang bisa meyakinkan Anda, tetapi saya hanya bisa berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Entah bagaimana nanti hasilnya, Anda bisa menilainya sendiri," jawab Nina. Gadis itu sendiri bingung harus memberi jawaban yang seperti apa. Hanya itu yang bisa dia katakan. Mudah-mudahan Zayna mau memberinya kesempatan.
Zayna mengangguk, sebenarnya Nina bisa menjadi orang yang lebih baik. Gadis itu hanya kurang mendapatkan kasih sayang. Maklum saja Nina dibesarkan oleh neneknya yang sedang sakit. Dulu neneknya juga harus bekerja.
"Neng, tolong beri kesempatan untuk Nina agar bisa berubah. Bibi yang akan mengawasinya, kalau nanti dia melakukan kesalahan lagi, Eneng bisa mengusirnya dari sini. Kalau perlu Bibi akan mengirim dia ke kampung halaman," sela Bik Ira yang tidak ingin berpisah dengan putrinya.
Nina seperti ini juga atas kesalahannya, yang terlalu memanjakan anak itu selama di sini. Itu semua Bik Ira lakukan hanya untuk menebus kesalahannya, tetapi ternyata caranya salah. Dia akan berusaha merubahnya mulai hari ini.
Kalau sudah seperti ini, Zayna tidak akan sampai hati jika tetap mengusirnya. Bagaimanapun setiap orang juga pasti berhak punya kesempatan kedua. Entah keputusannya benar atau tidak, setidaknya ini untuk menghargai Bik Ira yang sudah lama bekerja di rumah ini.
"Baiklah, saya akan beri kesempatan padamu. Jika nanti saya melihat kamu masih bersikap seperti tadi, saya tidak akan segan untuk bertindak tegas. Tidak akan ada lagi kesempatan untuk meminta maaf dan kesempatan yang lain."
"Terima kasih sekali lagi, saya akan berusaha agar bisa membuat Nina berubah," ucap Bik Ira yang merasa senang.
"Ya sudah, sekarang Bibi sebaiknya kembali ke pekerjaan bibi."
"Iya, Neng. Sekali lagi terima kasih," sahut Bik Ira yang kemudian menarik tangan Nina agar segera mengikutinya ke belakang.
Dia harus membersihkan taman samping rumah, sementara kini di ruang makan hanya tinggal Mama Aisyah dan Zayna. Keduanya duduk di meja makan. Tidak lupa juga wanita itu mengambilkan minuman untuk mertuanya.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Bagaimana kalau Nina kembali berulah?" tanya Mama Aisyah sambil menikmati minumannya.
"Aku juga tidak yakin, Ma. Aku hanya memberi kesempatan saja, itu juga demi Bik Ira yang sudah bekerja di rumah ini dari dulu. Selama ini Bik Ira juga selalu baik."
Mama Aisyah menganggukkan kepala. Tadi dia juga berpikir seperti itu. Mengusir Nina begitu saja tanpa memberi kesempatan akan menyakiti hati asistennya. Mudah-mudahan gadis itu bisa berubah lebih baik.
"Bagaimana keadaan Kinan, Ma?" tanya Zayna pada sang mertua. Sedari tadi dia sangat penasaran mengenai keadaan adik iparnya.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Bayinya juga sehat, tapi masih ada di ruang bayi, dalam pantauan dokter."
__ADS_1
Zayna menganggukkan kepala. Ingin sekali dirinya nanti juga sama seperti Kinan. Namun, itu tidak mungkin, mengingat apa yang sudah direncanakan oleh dokter dan sang suami. Apa pun itu, baginya tidaklah masalah. Yang penting dia dan anak-anaknya baik-baik saja.
Keinginan wanita itu masih sangat banyak. Dari membesarkan anak sampai dewasa nanti, sudah tersusun rencana ingin memiliki keluarga bahagia dan melihat senyum anak-anaknya.
"Baby Ars mana, Na? Mama nggak lihat dari tadi."
"Dia ada di kamar, Ma. Masih tidur," jawab Zayna, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah sang mertua.
Ayman memang sudah memasang CCTV, yang terhubung ke ponselnya dan sang istri agar setiap saat, mereka bisa memantau keadaan kamar saat baby Ars tertidur. Bisa juga dilihat saat pria itu merindukan istri dan anaknya. Bahkan tidak jarang Zayna menggoda sang suami agar cepat pulang karena sang putra sudah merindukannya.
"Ya sudahlah, Mama mau ke kamar dulu. Mau membersihkan tubuh," pamit Mama Aisyah yang segera pergi dari sana.
Kini hanya tinggal Zayna seorang diri. Dia pun memutuskan kembali ke kamar saja untuk melihat Baby Ars secara langsung. Tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan juga.
****
"Dede sangat cantik, ya, Oma," ucap Adam sambil memperhatikan adiknya dari balik kaca.
"Adam, senang nggak punya adik bayi?" tanya Oma Aida.
"Senang, dong, Oma. Adam jadi punya teman nanti di rumah. Kalau sudah besar juga bisa main sama-sama. Dede Zea juga sangat cantik, nanti kalau besar aku akan selalu melindunginya dari playboy- playboy di luar sana." Adam memperagakan gerakan superhero dengan bertolak pinggang dan dagu yang diangkat.
"Kamu sok-sokan bilang playboy, memangnya kamu tahu apa itu playboy? Jangan-jangan kamu juga termasuk dari mereka?" tanya Mama Aida dengan menahan tawanya.
Dia tidak habis pikir, bagaimana Adam bisa mengerti hal-hal seperti itu. Memang bukan sesuatu yang aneh, hanya saja saat anak tersebut bicara seperti itu, terdengar aneh di telinganya. Zaman sekarang memang banyak anak yang tumbuh melebihi usianya.
"Mengerti, dong, Omah. Teman-teman Adam juga sering bicara begitu. Ada juga yang sudah punya pacar tiga." Adam menunjukkan tiga jarinya ke depan omanya.
Mama Aida membuka mulutnya, dia tidak menyangka anak seusia mereka sudah mengerti pacar pacaran. Memang zaman sudah banyak berubah, tetapi bukankah itu terlalu cepat.
__ADS_1
"Adam, nggak punya pacar, kan? Jangan sampai ikut-ikutan seperti mereka."
"Tidak, Oma. Aku 'kan anak baik, aku nggak mau pacaran dulu, mau buat Papa dan Mama bangga sama Adam."
Oma Aida tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Baguslah seperti itu, jangan ikut-ikutan sama temen kamu, ya! Itu tidak baik. Kalaupun nanti Adam sudah besar, jangan pernah pacar-pacaran. Kalau Adam suka sama gadis, langsung dinikahi saja, seperti Papa Hanif.”
“Papa Hanif sama Mama Kinan dulu tidak pacaran, Oma?"
"Tidak, mereka langsung menikah. Pacaran itu dilarang dalam agama, akan banyak sekali kerugian daripada manfaatnya. Lebih baik langsung menikah, pacaran setelah halal lebih bagus. Bisa membuat kita mendapatkan pahala."
"Iya, Oma. Adam mengerti, nanti Adam juga nggak akan pacaran. Langsung menikah seperti papa dan mama."
"Bagus itu."
Oma Aida senang melihat perubahan Adam. Dulu banyak sekali yang tidak anak itu mengerti. Sekarang sudah menjadi anak yang hebat, bahkan terlihat sangat sopan saat berbicara dengan para orang tua. Kinan dan Hanif sudah berhasil mendidik putranya.
Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika perubahan Adam begitu signifikan. Bahkan mengenai sekolah juga sekarang banyak sekali kemajuan. Padahal dulu membaca saja tidak begitu lancar. Apalagi matematika yang harus memakai rumus.
"Sudah puas belum, lihat Dede bayinya? Kalau sudah, sebaiknya kita kembali ke ruangan mama. Oma Aisyah sudah pulang, pasti Mama tidak ada teman ngobrolnya. Papa kamu juga pasti asyik berbincang dengan opamu mengenai pekerjaan."
"Opa Hadi juga pulang, Oma?"
"Opa Hadi ada pekerjaan jadi, juga harus ke kantor. Makanya tadi antar Oma Aisyah dulu."
Sebenarnya Adam masih ingin melihat adiknya. Namun, apa yang dikatakan oleh Oma Aida memang benar. Kasihan Kinan, pasti tidak ada yang menemani. Anak itu pun mengangguk dan pergi bersama dengan omanya menuju kamar sang mama. Sebelum pergi, Adam menatap adiknya sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
"Nanti kita lihat Dede Zea lagi, ya, Oma?" tanya Adam di sela langkahnya.
"Iya."
__ADS_1
.
.