
“Kakak belum kenal dengan dia! Dia itu bukan wanita yang baik, dia sudah banyak gonta-ganti pasangan. Seharusnya Kakak cari tahu dulu siapa dia," ucap Aini yang semakin kesal dengan kakaknya.
"Kenapa kamu bisa berkata kasar seperti itu? Kamu juga wanita, tidak seharusnya berkata seperti itu!" bentak Arslan yang membuat Aini terkejut.
Baru kali ini Arslan membentaknya dan itu hanya demi membela gadis, yang tidak dikenalnya dengan baik. Bahkan Zayna dan Aina pun sama terkejutnya. Selama ini pria itu dikenal lembut pada keluarganya, tidak sekalipun berkata kasar.
"Arslan kamu yang sabar. Aini memang salah, tapi tidak seharusnya kamu membentaknya," tegur Zayna yang membuat Arslan sadar jika dirinya telah membentak sang adik.
Saat ingin mendekati adiknya, Aini segera pergi dari ruang tamu. Dia sangat kecewa dengan kakaknya, yang sudah berubah karena pengaruh dari gadis itu. Aina yang berada di sana juga menatap kakaknya dengan pandangan kecewa. Biasanya Arslan selalu bijak dalam menghadapi masalah. Dirinya saja terkadang mengadu dan meminta solusi saat ada masalah.
"Aku bukannya mau membela Aini, tapi Kakak akan menyesal saat tahu kebenaran yang ada. Dia memang bukanlah gadis yang baik. Kalau Kakak ingin marah padaku silahkan saja. Aku dan Aini hanya mengatakan yang sejujurnya. Seharusnya Kakak mencari tahu dulu siapa dia sebenarnya.”
Ainaya pergi ke lantai atas untuk menemui Aini. Dia ingin melihat bagaimana perasaan saudaranya itu. Dirinya tahu, pasti sekarang mood Aini sedang kacau. Tadi di kampus mendengar berita yang tidak mengenakkan.
Sekarang sampai rumah harus mendapat bentakan dari kakaknya. Aina mengetuk pintu kamar Aini dan segera membukanya. Terlihat kembarannya itu sedang memainkan ponsel, membuat dia bernapas lega. Ternyata saudaranya tidak melakukan apa-apa.
Tadinya gadis itu pikir jika Aini merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Arslan. Namun, sepertinya Aina salah. Dia lupa jika saudaranya bermental baja, tidak akan semudah itu tersinggung. Apalagi oleh saudaranya sendiri yang sudah saling mengenal sejak lahir.
“Aku kira kamu lagi nangis di sini. Aku terlalu berlebihan mengkhawatirkanmu," ucap Aina yang sambil duduk di samping saudaranya itu.
“Kamu kira aku selemah itu apa! Aku juga tahu kalau Kak Arslan hanya sedang marah. Dia juga tidak tahu siapa si Imel itu. Nanti kalau kedok cewek itu sudah terbongkar juga pasti kembali lagi. Pasti Imel naksir sama kakak karena tahu siapa Kak Arslan sebenarnya. Lagian mereka kenal di mana, sih?" tanya Aini dengan kesal.
“Kamu kayak nggak tahu Imel saja. Dia kenalannya banyak, pasti ada salah satu dari kenalannya itu, teman Kak Arslan. Kalau tidak pasti mereka bertemu di salah satu tempat umum. Biasa seperti itu, kan? Kak Arslan juga tidak pernah menutupi dirinya yang sebenarnya.”
"Kenapa aku merasa kamu akhir-akhir ini menjadi sangat pintar,” ucap Aini sekaligus mencibir saudaranya.
Ainaya menengus mendengar cibiran dari saudaranya. Terserah apa yang dikatakan oleh Aini, dirinya dari dulu juga pintar, hanya saja tidak pandai bergaul. Dia pun memilih pergi dari kamar saudaranya menuju kamarnya sendiri. Aini juga dalam keadaan baik-baik saja jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
__ADS_1
Begitu memasuki kamar, Aina menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dia takut jika saudaranya akan masuk begitu saja. Biasanya memang ini selalu seperti itu. Akhir-akhir ini gadis itu memang lebih suka menyendiri.
Sementara itu, di lantai bawah Arslan merasa bersalah karena sudah membentak adiknya. Dia tidak bermaksud seperti itu pada Aina. Pria itu hanya sedang emosi saja. Arslan juga tidak suka melihat adiknya yang menjelekkan orang lain. Padahal gadis yang bersamanya sama sekali tidak mengatakan apa pun.
“Ma, Aku sama sekali tidak bermaksud untuk marah pada Aini. Aku hanya tidak suka mendengar dia berkata kasar seperti itu. Aku minta maaf," ucap Arslan dengan rasa bersalahnya.
Zayna juga bisa melihat itu. Selama ini Arslan juga tidak pernah marah, apalagi pada adik-adiknya. Pria itu selalu sabar meski terkadang Aini selalu saja mengusik ketenangan kakaknya. Dia memang lebih dekat dengan Aina, tetapi Arslan tetap menyayangi keduanya.
"Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Nanti juga baik-baik saja, kamu seperti nggak kenal saja bagaimana sifat adikmu itu. Nanti kita bujuk sama-sama," sahut Zayna yang mencoba menenangkan sang putra.
Arslan mengangguk, kemudian menatap sang kekasih. Keadaan sudah tidak mengenakkan, lebih baik dia mengantar kekasihnya pulang. Lagi pula sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tadi gadis itu sudah cukup banyak berbincang dengan mamanya.
"Imel, ayo aku antar kamu pulang! Maaf ya dengan sikap adikku. Sebenarnya mereka itu orang baik, hanya saja mungkin sekarang sedang dalam mood yang buruk," ucap Arslan yang merasa tidak enak pada kekasihnya.
"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti," sahut Imel dengan tersenyum.
Zayna mengangguk sebagai jawaban. Imel berpamitan pada calon mertuanya. Dia segera meninggalkan rumah bersama dengan Arslan. Selama perkenalan tadi, Zayna tidak menemukan kejanggalan dengan sikap Imel.
Akan tetapi, apa yang dikatakan kedua putrinya juga tidak bisa dilupakan begitu saja. Dia sangat tahu kalau putrinya tidak akan menjelekkan orang lain jika tidak melakukan kesalahan. Nanti wanita itu akan bicara dengan Ayman, pasti suaminya memiliki solusi untuk masalah ini. Pria itu juga lebih berpengalaman dalam hal ini.
Selama dalam perjalanan mengantarkan Imel, Arslan sama sekali tidak berbicara. Dia masih kepikiran dengan kedua adiknya. Imel yang menyadari hal itu pun, segera mencoba untuk mengajak sang kekasih berbicara. Gadis itu tidak ingin Arslan menjauhinya.
"Maaf, ya, Arslan. Gara-gara aku, kamu dan adik kamu bertengkar, tapi sungguh aku tidak ingin membuat masalah dengan mereka. Aku juga tidak tahu kalau mereka adik-adik kamu," ucap Imel yang memang tidak sepenuhnya berbohong.
Dia baru tahu saat tadi memasuki rumah Arslan. Gadis itu terkejut melihat foto si kembar di sana. Apalagi dirinya sempat bermasalah dengan Aini. Tentu saja Imel merasa takut jika keluarga pria itu tidak bisa menerimanya.
Sangat sulit mendapatkan Arslan. Dia tidak ingin melepasnya begitu saja. Apalagi mengingat siapa kekasihnya itu, semakin membuat gadis itu tidak ingin kehilangannya.
__ADS_1
“Iya, tidak apa-apa, Aini memang suka usil, tapi dia sebenarnya baik. Aina juga hanya ingin membela saudaranya saja. Aku harap memakluminya.”
Imel mengangguk dan tersenyum. Entah bagaimana nanti jika dirinya benar-benar akan menikah dengan Arslan. Pasti nanti dia akan setiap hari bertemu dengan si kembar. Gadis itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Akan tetapi, Imel tidak mungkin melepaskan sang kekasih begitu saja, setelah perjuangannya selama ini.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Arslan berhenti di sebuah rumah. Imel pun turun, pria itu tidak ikut turun. Kedua orang tua Imel juga tidak ada di rumah, jadi untuk apa turun. Arslan masih harus bertemu dengan adik-adiknya. Dia tidak akan tenang sebelum meminta maaf. Imel pun tidak memaksa sang kekasih. Dia mencoba mengerti apa yang pria itu pikirkan.
Arslan melajukan kembali mobilnya, untuk kembali pulang ke rumah. Dia tidak suka membiarkan masalah berlarut-larut. Baginya itu hanya akan semakin mempersulit keadaan dan semakin memperpanjang masalah jadi, lebih baik diselesaikan secara langsung.
****
Adam menunggu Alin di depan perusahaan tempat sang kekasih bekerja. Tadi dirinya sudah membuat janji dengan wanita itu untuk makan siang bersama. Pria itu ingin berbicara dengan kekasihnya, mengenai kedua orang tuanya yang ingin bertemu. Dia juga perlu persetujuan dari Alin.
"Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap Alin begitu mendekati sang kekasih.
"Tidak, aku juga baru saja datang," jawab Adam.
Dia pun meminta Alin untuk segera masuk ke dalam mobil. Pria itu segera melajukan mobilnya, Adam juga sudah memesan sebuah ruang privasi di salah satu restoran, di dekat perusahaan tempat kekasihnya bekerja.
"Kenapa tidak mengajakku ke restoran kamu?" tanya Alin saat mereka sampai di depan sebuah restoran.
"Tempatnya jauh dari sini. Kamu juga lagi kerja. Nanti takutnya terlambat jadi, lebih baik di sini saja. Aku juga sudah memesan tempat dan beberapa makanan juga agar kamu tidak perlu menunggu lama."
Alin mengangguk sambil tersenyum. Adam memang selalu perhatian padanya. Walaupun terkadang memang waktunya selalu tersita untuk keluarga, terutama adiknya. Namun, kasih sayangnya, tetap bisa gadis itu rasakan.
Keduanya memasuki restoran dan menuju tempat yang disewa oleh Adam. Ternyata pria itu memesan ruang privat agar mereka bisa leluasa berbincang, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Alin jadi penasaran, kira-kira apa yang ingin dibicarakan sang kekasih.
.
__ADS_1
.