Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
66. Membuka rahasia


__ADS_3

"Ma, aku yakin pasti ada rahasia besar yang Mama sembunyikan. Rahasia apa, Ma?" tanya Zanita yang sungguh penasaran.


Mama Savina menatap putrinya dengan saksama. Mungkin ini sudah saatnya Zanita tahu segalanya. Dia tidak mungkin menyimpan rahasia ini selamanya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. Dia akan bicara pelan agar tidak menyakiti hati putrinya.


"Zanita, Mama punya Rahasia mengenai masa lalu. Mungkin ini akan sangat menyakitimu, tapi mama tidak mungkin menyimpan ini selama-lamanya jadi, Mama memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. Kamu juga berhak tahu tentang hal ini."


Zanita menatap mamanya dengan mengerutkan alis. Dia merasakan jantungnya berdetak tak beraturan. Wanita itu memejamkan mata sejenak, berusaha bisa menerima apa yang Mama Savina katakan. "Rahasia apa, Ma? Sepertinya sangat penting sekali."


"Sebenarnya ... kamu bukanlah anak kandung papa."


Tentu saja kalimat itu membuat Zanita terkejut hingga melebarkan matanya. Napasnya seolah tercekat ditenggorokan. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan mamanya.


"Mak–maksud Mama apa? A–aku sama sekali nggak ngerti."


Zanita menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya dia cukup mengerti kata-kata mamanya, tetapi wanita itu mencoba menolak apa yang didengar. Wanita itu berharap semua hanya halusinasinya saja. Namun, kenyataannya ini memang nyata dan dia tidak bisa lari.


"Kamu bukanlah anak kandung papa. Sebelumnya Mama yakin jika kamu anak papa, tapi setelah tes DNA itu, kenyataannya memang kamu bukanlah anak Papa."


Setetes air mata meluncur di pipi Mama Savina. Dari tadi wanita itu berusaha tegar. Namun, tidak bisa. Apalagi melihat perasaan putrinya yang tengah terluka. Akan tetapi, Savina tetap harus menjelaskan semuanya. Wanita itu tidak mau Zanita semakin tersesat.


"Itu tidak mungkin. Mama jangan bercanda." Zanita terkekeh miris. "Papa juga selama ini sayang sama aku. Mungkin Zayna yang bukan anak papa, bukan aku."


"Maafkan Mama yang tidak pernah jujur sama kamu, tapi itulah kenyataannya."

__ADS_1


"Enggak! Mama pasti bohong. Sebaiknya Mama pulang dulu untuk menjernihkan pikiran. Setelah itu, baru Mama datang dan bilang kalau apa yang Mama katakan itu bohong. Aku ... aku mau ke dalam dulu." Zanita segera berlalu dari sana.


Kenyataan yang dia dengar benar-benar menyakiti hatinya. Selama ini Papa Rahmat begitu menyayanginya. Tidak mungkin Jika dia bukanlah anak kandung pria itu. Kalau memang benar apa yang mamanya katakan, lalu siapa ayahnya? Apa mantan pacar Mama Savina atau pria lain di luar sana? Zanita merasa dirinya kotor karena terlahir sebagai anak haram.


Di dalam tahanan Zanita tidak melakukan apa pun. Dia benar-benar tidak bisa berpikir. Meski mulutnya mengatakan jika dia anak kandung Papa Rahmat, tetapi tidak dipungkiri jika hatinya bertanya-tanya, siapa ayah kandungnya. Air mata menetes saat mengingat kebersamaannya dengan Papa Rahmat.


Dulu setiap kali dia merengek meminta apa pun pada pria itu. Selalu saja dituruti, tidak lupa juga Papa Rahmat membelikan untuk Zayna dan Zivana, tetapi Zanita selalu mengambil milik Zayna dari sang papa. Wanita itu mengatakan akan memberikan pada kakaknya. Papa Rahmat pun percaya jadi, setiap kali pria itu ingin memberikan apa pun pada putri sulungnya pasti melewati Zanita. Namun, kenyataannya barang itu tidak pernah sampai pada Zayna.


Zanita juga sudah berkali-kali memfitnah Zayna agar papanya tidak lagi peduli pada kakaknya itu. Namun, kini dia mengerti, ternyata inilah alasan kenapa Papa Rahmat selalu peduli pada Zayna meski wanita itu sudah menjelekkan kakaknya. Zanita menggeleng, tidak ingin kehilangan kasih sayang papanya. Dia sudah kehilangan suami dan mertua, apa mungkin Papa Rahmat juga akan meninggalkannya juga?


"Kenapa kamu menangis?" tanya Ria, salah seorang temannya yang berada di sana. Zanita menggeleng sebagai jawaban.


"Kita berada di sini karena sedang menjalani hukuman atas dosa yang sudah kita lakukan. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berada di sini, tapi yakinlah, bahwa ini yang terbaik untukmu. Ini adalah pelajaran hidup yang harus kita jalani. Jika kita bisa melewati semuanya dengan baik, aku yakin kita akan menjadi manusia yang hebat."


"Jika kamu malu untuk meminta maaf pada orang-orang yang sudah kamu sakiti, minta maaflah terlebih dahulu pada Tuhan. Perbanyaklah bersujud dan berdoa. Aku yakin saat kamu menyerahkan sepenuhnya hidup mu pada Sang pencipta, perjalananmu akan lebih mudah."


"Apa mungkin Tuhan masih menerima sujudku? Sudah lama aku tidak melakukannya. Aku bahkan lupa bacaan sholat."


"Kita belajar sama-sama. Aku juga sedang belajar untuk menjadi wanita yang lebih baik. Kamu mau?"


Zanita mengangguk dengan air mata yang mana sih menetes. Dia senang masih ada yang peduli padanya. Meski mereka tidak saling kenal, tapi itu lebih baik baginya. Zanita akan memulai hidupnya saat ini dan memulai cerita yang baru.


Mengenai siapa ayah kandungnya untuk saat ini dia tidak ingin tahu. Suatu hari nanti jika dia sudah benar-benar siap, dia akan bertanya sendiri pada mamanya. Sekarang biarlah hanya Papa Rahman yang dianggap papa. Tidak ada orang lain.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam mobil, Mama Savina terus saja menangis. Dia lega bisa mengatakan semuanya pada Zanita, tapi hatinya juga terluka melihat wajah sedih putrinya. Zayna hanya diam duduk di depan, samping Ilham.


Papa Rahmat berusaha menenangkan sang istri. Pria itu memeluk Mama Savina dan menyandarkan kepala wanita itu di pundaknya. Dia merasa aneh, melihat sang istri keluar dalam keadaan menangis.


"Mama kenapa? Mama bertengkar dengan Zanita?" tanya Papa Rahmat setelah Mama Savina mulai tenang.


"Tadi, Mama sudah menceritakan semuanya pada Zanita, mengenai rahasia yang sudah kita tutupi dari dulu," ujar Mama Savina membuat Papa Rahmat terkejut.


Bukankah wanita itu yang melarang dia mengatakan tentang rahasia itu? Kenapa sekarang Mama Savina yang mengatakannya sendiri? Apa ada sesuatu yang sudah pria itu lewatkan atau ada kejadian lainnya?


"Bukannya Mama melarang Papa untuk mengatakan sejujurnya? Kenapa sekarang mama malah mengatakannya sendiri?"


"Mama tidak mungkin merahasiakannya seumur hidup. Zanita juga berhak tahu asal-usulnya. Walaupun pada akhirnya sekarang dia marah pada Mama, tapi Mama yakin, selama di dalam sana Zanita pasti banyak pelajaran dan bisa menerima segala apa yang terjadi dalam kehidupannya."


Papa Rahmat menganggukkan kepalanya. Mungkin nanti dia akan mencoba bicara lagi dengan Zanita. Meskipun wanita itu bukanlah putri kandungnya, tetapi Papa Rahmat tetap menganggap Zanita sebagai Putri kandungnya sendiri.


Sedangkan Zayna yang berada di depan hanya terdiam. Dia tidak tahu rahasia apa yang sedang ditutupi kedua orang tuanya. Wanita itu yakin pasti itu hal yang sangat besar. Apalagi sampai membuat Zanita marah dan membuat Mama Savina menangis seperti itu. Ingin sekali Zayna bertanya, tapi dia takut jika itu akan semakin menyakiti hati Mama Savina.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2