Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
111. Pembelaan


__ADS_3

“Wah wah wah, ternyata kamu masih berani juga pergi ke kampus. Aku kira kamu akan bersembunyi di rumah saja,” ucap Nayla saat Kinan memasuki kelas.


“Apa yang membuatku harus bersembunyi di rumah? Orang-orang yang melakukan kejahatan saja tidak punya malu, kenapa aku harus malu? Sedangkan aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” sahut Kinan. Dia tidak merasa membuat kesalahan jadi buat apa malu.


“Rupanya kamu masih tidak sadar diri juga. Kamu itu sudah mencoreng nama baik Pak Hanif. Selama ini beliau dikenal dosen yang tak tersentuh, tapi karena ulahmu semua hancur begitu saja. Banyak mahasiswa yang tidak lagi menghargainya.”


“Oh ya? Kenapa aku jadi merasa aneh. Setahuku dari tadi tidak ada yang membicarakan beliau. Pak Hanif juga terlihat baik-baik saja, dari kemarin saat datang ke kampus. Mungkin kamu yang harusnya lebih membuka diri. Jangan terpaku dalam duniamu yang akan semakin membuat pola pikirmu sempit,” ujar Kinan yang segera berlalu mencari tempat duduk.


Dia enggan meladeni orang seperti Nayla. Biarkan saja toh nanti juga dia akan berhenti sendiri saat sudah lelah, tetapi entah kapan itu akan terjadi. Nayla akan berbicara lagi. Namun, teman lainnya berseru jika Hanif akan memasuki ruangan.


“Selamat siang,” sapa Hanif saat memasuki ruangan.


“Siang, Pak. Apa ada sesuatu?” tanya Hanif saat melihat ada beberapa mahasiswa yang saling berbisik.


“Tidak ada, Pak.”


“Saya sudah pernah mengatakan jika saya paling tidak suka ada yang berisik dalam kelas saya. Jika kalian tidak suka, sebaiknya kalian keluar dari kelas saya, kalian mengerti!” ucap Hanif dengan nada tegas. Dia melihat ke segala arah untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja.


“Mengerti, Pak.”


“Baiklah, kita lanjutkan pelajaran hari ini.”


Hanif menjelaskan semuanya dengan perinci. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Kinan. Gadis itu pun menyadari hal itu mungkin Hanif tidak ingin membuat masalah semakin melebar. Kinan juga fokus dengan bukunya. Dia tidak ingin masalah yang saat ini dihadapi mengganggu belajarnya.

__ADS_1


“Sudah cukup sampai di sini. Kalian pelajari lagi di rumah, Minggu depan saya akan adakan kuis.”


“Iya, Pak.”


“Pak, boleh saya bertanya sesuatu mungkin ini agak pribadi,” ucap seorang mahasiswa dengan mengangkat tangannya.


“Kalau pertanyaanmu berkualitas, saya akan menjawabnya. Jika tidak, tidak ada keharusan untuk saya menjawabnya, bukan? Jadi apa pertanyaanmu?”


Hanif menatapnya tajam. Mahasiswa tadi menelan ludahnya kasar. Dia tidak menyangka jika bisa segugup ini, tetapi dia harus tetap bertanya.


“Semua orang di kampus tahu jika Anda memiliki hubungan spesial dengan Kinan, apa Anda tetap memperlakukannya seperti mahasiswa lainnya? Maksud saya, apa Anda tidak akan mengubah nilai pada kekasih Anda?” tanya mahasiswa itu.


Nayla tersenyum puas saat melihat ada yang bertanya seperti itu. Dia sangat tahu Kinan pasti tidak suka jika ada yang memfitnahnya seperti itu. Namun, bukan Hanif jika tidak bisa membela calon tunangannya.


“Saya juga ingin bertanya padamu. Atas dasar apa kamu bertanya seperti itu? Bukankah semua anak di kelas ini tahu bagaimana nilai Kinan sebelumnya? Apa perlu saya menperlihatkan hasil kuis selama ini. Bahkan dari dosen lainnya? Saya mau tanya, adakah di kelas ini yang menurutmu lebih pintar dari Kinan?” tanya Hanif, membuat semua orang terdiam.


Nyatanya Kinan memang memiliki nilai tinggi. Mungkin ada yang setara dengan Kinan, tetapi mereka tidak berani mengangkat tangannya karena kadang mereka juga jika tidak tahu akan bertanya pada Kinan. Gadis itu dengan rendah hatinya mau berbagi ilmu dengan mereka. Bahkan beberapa dosen menginginkan dia menjadi asisten. Sayangnya Kinan selalu menolak dengan alasan ingin fokus pada kuliah saja.


“Nilai kalian saja tidak lebih baik daripada dia. Bagaimana mungkin saya bisa memberi nilai dia bagus, sedangkan nilai-nilai dia sudah bagus tanpa saya bantu. Itu juga yang membuat saya menyukainya. Saya tidak suka mahasiswa yang mengaku dirinya pintar, nyatanya nol besar. Buktikan dulu kualitas kalian, baru berbicara."


Semua orang masih terdiam. Tidak ada yang berani menyela apa yang dikatakan Hanif.


"Sepertinya hanya sampai di sini saja pertemuan kita. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Assalamualaikum.”

__ADS_1


Hanif pergi meninggalkan kelas. Kinan merasa lega karena pria itu sudah membelanya, tanpa harus melebih-lebihkan. Buktinya semua mahasiswa terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh calon tunangannya itu. Mulai hari ini, sepertinya dia harus lebih giat belajar lagi agar tidak membuat Hanif malu.


Kinan membereskan buku-bukunya. Dia akan pergi ke kantin untuk makan siang terlebih dahulu. Namun, sepertinya orang-orang yang tidak menyukainya masih saja suka mencari masalah. Gadis itu menghela napas, ujiannya masih panjang ternyata.


“Enak, ya, kamu sekarang. Sudah ada yang belain!” seru Nayla. Namun, Kinan tidak peduli padanya. Masih ada yang lebih penting yang harus dia urus sekarang, yaitu mengisi perutnya. Kinan melangkahkan kakinya, tetapi kembali dipotong oleh Nayla.


“Mau pergi ke mana kamu?” cegah Nayla. Padahal gadis itu sudah mau pergi. “Apa kamu tidak malu menjadi bahan pembicaraan orang satu kampus? Sekarang kamu malah menarik Pak Hanif buat membelamu.”


“Lain kali kalau kamu nggak punya kaca bilang, nanti bakal aku beliin yang lebih besar," sahut Kinan.


"Apa maksudmu?" tanya Nayla dengan emosi.


"Siapa juga yang mau jadi bahan pembicaraan orang. Bukannya kamu yang suka seperti itu? Pada saat kamu merebut Niko dariku, apa kamu tidak sadar jika sudah menjadi bahan pembicaraan satu kampus karena sudah menikung teman sendiri, tapi sepertinya kamu tidak sadar akan hal itu karena kamu nggak punya malu, jadi kamu tidak pernah mendengarkan kata-kata orang lain. Aku juga mau ngucapin terima kasih karena sudah merebut Niko dariku. Aku sangat bahagia setelah lepas darinya. Sekarang aku bisa memiliki pria yang jauh lebih baik darinya. Sepertinya tidak ada yang penting untuk dibahas. Saya permisi dulu.”


Kinan meninggalkan Nayla, dia memilih untuk pergi ke kantin saja. Beberapa mahasiswa saling berbisik, mereka membenarkan apa yang dikatakan Kinan. Semua orang sangat tahu akan hal itu karena saat Niko memutuskannya, pria itu melakukannya di depan umum. Saat itu juga mengumumkan hubungannya dengan Nayla.


"Apa kalian lihat-lihat?" sembur Nayla pada teman-temannya.


Nayla pun pergi dari sana. Dia berusaha untuk terlihat biasa saja, nyatanya gadis itu sedikit terpengaruh dengan apa yang dikatakan Kinan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2