
"Nanti akan aku bicarakan dengan suamiku, tapi kamu jangan khawatir. Dia pasti akan setuju dengan apa yang kamu inginkan, selama pekerjaanmu juga bagus,” ucap Kinan pada Erin.
Perawat itu lega dengan jawaban yang diberikan oleh Kinan. Meskipun belum pasti, setidaknya dia punya harapan. Semoga saja dia bisa bertahan lebih lama. Jujur dia kurang suka bekerja di rumah sakit, selain harus bersaing dengan teman-temannya, gadis itu juga selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari senior. Mengingat Erin bukan dari kalangan berada.
"Sudah tidak ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanya Kinan yang mendapat gelengan dari Erin. "Saya pergi dulu, semoga kamu nyaman tinggal di sini. Kamu bisa mulai bekerja besok saja. Sekarang kamu bereskan barang kamu dan istirahat saja," lanjutnya yang kemudian pergi dari sana bersama dengan Adam.
Saat sampai di ruang keluarga, ternyata sudah ada Mama Aida di sana. Wanita itu sepertinya baru saja bangun, terlihat dari matanya yang masih enggan terbuka. Kinan dan Adam mendekati wanita paruh baya itu.
"Kamu tadi dari mana? Mama cariin di mana-mana," ucap Mama Aida pada menantunya.
"Baru saja aku nganterin perawat yang dikirim Mas Hanif, Ma. Makanya dari belakang, tadi aku antarin ke kamar yang ada di samping kamar Bik Ira."
"Perawat buat kamu? Bukannya kamu sudah menolaknya? Kenapa masih dikirim?" tanya Mama Aida yang juga tidak mengetahui rencana Hanif.
Wanita itu sebelumnya memang mengetahui rencana Hanif untuk mencari perawat. Namun, Kinan sudah menolak. Setelah itu, dia tidak mengetahui rencana putranya lagi karena dirinya juga sakit. Mama kemarin juga fokus pada kesehatannya jadi, wanita itu tidak tahu apa-apa.
"Mama juga nggak tahu rencana Mas Hanif? Aku kira semua orang sudah pada tahu mengenai perawat itu."
"Mama nggak tahu apa-apa. Justru Mama kaget saat kamu bilang ada perawat yang datang, tapi itu memang keputusan yang benar. Adanya perawat di rumah ini, kamu bisa lebih dijaga dengan baik, mereka juga pasti terlatih merawat pasien seperti kamu. Kalau Mama tidak begitu paham mengenai kebutuhan kamu. Apa saja larangan dan apa saja yang diperbolehkan. Kamu juga orangnya bandel, sudah dilarang ini itu masih tetap saja dilakukan jadi, lebih baik seperti ini. Mama sangat setuju sama Hanif."
Kinan membuang napas pendek. Memang benar apa yang dikatakan mertuanya. Hanya saja dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang lain disekitarnya. Wanita itu meyakinkan dirinya jika dirinya akan terbiasa setelah beberapa hari.
"Aku juga sebenarnya berpikir seperti itu, Ma. Mas Hanif juga pasti memikirkan yang terbaik untuk kami. Meskipun di rumah ada banyak orang, tetapi peranan perawat pasti berbeda. mereka sudah lebih paham soal keadaanku, perawat juga berkonsultasi dengan dokter. Kata Mas Hanif perawatnya juga atas rekomendasi dokter yang menangani kesehatanku."
"Malah makin bagus seperti itu jadi, Hanif nggak asal cari perawat begitu saja. Dia mencari yang benar-benar berkualitas. Tidak peduli berapa gaji mereka, yang penting kamu sehat bayi kamu juga sehat," ucap Mama Aida sambil tersenyum.
"Amin, semoga secepatnya, Ma."
"Iya, kamu juga harus nurut apa yang dikatakan perawat dan dokter. Insya Allah semua akan baik-baik saja.”
“Iya, Ma.”
__ADS_1
"Sekarang sebaiknya kamu kembali ke kamar dan beristirahat di sana. Ingat! Kamu juga masih harus istirahat total."
"Iya, Ma," jawab Kinan yang kemudian berlalu dari sana bersama dengan Adam.
Anak itu selalu saja mengikuti wanita itu ke mana pun. Begitu sampai di kamar, Adam membantu mamanya untuk naik ke atas ranjang dan berbaring. Dia pun ikut duduk di samping mamanya dengan bersandar di kepala ranjang. Tidak lupa juga anak itu menaikkan selimut Kinan.
"Kamu jangan terlalu menurut dengan apa yang papa kamu katakan. Sebaiknya kamu main di luar saja, Mama juga nggak akan kemana-mana, kok! Mama janji akan tidur saja di sini. Nggak akan bergerak sedikitpun," ucap Kinan yang merasa kasihan pada putranya.
Sedari pagi Adam selalu di kamar ini. Anak itu tidak bisa bebas melakukan apa yang diinginkan. Biasanya dia akan latihan naik sepeda kecil meski sudah bisa. Namun, belum terlalu lancar. Bahkan beberapa kali Adam terjatuh saat latihan.
"Aku tadi sudah main waktu Mama tidur jadi, sekarang sudah capek, mau istirahat saja," jawab Adam yang memang sudah bosan bermain sendirian.
"Ya sudah, sini kamu tiduran juga! Mama mau bicara sama kamu."
Adam pun merebahkan tubuhnya di samping sang mama. Kinan menarik putranya agar semakin dekat dengannya. Wanita itu pun mulai bertanya beberapa hal mengenai sekolah sebelumnya.
"Dulu waktu kamu sekolah, apa tempatnya jauh dari rumah?"
"Mama juga nggak tahu Papa kamu mau sekolahin kamu di mana. Kalau pun jauh, kamu bisa pergi sama Papa saat berangkat kerja. Nanti pulangnya bisa dijemput sopir. Kalau nanti Mama sudah sembuh, dijemput Mama juga bisa."
Adam kembali mendekatkan tubuhnya dan memeluk satu tangan Kinan. "Kalau pakai sepeda, apa masih jauh?"
"Memang kamu mau pakai sepeda?"
"Lebih baik pakai sepeda, daripada nanti ngerepotin Mama harus jemput aku. Bilang saja sama Papa suruh cari sekolah yang terdekat di sini. Biar nanti aku bisa berangkat dan pulang naik sepeda. Jangan jauh-jauh."
Kinan tersenyum sambil mengusap kepala putranya. "Dekat atau jauh, Papa dan Mama tidak memikirkan hal itu. Yang penting sekolahnya sudah teruji kualitasnya. Visi dan misinya juga bagus. Jangan memilih yang jauh dekat saja, semuanya harus dipertimbangkan. Itu juga demi masa depan kamu."
"Tapi aku nanti bisa belajar, Ma. Aku akan belajar sungguh-sungguh, biar dapat nilai bagus jadi, kalaupun dekat juga nggak masalah."
"Lebih baik tunggu papa, ya? Papa pilih sekolah yang mana buat kamu." Adam mengangguk setelah mendengar jawaban mamanya.
__ADS_1
Kinan juga ingin yang terbaik untuk Adam, mengingat banyak sekali yang tertinggal dari anak itu. Jika memilih sekolah secara asal, takutnya malah akan semakin tertinggal. Dia juga tidak ingin putranya di-bully nantinya, apalagi jika sampai ada kekerasan.
"Kalau untuk mengaji, kamu sudah sampai mana? Sudah tahap Alquran atau masih iqra'?"
"Aku nggak pernah ngaji, Ma," jawab Adam membuat Kinan terkejut.
Anak seusia Adam belum mengaji sama sekali. Padahal zaman sekarang banyak sekolah yang ada ekstra mengajinya. Ada juga yayasan yang tergabung dengan sekolahan, termasuk kegiatan sekolah juga. Sementara Adam sama sekali tidak pernah mengaji.
Entah, apakah anak itu mengerti huruf hijaiyah atau tidak. Padahal mengaji juga tidak kalah pentingnya dengan pendidikan sekolah. Bahkan mengaji adalah sesuatu hal yang dibawa sampai tua bahkan sampai meninggal nanti. Kinan tidak tahu lagi bagaimana pola pikir orang tua Adam.
"Sama sekali tidak pernah mengaji? Kalau huruf hijaiyah kamu tahu?" tanya Kinan pada putranya
Adam menggeleng, di sekolah memang ada pelajaran mengenai huruf Hijaiyah. Namun, dia sampai saat ini belum hafal huruf itu.
"Nanti Mama beliin kamu iqro buat belajar mengaji. Terserah kamu, mau mengaji TPA atau di rumah saja. Biar mama yang ajarin nanti setelah salat Maghrib."
"Aku maunya di TPA saja, Ma. Biar banyak teman, aku tidak punya teman di sini," jawab Adam dengan tersenyum.
Bukannya dia tidak mau mengaji dengan diajari Kinan. Namun, anak itu tidak ingin merepotkan mamanya. Apalagi wanita itu saat ini sedang dalam masa penyembuhan. Sekarang yang diinginkan Adam adalah kesehatan Kinan dan calon adiknya. Pria itu tidak ingin sesuatu terjadi pada mamanya.
"Kalau begitu baiklah. Nanti Mama bilang sama papa, sekalian cari tempat untuk kamu mengaji."
Adam mengangguk, keduanya pun berbincangan beberapa hal mengenai rencana sekolah anak itu ke depannya. Juga tentang kehidupan Adam sehari-hari. Selama di rumah ini, Kinan takut jika putranya tidak betah. Mengingat di rumah ini tidak ada anak yang bisa diajak bermain. Namun, perkiraan wanita itu salah karena memang, Adam sebelumnya juga tidak suka berinteraksi dengan banyak orang.
Setelah cukup banyak yang mereka bicarakan. Adam pamit pada mamanya untuk membersihkan diri. Ini sudah sore, dia harus membersihkan tubuhnya sebelum Hanif pulang. Perawat juga sudah masuk ke kamar Kinan.
Padahal tadi majikannya itu sudah memberitahu jika pekerjaannya akan dimulai besok. Namun, Erin menolak dan tetap ingin memulai pekerjaannya hari ini. Mengenai barang-barangnya, bisa dibereskan nanti malam, saat atasannya sudah tertidur. Saat ini yang penting adalah tanggung jawabnya pada apa pekerjaan.
.
.
__ADS_1