Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
68. Meminta pertanggungjawaban


__ADS_3

"Kita datangi rumah pria itu dan meminta pertanggung jawaban darinya," ucap Papa Rahmat.


"Tapi dia tidak mau bertanggung jawab, Pa. Bahkan dia mengancam akan menyebarkan video saat aku bersama dengannya ke media sosial," ucap Zivana membuat Papa Rahmat menggelengkan kepala.


Pria itu tidak habis pikir dengan putrinya yang benar-benar bod*h. Bagaimana bisa dia dengan sukarela menyerahkan tubuhnya, bahkan sampai merekam aksi mereka. Entah dari mana wanita itu belajar hal seperti itu. Sedangkan Mama Savina dan Zayna dari tadi hanya diam saja mendengar pembicaraan ayah dan anak itu.


"Kamu tahu 'kan rumahnya di mana?" tanya Papa Rahmat yang dijawab Zivana dengan mengangguk pelan. "Pokoknya Papa tidak mau tahu, besok kita datang ke rumah mereka. Sekarang kamu kembali ke kamar. Jangan ke mana pun. Ingat itu."


Zivana pun pergi ke kamarnya. Dia sudah tidak bisa bebas lagi. Setelah ini wanita yakin jika ruang geraknya pasti terbatas. Mama Savina yang ingin berbicara dengan putrinya pun mengikuti gadis itu. Banyak hal yang ingin dia ketahui tentang semuanya.


"Kenapa kamu bisa sampai melakukan hal yang memalukan seperti ini? Mama tidak pernah mengajari kamu seperti ini!" seru Mama Savina begitu memasuki kamar putrinya.


Zivana hanya menundukkan kepala. Dia sangat tahu jika Mama Savina benar-benar kecewa padanya. Memang orang tua mana yang baik-baik saja setelah melihat keadaan putrinya yang seperti sekarang ini. Apalagi wanita paruh baya itu sangat menyatanginya.


Bod*hnya Zivana percaya begitu saja rayuan seorang pria, hingga membuat hidupnya hancur. Tiba-tiba wanita itu teringat nasehat Zayna yang dulu melarangnya berpacaran. Saat itu dia masih SMA dan tidak begitu mendengarkan ucapan kakaknya. Seandainya saja Zivana mendengarkan apa yang Zayna katakan, semua tidak akan seperti ini.


"Masalah kakakmu saja belum selesai. Sekarang kamu juga membuat masalah. Bukankah seharusnya di usia seperti sekarang ini sudah saatnya Mama beristirahat dengan tenang. Kenapa sekarang keadaan semakin sulit?"


Savina sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia benar-benar kecewa pada putrinya. Tubuh wanita itu bergetar, menandakan jika dirinya tengah menangis. Zivana merasa bersalah karena sudah membuat mamanya sesedih ini. Dia pun hanya diam. Mama Savina memilih pergi ke kamar di mana sang suami sekarang berada.


Wanita itu memeluk suaminya dengan erat. Berkali-kali mengucapkan kata maaf karena merasa menjadi ibu yang tidak berguna. Papa Rahmat hanya bisa mengusap punggung sang istri. Dia mencoba untuk menenangkan Mama Savina.


*****


"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Ini memang cobaan untuk Zivana agar dia bisa lebih bersabar lagi," ucap Ayman yang berusaha menenangkan sang istri.


Tadi saat makan malam, keadaan begitu tegang. Ayman tidak berani bertanya karena belum mengetahui situasinya. Dia tahu ada yang tidak beres dengan keluarga ini. Setelah makan malam, pria itu baru tahu mengenai keadaan adik iparnya karena Zayna mengajak sang suami ke rumah Pak RT.


"Tapi kasihan Zivana, Mas. Kasihan juga anak yang ada dalam perutnya. Pasti suatu hari nanti dia dicap sebagai anak haram karena hadir di luar nikah. Padahal di dunia ini tidak ada seorang anak yang bisa memilih dilahirkan dari wanita mana."


"Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik. Biar Tuhan yang menentukan. Mereka hanya bisa mengikuti jalan takdir masing-masing."

__ADS_1


Zayna mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu pun memeluk sang suami dan memejamkan mata menuju ke alam mimpi. Ayman tersenyum sambil menatap wajah istrinya. Zayna memang wanita yang sangat baik, bahkan pada seseorang yang sudah jahat padanya pun dia masih baik.


Pagi hari semua orang sedang menikmati sarapan. Setelah ini mereka berencana untuk pergi ke rumah pria bernama Tio yang dimaksud Zivana kemarin. Sebenarnya Gadis itu enggan untuk pergi ke sana karena penolakan kemarin. Akan tetapi, Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat Papa Rahmat memaksanya.


Lagi pula anak yang ada di perutnya juga perlu pertanggung jawaban dari papanya. Ayman tidak bisa ikut karena masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Pria itu hanya mengirim seseorang untuk mengantar keluarganya.


"Oh Ya, Na. Bagaimana kemarin saat kamu ke rumah Pak RT bersama Ayman?" tanya Papa Rahmat.


Semalam Zayna memang pergi ke rumah Pak RT untuk memberikan keterangan mengenai adiknya. Sebenarnya dia sangat malu, tetapi mau bagaimana lagi, Zivana tetaplah adiknya. Bagaimanapun keadaannya saat ini. Meski sempat terjadi perdebatan, masalah akhirnya bisa diselesaikan juga.


"Alhamdulillah, semuanya sudah terselesaikan, Pa," jawab Ayman.


"Maksud kamu mereka tidak mengusir Zivana? Berapa denda yang kamu bayarkan?" tanya Papa Rahmat karena dia sangat tahu peraturan di tempat tinggalnya. Jika ada seseorang yang hamil diluar nikah atau melanggar norma, mereka akan diusir dari rumahnya atau membayar denda sesuai dengan peraturan.


"Papa tidak perlu memikirkannya. Asalkan masalahnya selesai dengan cepat, itu lebih baik."


"Tidak, Papa sangat tahu peraturan di sini. berapa yang kamu bayarkan? Berapa?"


Papa Rahmat benar-benar terkejut. Dari mana uang sebesar itu dia dapat untuk membayarnya pada sang menantu. Biaya rumah sakit saja sudah menumpuk, sekarang ditambah membayar denda untuk putrinya.


Meskipun Ayman tidak pernah meminta uangnya dikembalikan, tetapi dia tetap ingin mengembalikannya. Pria itu bukanlah orang yang tidak tahu terima kasih setelah dibantu. Walaupun itu menantunya sendiri.


"Papa tidak perlu memikirkannya. Aku juga anak papa, kan! Jadi sudah sewajarnya jika aku menolong papa. Lagi pula, uangnya juga untuk pembangunan, jadi tidak masalah untukku," ujar Ayman. Dia merasa tidak enak karena membuat Papa Rahmat kepikiran.


"Sebaiknya papa pikirkan kesehatan dulu. Setelah semuanya baik, baru pikirkan yang lain," sela Zayna yang tidak ingin kesehatan papanya terganggu. Apalagi sampai berpengaruh pada perkembangan kaki Papa Rahmat.


"Maaf yang sudah membuat Papa seperti sekarang ini," ucap Zivana dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah semua juga sudah terjadi, asalkan kamu benar-benar menyesalinya itu sudah cukup bagi Papa. Waktu tidak bisa diputar kembali, hanya tinggal cara kita memperbaiki diri saja. Sebaiknya lanjutkan saja sarapanmu."


Semua orang pun melanjutkan sarapan pagi mereka. Ayman pamit pada sang istri dan kedua mertuanya. Seorang sopir yang diminta mengantar keluarga sudah datang. Mereka pun bersiap untuk pergi.

__ADS_1


Sebenarnya Zayna tidak ingin ikut, dia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan ini. Akan tetapi, Papa Rahmat memaksa karena dia merasa tidak enak dengan sopir yang sudah diperintahkan oleh menantunya. Sepanjang perjalanan, Zivana merasa takut. Dia terus saja memainkan jarinya. Semakin mobil mendekati rumah Tio, gadis itu semakin gelisah.


Tidak terlalu lama, akhirnya mobil berhenti di depan rumah Tio yang juga besar. Meski masih rumah keluarga aiman jauh lebih besar. Mereka semua turun dari mobil. Zayna mendorong kursi roda papanya. Sedangkan di belakang ada Mama Savina dan Zivana. Mereka saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan.


"Assalamualaikum, Bu," ucap Zayna pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.


"Waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu, Neng?"


"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Hanya sebentar saja, apa boleh?" tanya Zayna.


"Silakan masuk! Saya akan panggilkan majikan saya. Kebetulan Tuan juga belum berangkat bekerja."


"Terima kasih, Bu."


Mereka pun mengikuti wanita itu dan duduk di ruang tamu, menunggu pemilik rumah untuk keluar. Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki, semua orang pun menoleh. Terlihat pasangan suami istri yang berjalan dengan sangat angkuh.


"Maaf, ada apa, ya? Apa kami mengenal kalian?" tanya pria itu dengan pandangan meremehkan. Apalagi saat melihat Papa Rahmat yang duduk di atas kursi roda.


"Maaf, Tuan. Kami hanya ingin berbicara sebentar saja. Ini juga mengenai anak Anda yang bernama Tio," jawab Papa Rahmat.


Zayna hanya diam. Ini bukan tempatnya untuk berbicara. Dia ke sini hanya ingin mengantar keluarganya, sementara Zivana hanya menunduk. Gadis itu tidak mampu mengatakan satu kata pun di depan keluarga Tio. Dia sangat tahu betapa berpengaruhnya keluarga mereka.


Kedua orang itu pun duduk di sofa panjang. Mereka juga penasaran apa yang ingin tamunya bicarakan mengenai anak tunggal di keluarga ini.


"Begini, saya ke sini ingin meminta pertanggungjawaban dari putra Anda yang bernama Tio. Dia sudah menghamili putri saya," ucap Papa Rahmat, membuat kedua orang itu saling pandang kemudian tertawa mengejek.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2