Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
301. S2 - Tujuan si kembar


__ADS_3

"Tadi apa saja yang Kakak bicarakan sama Akmal? Kenapa Kakak diam saja dari tadi?" tanya Zea saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Bukan sesuatu yang penting, tidak usah dibicarakan lagi. Aku malas membahas tentang dia. Habis ini kamu mau ke mana?" tanya Adam mengalihkan pembicaraan.


"Nggak kemana-mana, Kak. Aku mau pulang saja, mau bantuin Mama buat persiapan tahlilan. Tadi juga si kembar katanya mau ke rumah."


"Oh ya? Kalau Arslan datang tidak?"


"Aku nggak tahu kalau Kak Arslan. Dia 'kan tidak tinggal di rumah Om Ayman jadi, aku tidak tahu. Kenapa kakak tidak telepon saja ke nomornya?"


"Aku reda gimana gitu sejak dia menikah. Nggak enak sama istrinya, takut ganggu waktu mereka."


"Kakak terlalu berlebihan, kalau siang gini Kak Arslan di kantor, tanya saja sekarang."


Adam berpikir sejenak, kemudian berseru, "Iya, deh! Kakak kirim pesan saja." Zea mengangguk saja.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Ternyata di rumah sudah banyak orang, bahkan Arslan pun sudah ada di sana, tetapi kenapa pesannya tidak dibalas.


"Kamu ada di sini? Aku tadi kirim pesan ke ponselmu, kenapa nggak dibales?" tanya Adam pada Arslan.


"Masa, sih! Ponselku aku silent, jadi nggak tahu kalau ada pesan masuk."


"Ini pada nggak kerja atau kuliah?"


"Ambil cuti lah, sekali-kali kami juga ingin berkumpul bersama keluarga. Ini 'kan acara tahlilan Opa Wisnu, baru kali ini juga aku bisa datang. Kita ke taman samping rumah, yuk! Biar cewek-cewek bantuin Tante Kinan."


"Boleh, ayo!" ajak Adam.


Keduanya pun menuju taman samping rumah, sementara para wanita membantu Kinan dan Zayna di dapur. Adam tetap duduk di kursi rodanya, sedangkan Arslan duduk di Gazebo dengan kaki dia naikkan.


"Bagaimana rasanya, Dam?" tanya Arslan saat mereka sudah bersantai.


"Rasanya apa?" tanya Adam, yang memang benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arslan.


Arslan menatap sepupunya dengan makas. "Kamu pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu?"

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tahu. Sebenarnya apa maksud kamu? Rasanya apa?"


"Malam pertama! Bagaimana rasanya malam pertama sama adik sendiri?"


Adam memukul Arslan dengan majalah yang kebetulan berada di sana. "Dia sekarang istriku, bukan lagi adikku. Kamu harus ingat itu mulai sekarang."


"Iya, iya, gimana malam pertama sama istri kamu?" tanya Arslan lagi, dia belum puas sebelum mendengar jawaban dari sepupunya.


"Apanya yang malam pertama? Aku sekarang kayak gini, mana ada waktu mikirin malam pertama. Nantilah kalau aku sudah sembuh."


"Iya juga, kalau kamu masih seperti ini, pasti nanti yang aktif cuma Zea. Dia mana mau seperti itu, dia 'kan orangnya pemalu dan juga ...."


"Sudahlah, nggak usah dibahas soal itu, geli tau nggak dengarnya. Mentang-mentang kamu sudah punya istri jadi bahan pembicaraannya ke arah sana. Padahal selama ini kamu selalu ogah saat ada teman-teman yang bicara tentang hal itu," sela Adam mencibir sepupunya itu.


"Ya, beda dong, Dam. Sebelumnya aku belum menikah dan kita semua di sana juga belum ada yang menikah. Kalau sekarang aku dan kamu sudah sama-sama menikah. Ya ... hanya tinggal eksekusinya saja kalau kamu."


"Sudah ah, bahas yang lain saja," potong Adam, membuat Arslan menahan tawa.


"Katanya saudara tiri kamu sudah ketangkap, apa benar?"


"Iya, sekarang ada di rumah sakit," jawab Adam yang sebenarnya malas membahas hal itu."


"Ngapain juga aku bohong."


Arslan menganggukkan kepalanya. "Memang dia pantas mendapatkannya, secara dia sudah melakukan hal ini pada kamu. Sampai kamu juga tidak bisa jalan seperti ini jadi, biar sama-sama impas."


"Sejujurnya aku juga nggak tega lihat dia seperti itu. Bagaimanapun juga kita dulu pernah bersama-sama, bahkan kita dulu sangat dekat, tapi karena hasutan ibunya, dia jadi membenciku."


"Sudahlah, nggak perlu pakai nggak tegaan segala. Sekarang yang perlu kamu pikirkan itu masa depan kamu dan juga Zea."


Adam mengangguk, dia juga tidak ingin terlalu pusing memikirkan hal itu, tetapi semua tidak semudah yang diucapkan.


"Oh ya, Ars, aku butuh seseorang untuk jadi asisten rumah tangga. Kamu ada rekomendasi nggak?"


"Buat apa lagi? Bukannya sudah ada Bik Isa? Bukan buat di rumah ini, buat di rumah Papa kandungku di luar kota. Tadi sebelum pulang, aku menemui Akmal di rumah sakit. Dia memintaku untuk menjaga mereka, aku bilang saja aku tidak bisa. Aku hanya bisa mengirim asisten rumah tangga ke sana, masalah gaji biar aku juga nggak pa-pa."

__ADS_1


"Sudahlah, nggak usah dipeduliin. Mereka juga nggak pernah peduli sama kamu, kan?"


"Tetap saja mereka itu orang tuaku, kejadian apa pun tidak akan bisa menghapus ikatan di antara kami."


"Iya, juga sih! Kalau aku sih jujur enggak ada rekomendasi. Kalau kamu mau cari saja di jasa asisten rumah tangga biar lebih profesional. Alangkah baiknya kamu cari di kota yang sama di mana orang tuamu tinggal, biar sama-sama enak. Kalau kamu kesusahan, aku bisa bantu kamu untuk datang ke sana untuk cari ART. Bukan maksudku untuk merendahkan kamu, tapi kamu pasti kesulitan dengan keadaan kamu sekarang ini."


"Apa kamu nggak pa-pa? Bagaimana dengan istri kamu?" tanya Adam yang sebenarnya merasa tidak ensk.


"Yaelah, ke kota sedekat itu satu hari juga sudah selesai. Ngapain lama-lama?"


"Iya, juga ... bolehlah, Ars. Aku minta tolong sama kamu tolong urusin orang tuaku, ya!"


"Beres, nanti biar aku yang urus orang tuamu. Kamu kasih alamatnya saja."


Malam hari, begitu banyak tamu yang datang untuk mendoakan almarhum Papa Wisnu. Keluarga merasa begitu terharu karena hampir semua undangan datang. Doa dipanjatkan untuk almarhum agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan.


Setelah acara selesai, satu persatu tamu undangan pun pamit pulang. Begitu juga dengan keluarga Ayman. Arslan dan Hira juga ikut ke rumah orang tuanya, mereka akan menginap di sana. Si kembar yang tadinya datang bersama dengan mama Zayna, kini pulang ikut bersama dengan mobil kakaknya.


"Kuliah kalian bagaimana?" tanya Arslan membuka pembicaraan karena dari tadi semuanya diam saja.


"Baik, seperti biasa, Kak."


"Setelah ini kalian punya pilihan ke mana? Mau lanjut ambil master, apa kerja?"


"Kalau aku mau kerja, Kak. Nggak tahu kalau Aina," sahut Aini.


"Aku juga nggak tahu, kalau ada jodohnya aku mau nikah aja. Biar enak bisa tiduran di rumah," jawab Aina membuat Hira dan Aini menatapnya. Keduanya tidak menyangka dengan jawaban gadis itu, orang yang selama ini sangat rajin dalam belajar tiba-tiba berbicara soal pernikahan, sementara Arslan hanya diam saja dengan pandangan ke lurus ke depan.


"Kamu yakin dengan jawaban kamu? Aku aja yang sering gembar-gembor soal pacaran nggak mikirin buat nikah, tapi kamu yang selama ini diam saja tiba-tiba kepikiran soal nikah. Kenapa nih? Ada apa sama kamu? Jangan-jangan kamu suka ya sama seseorang? Apa Vino atau ada yang lain?" tanya Aini beruntun, yang membuat saudaranya membuang napas sambil memutar bola matanya malas.


"Memangnya kenapa kalau aku ingin menikah? Tidak ada salahnya, kan? Zea saja sudah menikah. Aku itu selalu bayangin diriku jadi ibu rumah tangga, di rumah nungguin suami pulang kerja. Jagain anak di rumah, aku sudah tidak ada keinginan apa-apa lagi. Aku hanya ingin menjadi wanita seutuhnya, menjadi ibu rumah tangga."


"Kakak kira kamu ingin jadi wanita karir," sahut Arslan.


"Ibu rumah tangga juga ada yang jadi wanita karir, tapi aku nggak mau. Aku maunya full jadi ibu rumah tangga, enggak ada kerja sampingan atau apalah. Aku pengennya punya suami yang mapan dari miliknya sendiri, bukan karena sokongan orang tua atau harta warisan."

__ADS_1


"Wah! Kakak kagum banget sama kamu. Kakak doakan agar kamu segera mendapatkan laki-laki yang seperti itu," seru Arslan yang diangguki istrinya, sementara Aini masih berdiam diri dengan pikiran yang entah seperti apa.


.


__ADS_2