
"Maaf, ya, Mas. Gara-gara aku kamu dimarahin sama mama," ucap Kinan yang masih terkekeh.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Mama memang seperti itu. Nanti juga akan lupa sendiri karena terlalu bahagia dengan kehadiran cucunya. Eh, mama tadi juga lupa sepertinya nggak nanya nama baby sama kita. Pasti nanti di sana bakalan bingung mau panggil cucunya apa."
"Mas, ini jam berapa? Bukankah sebentar lagi Adam pulang sekolah? Sebaiknya kamu jemput dia. Papa dan Mama juga ada di sini jadi, tidak bisa jemput, kasihan kalau nanti dia nunggu lama."
"Sebaiknya aku telepon asisten aku saja, biar dia yang jemput." Hanif mengeluarkan ponselnya. Dia ingin menghubungi asistennya, tetapi dicegah Kinan.
"Mas, kita sudah sepakat, apa pun yang terjadi, Adam juga anak kita jadi, sebaiknya kamu yang jemput dia. Nanti takutnya dia merasa tersisihkan dengan kehadiran Zea. Takutnya dia berpikir kalau kamu sudah tidak perhatian lagi padanya."
Hanif mengangguk, benar apa yang dikatakan sang istri. Dia sampai melupakan hal itu. Adam memang orang yang sangat perasa, takutnya anak itu malah memikirkan hal yang tidak-tidak. Sampai kapan pun tidak akan ada perbedaan diantara keduanya.
"Ya sudah, aku jemput dia dulu. Kamu nggak papa di sini sendirian? Mama dan papa juga masih libat baby."
"Nggak apa-apa, Mas. Nanti juga ada perawat yang datang. Lagi pula Mama dan Papa juga pasti nggak akan lama."
Hanif mengangguk dan segera pergi dari sana. Tidak lupa pria itu mendaratkan ciuman di kening sang istri. Saat keluar dari ruangan, dia mengirim pesan kepada mamanya agar segera kembali ke kamar. Kinan hanya tinggal sendiri karena dirinya harus menjemput Adam.
Pesan dibaca oleh mamanya. Namun, wanita paruh baya itu enggan untuk membalas. Dia masih kesal dengan anaknya itu. Hanif yang mengerti pun tidak ambil pusing. Pria itu sangat tahu bagaimana sifat mamanya.
Sementara itu, Kinan yang berada di kamar sendirian, tiba-tiba meneteskan air mata. Dia teringat dengan mamanya. Kenangan masa kecilnya pun muncul di depan matanya. Selama ini wanita itu kurang dalam mengungkapkan rasa kasih sayangnya terhadap sang mama.
Masih terekam dengan jelas perjuangan dirinya saat melahirkan tadi. Rasa bersalahnya pada Mama Aisyah semakin besar. Wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya, telah mempertaruhkan banyak hal, tetapi dia sama sekali tidak bisa berterima kasih dengan benar.
"Kenapa kamu menangis, Kin?” tanya Mama Aisyah yang baru saja masuk. "Tadi Hanif kirim pesan ke Mama Aida katanya kamu sendirian di sini jadi, Mama segera ke sini. Memang ada apa?"
__ADS_1
Kinan pun segera menoleh dan mengusap air mata yang masih menetes. Dia tidak ingin terlihat sedih di depan orang yang sudah menyayanginya. Lihatlah sekarang, saat tahu jika dirinya tengah sendiri, wanita itu segera datang. Padahal tadi sedang asyik melihat cucunya.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Hanya kelilipan tadi."
"Kamu jangan bohong sama Mama. Memang kamu pikir kamu bisa membohongi Mama? Mungkin jika orang lain akan percaya sama kamu, tapi tidak dengan Mama. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Mama Aisyah memicingkan matanya dengan menatap putrinya.
"Tidak ada, Ma. Aku hanya merasa bersalah saja sama Mama. Ternyata perjuangan Mama selama ini begitu besar untukku. Hari ini aku merasakan hal yang Mama rasakan dulu. Itu begitu luar biasa. Terlalu banyak kesalahan yang sudah aku lakukan sama Mama. Aku juga selalu cuek sama Mama, tanpa tahu perasaan Mama seperti apa." Air mata Kinan semakin deras. Rasa bersalahnya membuat hatinya juga ikut terluka.
Mama Aisyah terharu mendengar apa yang Kinan katakan. Wanita paruh baya itu pun juga ikut meneteskan air mata. Dia tidak pernah merasa jika putrinya melakukan kesalahan. Memang ada kalanya saat dulu masih remaja. Namun, bagi Mama Aisyah itu masih dalam batas wajar. Itu hanya proses pendewasaan Kinan.
"Kamu tidak pernah membuat Mama sakit hati, apalagi marah. Memang sewajarnya jika memang seorang anak membuat kesalahan jadi, lupakanlah hal itu. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu dengan dua anak. Jangan pernah membanding-bandingkan mereka karena mereka adalah sama. Meski Adam tidak lahir dari rahim kamu, dia tetap anak kamu. Suatu saat nanti kamu akan menuai kebaikan, kalau kamu menanamnya mulai dari sekarang."
"Terima kasih Mama selalu memberi nasehat untukku. Sampai kapan pun aku akan selalu ingat setiap nasehat dari mama. Maafin Kinan yang selama ini sudah membuat Mama susah. Bukan hanya Mama, tapi juga papa. Maafkan semua perbuatan Kinan."
Mama Aisyah mengusap air mata yang menetes di pipi putrinya. "Tanpa kamu meminta maaf pun Mama sudah memaafkan kamu."
"Ada apa ini? Kenapa berpelukan sambil nangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Mama Aida yang baru memasuki ruangan bersama dengan Papa Wisnu dan Papa Hadi.
Mama Aisyah pun mengurangi pelukan mereka. Keduanya berusaha menghapus air mata yang sudah menetes.
"Tidak ada apa-apa. Kinan hanya mengingat masa lalu saja. Maklumlah kita sudah lama tidak bertemu,” jawab Mama Aisyah yang disenyumi Kinan.
Ketiga orang itu pun percaya saja karena memang, tidak ada wajah sedih di antara kedua wanita itu. Mereka sama-sama bahagia, hanya saja ada air mata yang membasahi wajah mereka.
"Kinan, nama anak kamu siapa tadi? Mama belum tanya, apa sudah ada namanya?" tanya Mama Aida sambil berjalan mendekati sang menantu.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Namanya Zea Sadiya Arkham. panggilannya Zea," jawab Kinan dengan tersenyum.
"Nama yang bagus Mama suka. Semoga Zea menjadi anak yang sholehah, berbakti pada orang tua dan berguna bagi semua orang yang ada di sekelilingnya, agama dan bangsa. Pokoknya doa yang terbaik buat cucu Mama." Doa Mama Aida untuk cucunya.
"Amin, terima kasih doanya, Ma. Semoga apa yang Mama doakan bisa terwujud."
"Amin."
Semua orang berbincangan di ruangan itu. Mereka banyak bertanya pada Kinan tentang bagaimana bisa dirinya melahirkan, tanpa memberitahu keluarga bahkan Hanif pun sama. Wanita itu meminta maaf pada kedua orang tua dan mertuanya mengenai hal itu. Sebenarnya itu keinginan Kinan.
Wanita itu melarang Hanif untuk memberi kabar. Kinan tidak ingin merepotkan para orang tua terhadap apa yang dia alami. Mama Aida dan Mama Aisyah sempat marah karena bagaimanapun juga Kinan adalah putri mereka. Seluruh keluarga juga berhak tahu apa saja yang terjadi.
Apalagi proses melahirkan juga bukan sesuatu yang mudah. Namun, apa pun itu mereka bersyukur karena Kinan dan bayinya sehat. Diam-diam Mama Aisyah berdoa dalam hati agar Zayna bisa melahirkan seperti Kinan. Dia tahu proses setiap orang berbeda-beda, tetapi tidak ada salahnya untuk berharap.
"Ya Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Yang penting sekarang Kinan dan anaknya baik-baik saja, tapi kamu harus ingat, Kinan
Kamu harus selalu memberitahu kami kalau terjadi sesuatu. Jangan dipendam sendiri. Biar nanti kita cari solusi bersama-sama."
"Benar apa yang dikatakan mertua kamu, Kinan. Mama jadi semakin khawatir kalau kamu nggak akan kasih tahu sama kita." Mama Aisyah memandangi putrinya dengan wajah khawatir. Dia sangat tahu jika Kinan biasanya orangnya nekat.
"Iya, Ma. Mulai hari ini, aku akan memberitahu apa pun pada Mama Aida dan Mama Aisyah. Maafin aku, ya, Ma."
Kedua Mama pun mengangguk. Ada sedikit kelegaan yang mereka rasakan.
"Hanif menjemput Adam mau diajak ke sini, apa pulang, Kin?" tanya Mama Aida.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, Ma. Tadi aku nggak tanya sama Mas Hanif. Mungkin langsung ke sini. Adam kalau dengar adiknya sudah lahir, pasti mau ikut ke rumah sakit juga, tapi nggak tahu langsung ke sini apa pulang dulu."
.