
Keesokan harinya, Aina bangun dari tidurnya. Semalam dia tidur cukup larut karena merasakan sakit pada perutnya akibat datang bulan hari pertama. Aina melihat ke arah samping dan dia tidak menemukan keberadaan suaminya, dia pun melihat jam yang berada di kamarnya dan menunjukan pukul lima pagi, sudah pasti Ustadz Ali tengah pergi ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Aina pun segera menuju ke kamar mandi dan bersih-bersih, dia bangun kesiangan kali ini, seharusnya Aina bangun saat azan Subuh tapi karena dia tengah berhalangan, jadilah Aina bangun lebih terlambat, kebiasaan Aina saat di rumah tetapi dia lupa bahwa kini dia sudah tidak tinggal di rumah lagi, melainkan tinggal di rumah keluarga suaminya.
Aina takut jika dia akan mendapatkan ceramahan dari mertuanya, seperti cerita orang-orang dengan mertua mereka yang tidak begitu senang dengan kehadiran istri dari anaknya. Di hari pertama ini Aina sudah membuat kesalahan dengan bangun kesiangan, jelas saja Aina takut jika dia akan dimarahi habis-habisan.
Setelah selesai mandi Aina pun segera turun ke bawah, Aina melihat jam di dinding menunjukan pukul lima lewat dua puluh menit. Aina rasa ini masih cukup pagi dan tidak terlalu terlambat untuk membuat sarapan, Aina segera menuju ke dapur berniat untuk memasak dan membuat sarapan pagi ini.
Sesampainya di dapur dia dikejutkan dengan keberadaan ibu mertuanya yang tengah berkutat dengan alat-alat masak yang ada di dapurnya. Aina melihat bahwa mertuanya itu sudah selesai memasak, dia menatap kehadiran Aina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Wah, tuan putri baru bangun. Jam berapa ini?" ucap Ibu Nur tanpa menatap Aina.
"Maaf Bu, Aina terlambat bangun. Aina bantuin masaknya, ya," ucap Aina sambil mengambil alih spatula untuk segera membantu.
"Tidak perlu, saya sudah selesai memasak," ucap Ibu Nur menatap Aina tak suka.
Aina sedikit sedih mendapati penolakan tersebut, dia tahu bahwa mertuanya itu marah kepadanya. Aina yang tidak mau menjadi bulan bulanan amarah dari mertuanya itu tetap membantunya untuk menyiapkan makanan dan menyusun makanan diatas meja makan.
"Kamu ini ya, baru hari pertama menjadi istri tapi sudah tidak becus menjadi istri. Bagaimana caranya mau membangun rumah tangga jika masih bermalas-malasan seperti ini?" ucap Ibu Nur sambil menatap Aina dengan tidak suka.
Aina menundukkan pandangannya, baru kali ini dia dibentak seperti ini oleh orang lain, bahkan kedua orang tuanya saja tidak pernah melakukan hal tersebut. Dalam hati Aina merasa bahwa dia sangat terpukul dengan apa yang keluar dari mulut mertuanya itu, awalnya Aina pikir dia akan baik kepada Aina, mengingat saat kemarin Aina datang ke rumah ini Ibu Nur begitu ramah terhadapnya. Ternyata dugaan Aina salah, nyatanya semua mertua hampir sama saja.
"Maaf Bu, sekali lagi. Lain kali Aina akan bangun lebih cepat," ucap Aina agar mendapat maaf dari mertuanya tersebut.
"Maaf-maaf. Emang dasarnya pemalas itu akan tetap pemalas ya, kamu harus ingat ini bukan di rumah kamu jadi kamu harus mengikuti aturan yang ada di rumah ini," ucap Ibu Nur.
"Aina nggak akan mengulanginya lagi, kok, Bu. Sini biar Aina lanjutkan masaknya," ucap Aina mencoba untuk tidak memperpanjang masalah.
"Sudah selesai semua, tuh piring cuci." Ibu Nur menunjuk wastafel yang penuh dengan piring kotor, Aina pun nurut dan mulai mencuci piring tersebut.
Setelah selesai mencuci piring, Aina diminta untuk membawa beberapa masakan tadi untuk dibawa ke meja makan karena Ustadz Ali sudah pulang dari masjid. Aina menyusun makanan di atas meja, juga menyiapkan air untuk mereka minum.
Tak lama kemudian Ustadz Ali pun menghampiri Aina, melihat Aina dengan wajah yang murung membuatnya bertanya,"Kamu baik-baik saja?"
Melihat kedatangan Ustadz Ali, Aina pun langsung mencium punggung tangan suaminya yang baru saja pulang dari masjid. "Aku tidak apa-apa, mungkin saja ini efek dari tempat baru. Aku belum terlalu terbiasa dengan keadaan rumah ini," ucap Aina kemudian memasang senyuman ceria.
"Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk memberi tahuku," ucap Ustadz Ali dengan lembut.
"Iya Mas. Gih, kamu ganti baju dulu baru kita sarapan bersama," ucap Aina yang diangguki oleh Ustadz Ali.
Ustadz Ali pun pergi menuju kamarnya untuk melepas baju kokonya dan kembali turun dengan menggunakan sarung dan kaos putih polosnya. Mereka pun sarapan bersama di pagi hari, di sela-sela makannya mereka mengobrol dan membahas sesuatu yang ringan-ringan. Di sisi lain Aina mencoba mengimbangi percakapan mereka yang tidak Aina mengerti, mereka membahas tentang pondok pesantren membuat Aina lebih banyak terdiam karena tidak mengerti.
"Kalo begitu kamu ajak saja Aina ke pondok pesantren untuk melihat-lihat di sana, dari pada di rumah nganggur, kan," ucap Ibu Nur memberi saran kepada Ustadz Ali.
"Boleh tu, Bu. Kamu mau, kan?" tanya Ustadz Ali kepada Aina.
Aina terdiam sejenak sebelum akhirnya dia pun mengangguk setuju dengan apa yang disarankan oleh mertuanya itu. Aina tidak tahu apa maksud mertuanya itu mengirim Aina kesana untuk melihat-lihat, tidak ada salahnya Aina mencoba untuk datang ke sana sambil belajar dan menemani suaminya.
Selesai sarapan, Aina membantu Ibu mertuanya itu untuk mencuci piring bekas sarapan tadi. Untungnya Aina bisa mencuci piring jadi dia tidak kena marah lagi dari mertuanya itu.
"Nanti kamu ke pesantren dan kamu lihat tuh anak-anak yang belajar di sana, jika bisa kamu juga harus belajar seperti mereka," ucap Ibu Nur kepada Aina.
__ADS_1
"Bagaimana caranya?" tanya Aina bingung.
"Kamu pasti merasa malu kan, untuk kembali belajar?" tanya Ibu Nur membuat Aina tersinggung. Bukannya Aina malu untuk belajar tapi usianya saat ini yang juga sudah menjadi seorang istri rasanya sedikit tidak nyaman jika harus belajar bersama anak-anak yang berada di pesantren.
"Di pesantren juga banyak ustadzah yang seumuran dengan kamu," ucap Ibu Nur. "Kamu bisa belajar dari dia juga," tambahnya lagi.
"Iya, Bu," jawab Aina.
Setelah selesai mencuci piring, Aina pun langsung bergegas menuju kamar untuk bersiap-siap pergi bersama Ustadz Ali. Karena mereka akan pergi ke pesantren jadi Aina harus berdandan dengan rapi dan menyesuaikan pakaiannya, Aina menggunakan baju gamis yang menutupi seluruh lekuk tubuhnya ditambah dengan hijab yang menutupi dadanya.
Pakaian yang Aina gunakan memang terlihat sangat syar'i tetapi Aina tetap meletakkan gaya modern dalam dirinya. Pakaian yang Aina gunakan adalah model terbaru bagi remaja masa kini dan itu sangat cocok dipakai oleh Aina membuatnya menjadi semakin cantik.
Ustadz Ali yang melihat Aina pun sempat terdiam seketika karena Aina terlihat begitu cantik dengan baju yang digunakan. Setelah keduanya siap, mereka pun segera berangkat menuju pondok pesantren tempat di mana Ustadz Ali mengajar.
"Sudah mau berangkat, Mas?" tanya Aina begitu ia melihat sang suami tampak mulai memasang peci hitamnya itu.
Ali yang merasa dirinya sedang diajak berbicara oleh Aina pun lantas mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu.
Perlahan, Ali tampak menganggukkan kepalanya menandakan jika ia mengiyakan apa yang istrinya itu tanyakan kepadanya.
Ali lantas mulai berjalan ke arah rak buku, tampak beberapa saat ia menatap menelisik ke arah deretan buku yang tersusun sangat rapi itu.
Setelah menemukan buku-buku yang ia cari untuk dijadikan sebagai referensi dalam ia mengajar anak-anak di pesantren, pria itu lalu memasukkan semua buku itu ke dalam tas-nya.
"Mencari referensi?" tanya Aina kembali sekedar ingin berbasa-basi dengan sang suami.
Aina memang sengaja melakukan itu agar ia bisa mengulur waktu kepergian sang suami.
Lagi dan lagi, Ali pun menganggukkan kepalanya. Menggantikan kata iya daripada jawabannya atas pertanyaan gadis itu.
Seakan menyetujui pemikiran Aina yang saat ini memastikan apakah ia sudah membawa semua barang dengan benar atau tidak, Ali pun lantas membuka kembali tasnya.
Kembali, mencoba memastikan apakah barang-barang yang ia letakkan dalam tas itu sudah lengkap dan sesuai dengan kebutuhannya.
"Sudah, Aina. Aku sudah membawa semua yang aku perlukan. Terima kasih sudah membantuku untuk memastikan kembali barang-barang yang harus aku bawa," balas Ali seraya mengembangkan senyumannya saat ini.
Aina yang sudah menduga jika setelah itu Ali akan bergegas pergi meninggalkan dirinya sendiri di rumah itu, bersama dengan Ibunda Ali lantas mulai berpikir keras untuk mengulur waktunya dengan pria itu.
"Tunggu, Mas!" tutur Aina begitu ia melihat pergerakan Ali yang mulai ingin berlalu dari hadapannya.
Tampak sebuah kerutan bingung pun tercetak sempurna di kening Ali saat ini, membuatnya lantas bertanya pada sang istri, "Ada apa?"
Aina pun terdiam dalam beberapa saat. Ia mencoba untuk terus memutar otaknya agar bisa menemukan jawaban lain atas pertanyaan dari pria itu.
"Hmm.. itu, aku memiliki sebuah pertanyaan kepada kamu. Kamu kan tau, aku baru belajar lebih dalam soal agama. Masih banyak yang tidak aku mengerti. Aku sudah mencari semuanya di internet dan juga membuka ceramah yang di upload di youtube. Tapi, tetap saja. Aku masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang ingin aku ketahui jawabannya," tutur Aina membuat satu alis sang suami terangkat.
Ali terlihat menatap aneh sekaligus bingung dengan tingkah tiba-tiba Aina yang justru menutupi pintu kamar mereka dengan tubuhnya.
"Ingin menanyakan apa? Apa ada hal yang sangat penting?" tanya Ali merasa penasaran dengan pertanyaan apa yang sebenarnya ingin sekali Aina ketahui jawabannya.
Skak mat! Aina benar-benar dibuat bungkam saat ini. Sejujurnya, mengenai perihal pencarian di internet serta laman YouTube para penceramah itu semuanya hanyalah kebohongannya semata.
__ADS_1
Aina sengaja mengatakan hal itu. Ia terlalu bingung bagaimana caranya agar bisa lebih lama bersama dengan pria itu.
"Aina?" tanya Ali kembali mencoba memastikan jika sang istri masih berada dalam kesadarannya saat ini.
Aina yang mendengar dirinya terus dipanggil oleh sang suami, kini mulai berpikir keras. Berusaha mencari pertanyaan apa yang sekiranya tidak akan membuatnya terlihat berbohong di hadapan pria itu.
Setelah sekian lama Aina berkutat dengan pemikirannya, akhirnya Aina teringat akan satu kalimat yang menjadi caption di story Instagram temannya yang baru saja menjadi ustadzah di sebuah pesantren ternama di kotanya saat ini.
"Aku mau nanya, artinya ana uhibbuka fillah itu apa?" tanya Aina dengan tatapannya yang terlihat sangat serius.
Mendengar hal itu, tampak ekspresi wajah Ali berubah drastis. Pria itu tampak merasa terkejut ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang istri.
Entah mengapa, rona-rona merah kini samar-samar tampak di kedua sisi pipi pria itu.
"Sepertinya sekarang kamu sudah mulai mengerti untuk menjalankan sunah sepasang suami-istri yang bisa mendatangkan pahala ya, Aina. Baiklah, aku pergi sekarang ya. Jika aku lebih lama disini, bisa-bisa aku telat datang ke pesantrennya. Gak apa-apa kan kalo aku pergi sekarang?" tutur Ali dengan senyuman hangatnya.
Meski merasa sedikit aneh karena Ali tidak juga menjawab pertanyaannya melainkan malah membalasnya dengan kalimat yang sungguh tidak dimengerti oleh Aina.
Aina yang merasa jika tidak ada alasan untuk menahan sang suami pun kini mulai mengembangkan senyuman manisnya. Terasa sangat berat memang untuk melepaskan sang suami, tapi mau bagaimana lagi.
Jika ia menahan pria itu lebih lama, bukan tidak mungkin ia akan kembali mendengar ceramah panjang dari mertuanya. Itu benar-benar sangat membosankan dan paling di benci oleh Aina.
Mungkin memang sudah seharusnya ia menghadapi semuanya, daripada ia menahan Ali yang ada nanti pria itu juga malah kepikiran dengannya. Bingung karena dirinya seolah tidak ingin melepaskan pria itu untuk pergi.
"Aina? Gak masalah kan?" tanya Ali kembali memastikan.
Aina yang baru sadar jika tadi ia melamun pun segera membuang jauh-jauh lamunan itu. Ia lalu mengembangkan senyumannya membuat Ali lalu mengulurkan tangannya untuk disalimi oleh Aina.
"Mas berangkat, ya. Assalamualaikum," tutur Ali yang langsung dibalas salam balik oleh Aina.
Setelah kepergian dari suaminya itu, Aina pun lantas menutup kembali pintu kamarnya.
Tatapan matanya pun kini menatap ke arah sekeliling kamarnya. Tampak beberapa pakaian dan juga tempat tidur mereka yang masih saja berantakan.
"Huft... haruskah aku membersihkan semua ini? Padahal sekarang sudah siang tapi tempat tidur masih juga belum dibersihkan. Kenapa hidupku sekarang berubah drastis seperti ini sih? Haruskah aku bersyukur atau justru menjadi kufur? Kata orang-orang memiliki suami seorang Ustadz itu adalah sebuah anugerah terbesar yang Allah berikan. Tapi, kalau ujung-ujungnya harus kayak gini. Kayaknya sulit buat bilang bersyukur. Kenapa aku gak bisa pergi jalan-jalan aja sih! Kenapa harus mengurus rumah terus. Kan capek," keluh Aina seraya menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
Dengan gerakan yang malas, Aina pun merangkak menuju tempat tidurnya. Mulai membersihkan tempat tidurnya dengan Ali itu hingga sekarang benar-benar telah terlihat rapi.
Meski memang dulu Aina jarang membersihkan kamarnya, namun tentu Aina masih memiliki skill untuk menangani kamar yang berantakan seperti sekarang.
Beberapa buku yang tampak tak tersusun rapi itu pun perlahan mulai Aina alihkan menuju tempatnya semula.
Menatanya dengan susunan yang serapi mungkin.
Tak terasa kini kamar Aina pun berhasil gadis itu sulap menjadi tempat baru yang lebih rapi dan lebih manusiawi.
Keringat yang bercucuran di kening Aina pun mulai diseka oleh gadis itu. Senyuman manisnya pun mengembang sempurna di wajahnya sekarang. Aina merasa senang dan sangat puas akan kinerjanya yang sudah membuat kamarnya menjadi lebih indah.
"Pasti Ayah sama Ibu bangga kalo lihat apa yang Aina kerjakan sekarang," gumam Aina pelan.
Ia lalu berniat untuk merehatkan tubuhnya sebentar pada sisi tepi tempat tidurnya. Namun, baru saja Aina akan mendaratkan tubuhnya, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan begitu keras hingga membuatnya terperanjat.
__ADS_1
"Oh.. ini yang kamu lakukan setelah anak saya pergi? Apa-apaan kamu ini! Istri macam apa yang tidak mengantarkan suaminya pergi untuk bekerja. Harusnya sebelum anak saya berangkat, kamu tungguin dia di depan sana. Masuk ke rumah lagi setelah suamimu itu sudah berangkat. Ini malah diam di kamar. Gak lakuin apa-apa! Nih! Cuci semua pakaian ini. Kerja! Jangan cuman diam!" bentak Bu Nur seraya menghempaskan satu keranjang pakaian kotor itu.
"Ya Allah! Kuatkan hatiku."