
“Ini Kak Arslan ke mana, sih! Lama sekali nggak keluar-keluar," keluh Aini saat menunggu kakaknya yang tak kunjung keluar dari rumah Imel, sementara Aina dan Zea hanya diam. Keduanya masih memikirkan apa yang akan mereka katakan pada kedua orang tuanya. Bagaimana jika mereka tahu apa yang dilakukannya hari ini.
"Kenapa kalian berdua diam saja? Apa kalian tidak khawatir dengan Kak Arslan?" tanya Aini sambil melihat ke arah saudara dan sepupunya.
"Bukannya kita nggak khawatir, tapi kita juga mengkhawatirkan bagaimana tanggapan mama dan papa nanti. Kita sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal," jawab Aina.
"Iya, aku tahu kita sudah membuat kesalahan, tapi setidaknya aku sudah lega karena bisa membantu Kak Arslan. Maafkan aku jika membawa kalian dalam masalah ini. Tidak seharusnya aku mengajak kamu untuk membantu Kak Arslan, terutama kamu Zea. Kamu yang tidak tahu apa-apa, malah ikut terseret juga. Aku hanya ingin membantu Kak Arslan sebagai saudara, tapi aku lupa tidak memikirkan bagaimana keadaan kalian," ucap Aini membuat Aina dan Zea merasa bersalah karena hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan bagaimana keadaan saudaranya.
Bagi Aini, membuat masalah bukan hal baru baginya. Dia sudah sering seperti itu meski kali ini yang lebih parah. Akan tetapi, gadis itu tidak pernah menyesali apa yang dilakukan hari ini. Semua Aini lakukan untuk saudaranya.
"Tidak, Aini, bukan begitu. Aku juga senang membantu Kak Arslan. Sudahlah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Apa pun nanti yang akan mama dan papa lakukan, kita hadapi sama-sama," ucap Aina.
"Iya, Aini. Aku juga nggak pa-pa, kok! Kalau memang nanti papa dan mama marah, tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa membantu kalian," timpal Zea.
Tidak berapa lama, akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Arslan berjalan dengan terburu-buru dan segera masuk ke dalam mobil. Hal itu tentu saja membuat keempat orang yang ada di mobil menjadi panik.
"Kenapa Kakak lari-lari? Apa ada sesuatu yang berbahaya?" tanya Aini yang tidak dipedulikan oleh Arslan. Pria itu segera menyalakan mobil dan melajukannya, mereka pun meninggalkan rumah tersebut.
"Ada apa, sih, Kak?" tanya Aini yang semakin penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Tadi Kakak pura-pura berkata pada Imel kalau ada sesuatu yang penting, jadi Kakak terburu-buru," jawab Arslan dengan santai, yang mendapat pukulan dari adiknya.
Gadis itu sudah sangat khawatir pada kakaknya nyatanya itu hanya pura-pura saja. Kalau tahu begitu dia tidak akan sekepo tadi. Apalagi detak jantungnya juga belum bisa normal dari tadi. Aini selalu khawatir sejak tadi.
“Aduh, Aini, sakit tahu!" seru Arslan sambil mengusap lengannya yang mendapat pukulan dari adiknya.
"Biarin saja, salah sendiri buat orang khawatir," sahut Aini tanpa memedulikan rintihan sang kakak.
Sementara itu, Aina dan Zea yang berada di belakang pun hanya terkekeh melihat Kedua saudara itu. Memang bukan hal yang baru karena mereka juga sering bertengkar. Bahkan untuk hal kecil sekalipun.
"Jadi, bagaimana, Kak? Apa semuanya aman? Imel tidak curiga, kan?" tanya Aina pada kakaknya.
__ADS_1
"Kakak juga tidak tahu, semoga saja tidak karena tadi, kakak sudah berusaha untuk tidak membuatnya curiga. Kakak juga tadi sudah berusaha mulai bersikap dingin agar bisa memutuskan dia nanti."
“Hati-hati, loh, Kak. Nanti malah nggak bisa lepas dari wanita itu ‘kan ngeri. Aku nggak mau punya ipar macam dia,” ucap Aini membuat Arslan menatapnya sejenak kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aku juga nggak mau punya istri seperti dia. Bagaimana DVD-nya? Dapat, kan?"
"Dapat, dong!"
Saat sedang berbincang, ponsel Arslan berdering, tertera nama Papa Ayman di sana. Dalam hati dia takut jika ini ada hubungannya dengan apa yang dilakukannya baru saja. Tidak ingin membuat papanya menunggu, pria itu pun segera mengangkatnya.
“Assalamualaikum,” ucap Arslan.
“Waalaikumsalam, segera pulang, ajak kedua adikmu dan Zea.” Hanif segera mematikan sambungan telepon.
Jantung Arslan berdetak lebih cepat. Seperti perkiraannya jika orang tuanya sudah mengetahui, apa yang dia lakukan bersama dengan si kembar dan Zea. Pasti saat ini Ayman sangat marah kaena dia melakukan kesalahan.
“Ada apa, Kak?” tanya Aina saat melihat Arslan terdiam setelah mendapat telepon.
Jawaban Arslan tentu saja membuat ketiga gadis itu terkejut. Mereka tidak menyangka jika Papa Ayman bisa mengetahui semuanya. Aina memejamkan matanya sejenak, papanya memang sangat hebat dalam mencari berita, tetapi dia tidak menyangka akan bisa secepat ini. Mereka bahkan belum sampai rumah.
“Kak, apa Papa Hanif juga tahu?” tanya Zea membuat ketiga orang itu terdiam sambil melihat ke arahnya.
“Kamu tenang saja, Kakak akan mengambil tanggung jawab kalian semua.”
Meskipun Arslan sudah berkata seperti, tetap saja kekhawatiran masih ada di hati mereka. Terutama Zea, tadi dia pamit ingin mengerjakan tugas bersama dengan si kembar, tetapi malah membuat masalah. Entah bagaimana nanti gadis itu akan menghadapi kedua orang tuanya dan sang kakak.
Mobil yang dikendarai Arslan akhirnya sampai juga di halaman rumah, terlihat mobil Ayman di sana. Ada juga mobil Hanif, mereka yakin jika semua orang sudah berkumpul.
“Ayo, turun!” ajak Arslan.
“Kak, di dalam ada Papa,” ucap Zea dengan takut.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, tadi sudah Kakak katakan kalau Kakak akan mengambil tanggung jawab pada kalian.”
Meskipun ragu, tetapi mereka tetap turun juga. Arslan berjalan lebih dulu, diikuti oleh ketiga gadis itu yang saling menggenggam telapak tangan. Begitu memasuki rumah, semua orang yang ada di ruang tamu memandangi mereka. Tentu saja hal itu semakin membuat suasana menjadi tegang.
“Dari mana saja kalian?” tanya Ayman dengan nada dingin.
Baru kali ini mereka mendengar papanya berbicara seperti pada anak-anaknya. Jika dengan orang lain, pasti sudah biasa, tetapi kali ini berbeda. Semua orang yakin jika Ayman benar-benar sudah sangat marah.
“Papa pasti sudah tahu tanpa kami jelaskan,” jawab Arslan dengan menundukkan kepalanya.
“Sudah berani kamu menentang Papa? Apa kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah kamu lakukan tadi? Aina, Aini, apa kalian tahu kesalahan yang kalian buat?”
“Pa, mereka tidak salah. Jika Papa ingin memberi hukuman, hukum aku saja,” sela Arslan yang tidak ingin adiknya kenapa-napa.
“Saat tadi kamu menyuruh adikmu untuk melakukan tindak kriminal, apa kamu memikirkan akibatnya? Kenapa baru sekarang kamu memikirkan mereka? Tadi pikiranmu ke mana?”
Arslan menundukkan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa. Benar apa yang dikatakan papanya. Seharusnya dia tidak melibatkan adik-adiknya dalam hal ini. Apalagi sampai membawa Zea bersamanya. Mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada hubungannya dengan masalahnya.
“Pa, kami juga bersalah karena terlibat dalam masalah ini. Kalau Papa mau menghukum kami, kami siap menerimanya bersama-sama, tapi jangan Zea, dia tidak bersalah,” sela Aina.
“Iya, Pa. Kami akan menerima hukuman ini sama-sama,” timpal Aini.
“Tidak, Om. Aku juga salah, aku siap menerima hukuman,” sahut Zea membuat Kinan menatapnya dengan menggelengkan kepala. Sebagai seorang ibu, dia tidak rela jika putrinya dihukum meski Zea telah melakukan kesalahan.
“Apa kalian tidak menyesal sudah melakukan kesalahan?” tanya Ayman dengan memandangi anaknya satu persatu.
“Tidak, Pa. Kami hanya ingin membantu Kak Arslan, kalau memang apa yang kami lakukan itu salah, kami minta maaf. Jika waktu diputar kembali pun kami tetap akan melakukan kesalahan itu,” sahut Aina dengan yakin, tanpa peduli apa yang aan dilakukan Ayman nanti.
.
.
__ADS_1