
“Kamu hari ini nggak kuliah, Kin?” tanya Mama Aida, di sela kegiatan mereka membersihkan ruang makan.
“Iya, Ma. Sebentar lagi aku juga akan berangkat. Ini tinggal dikit,” jawab Kinan sambil menunjukkan pekerjaannya.
“Sebaiknya kamu tinggalkan saja pekerjaannya, biar Mama yang selesaikan, nanti kamu malah terlambat.”
“Nggak, Ma. Masih ada waktu.”
Mama Aida memperhatikan menantunya dan berkata, “Kalau berangkat jangan di jam mepet, siapa tahu di jalan macet. Nanti kamu malah kerepotan.”
“Insya Allah nggak, Ma. Kelasnya masih lama, kok,” sahut Kinan yang saat ini sedang mencuci piring.
Setelah kegiatannya selesai, wanita itu pamit pada mertuanya untuk segera pergi ke kampus. Dia menggunakan mobilnya sendiri. Selama perjalanan, suasana terasa begitu sunyi, Kinan pun memutar musik yang ada di radio. Hingga tidak terasa dirinya sampai juga di kampus.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil juga terparkir di samping mobil Kinan. Wanita itu sangat tahu siapa pemilik mobil tersebut karena dirinya, pernah ikut di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan Pak Frans. Yang membuat dia heran adalah kenapa dosen itu malah memarkirkan mobilnya di sini.
Kenapa tidak di deretan kendaraan dosen. Tidak mau memusingkan hal itu, Konan turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Dia tidak mau terlambat lagi karena dosennya juga sudah datang.
“Saya tidak menyangka, ternyata kamu benar-benar sudah menikah,” ucap seseorang yang membuat langkah Kinan terhenti.
Dia cukup terkejut karena dari tadi, wanita itu mencoba untuk menghindari dosennya dengan berjalan cepat. Apakah pria itu memang sengaja mengejarnya.
“Eh, Pak Frans. Bukankah dari awal saya sudah mengatakannya, kalau saya sudah menikah," ucap Kinan yang mencoba untuk berbicara sopan.
“Iya, saya tahu, tapi saat itu saya masih belum percaya, sampai akhirnya suami kamu yang mengatakannya kemarin. Saya penasaran, apa yang membuat kamu menerima dia sebagai suami kamu.”
Kinan heran dengan Frans. Selama ini semua mahasiswa menganggap pria itu dingin dan introvert. Entah dari sisi mana mereka menilai, nyatanya dosennya itu malah ikut campur dalam urusan pribadinya.
“Anda memang dosen dan pengajar saya, tetapi bukan berarti Anda bisa ikut campur dalam urusan pribadi saya, terutama dalam rumah tangga saya jadi, saya tidak ada kewajiban untuk menjawabnya. Terserah apa kata Anda mengenai pernikahan saya, yang jelas saya bahagia memiliki suami seperti Mas Hanif. Dia selalu berusaha membuat saya bahagia dan dia orang yang memiliki pendirian yang kuat.”
Frans merasa tertampar dengan apa yang dikatakan oleh Kinan. Memang benar seharusnya dia tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Akan tetapi, entah kenapa hatinya memberontak. Pria itu ingin tahu alasan mahasiswanya menerima pernikahan di usia yang masih begitu muda.
Kinan sebenarnya merasa tidak enak berbicara seperti itu, tetapi dia juga tidak mau dianggap sepele oleh orang lain. Terutama pria seperti Frans. Jika sekarang wanita itu menjawabnya, tidak menutup kemungkinan akan ada pertanyaan selanjutnya.
“Maaf bukan maksud saya untuk ikut campur. Saya hanya ingin tahu saja,” ucap Frans yang merasa tidak enak.
“Ingin tahu sama ikut campur, itu saya rasa artinya sama saja, Pak. Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi dulu. Assalamualaikum.” Kinan pergi dari sana begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari dosennya.
__ADS_1
Dia sendirinya benar-benar kesal dengan dosennya. Bukankah pria itu seorang pengajar, seharusnya mencontohkan yang baik pada mahasiswanya, tapi ini malah mengurusi hal yang bukan kewajibannya.
“Waalaikumsalam,” gumam Frans sambil menatap kepergian mahasiswanya itu.
Kinan terus saja melangkahkan kakinya. Dia tidak peduli apa yang saat ini Frans pikirkan karena sekarang. Gadis itu hanya ingin menjauhinya agar tidak terjadi fitnah atau tuduhan, yang akan menimbulkan masalah dalam rumah tangganya. Apalagi beberapa mahasiswa juga mengenal Hanif.
“Kin, buru-buru amat,” sapa Farah yang berjalan mendekatinya. Keduanya pun berjalan beriringan.
“Nggak juga, aku mau ke kelas. Kamu juga ada kelas pagi?”
“Agak siang, sih. Cuma memang sengaja datang pagi. Aku mau ke perpus, ada yang mau dicari.”
Kinan yang melihat dirinya akan sampai di kelas pun berpamitan pada temannya itu. “Aku duluan, ya, bentar lagi ada kelas, takutnya ketinggalan lagi. Nanti kena hukum.”
“Iya nggak pa-pa duluan saja. Aku juga mau ke perpus.”
Kinan pergi ke kelasnya, sementara Farah menuju perpustakaan. Istri dari Hanif itu tidak mau nanti terlambat dan akan mendapatkan hukuman. Terlalu malas jika harus berurusan dengan Frans. Begitu sampai di kelas, wanita itu duduk di samping Hira.
Temannya itu sangat rajin sekali. Bahkan Kinan sangat iri padanya yang tidak bosan membuka buku. Dirinya saja sudah pusing jika harus membuka bukunya.
“Sudah dari tadi?” tanya Kinan pada temannya itu.
“Kamu rajin sekali datang-datang langsung buka buku.”
“Daripada nggak ngapa-ngapain, kan? Lagi pula kamu tahu sendiri bagaimana Pak Frans, dia baru ngasih sedikit materi, sudah banyak sekali yang ditanyakan,” keluh Hira dengan menghela napas kasar.
“Iya juga, sih, tapi kamu jangan terlalu berlebihan juga belajarnya, nanti kamu malah sakit.”
“Kamu sih enak, punya suami dosen. Bisa minta ajarin di rumah.”
“Justru itu malah nggak enaknya.”
“Kenapa nggak enak?” tanya Hira yang penasaran. Tidak biasanya temannya ini membicarakan keluarganya.
“Nggak enaknya, nggak bisa romantis-romantisan. Mas Hanif kalau lagi ngajar kamu tahu sendiri bagaimana. Bisa-bisa ....”
Kinan menjeda kalimatnya yang memang disengaja menakut-nakut temannya. Hira tidak percaya begitu saja, dia menatap ke arah temannya dan melihat ternyata Kinan sedang menahan tawa.
__ADS_1
“Ah, kamu ini, aku lagi serius juga malah bercanda,” ucap Hira dengan cemberut dan kembali membaca bukunya, sementara Kinan mencoba meredakan tawanya.
Hira memang orang yang mudah percaya kepada siapa pun. Meski itu orang yang baru saja dia kenal. Wanita itu juga sudah memperingatkannya berapa kali, takutnya gadis itu dimanfaatkan oleh orang lain.
“Lagian kamu serius sekali, makanya aku ajak bercanda.”
HIra tidak lagi menyahut apa yang Kinan katakan. Gadis itu terus fokus pada bukunya, membuat sahabatnya menggelengkan kepala. Dia mengerti bagaimana perasaannya jadi, wanita itu pun tidak mengganggu lagi hingga kelas dimulai saat Frans sudah memasuki kelas.
Sepanjang pelajaran, Frans sering menanyakan beberapa pertanyaan pada mahasiswa. Namun, tidak sekalipun Kinan menjawab. Semuanya lebih banyak dijawab oleh temannya. Wanita itu tersenyum melihat Hira berhasil mempelajari semuanya.
Bukannya Kinan tidak mau menjawab, tetapi rasanya tidak adil karena dirinya sudah diajari lebih dulu oleh Hanif di rumah jadi, lebih baik dia tidak menjawab saja. Pasti teman-temannya juga ingin menjawab pertanyaan dari dosen.
"Kinan, kamu nggak mau jawab? Dari tadi diam terus, aku lihat kamu malah menjawabnya di dalam buku catatan," bisik Hira sambil memperhatikan apa yang Kinan tulis.
"Tidak apa-apa, kamu saja yang menjawabnya," jawab Kinan sambil tersenyum.
Hira tidak mengerti apa alasan temannya itu menolak untuk menjawab. Namun, dia tidak mau ambil pusing dan kembali fokus pada pelajarannya. Frans merasa cukup dengan materinya dan menutup kelas hari ini. Pria itu juga memperingatkan kepada mahasiswanya agar mempelajari, apa yang diajarkan karena sewaktu waktu dia bisa mengadakan kuis.
Beberapa mahasiswa mendesah karena Frans selalu saja seenaknya. Dosen itu pun meninggalkan kelas setelah mengucap salam. Gerutuan keluar dari mulut para mahasiswa.
"Tuh, kan, Kin, kamu lihat sendiri kalau Pak Frans itu selalu saja seenaknya, tapi entah kenapa auranya itu kok bikin aku nggak bisa berpaling, ya!" ucap Hira membuat Kinan menatap temannya itu.
"Jangan bilang kamu naksir sama Pak Frans."
Hira hanya memperlihatkan deretan giginya sebagai jawaban atas pertanyaan temannya. Kinan menepuk keningnya melihat itu.
"Semangat kalau gitu, aku pasti akan mendukung kamu." Kinan menepuk bahu temannya itu.
"Tapi kamu bantuin, ya."
"Ogah, aku nggak mau berurusan dengan laki-laki. Kalau kamu mau usaha, usaha sendiri saja. Saya dukung kamu dari belakang."
Hira masih mencoba untuk merayu Kinan. "Ya elah, kalau kamu bantu pasti hasilnya lebih maksimal lagi."
"Nggak mau, itu urusan kamu. Daripada aku harus mengorbankan rumah tanggaku, lebih baik aku dukung kamu dari jauh saja, oke!" Kinan mengangkat jempolnya sambil tersenyum ke arah Hira.
.
__ADS_1
.