
Hari-hari telah terlewati dengan damai. Sekarang akan dilangsungkan acara pengajian tujuh bulanan kehamilan Zayna. Semua persiapan sudah dilakukan seperti keinginan ibu hamil itu, keluarga hanya mengadakan acara di rumah saja. Tamu yang diundang pun hanya keluarga dan juga anak yatim.
Tadi siang Zayna sudah melewati acara adat, semuanya berjalan dengan lancar. Papa Rahmat dan Mama Savina sudah datang dua hari sebelum acara. Saat ini sedang berlangsung bacaan doa bersama untuk keselamatan ibu hamil dan calon bayi. Zayna merasa terharu dengan kehadiran anak-anak yatim yang datang ke rumah mereka.
Doa-doa dibacakan oleh seorang ustaz, bukan hanya untuk keselamatan bayi dan ibunya, juga keselamatan untuk seluruh keluarga. Semua mengaminkannya dengan khusyuk. Setelah selesai, Ayman mempersilakan semua tamu menikmati hidangan.
Tiba-tiba saja Zayna meneteskan air mata saat melihat anak-anak yatim yang tengah menikmati hidangan. Semua sudah disiapkan oleh seluruh keluarga dengan baik. Wanita itu merasa terharu, betapa beruntungnya dia masih memiliki orang tua.
Meski dulu Zayna tidak diperlakukan dengan baik, setidaknya wanita itu bisa merasakan dekat dengan orang tua, sedangkan mereka dari kecil mereka tinggal di panti asuhan. Tidak pernah tahu bagaimana rupa kedua orang tuanya. Entah mereka masih hidup atau sudah meninggal.
“Kenapa kamu menangis, Sayang?” tanya Ayman yang berada di samping Zayna.
“Aku hanya merasa terharu, melihat mereka yang begitu bahagia. Meski dalam hati pasti mereka juga merasa kesepian karena rindu akan kasih sayang orang tua,” jawab Zayna sambil melihat anak-anak itu.
“Kamu salah, Sayang. Meskipun mereka tidak memiliki orang tua, tapi masih ada orang yang bertanggung jawab atas mereka. Mereka juga masih bisa mendapatkan kasih sayang dari ibu panti dan pengasuh lainnya yang ada di sana. Aku yakin mereka juga pasti memberikan kasih sayang yang lebih pada mereka. Meskipun kasih sayangnya tidak akan bisa menggantikan orang tua, tapi aku yakin mereka sangat pandai bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup mereka.”
“Kamu benar, Mas. Justru mereka anak-anak yang mandiri dan pintar. Mereka juga tidak pernah menuntut hal-hal yang lebih. Apa pun yang mereka dapatkan selalu rasa syukur yang terucap. Andai saja semua orang bisa selalu bersyukur dengan apa pun yang didapat, pasti hidup ini akan tenang tanpa ada rasa iri dan dengki."
“Aku senang kamu mengadakan acara seperti ini. Aku harap anak kita kelak juga bisa memiliki hati yang lapang seperti kamu.”
“Amin, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.”
“Ya sudah. Yuk, kita makan! Kamu pasti lapar juga," ajak Ayman.
“Nanti saja, Mas. Aku tadi sudah makan sebelum acara dimulai. Aku masih mau bicara sama anak-anak. Aku juga ingin tahu bagaimana kehidupan mereka.”
“Baiklah, kamu ke sana saja. Aku mau bicara sama ibu panti, mau mengucapkan terima kasih karena sudah mau datang ke sini.”
Zayna mengangguk dan meninggalkan sang suami. Dia mendekati anak-anak dan mengajak mereka berbincang.
Sementara itu, di salah satu meja, Kinan juga memperhatikan anak-anak yang sedang menikmati hidangan. Mereka terlihat begitu bahagia sambil berbincang dengan teman-temannya.
__ADS_1
“Kamu lagi lihat apa, Sayang?” tanya Hanif.
“Lihat anak-anak itu, Mas. Mereka terlihat bahagia. Aku jadi ingin memiliki mereka.”
“Kamu ingin mengadopsi mereka?”
“Bukan, maksudku aku juga ingin seperti Kak Zayna. Aku ingin hamil dan menjadi seorang ibu. Kalau mengadopsi, aku takut nggak amanah.”
Hanif sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan istrinya. Selama ini dia mengira Kinan tidak ingin hamil dulu karena sang istri juga masih kuliah. Waktu diajak menikah saja wanita itu menolak, tapi sekarang dengan mudahnya mengatakan ingin hamil. Bukannya pria itu tidak senang, justru Hanif sangat senang mendengarnya. Hanya aneh saja.
“Kamu tidak menundanya, Sayang? Maksudku, kamu tidak ikut KB?” tanya Hanif lagi.
“Nggak, Mas. Aku kan nggak pernah bilang sama kamu kalau aku KB. Apa kamu nggak mau kalau punya anak dari aku?” tanya Kinan dengan mengerutkan keningnya.
“Bukan begitu, aku malah senang kalau kamu segera hamil. Aku kira kamu menundanya karena saat ini kan kamu kuliah. Malah aku juga bilang sama mama kalau kamu menunda lebih dulu karena masih ingin menyelesaikan kuliah.”
“Kamu nggak pernah nanya sama aku, Mas? Kenapa bilang sama mama seperti itu?”
“Aku juga nggak tahu, tiba-tiba berpikir seperti itu saja.” Hanif menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi merasa bersalah pada mamanya.
“Terus mama tanggapannya bagaimana?”
“Mama awalnya kecewa, tapi berusaha buat menerimanya. Dia ‘kan nggak mau memaksakan kehendaknya sama kita.”
“Kamu ini, Mas. Kenapa buat mama sedih? Tapi sampai saat ini, juga aku masih belum ada tanda-tanda hamil jadi, nggak apa-apalah.”
“Kita menikah baru satu bulan, Sayang. Masih banyak waktu.”
“Iya, ya sudah, ikuti air mengalir saja. Aku juga nggak mau terlalu menginginkan sesuatu, yang malah akan semakin membebani pikiranku.”
Hanif tersenyum dan berkata, “Iya, aku setuju sama kamu. Jika sudah saatnya, Tuhan pasti akan memberikan kita rezekinya, tapi sekuat apa pun kita berusaha jika belum saatnya, maka kita tidak akan mendapatkannya. Semuanya Tuhan yang menentukan. Asal jangan lupa berdoa saja.”
__ADS_1
“Itu sudah pasti.”
“Jadi kamu tidak menunda kehamilan kamu, Kinan?” tanya Mama Aida yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan anak dan menantunya tadi. Wanita itu duduk di samping menantunya dengan wajah berbinar.
“Sejak kapan Mama nguping pembicaraan orang?” tanya Hanif dengan nada tidak suka.
“Mama bukannya nguping, tadi Mama nggak sengaja lewat lalu dengar pembicaraan kalian,” kilah Mama Aida karena memang seperti itu awalnya.
“Nggak sengaja tapi diterusin juga. Itu sama saja namanya nguping. Kalau nggak sengaja cuman sepotong doang.”
“Terserah kamu saja. Mama Cuma mau nanya, tadi benar kamu nggak menunda kehamilan kamu?” tanya Mama Aida lagi, tanpa menghiraukan ucapan putranya.
“Iya, Ma. Dari awal aku juga tidak menundanya.”
“Syukurlah kalau begitu, berarti Mama masih ada kesempatan untuk secepatnya punya cucu. Mama akan sering berdoa agar kalian bisa secepatnya dikasih rezeki sama Tuhan."
"Amin."
Mama Aida terlihat begitu bahagia mendengar apa yang Kinan katakan. Selama ini dia menutupi kesedihan karena berpikir menantunya masih belum mau memiliki anak, ternyata itu salah. Kinan yang melihat senyum terpancar dari wajah mertuanya pun, juga ikut merasa bahagia. Selama satu bulan tinggal bersama Mama Aida, dia cukup mengerti dengan watak wanita itu.
Kinan juga selalu diperlakukan sangat baik oleh Mama Aida, seperti anaknya sendiri. Terkadang juga Mama Aida mengajaknya pergi belanja ataupun ke salon. Meski sebenarnya dia sangat tidak suka pergi ke salon, tetapi demi menyenangkan hati mertuanya wanita itu pun ikut saja.
Saat acara selesai, Zayna membagikan amplop pada anak-anak. Mama Aida pun tiba-tiba saja ikut membagikan amplop, yang entah sejak kapan wanita itu siapkan. Keluarga Ayman juga tidak keberatan karena itu rezeki anak-anak.
"Mama kok nggak bilang kalau mau ikutan kasih anak-anak amplop, Mas?" tanya Kinan.
"Aku juga nggak tahu, Sayang, tapi sepertinya itu sudah disiapkan Mama dari rumah. Nggak mungkin gara-gara dengar pembicaraan kita tadi, kan?"
"Iya, Mas, sepertinya juga udah disiapin dari rumah."
.
__ADS_1
.