
"Assalamualaikum," ucap Hanif saat memasuki rumah. Tampak Mama Aida dan Mama Aisyah ada di ruang tamu. Ada juga Bik Ira yang masih ada di sana.
"Waalaikumsalam. Kamu dari mana saja, sih, Hanif? Sudah tahu istrinya lagi sakit, malah pergi-pergi tidak tahu ke mana," tegur Mama Aida.
"Ada keperluan sebentar, Ma. Aku tadi habis dari kampus Kinan. Aku hanya ingin mengucapkan berterima kasih, sama orang yang sudah nyelamatin Kinan," jawab Hanif setelah duduk di sofa ruang tamu.
Dia hanya pergi sebentar, tapi sudah sangat lelah. Bukan hanya tubuh saja yang lelah, tetapi juga hatinya. Ke depannya pria itu berharap tidak akan ada lagi laki-laki yang mencintai Kinan. Cukup Frans saja jangan ada yang lain lagi.
"Iya, Mama sampai lupa sama orang itu. Seharusnya kita mengucapkan terima kasih sama dia karena sudah mau menolong Kinan," sahut Mama Aisyah yang baru sadar.
"Aku sudah mengucapkan terima kasih sama dia, Ma. Mama tidak perlu khawatir."
"Kamu tidak lupa memberi hadiah padanya, kan, Hanif?"
"Aku tidak memberinya hadiah, Ma. Aku hanya memberi kartu dan alamat perusahaan saja padanya. Biar nanti dia bisa bekerja di sana. Aku rasa itu lebih bermanfaat bagi dia, aku juga sudah menyelidiki keluarganya. Yang memang sangat membutuhkan banyak uang untuk kehidupan mereka."
Semua orang yang ada di ruang tamu mengangguk. Mereka kagum dengan pemikiran Hanif. Zaman sekarang memang sangat sulit untuk mencari pekerjaan dengan begitu mudah. Yang dilakukan Hanif lebih bermanfaat bagi orang yang menolong Kinan itu.
"Kinan sama Adam ada di mana, Ma?" tanya Hanif yang tidak melihat istrinya.
"Kinan ada di kamar. Tadi mama suruh istirahat, entah sekarang benar-benar istirahat atau tidak. Kalau Adam ada di taman samping, tadi katanya mau belajar naik sepeda," jawab Mama Aida.
"Sepeda? Siapa yang beliin?"
"Papa kamu kemarin."
Hanif mengangguk, dia memang belum sempat membelikan kebutuhan putranya. Kemarin rencananya pria itu akan pergi bersama dengan Kinan saat hari Minggu besok. Sekarang istrinya harus banyak istirahat, sudah pasti tidak bisa ke mana-mana.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu." Hanif pun berdiri dan berjalan menuju kamarnya, yang berada di dekat ruang tamu.
__ADS_1
Sementara itu, Bik Ira ingin berpamitan pada Mama Aisyah dan Mama Aida. Namun, majikannya lebih dulu mencegah. Wanita itu juga ingin pulang bersama jadi, dia memutuskan untuk memesan taksi terlebih dahulu. Bik Ira pun mengiyakan saja, lebih hemat juga untuknya.
Sementara itu, Hanif membuka pintu kamar dengan pelan, takut jika membangunkan sang istri yang mungkin sedang tertidur. Namun, perkiraannya salah. Ternyata wanita itu sedang memainkan ponselnya sambil tiduran.
Hanif membuang napas pelan. "Aku kira kamu tidur, makanya aku buka pintunya pelan. Ternyata lagi asyik dengan ponsel."
"Aku nggak bisa tidur, Mas. Dari kemarin suruh tidur melulu, aku 'kan jadi bosan. Lebih baik aku main ponsel saja. Kamu tadi dari mana? Kenapa lama sekali?”
"Tadi aku habis dari kampus, mau ngucapin terima kasih sama orang yang sudah menolong kamu," jawab Hanif yang tidak ingin berbohong. Tidak ada sesuatu yang memang harus ditutupi jadi, lebih baik terus terang saja.
"Memang siapa yang menolong aku, Mas? Saat itu aku sedang khawatir jadi, tidak begitu peduli dengan orang yang ada di sekitar. Entah siapa saja yang sudah menolongku."
Hanif berpikir sejenak, mengingat nama pria yang sudah menolong istrinya. "Kalau nggak salah namanya Ari.”
Kinan mengangguk. “Aku sudah bisa tebak, kalau kamu pasti memberi hadiah padanya. Pasti hadiahnya juga nggak main-main, berapa banyak yang kamu keluarkan?" tanya Kinan sambil menatap sang suami.
"Tidak, aku tidak mengeluarkan satu rupiah pun."
"Aku nggak bohong, Sayang. Memang kenyataannya seperti itu. Aku tadi hanya memberinya kartu nama. Aku minta sama dia agar nanti saat dia lulus kuliah, dia bisa datang ke perusahaan dan aku janji akan memberinya pekerjaan. Itu saja, tidak ada yang lain. Aku yakin dia lebih membutuhkan itu."
Awalnya tadi memang Hanif ingin memberinya uang saja. Akan tetapi, dia merasa itu akan habis dalam sekejap saja, sedangkan Ari sudah menyelamatkan dua nyawa, orang yang begitu berharga baginya. Karena itu, Hanif memberinya pekerjaan agar bisa membantu Ari, selama pria itu mau berusaha.
Kinan tidak menyangka dengan pemikiran sang suami. Dia bahkan tidak pernah berpikir ke arah sana. Dilihat dari pekerjaan yang diberikan oleh Hanif pada penolongnya, pasti tidak main-main. Itu memang lebih berharga daripada harus memberi hadiah sekarang.
"Apa kamu yakin dengan kemampuannya, Mas? Kamu bahkan belum tahu, seberapa jauh kehebatannya, tapi kamu sudah memberinya pekerjaan secara cuma-cuma. Apa kamu tidak takut kalau dia hanya memanfaatkan kamu?" tanya Kinan dengan menatap sang suami.
Zaman sekarang sangat sulit untuk mencari orang yang bisa dipercaya. Apalagi orang yang baru dikenal seperti Ari itu. Kinan saja baru tahu nama itu. Entah bagaimana bentuk dan rupanya, bisa dipercaya atau tidak.
"Aku percaya sama dia, Sayang. Sebelum aku memberinya hadiah, aku juga sudah pasti mencari tahu tentang kepribadian dan keluarganya. Mereka orang-orang baik dan bertanggung jawab, begitu juga dengan Ari. Dia bukan orang yang suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Mudah-mudahan selamanya juga seperti itu."
__ADS_1
Hanif mengusap rambut Kinan, seolah tahu apa yang istrinya pikirkan. Wanita itu hanya mengangguk, dia melupakan kehebatan sang suami. Padahal dirinya sudah terbiasa dengan dikelilingi orang-orang seperti Hanif, tetapi tetap saja dia merasa berbeda dengan pemikiran mereka.
"Kalau mengenal Felly dan Niko bagaimana, Mas?" tanya Kinan lagi. Kalau mereka sudah dipastikan ada sesuatu yang buruk. Wanita itu menahan napas, berharap jawaban sang suami tidak terlalu menyakitkan.
"Kamu sudah pasti tahu jawabannya, kan, Sayang. Jadi tidak perlu bertanya lagi."
"Aku mana tahu apa yang terjadi pada mereka, kalau kamu tidak menjawab, Mas. Memang kamu memberi hukuman apa pada mereka?" tanya Kinan lagi. Dia masih penasaran, kira-kira apa yang dilakukan sang suami pada kedua orang itu.
"Kalau untuk Niko, pihak kampus hanya memberi hukuman saja. Aku tidak tahu hukuman seperti apa. Kalau untuk Felly, sudah pasti dia dikeluarkan dari kampus. Ini bukan karena kejahatan yang dilakukan terhadap kamu saja, tetapi terhadap beberapa mahasiswa yang lainnya juga. Mereka tidak tahan dengan apa yang dilakukan oleh Felly selama ini. Saat aku melapor, mereka ikut mendukungku dan memberi pengakuan. Pihak kampus sempat terkejut karena mereka juga tidak pernah tahu."
"Pengakuan apa, Mas?"
"Mereka bilang jika Felly sering membully mereka. Bahkan di antara mereka juga dimintai uang dan juga membayar belanjaan wanita itu. Pihak kampus sangat menyayangkan, selama ini tidak ada yang berani melapor."
Kinan tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Dia memang tidak mengenal siapa itu Felly. Bahkan melihatnya pun hanya saat wanita itu dekat dengan Niko, selebihnya dia tidak tahu apa pun. Akan tetapi, bukankah Felly anak orang kaya. Kenapa malah memalak mahasiswa di kampus.
"Kamu tadi sudah minum obat?" tanya Ayman yang ingin mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin istrinya terlalu banyak berpikir. Urusan Kinan dan Felly sudah selesai, barlah selebihnya menjadi urusan kampus.
"Sudah, Mas. Tadi mama-mama yang bantu, mereka juga yang menyiapkan semuanya itu, di atas meja. Padahal aku juga bisa ambil sendiri," jawab Kinan sambil menunjuk ke arah meja di samping ranjang. Di mana segala perlengkapan ada di sana.
"Mereka itu khawatir sama kamu, Sayang. Sebaiknya mulai sekarang kamu jangan terlalu banyak bergerak. Benar apa yang dikatakan Mama Aisyah dan Mama Aida, ini semua demi kebaikan kamu dan calon anak kita," ucap Hanif sambil mengusap perut datar istrinya.
Ini pertama kali pria itu mengusap perut Kinan, sejak dokter mengatakan jika sang istri tengah hamil. Ada perasaan haru dan bahagia yang hadir dalam hatinya.
"Iya, Mas. Maksudku, nanti 'kan aku bisa menghubungi mereka dan meminta sesuatu. Kalau tidak sama mereka, sama Bik Isa juga nggak apa-apa. Aku nggak enak masa merepotkan para orang tua."
"Bagaimana kalau aku sewakan kamu seorang perawat. Biar bisa bantu kamu di rumah. Kamu juga bisa melakukan segala hal dan nggak merepotkan para orang tua. Seperti yang kamu bilang tadi, kalau ada perawat, dia bisa menjaga kesehatan dan juga pola makan kamu. Nanti kamu makannya juga nggak sembarangan lagi."
"Janganlah, Mas. Itu terlalu berlebihan, aku juga nggak suka ada orang asing di sekitar rumah. Meskipun dia seorang perawat, aku lebih nyaman terus melakukan semuanya sendiri jadi, berasa bebas. Untuk saat ini, biar Bik Isa saja yang membantu." Kinan memperlihatkan deretan giginya pada sang suami yang dibalas pelukan oleh Hanif.
__ADS_1
.
.