
“Aduh, Pak Rahmat, Bu Savina, maaf saya tidak tahu kalau Anda akan ke sini. Saya jadi pergi arisan dan baru pulang,” ucap Mama Aisyah yang merasa tidak enak pada besannya. Dia memang tidak tahu kedatangan kedua orang tua Zayna.
“Tidak apa-apa, Bu Aisyah. Saya malah yang tidak enak jika terlalu merepotkan Anda. Tidak memberitahu pun sudah dijamu sedemikian rupa,” sahut Mama Savina.
Saat ini mereka sedang menikmati makan siang. Mama Aisyah datang dengan membawa kue dari temannya tadi yang mengadakan arisan. Untung aja tadi dia menolak tawaran temannya untuk pergi belanja. Jika tidak mungkin akan semakin lama wanita itu pulangnya.
"Mama sudah makan siang? Kita makan siang sama-sama, yuk!” ajak Zayna yang baru saja menikmati makan siangnya.
"Kebetulan Mama menang belum makan siang." Mama Aisyah pun ikut duduk bersama dengan semuanya.
Mereka bersama-sama menikmati makan siang. Kali ini meja makan terlihat begitu ramai. Biasanya hanya sehingga berdua dengan Mama Aisyah, sekarang jadi berempat. Makanan yang terhidang pun cukup bervariasi karena Bik Ira memang sengaja memasaknya.
Sebelumnya Mama Aisyah memang selalu memasak lebih banyak dan berwarna jika ada tamu. Sudah menjadi kebiasaan di rumah itu juga. Zayna awalnya merasa tidak enak pada sang mertua. Dia berpikir jika kedatangan kedua orang tuanya sangat merepotkan Bik Ira. Namun, ternyata tidak, itu memang sudah terbiasa bagi mereka.
Setelah selesai makan siang, mereka masih tetap duduk di meja makan. Semua orang menikmati kue yang dibawa Mama Aisyah tadi dari rumah temannya. Tidak lupa juga beberapa makanan ringan yang sengaja Bik Ira siapkan. Mereka berbincang banyak hal, terutama tentang perkembangan Baby Ars.
Papa Rahmat dan Mama Savina begitu antusias mendengarkan semuanya. Ingin sekali mereka berada di sekitar cucunya saja agar bisa menghabiskan waktu masa tuanya. Namun, mereka tahu diri jadi tidak mau terlalu berharap. Bisa bertemu sesekali seperti ini saja sudah bersyukur.
"Pak Rahmat dan Bu Savina menginap di sini, kan?" tanya Mama Aisyah.
Papa rahmat dan Mama Savina saling pandang. Keduanya belum merencanakan hal itu. Kedatangan mereka juga serba dadakan, barang bawaan juga cuma sedikit. Tadi Papa Rahmat membawanya ke sini dan meletakkannya di lantai ruang keluarga. Mungkin tidak ada yang sadar dengan hal itu.
Zayna yang melihat keraguan pada diri Mama Savina dan Papa Rahmat pun segera menyela. Dia juga ingin kedua orang tuanya menginap di sini agar lebih banyak waktu untuk bersama. Setelah ini juga entah kapan mereka bisa bertemu lagi.
"Sebaiknya memang menginap di sini saja, Pa, Ma. Kalian juga jarang sekali ke sini, masa sekali ke sini tinggalnya jauh. Kalau kalian tidur di sini 'kan bisa meluangkan waktu juga sama Baby Ars," ucap Zayna mencoba membujuk kedua orang tuanya.
Papak Rahmat akhirnya mengangguk. Dia juga masih ingin menghabiskan waktunya di sini bersama dengan sang cucu, sebelum kembali ke kotanya nanti. Mama Savina pun mengikuti sang suami saja. Mereka di sini juga tidak akan lama jadi, lebih baik memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
"Nanti Bu Savina sama Pak Rahmat menginap di sini saja, sampai acara tujuh bulanan Baby Ars," usul Mama Aisyah.
__ADS_1
Pasti Zayna juga belum memberitahu mengenai acara itu pada orang tuanya. Itulah kenapa mereka datang ke sini sekarang. Jika sudah bilang, pasti mereka akan menunggu sampai acara itu tiba. Papa Rahmat dan Mama Savina juga pasti ingin datang ke acara tersebut.
"Memang acaranya kapan, Bu Aisyah? Zayna belum mengatakan apa pun," tanya Mama Savina yang memang tidak mengetahui acara tersebut.
"Kira-kira satu bulan lagi, Bu."
"Iya, Pa, Ma. Aku memang belum sempat memberi kabar. Mas Ayman juga masih berencana, belum tentu harinya kapan. Tadinya aku mau memberi kabar jika hatinya sudah benar-benar ditentukan.
"Aduh! Kalau satu bulan lagi itu terlalu lama, Bu Aisyah. Saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan saya selama itu. Meskipun hanya toko kecil, tapi alhamdulillah cukup untuk kehidupan kami," sahut Mama Savina. Dia juga pasti merasa tidak enak jika harus tinggal selama itu di rumah ini. Itu sama saja dirinya dan sang suami numpang hidup.
"Saya mengerti, Bu Savina. Saya juga tidak akan memaksa jika Anda tidak bisa datang. Kami hanya berharap doa yang terbaik saja untuk Baby Ars."
"Kalau mengenai itu, jangan ditanyakan lagi, Bu Aisyah. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk Baby Ars. Bagaimanapun, dia juga cucu kami."
Zayna pamit untuk menidurkan Baby Ars. Sekarang sudah saatnya bagi bayi itu untuk tidur. Mama Aisyah juga meminta Bik Ira untuk membersihkan kamar tamu agar besannya bisa beristirahat siang. Perjalanan mereka cukup jauh, pasti tubuhnya sudah lelah dan ingin istirahat.
Mama Aisyah selalu memperlakukan tamunya dengan sangat baik. Hal itu tentu saja membuat Mama Savina merasa tidak enak. Dia berusaha agar tidak merepotkan orang lain.
"Selamat pagi, Ma," sapa Adam saat memasuki kamar orang tuanya. Terlihat Kinan masih duduk dengan bersandar di atas ranjang.
"Selamat pagi, Sayang kamu bawa apa itu?" tanya Kinan saat melihat putranya membawa nampan, yang di atasnya ada satu mangkok dan segelas minuman. Dia yakin anak itu membawakan makanan untuknya.
Adam berjalan mendekati ranjang Kinan. "Tadi Bik Isa buatin Mama bubur jadi, aku bawa ke sini. Aku juga mau nemenin mama makan."
"Anak Mama pintar sekali, tapi Mama bisa ambil sendiri nanti kalau Mama lapar. Sebaiknya sekarang kamu sarapan dulu, biar kamu nggak sakit."
"Nanti juga nggak pa-pa, Ma. Sekarang aku mau temenin Mama dulu," sahut Adam.
Akhirnya Kinan pun mengambil apa yang dibawakan oleh putranya. Wanita itu tidak ingin mengecewakan sang putra. Pasti anak itu sudah begitu semangat tadi saat membawanya. Dia juga senang jika Adam peduli kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Adam begitu senang, saat Kinan menikmati makanan yang dia bawa. Meski bukan dia yang membuat, tetapi melihat nafsu makan mamanya yang bertambah, cukup membuat anak itu tersenyum. Adam ingin Kinan cepat sembuh dan bisa seperti sebelumnya.
Hanif yang baru saja keluar dari kamar mandi, terkejut saat mendapati Adam di sana. Dilihatnya Kinan sedang menikmati semangkuk bubur. Pasti anaknya itu yang tadi membawakan untuk sang istri. Betapa senangnya dia memiliki Adam, setidaknya ada yang membantu Kinan dan menemaninya sebelum anak itu mendaftar ke sekolah.
"Kamu cuma bawain makanan buat Mama? Buat Papa nggak dibawain?" tanya Hanif dengan pura-pura kesal.
"Papa 'kan sehat, bisa ambil sendiri. Aku juga nggak bisa bawa makanan terlalu banyak. Jadinya cuma buat Mama saja," kilah Adam, dengan apa adanya.
"Ah, Papa jadi sedih, nggak ada yang sayang sama Papa," ucap Hanif dengan sedih yang dibuat-buat.
"Kalau begitu, tunggu sebentar biar aku ambilin makanan buat Papa." Adam akan beranjak dari sana. Namun, Hanif lebih dulu mencegahnya.
"Sayang, Papa tadi cuma bercanda. Papa nanti bisa ambil sendiri," sahut Hanif yang memang hanya ingin menggoda anaknya.
"Kamu, Mas. Sudah tahu dia masih polos, masih belum bisa diajak bercanda. Pakai digoda segala."
"Aku hanya tidak ingin suasana terlalu tegang saja. Makanya aku bilang seperti itu.
Oh ya, Adam, mengenai surat-surat kamu, sudah diurus sama pengacara. Kamu ada permintaan khusus nggak mau sekolah di sekolah mana? Apa kamu punya keinginan khusus untuk sekolah kamu nanti? Mungkin kegiatan ekstrakulirnya?"
Sebelumnya tidak ada pembicaraan seperti ini. Tentu saja Adam terkejut, dia tidak pernah membayangkan akan sekolah lagi. Keberadaannya di rumah ini saja sudah sangat membuatnya bersyukur. Apalagi sekarang mereka ingin memberikan pendidikan yang layak untuknya. Sungguh anak itu dibuat terharu sekaligus bahagia.
"Aku terserah Papa dan Mama saja. Apa pun pilihannya, aku akan ikut. Aku yakin jika itu memang sudah yang terbaik."
"Memang kamu tidak memiliki cita-cita? Sampai mengikuti apa yang Papa dan Mama katakan. Pasti ada sesuatu yang ingin kamu raih, kan?" tanya Kinan sambil menatap putranya.
"Aku hanya ingin menjadi pengusaha yang hebat agar bisa membuktikan pada mereka. Jika aku juga bisa menjadi orang hebat, yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya."
Hanif dan Kinan sangat tahu siapa yang dimaksud 'mereka' oleh Adam. Siapa pun pasti akan melakukan seperti yang dilakukan anak itu. Pasangan suami istri itu pun tidak melarang apa yang dilakukan putranya. Selama itu masih di jalur yang benar.
__ADS_1
.
.