Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
83. Marah


__ADS_3

Saat makan malam, Zayna masih diam. Ayman tahu jika sang istri sedang marah. Namun, dia tidak mungkin menuruti keinginan istrinya. Pria itu yakin nanti juga Zayna akan balik lagi karena biasanya wanita itu tidak pernah marah.


"Aku sudah selesai. Aku ke kamar dulu," pamit Zayna tanpa menunggu jawaban dari semua orang.


Mama Aisyah mengerutkan kening, tidak biasanya Zayna seperti itu. Menantunya akan menghabiskan makanan dan menunggu semua orang selesai, baru membereskan meja makan. Dia yakin pasti terjadi sesuatu pada Zayna.


"Kamu sedang marahan sama Zayna?" tanya Mama Aisyah pada Ayman.


"Tidak, Ma. Mungkin dia sedang lelah saja, tadi seharian keliling mall," jawab Ayman berbohong. Mama Aisyah mengangguk karena Kinan juga tadi mengeluh tubuhnya lelah.


"Pastilah capek, biasanya Kak Zayna duduk di kamar, ini malah seharian keliling mall. Aku aja yang sudah kebiasaan jalan-jalan di mall merasa capek, apalagi kak Zayna," keluh Kinan.


"Memang kalian cari apa saja, seharian di mall?" tanya Mama Aisyah.


"Nggak tahu tuh Kak Zayna. Katanya demi nyari kaos buat Kak Ayman. Kaos yang warnanya kuning, itu dia rela keliling-keliling sampai bisa nemuin baju buat Papa, Mama, sama aku juga."


"Lagian kenapa sih pakai beli baju kuning segala. Kamu 'kan tahu kalau Kakak nggak suka," sela Ayman.


"Walaupun kamu nggak suka, tapi istri kamu yang menginginkannya. Ya, setidaknya hargai dia jangan sampai membuat dia sedih. Apalagi dia sampai rela berkeliling mencari untukmu," ucap Papa Hadi membuat Ayman merasa bersalah karena tadi, secara tidak sengaja dia pasti sudah menyakiti hati istrinya. Pria itu berdoa semoga saja Zayna tidak sakit hati atas penolakan yang wanita itu lakukan.


Setelah selesai makan malam, Ayman masuk ke dalam kamarnya. Dilihat sang istri sudah tertidur di ranjang dengan membelakangi pintu. Entah benar-benar tidur atau hanya pura-pura. Dia masih enggan menuruti keinginan istrinya, nanti juga kembali baik lagi.


Pria itu memilih duduk di sofa dan membuka laptopnya. Dia ingin memeriksa beberapa pekerjaan yang belum selesai. Sedangkan Zayna semakin kesal karena sang suami lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya. Namun, wanita itu tidak bangun, dia masih asik dengan berpura-pura tertidur. Hingga akhirnya benar-benar tertidur.


Pagi hari, Bik Ira masak seorang diri karena Maysa enggan masuk dapur. Wanita paruh baya itu merasa aneh saat Zayna mengatakan jika dirinya malas untuk pergi ke dapur. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena wanita itu menantu di rumah ini.


Zayna memilih jalan-jalan di sekitar komplek. di tengah jalan dia bertemu dengan seorang laki-laki yang juga sedang berolahraga. Mereka berbincang sejenak sambil sesekali tertawa. Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekal pergelangan tangan wanita itu cukup keras, hingga membuat Zayna sedikit meringis.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja, sih! Ayo, kita pulang!" ajak Ayman, lalu menarik tangan istrinya begitu saja.


Pria itu kesal karena melihat Zayna tersenyum pada pria lain, padahal ini masih pagi. Biasanya wanita itu akan sibuk di dapur, tetapi tadi saat dia bangun mencari istrinya, ternyata tidak ada di rumah. Pemandangan yang dilihat sungguh membuatnya kesal. Dia tidak rela melihat Zayna seperti itu dengan pria lain.


"Mas, sakit!" rintih Zayna yang membuat Ayman sadar jika dirinya sudah menyakiti istrinya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja," ucap Ayman yang kemudian melepaskan cekalannya.


Zayna mengusap bekas cekalan sang suami. Dia berjalan meninggalkan Ayman dengan hati yang benar-benar kesal karena kejadian hari ini. Akan tetapi, wanita itu lebih marah mengenai kejadian semalam saat pria itu menolak memakai baju pilihannya. Entah kenapa dia sangat ingin melihat sang suami memakai baju itu.


"Sayang, aku 'kan sudah minta maaf. Aku tadi nggak sengaja," ucap Ayman sambil mengikuti langkah sang istri yang begitu cepat.


"Lupakan saja, Aku tidak marah," sahut Zayna dengan ketus.


"Tidak marah, tapi bicaranya seperti itu," gumam Ayman pelan. Sampai di rumah, Zayna langsung masuk kamar dan membersihkan diri. Ayman masih mengikuti sang istri, dia masih belum puas jika wanita itu belum memaafkannya.


"Sebaiknya, Mas, mandi dulu! Semua orang sudah menunggu untuk sarapan," perintah Zayna dengan wajah datar.


Mau tidak mau Ayman pun masuk ke kamar mandi. Entahlah kenapa dia merasa akhir-akhir ini, istrinya menjadi orang lain. Kemarin belanja segitu banyak, habis itu Zayna memintanya memakai baju kuning. Sekarang pun wanita itu marah karena sang suami tanpa sengaja menyakitinya. Padahal dulu dia orang yang sangat baik dan memaafkan apa pun kesalahan orang yang ada di sekelilingnya.


****


Selama berada di kantor Ayman tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Pikirannya masih tertuju pada sang istri yang berada di rumah. Puluhan pesan yang dia kirim pun tidak dibalas oleh wanita itu, bahkan dibaca pun tidak. Tadi pria itu menghubungi Bik Ira dan wanita paruh baya itu mengatakan jika ...


"Pak Ayman!" panggil Ilham. Namun, yang dipanggil masih asyik dengan lamunannya hingga membuat pria itu menepuk bahu atasannya itu.


"Aada apa?" tanya Zayna gelagapan.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya dari tadi manggil Anda. Saya mau mengambil dokumen yang sudah bapak tanda tangannya. Saya mau memeriksanya kembali."


"Duduklah dulu, Ham. Aku ingin bertanya sesuatu," ujar Ayman dengan wajah lesunya.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ilham begitu duduk di kursi depan Ayman.


"Istri saya dari kemarin marah-marah terus. Kira-kira apa ya yang bisa membuat para wanita bahagia dan melupakan masalahnya."


"Memangnya Ibu marah-marah kenapa, Pak?"


"Saya juga kurang tahu karena hormon mungkin. Biasanya di tanggal segini dia datang bulan."


"Mungkin bapak bisa membuat apa yang diinginkan Ibu terkabul. Saya hanya berpikir jika ada keinginan yang belum terpenuhi, pasti itu bisa membuat istri Anda bahagia."


"Keinginan apa?"


"Saya mana tahu keinginan istri Anda."


Ayman memikirkan, kira-kira apa keinginan Zayna yang belum terpenuhi dan tiba-tiba saja pikirannya berhenti pada kejadian tadi malam. Seketika pria itu menggeleng, tidak mungkin dia harus memakai kaos warna kuning itu. Ayman benar-benar tidak menyukainya. Namun, jika diingat bagaimana ekspresi istrinya saat itu, dia akui bahwa sang istri sangat kecewa.


Padahal Zayna sudah berkeliling untuk mencari kaos untuknya. Akan tetapi, dia begitu tega mencampakkan pemberian sang istri begitu saja. Ayman menghela napas panjang sepertinya kali ini pria itu harus benar-benar mengalah pada istrinya.


"Kamu kembalilah bekerja. Terima kasih sudah mau mendengarkanku," ucap Ayman sambil menyerahkan dokumen pada Ilham.


.


.

__ADS_1


__ADS_2