
“Assalamualaikum,” ucap Kinan yang kemudian merebahkan tubuhnya di ruang tamu. Rumah tampak sepi, semua orang ada di belakang. Mama Aisyah yang mendengar suara putrinya pun segera keluar.
“Waalaikumsalam, kenapa kamu malah tidur di sini? Sana, masuk kamar! Anak gadis kenapa pemalas sekali,” gerutu Mama Aisyah.
“Capek, Ma," jawab Kinan dengan menutup matanya.
Mama Aisyah duduk di samping Kinan dan mengusap kepala anak gadisnya. “Tadi Tante Aida telepon. Dia bilang nanti malam keluarganya akan datang dan besok acara pertunangan kamu dan Hanif.”
Kinan yang terkejut pun segera bangun dari tidurnya. Mata yang tadinya sangat mengantuk pun sekarang terbuka lebar. “Kok, aku nggak tahu! Nggak ada yang bilang sama aku. Pak Hanif juga nggak bilang apa-apa tadi!”
“Mungkin belum sempat, Sayang. Lagian di kampus ngapain bahas pertunangan kalian. Yang ada nanti jadi masalah.”
Benar apa yang dikatakan Mama Aisyah. Tidak membahas saja sudah masalah, apalagi mereka membahasnya, bisa-bisa gempar seisi kampus. Mengingat kedatangan orang tua Hanif, apakah Kinan siap untuk menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria?
Meskipun Hanif mengatakan jika pria itu rela melepaskannya suatu saat nanti, tetapi Kinan tidak mungkin melakukannya. Dia bukanlah orang yang suka mempermainkan sebuah hubungan. Kini saatnya gadis itu membuka hati dan berkomitmen.
Bukankah orang bilang lebih baik dicintai daripada mencintai? Seperti kakak iparnya yang sama sekali tidak mengenal kakaknya. Sekarang mereka hidup bahagia dan saling mencintai. Kinan juga ingin seperti itu. Hidup bahagia bersama keluarga yang dia bangun.
Hanif juga pria yang baik, rajin beribadah. Dia tidak pernah mendengar kedekatan pria itu dengan seorang wanita, kecuali dosen wanita yang pernah menegurnya itu. Namun, sepertinya mereka tidak memiliki hubungan.
Cinta atau tidak, tujuannya hanya satu, yaitu bahagia. Dia yakin keinginannya akan terwujud dengan restu orangtua dan keluarga. Kinan menyandarkan kepalanya di bahu sang mama, wanita yang selalu ada untuknya tanpa syarat.
“Ma, boleh aku bertanya?” tanya Kinan.
“Tanya apa?”
“Kenapa Mama menerima Pak Hanif begitu saja. Padahal saat Kak Ayman memilih Kak Zayna, Mama mengujinya lebih dulu.”
“Karena Mama mengenal Hanif dan keluarganya, sedangkan Zayna, Mama sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan bertemu pun tidak. Bagaimana bisa Mama percaya begitu saja. Apalagi Kakak kamu itu sering bepergian ke berbagai tempat, bertemu dengan banyak orang. Mama hanya takut kakakmu salah pilih. Untungnya pilihannya tepat.”
"Kak Zayna, kan, tinggalnya di luar kota."
"Jika mengingat hal itu, Mama jadi merasa bersalah padanya. Mama bersyukur kakak iparmu orang yang tidak mudah menyerah. Jika orang lain pasti sudah kabur duluan."
"Ya iyalah, siapa juga yang mau sama pria yang miskin seperti Kakak. Aku juga nggak mau."
"Kalau gitu, kamu nggak masuk kriteria menantu Mama."
__ADS_1
"Ya, itu karena aku anak Mama."
Kedua wanita itu sama-sama tertawa. Kinan juga ingin tahu bagaimana kakak iparnya bisa menerima kakaknya, padahal saat itu Zayna juga tidak merasa kenal dengan Ayman. Gadis itu harus berbincang dengan kakak iparnya untuk belajar banyak hal.
Mama Aisyah yang melihat putrinya melamun segera menegurnya. “Jangan terlalu banyak berpikir. Jika kamu ragu, mintalah petunjuk pada Tuhan. Insya Allah tidak ada keraguan dalam hatimu.”
Kinan mengangguk dan berkata, “Iya, Ma. Aku ke kamar dulu, mau mandi.”
Kinan pun pergi menuju kamarnya. Dia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sedangkan Mama Aisyah kembali pada aktifitasnya.
****
Hanif baru pulang dari kampus. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya, tetapi Mama Aida datang. Wanita itu ingin memberi kabar pada putranya.
“Tadi Mama sudah hubungi Tante Aisyah dan bilang kalau malam ini kita ke sana buat diskusi acara pertunangan besok. Kamu sudah siap, kan?” tanya Mama Aida pada Hanif.
“Insya Allah, Ma.”
“Coba Mama lihat cincinnya seperti apa? Cantik, nggak?” tanya Mama Aida sambil menadahkan tangannya.
“Hah ... pake cincin, Ma?” tanya Hanif dengan wajah panik.
“Ya ampun, Ma. Aku lupa! Aku nggak sampai kepikiran ke arah sana.”
Mama Aida memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pening. Punya anak satu, tapi suka membuat pusing. Salah dia juga sih, kenapa tidak memeriksanya sendiri.
“Astaghfirullahaladzim, kamu yang pengen tunangan. Memang kamu pikir tunangan itu nggak pakai cincin! Ya ampun! Kenapa aku bisa punya anak seperti kamu? Besok pakai apa? Mama sudah bilang nanti malam datang untuk membahas pertunangan besok. Sekarang kamu belum siap apa pun. Ya sudah, kalau begitu diundur saja. Nanti biar Mama telepon Tante Aisyah buat bilang kalau kita nggak jadi datang nanti malam.”
“Jangan, Ma. Masa diundur! Biar aku yang pergi cari cincin sekarang,” ucap Hanif yang segera beranjak dari duduknya.
“Nanti kamu belinya asal lagi.”
“Nggak akan, aku pasti pilihin yang paling bagus. Sudah, Mama tunggu saja. Aku mau pergi sebentar,” ucap Hanif yang segera berlalu meninggalkan mamanya.
Dia akan mencari cincin untuk Kinan. Memang ini pertama kalinya pria itu membeli perhiasan, tetapi Hanif yakin dengan pilihannya. Pasti tidak akan mengecewakan. Mudah-mudahan Kinan suka.
Dalam perjalanan, ponsel Hanif berdering. Tertera nama Mama Aida di sana. Pasti wanita itu khawatir pada putranya. Seorang ibu memang terkadang selalu berlebihan, tetapi Hanif tahu jika sang mama memang benar-benar menyayanginya.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Ma. Ada apa?”
“Waalaikumsalam, memang kamu tahu ukuran jari manis Kinan?” tanya Mama Aida yang berada di seberang telepon.
“Tidak tahu, Ma.”
“Terus gimana kamu milihnya? Nanti kalau nggak pas bagaimana?”
“Gampang lah, Ma. Nanti aku akan cari wanita di sana yang jarinya sama seperti Kinan.”
“Mana boleh begitu, kamu ukur jari kelingking kamu saja. Semoga nanti pas sama jari manis Kinan. Mudah-mudahan saja semuanya nggak berantakan gara-gara kecerobohan kamu itu. Minta segera tunangan, tapi nggak ada persiapan apa pun,” gerutu Mama Aida.
“Iya, Ma. Maaf, namanya juga baru pertama kali.”
“Ini memang yang pertama dan yang terakhir. Awas, kalau kamu macam-macam mau dua kali!”
“Aduh, salah ngomong. Iya, Ma,” sahut Hanif dengan sedikit meringis.
“Ya sudah, kalau begitu Mama tutup dulu. Kalau kamu nanti nggak bisa milih cincinnya, hubungi Mama, biar Mama yang pilih cincinnya.”
“Iya, Ma. Mama percaya, dong, sama aku.”
“Bagaimana Mama bisa percaya sama kamu, kalau pekerjaan kamu tidak beres seperti ini.”
“Baru juga satu kali, Ma.”
“Satu kali, tapi itu hal yang paling penting.”
“Iya, Ma. Ya sudah, aku lagi nyetir. Nanti aku hubungi lagi.”
“Iya, hati-hati, jangan ngebut. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Anak ini benar-benar. Apa ini karena dia yang nggak pernah dekat sama wanita, sampai hal sepenting ini pun dia tidak tahu. Padahal aku juga tidak pernah melarang dia pacaran,” gerutu Mama Aida setelah mematikan ponselnya.
.
__ADS_1
.