Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
55. Di rumah papa


__ADS_3

"Sayang, besok aku akan ke kantor. Kamu mau ikut?" tanya Ayman pada istrinya.


Ini sudah hampir tengah malam, tetapi keduanya belum juga tertidur. Ayman masih mempersiapkan beberapa laporan di laptopnya untuk bekerja besok. Sedangkan Zayna menemani suaminya karena dia juga belum ngantuk.


"Tidak, Mas. Aku di rumah saja," jawab Zayna sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Aku khawatir kalau kamu di rumah sendiri. Mereka pasti akan memaksamu mengerjakan pekerjaan rumah."


"Mas tenang saja. Kalau memang seperti itu, aku tidak masalah. Aku juga sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Mas, jangan terlalu mengkhawatirkanku. Fokus saja dengan pekerjaan agar tidak melakukan kesalahan."


"Iya, aku tahu kalau istriku ini wanita hebat. Kamu harus tanamkan satu hal dalam dirimu. Sekarang kamu sudah menjadi istriku, kamu tanggung jawabku bukan lagi tanggung jawab mereka jadi, jangan pernah merasa rendah diri pada mereka."


Zayna menganggukkan kepala dan tersenyum. "Aku tidak menyangka tukang ojek yang aku nikahi, bisa membuatku sebahagia ini."


Ayman tertawa dibuatnya. Dia jadi mengingat saat pertama kali memberikan nafkah pertamanya yang justru membuat Zayna kebingungan. Itu adalah kenangan yang tidak akan mereka lupakan. Pria itu berterima kasih pada sang mama yang sudah menciptakan semua kenangan itu. Akan Ayman ceritakan semua kisah hidup ini nanti pada anak-anaknya.


"Sayang, kita belum pernah mencobanya di kamar kamu. Bagaimana kalau kita mencoba di sini sekarang?" tanya Ayman dengan tatapan menggoda.


"Mencoba apa?" tanya Zayna dengan menatap sang suami. Dia benar-benar tidak mengerti.


"Membuat dedek bayi," bisik Ayman tepat di telinga istrinya, membuat wajah wanita itu merona. Sang suami memang pandai membuatnya malu. Memang bukan yang pertama kali, tetapi tetap saja dia merasa malu. "Bagaimana, kamu mau, kan?"


Zayna menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ayman pun memulai kegiatannya. Dia memperlakukan istrinya dengan sangat lembut. Membuat wanita itu terbuai. Hal ini juga yang membuat Zayna bahagia karena dia merasa sangat dicintai. Malam yang begitu dingin. Namun, membuat kedua manusia itu merasakan kehangatan.


*****

__ADS_1


Di pagi hari seperti biasa, Zayna menyiapkan masakan untuk keluarganya. Zanita yang saat itu sedang mengambil air minum, melihat Kakaknya sedang di dapur seorang diri. Pikiran licik tiba-tiba terlintas di pikirannya. Wanita itu kembali ke kamarnya dengan bersemangat.


Zanita mencoba untuk merapikan diri dan memakaikan parfum pada tubuhnya. Dia melihat sang suami masih tertidur. Wanita pergi dengan senyum mengemban, berjalan ke arah kamar Zayna. Begitu sampai, Zanita menata pintu kamar dengan tersenyum.


Wanita itu mengetuk pintu tiga kali, hingga terdengar sahutan dari dalam yang memintanya untuk masuk. Saat akan meraih gagang pintu, sebuah tangan menghentikannya. Dia melihat siapa pemilik tangan itu. Betapa terkejutnya karena Papa Rahmat yang ada di sana.


Tanpa banyak berkata, pria itu menarik putrinya dan membawa ke kamarnya. Zanita yang memiliki tenaga kecil, terseok-seok akibat tarikan dari papanya. Wanita itu sempat meranta-rontal. Namun, Papa Rahmat tidak mempedulikan dan terus saja menariknya.


Begitu sampai di kamar, Papa Rahmat mengempaskan tangan Zanita begitu saja. Hingga membuat wanita itu terjatuh di atas ranjang. Savina yang melihat itu pun segera mendekati sang suami dan anaknya. Terlihat wajah Papa Rahmat begitu emosi.


"Ada apa ini? Kenapa Papa membawa Zanita ke sini?"


"Tanyakan pada putrimu, apa yang akan dia lakukan kalau aku tidak datang! Sudah aku peringatkan padamu kemarin, jaga putrimu agar tidak membuat ulah, tapi sepertinya peringatanku tidak kamu hiraukan."


"Sebaiknya memang begitu. Jaga putrimu baik-baik agar dia tidak lagi membuat kesalahan. Kalau tidak, kamu tahu sendiri apa akibatnya."


Papa Rahmat segera meninggalkan kamar. Awalnya tadi dia berniat ke dapur untuk membuat kopi, tetapi pria itu melihat Zanita keluar dari kamarnya. Rahmat yang merasa ada sesuatu pun mengikutinya. Benar saja wanita itu menuju kamar putrinya. Dia sangat yakin apa tujuan Zanita ke sana.


Setelah kepergian sang suami, Savina menatap putrinya dengan geram. "Sudah Mama katakan sebelumnya, jangan membuat ulah. Kenapa kamu susah sekali diajak bicara!"


"Memang apa salahnya? Aku cuma ingin hidup bahagia dengan seorang yang baik. Kenapa hanya Zayna yang bisa mendapatkan semuanya, sementara aku hanya mendapatkan penderita," ujar Zanita dengan meneteskan air mata.


Dia kesal dengan kehidupannya yang penuh dengan penderita. Padahal dirinya lebih cantik dan lebih hebat daripada Zayna, tetapi kenapa semua kebaikan hanya datang kepada kakaknya itu. Zanita merasa semuanya tidak adil dan Zayna tidak pantas mendapatkan semuanya.


"Fahri juga baik. Cobalah berperilaku baik pada suami dan mertuamu. Yakinlah bahwa memang Fahri memang jodohmu. Mama mohon untuk kali ini saja. Jangan membuat ulah dengan Ayman dan juga Zayna. Kamu tahu sendiri bagaimana papamu kalau sedang marah."

__ADS_1


"Tapi aku yakin kalau marahnya papa hanya sebentar. Mama ingatkan, saat pernikahan Zayna batal! Papa memang marah, tetapi itu semua hanya sementara. Setelah itu papa juga bersikap biasa saja. Aku yakin kali ini juga seperti itu."


Zanita masih membujuk mamanya agar mau membantunya. Dia hanya ingin Ayman jadi miliknya. Savina tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana pada putrinya. Wanita itu sangat takut jika kebenaran akan dibuka oleh Rahmat.


Dia tidak ingin melihat wajah putrinya yang terluka. Sekarang saja Zanita sudah sangat terluka. Bagaimana nanti kalau putrinya tahu jika dia bukan anak kandung Rahmat. Sudah pasti rasa iri dan bencinya pada Zayna akan semakin besar. Saat itu terjadi, Zanita akan semakin sulit dikendalikan.


"Kali ini berbeda, Sayang. Cobalah mengerti keadaan Mama. Mama mohon! Kamu jangan membuat ulah."


Savina mengatupkan kedua telapak tangannya di dada. Zanita menatap mamanya dengan pandangan sedih karena menganggap Savina tidak lagi menyayanginya. Tanpa banyak berkata, dia meninggalkan mamanya seorang diri di kamar.


Sementara itu Rahmat memilih melanjutkan tujuan yang tadi. Dia ke dapur untuk membuat kopi dan ternyata di sana ada Zayna yang sedang sibuk dengan peralatan dapur. Tidak diragukan lagi keterampilan wanita itu. Setiap orang yang menikmati makanan buatannya pasti akan suka.


"Papa tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Kali ini Papa akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kebahagiaanmu. Papa sudah sangat yakin kamu sangat bahagia dengan suamimu. Papa juga bisa melihat kamu sangat bahagia dengan keluarga mertuamu. Kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan mereka sebagai keluarga yang sebenarnya," batin Papa Rahmat dengan memandang punggung putrinya.


Zayna yang merasa ada seseorang yang melihatnya pun menoleh ke belakang. Dia tersenyum melihat papanya. "Papa, perlu sesuatu?"


"Papa ingin membuat kopi."


"Biar aku yang buatkan," sahut Zayna. "Sebaiknya Papa mengurangi mengkonsumsi kopi di pagi hari. Tidak baik untuk kesehatan."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2