Istri Sambung

Istri Sambung
IS100. Pengkhianatan


__ADS_3

"Pakai caramu sendiri, Nov! Seharian ini, kau ungkit-ungkit Canda. Malamnya, kau bawa manusia yang udah tiada. Aku udah pernah bilang, jangan mengungkit pertanyaan tentang orang-orang di masa lalu, kalau tak mau sakit sendiri. Aku tak suka, Nov! Kau ungkit-ungkit bahan pertengkaran kita terus! Kapan kita mulai tentang kita?! Jangan terus mengungkit semua kesalahan aku dan kekeliruan aku di masa lalu!" Aku tidak berseru. Namun, akan cukup memberi penegasan di sini.


Novi malah terisak, "Terus aku harus gimana? Saat diriku sendiri udah tak menarik untuk suami?" Suaranya terbata-bata.


Aku memiringkan tubuhku, kemudian mengulurkan tanganku untuk menyentuh tangannya. Terasa cukup dingin, mungkin karena pendingin ruangan yang disetel begitu sejuk.


Aku merapatkan tubuhku, kemudian membawanya ke dalam pelukanku.


"Kalau mau tentram, tak usah bahas yang terdahulu dan yang udah-udah. Udah cukup cerita sana-sini, ini masalah rumah tangga kita. Itu aib kita, cukup kita yang tau. Tak harus banyak pihak kau libatkan begini, aku jadi tak enak hati ke mereka." Aku mengusap air matanya.


"Drtttt….." Getar ponsel itu cukup mengganggu telinga, karena letaknya yang berada di bawah bantal.


Novi melirikku, sorot matanya terlihat panik. Apa aku boleh berspekulasi, bahwa ia ada hubungan dengan laki-laki lain? Tapi, ia mengungkit segala masa laluku agar aku terlihat bersalah di sini?


"Boleh pinjam HP? Aku terganggu." Aku menengadahkan tanganku padanya.


Namun, Novi malah menggeleng halus. Ia semakin membuatku curiga padanya.


"Mana?!!!" Aku menatapnya tajam.


"Bukan siapa-siapa, itu cuma notifikasi aplikasi." Novi terlihat cemas.


Aku pun belum menuduhnya. Tapi ia sudah mengatakan, bahwa bukan siapa-siapa. Ia membuatku semakin curiga.


Notifikasi aplikasi dan panggilan masuk, tentu berbeda meski hanya getar saja. Notifikasi aplikasi getarnya tidak begitu panjang dan berulang. Tetapi, ini terus berlanjut sampai akhirnya getar itu mati sendiri.


"Jangan sampai aku rebut paksa, Nov!" Aku menekankan suaraku.


Dengan gerakan perlahan, ponsel berwarna abu-abu gelap itu pindah tangan. Ia memperhatikan ponselnya begitu lekat, saat aku mulai menyalakan layarnya.


Nando.

__ADS_1


Dua panggilan tidak terjawab.


Oh, jadi seperti ini cara mainnya?


Aku meliriknya, kemudian bangkit dari posisiku.


"Apa kodenya?" Aku duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


Aku mencoba rileks, tidak terpancing dan berpikir positif. Ya, mana tahu Nando yang iseng saja. Bukan Novi yang benar masih memiliki hubungan dengannya.


Itu bisa saja terjadi kan?


"Triple tujuh belas." Novi pun melakukan hal yang sama.


Kini, kepalanya ada di bahu kananku. Ia ingin tahu apa yang aku lakukan dengan ponselnya, tetapi dengan cara halus.


Aku langsung membuka aplikasi chatting miliknya. Kemudian, nama Nando di susunan paling atas itu menjadi perhatianku.


Aku amat kecewa pada Novi. Ternyata, seperti ini cara Novi menanggapi suatu masalah.


Aku menegakkan punggungku, sehingga Novi tidak bersandar lagi pada bahuku. Aku menoleh ke arahnya, dengan geleng-geleng kepala.


Kentara sekali, urat wajahnya yang malu atau merasa bersalah itu. Aku tidak tahu ekspresi apa itu, karena aku lebih mengutamakan apa yang aku rasakan sekarang.


"Asal kau tau, Nov! Berkeluh kesah dengan laki-laki lain begini, menyebarkan aib suami kek gini, itu masuknya sudah pengkhianatan. Mamah, bang Givan, belum cukup kah? Sampai kau sebar ke luar keluarga kita, bahkan ke orang dari masa lalu kau!" Baru kali ini, aku mendapat perlakuan seperti ini dari istriku.


Sebelumnya, Kin tidak pernah melakukannya.


"Hati-hati kalau mau cerita! Apalagi sama laki-laki, yang notabene adalah pasangan kau di masa lalu. Itu celah untuk mereka masuk, terus ngacak-ngacak rumah tangga kau. Kau begini sama suami, kau ceritakan semua. Bukannya dia prihatin loh, tapi dia malah puas kau tak bahagia dengan suami yang kau pilih." Aku menunjuk layar ponselnya yang masih menyala, "Apalagi ini Nando ngajak ketemu, dengan alasan biar kau ceritanya enak dan biar plong. Kau tak paham, bahwa dia juga siap mendengar keluh dan des*hmu!" Aku reflek meninggikan suaraku.


Aku mengatur nafasku beberapa kali, "Mulut laki-laki pasti begini, pas kau ceritakan secara langsung permasalahan kau sama suami kau. Udah kau tenang aja, kan ada aku. Aku bisa ngasih apa yang suami kau tak bisa berikan, aku usahakan aku lebih mampu darinya. Nah, terus kau ditidurinya. Udah tuh, rusak harapan kau dunia akhirat. Kau tak akan bisa nyium bau surga." Aku meruba suaraku saat di pertengahan kalimat.

__ADS_1


Novi terisak lebih kencang, kemudian ia langsung memeluk tubuhku begitu erat.


"Kau mau cerai kan? Beginikah settingan kau?" Aku menunduk untuk melihat wajahnya yang bersembunyi di dadaku.


Ia menggeleng berulang, "Maaf, Bang." Suaranya sampai serak.


Sudah seperti ini, baru bilang maaf.


"Kau buat aku, jadi tak percaya sama kau lagi, Nov!" Aku melepaskan pelukannya.


Aku hendak turun dari ranjang. Namun, aku berpikir kembali. Jika aku meninggalkannya, maka ia akan melanjutkan aksinya dibodohi Nando. Tetapi, jika aku bertahan di ranjang ini. Rasanya, emosiku sudah tidak terkontrol.


"Pernah tak sih berpikir, kenapa sampai aku begini?" Aku kembali menoleh ke arahnya, setelah Novi mengatakan hal itu.


"Aku tau, Nov. Aku tau kekuranganku, aku tau masalahku di ranjang. Tapi, bukan untuk kau umbar di depan umum. Kita ini bagaikan pakaian untuk pasangan. Berapa kali aku curhat ke bang Givan, aku selalu minta saran. Bukan menceritakan bagaimana kau di rumah, bukan mendetailkan kau seperti ini saat bertel*nja*g di depanku. Aku tak pernah mengumbar aib rumah tanggaku dan pasanganku!" ujarku dengan mengacungkan jari telunjukku.


Nafasku ngos-ngosan, dengan mata yang mulai terasa pedas. Seumur-umur aku memiliki istri, baru pertama kali rasanya mendapat perlakuan seperti ini.


"Tapi Canda tau, tentang cerita Abang dianiaya Kin. Ambang buka aib Kin di situ, demi mendapat perhatian dari Canda." Ia mulai mengungkit kembali. Dengan nama Canda yang ditariknya kembali.


"Karena masalah itu pun sudah muncul ke permukaan. Mamah udah tau, bahkan aku sampai masuk rumah sakit. Aku cerita ke Canda, karena di novel Canda pakai POV 1, kek cerita aku ini. Kalau aku tak cerita, pembaca tak akan tau keadaanku saat itu. Intinya, masa itu aku memang tidak mengharap perhatian dari Canda. Tapi aku ngerasa, cuma dia yang bakal dengerin aku cerita tanpa semakin menambah panas keadaanku dulu." Aku menegaskan tiap kata yang aku ucapkan. Aku pun, sampai ngotot-ngotot saat mengatakannya.


Aku sudah berada di ambang batas kesabaranku. Jika perempuan, aku mungkin sudah sesenggukan untuk menguatkan kesabaranku sendiri.


"Sekarang gini, Nov. Kau minta cerai? Tujuan kau rumah tangga sama aku ini, memang untuk punya status pernah menikah kah? Gimana ingin kau saat ini? Aku tak punya banyak waktu untuk memperpanjang masalah. Aku udah pusing jalan keluar keadaanku ini gimana, ditambah kau bertingkah kek gini. Udah, silahkan bilang kau mau apa? Aku bakal kabulkan." Aku memandangnya yang terlihat kaget.


Bola matanya mekar sempurna, ditambah dengan mulutnya yang terbuka.


...****************...


Aku update konsisten kok. Cuma ada masalah di sistem, jadi lama review-nya. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2