
"Soalnya kenapa, Bu?" tanya Aca dengan mendekati kami.
"Kak Novi katanya pingsan lama. Bang Ken lagi di perjalanan antar bu Sukma ke rumah sakit juga, karena bu Sukma tiba-tiba mimisan. Jadi, bang Ken tak bisa nolong kak Novi," jelas Bu Tami kemudian.
Aku melirik istriku. "Aku boleh tak antar Novi?" Aku meminta izin lebih dulu.
Aca mengangguk. "Ya, boleh. Ati-ati, Pa. Udah malam nih."
Aku hanya mengangguk, kemudian bergerak cepat untuk mengambil jaket dan kunci mobilku.
Aduh, lupa. AC mobilku rusak, pasti akan kurang nyaman untuk membawa orang sakit. Tadi siang pergi dengan Aca saja, sampai Aca membuka jendela mobilnya terus menerus. Aku belum memiliki waktu untuk membereskan AC mobilku.
"Aku ke bang Givan dulu, pakai mobil dia aja keknya." Aku bergerak cepat menuruni tangga dengan jaket yang sudah aku kenakan.
"Tidur aja, Ma. Tak usah nungguin." Aku mendongak ke atas tangga, untuk melihat tanggapan Aca.
Ia mengangguk, ia masih berbicara dengan bu Tami.
Ada-ada saja, Novi sampai pingsan begini karena apa? Dulu Novi pingsan, karena mendapat benturan keras di kepalanya. Hmm, tiba-tiba aku malah teringat kejadian di kamar dokumen lagi.
Di depan teras rumah minimalis yang paling dekat dengan tangga, ada Canda tawa berdiri di ambang pintu. Aku segera berjalan ke arahnya, karena aku yakin di situlah tempat Novi tinggal.
"Nov, Nov. Jangan bundir di sini, nanti rumah aku ada setannya." Terlihat di mataku, bang Givan menepuk-nepuk pipi Novi.
"Ayo, Bang. Pakai mobil kau aja, mobil aku AC-nya rusak," ucapku yang berada di sebelah Canda.
"Ambilkan kunci mobilnya, Canda. Terus kau tidurlah di tempat Key atau Chandra dulu," ujar bang Givan pada suaminya.
"Dia kenapa, Bang?" Aku melangkah masuk ke dalam rumah yang Novi tempati ini. Bau parfum khasnya, langsung menyeruak masuk ke hidungku.
"Tak tau, Far. Pas Abang cek, dia tuh udah ngegeletak di sini aja. Udah tak bangun-bangun juga dibangunkan itu." Bang Givan memiringkan kepala Novi dan mengikat asal rambut panjang dengan dipadukan dengan model keriting kecil yang menjuntai.
"Demam kah?" Aku mencoba menyentuh dahinya.
"Tak, Far. Cenderung dingin badannya, mungkin karena terlalu lama geletak di lantai." Bang Givan berjalan ke arah ruangan lain. Ia kembali dengan hijab pashmina yang langsung digun untuk menutupi kepala Novi.
"Ini, Far….," seru Canda dari luar rumah.
__ADS_1
Aku keluar dari rumah. "Ya, Canda." Aku melihatnya berdiri di teras rumah Chandra.
Aku segera mengambil kunci tersebut, kemudian memarkirkannya persis di depan teras rumah yang Novi tempati. Modelnya seperti kost-kostan, padahal ini adalah bangunan tempat anak-anak tumbuh. Memang, taman bermain dan segala fasilitas untuk anak-anak disediakan. Tapi ya kesan pertama melihat bangunan ini, adalah seperti kost-kostan.
Aku membukakan pintu mobil untuk bang Givan. "Kuat tak, Bang?" Aku naik kembali ke teras.
"Kuat, bawakan bantal dan selimut aja." Bang Givan tengah memposisikan tangannya untuk menggendong Novi.
Apa Novi kedinginan? Tapi udara di dalam rumah tidak sedingin di luar rumah. Di sini pun, belum ada kasusnya warga meninggal karena kedinginan.
Aku mengambil apa yang bang Givan perintahkan. Lalu menempatkannya di salah bangku kedua, dengan bang Givan yang membawa masuk Novi.
"Kau bawa mobil, biar aku yang di belakang nyangga tubuh Novi barangkali jatuh. Aku tau Aca bisa murka lihat kau mangku kepala mantan istri kau."
Entahlah, Aca kadang-kadang. Kadang cemburu luar biasa, kadang biasa saja.
Aku membawa kendaraan yang lampu segitiganya terus berkedip, ke arah rumah sakit terdekat. Di UGD pun, bahkan kami bersebelahan dengan tante Sukma. Bang Ken pun ada di sini, tapi fokusnya pada ibunya. Bang Ken mengatakan peralatannya kurang memadai, belum lagi ia tidak memiliki obat-obatan di rumah. Membuatnya panik membawa ibu kandungnya ke rumah sakit.
Dari kisah bang Ken ini. Aku memahami bahwa dipisahkan bagaimana pun dengan ibu kandungnya, anak laki-laki tetap akan menjadikan ibu kandungnya tempat pulang ternyaman.
Alhasil, Novi harus menginap di rumah sakit. Bang Givan melarangku menghubungi mamah atau papah malam ini, ia mengatakan bahwa esok pagi saja memberi kabarnya. Ia malah memintaku menemaninya menjaga Novi di rumah sakit malam ini.
"Aku mau telpon Canda dulu. Biar dia suruh tidur duluan." Bang Givan melipir ke sudut ruang inap Novi ini.
Aku akan mengirimi Aca pesan saja, bahwa aku tidak bisa pulang malam ini. Pesan terkirim, dengan belasan dari Aca.
[Tau begitu tuh bawa selimut, Pa. Banyak nyamuk di sana, dingin juga.]
[Iya, tak tau. Bang Givan mendadak ngasih taunya. Ya udah Mama tidur aja, minta Kal suruh tidur juga.] Balasku kemudian.
[Iya ini lagi bantuin Kal siapin pelajaran untuk besok.]
Aku tidak membalas pesan tersebut, karena menurutku tidak perlu dibalas. Aku adalah orang yang jarang membalas pesan, tapi pasti membacanya.
"Far, belikan air minum sama cemilan kenyang di minimarket dalam." Bang Givan mengulurkan uang senilai dua ratus ribu padaku.
Ketika menyuruh, ya ia benar-benar menyuruh. Memberikan uangnya, meminta untuk membeli dengan uang yang ia berikan.
__ADS_1
"Kau aja lah, Bang." Aku duduk di tepian single bed ini.
Pasti selanjutnya kami akan berebut satu-satunya ranjang untuk menunggu pasien.
"Takut aku."
Oh, iya. Bang Givan memiliki cerita seram di lorong rumah sakit. Makanya, terkadang ia tidak berani untuk wara-wiri seorang diri di rumah sakit malam hari begini.
"Ya udah mana?" Aku pun akan membeli sesuatu, aku adalah orang yang tidak bisa jika begadang tapi tidak mengemil.
"Nih, nih. Kau belilah ciki atau apa."
Sudah tua begini, aku tetap dijajani ciki oleh kakakku.
Aku melangkah keluar, dengan dua lembar uang berwarna merah. Sasaran pertamaku adalah roti, kemudian air mineral kemasan besar sebanyak tiga botol. Tak lupa juga, aku membeli ciki-cikian, minuman susu murni dalam kemasan kaleng. Juga yoghurt yang tidak terlalu masam, kesukaan kami sejak kecil. Satu kotak tisu kering pun tak luput dari sasaranku, juga dengan tisu basahnya.
Selesai, membayar dan keluar. Begini-begini saja padahal, tapi sampai habis seratus empat puluh. Aku akan meminta kembaliannya sebagai uang jalan, aku ingin tahu tanggapannya ketika aku kekanak-kanakan seperti ini.
"Kembali berapa?" Bang Givan langsung mengambil air mineral kemasan botol besar.
Ia meneguknya beberapa kali.
"Pas, Bang. Kembaliannya untuk uang jalan." Aku tersenyum lebar.
"Hm, hm, hm…." Ia melirikku sinis.
Aku tertawa lepas, tanpa berniat mengembalikan uang kembaliannya. Bang Givan pun tidak memaksaku untuk mengembalikan uang tersebut, ia tetap seperti kakakku yang menyikapi adik kecilnya.
Jarak usianya dan adik-adiknya cukup jauh, karena memang pun ada cerita panjang di dalamnya. Jadi ya, benar-benar ia bisa ngemong adik-adiknya. Meski tak jarang, dari kecil pun kami sudah kenyang dengan bentakannya. Ia galak sejak kecil.
"Bang…."
Aku dan bang Givan saling memandang. Pikiranku cuma satu, yaitu hantu.
"Siapa ya, Far?" Wajah ketakutannya pun kentara sekali.
...****************...
__ADS_1