
"Novi….." aku menyebut namanya begitu lirih.
Telingaku sudah panas, nafas seolah tersendat di bagian hidungku. Pasti aku tidak akan baik-baik saja sekarang.
Tok, tok, tok….
"Papa di mana?"
"Papa….." suara anakku yang paling kecil merengek.
"Papa…. Aku takut…." suara buah hatiku membuat hatiku bertambah kacau.
"Awas dulu, Nov." aku mencoba menggeser tubuh wanitaku, yang mengungkungku di bawahnya.
Novi mengangguk, ia bergeser dari posisinya. Aku bergegas menuju ke arah pintu. Di mana anakku memanggilku dari sana.
"Papa…." suara itu begitu mengiris hati.
"Ya, Kaf. Papa ada." aku mencoba menenangkannya, sebelum sampai dan membukakan pintu untuknya.
Ceklek….
"Papa….." tangisnya pecah, dengan memeluk kakiku.
Ya ampun. Apa yang ia rasakan?
"Tenang, Nak." aku mengangkat tubuhnya.
Aku mengayunkan Kaf, seirama dengan sholawat yang aku lantunkan. Aku berjalan-jalan di sekitar rumah ini, sampai nafas Kaf kembali teratur.
Kaf masih mengantuk sepertinya, tetapi ia terbangun dan merasa kehilangan keberadaanku.
Tiba-tiba, aku mendapat usapan lembut di punggungku. Untungnya, aku mengingat bahwa aku tinggal dengan seorang istri sambung juga di rumah ini.
"Kenapa, Nov?" tanyaku lirih.
"Aku tak apa tidur sendiri, nanti besok ajarkan mereka lagi buat tidur sendiri." loh, kok ia malah memerintahkan?
"Kau yang biasakan, Nov. Kau ibunya." aku berbicara pelan dan lembut seperti biasanya.
"Tapi mereka tak mau sama aku, sedangkan Abang kan jelas ayahnya." ucapnya kemudian.
Hmm, benar juga.
"Ya udah, sana tidur." aku melirik pintu kamar utama yang terbuka.
Novi mengangguk, kemudian menarik pelipisku dan menciumnya. Senyumnya begitu indah, Novi menyiratkan bahwa ia tengah bahagia.
Ketentraman ini berlangsung hingga sebulan lamanya. Selama satu bulan ini pun, aku belum menemukan bukti tentang Kal yang panjang tangan. Meski laporan Novi kehilangan uang, tetap ada saja.
Hingga aku sepakat untuk ikut liburan dengan bang Givan. Bukan liburan untuk diriku sendiri, melainkan untuk dirinya dan istrinya.
__ADS_1
Liburan mereka ke Bali, itu adalah kesempatan untukku untuk bisa mengurus usaha travelku. Dengan bang Givan berada di sana, aku akan diarahkan olehnya.
Meski kenangan denganku dan Canda berputar kembali, tapi rasanya Canda sudah melupakan hal itu. Canda sudah biasa saja, maksudku ia tidak pernah memandangku lain seperti dulu.
"Kau tinggal di mana? Ikut Abang kah?" tanya bang Givan, kala kami tengah makan bersama di suatu resto dekat pantai.
"Nanti ke mes supir aja, Bang. Nanti gampang kabar-kabaran." aku memiliki tempat tinggal di pulau Bali ini.
Ini adalah tempat yang sama, kala aku sering makan bersama Canda dulu.
"Yayah au? La uwapin." anaknya itu selalu menjadi jarak antara ayahnya dan ibunya yang tengah mengandung tujuh bulan itu.
Bang Givan memandang anaknya, "Sok buat Ra aja. Ra kenapa tak ikut nenek aja? Biyung jadi bete, Ra ambil tempat Biyung terus." bang Givan dan Ra memandang Canda yang duduk di sofa paling ujung ini.
"Biyung au apa cih?" Ra mencolek wajah ibunya.
"Mau pegangan sama Yayah, Ra." wajah Canda semakin cemberut.
"Yus, Ra ma apa? Ma nenek diuwang, sama Iyung diuwang. Ra ma Yayah aja." Ra mengganduli kembali leher ayahnya.
"Memang betul Biyung mau buang Ra?" bang Givan merangkul istrinya.
Aku seperti obat nyamuk bagi mereka.
Canda mengangguk, "Biar Biyung bisa pegangan Yayah." Canda menjawab dengan manja.
"La ma apa obah, lo tak ma Yayah?" suara Ra begitu memelas, dengan menghela nafasnya.
Alasan anak dua tahun lebih yang ingin selalu bersama ayahnya itu, karena nenek dan ibunya akan membuangnya. Membuatnya lebih memilih tetap bersama ayahnya, yang tidak memiliki niat membuangnya.
Rasanya, ia benar-benar tidak mungkin dibuang juga. Melahirkannya saja setengah mati, belum lagi ujian saat ia mengandung Ra.
"Iya, sama Yayah." bang Givan mengusap-usap kepala anaknya.
"Nanti aku mau ke Fira ya, Canda?" bang Givan tetap merangkul istrinya.
Canda melirik suaminya, "Sama aku." ia malah bersandar pada suaminya.
"Ya udah deh, istirahat aja dulu." bang Givan malah memanggil pelayan.
Ternyata, ia membayar makanan yang belum habis ini. Kemudian, ia memilih untuk meninggalkanku dengan makanan ini. Sedangkan, dirinya pamit bersama anak istrinya ke kamar yang mereka sudah booking secara online.
Ya, aku ingat bahwa aku tidak dalam acara liburan. Aku akan memajukan usaha travel di sini. Sementara, perusahaan di sana dikelola oleh Ria yang sudah mendapat wejangan panjang dari kakak iparnya.
Aku tidak tahu-menahu. Ini pun, aku atas perintah bang Givan. Aku menurut saja, karena aku pikir ini untuk kebaikanku.
Sesekali aku menghubungi Novi dan anak-anak. Karena aku mendapat banyak arahan dari bang Givan di sini. Ia memang tengah berlibur di sini, tapi sepertinya headset bluetooth-nya terus terpasang. Sehingga ia lancar menghubungiku.
Hari ketiga di sini, aku mendapat kelelahan yang luar biasa. Bertambah sialnya lagi, karena aku jauh-jauh datang ke hotel yang bang Givan tempati. Malah ia tengah terlelap bersama anaknya, sedangkan si istrinya ada di hadapanku sekarang.
Canda tengah apa?
__ADS_1
Tentu ia tengah makan bakso dengan kuah yang merah.
Di mana?
Di kaki lima, berjarak seratus meter dari tempat menginapnya.
Aku tidak membuat janji dengannya. Saat aku turun dari mobil travel milikku, langsung saja bertemu Canda yang mampir ke warung bakso ini. Sehingga aku ditarik olehnya dan kini tengah menemaninya menyantap bakso itu.
"Suami kau marah loh nanti." aku cukup was-was sendiri.
Masalahnya, aku dan bang Givan sudah baik-baik saja. Kami tidak pernah cekcok lagi, apalagi masalah perempuan.
"Mas Givan tau." ia terlihat sekali berselera memakan bakso itu.
"Katanya suami kau tidur." sedangkan aku merasa kenyang sendiri, melihat bakso yang rupanya begitu besar ini.
"Mas Givan tau aku tak mungkin mau kalau susah keras. Kalau dia susah keras karena capek aja, aku bilang nanti aja. Karena nanti aku yang bakal capek sendiri dan kesal sendiri."
"Uhuk, uhuk…." untungnya kuah bakso milikku tidak pedas.
Aku sungguh tidak percaya, mendengar penjelasan orang hamil ini. Bisa-bisanya, ia begitu lancar seperti tanpa beban membicarakan hal sensitif ini?
"Ngeledek kau?!" aku tentu tersinggung dengan ucapannya itu.
Canda menyeruput teh dalam kemasan modern itu, "Tak, tapi aku tau kek mana kau. Nikah, nikah. Macam yang iya, padahal aslinya tak harmonis juga." ia malah terkekeh lepas.
Sialan ini mantan!
"Setidaknya aku pernah mencobanya." aku kalah berdebat di sini.
"Carilah yang kek Kin. Kalau ngandelin perasaan aja, kau tak bisa. Kau harus bisa cari perempuan yang kek Kin, minimalnya. Dulu waktu kau niat jelek sama aku, aku tau kau niat tuh. Nyatanya, kau tak bisa kan? Karena apa? Karena aku bukan perempuan yang sepak terjangnya kek Kin." untungnya tempat bakso ini sepi.
"Kek yang tau aja Novi tak kek Kin." aku menjadi berminat menyantap bakso ini setelah ada obrolan.
"Tak tau memang. Tapi kebanyakan perempuan kan tak mau nyerang duluan. Kebanyakan sifat perempuan kek aku, wataknya dan kebiasaannya. Kebanyakan, tapi memang tidak semuanya."
Apa Canda sudah mulai cerdas sekarang?
"Kenapa kau bisa mikir ke arah itu?" aku ragu dengan kebenaran pikirannya.
"Nampak aja di mata kau. Kek celingukan tak jelas, kek kebelet BAB tapi buru-buru berangkat kerja gitu."
Apa tidak ada ibarat yang lebih tepat? Masalahnya, kami tengah makan.
Aku tertawa geli, "Jadi sekarang, misal aku ngajakin kau selingkuh nih. Kau tak mau kah, Canda?"
Dia adalah salah satu wanita, yang imannya lemah ketika dihadapkan denganku. Dulu saat ia memiliki suami sebelum rujuk dengan bang Givan saja, ia bisa mengganduli lenganku dan bermesraan bersamaku di kamar hotel.
Canda menatapku kaget, kemudian ia kembali mengaduk baksonya dan menyantapnya kembali.
"Suami……
__ADS_1
...****************...