Istri Sambung

Istri Sambung
IS101. Sarapan romantis


__ADS_3

"Maafin aku, Bang. Aku janji, tak akan chat laki-laki lain lagi." Novi menahan tanganku, kemudian ia memeluk lenganku.


Aku terdiam, mendengarkan isak tangisnya yang begitu pedih. Aku paham dan sadar, bahwa ini semua berawal dariku. Tapi, kenapa Novi sampai bersikap demikian?


Aku mencoba mengerti keadaan hatinya. Aku membawanya dalam pelukanku, lalu aku mengusap surainya yang tidak hitam.


"Kita mulai dari awal." Aku mencium pucuk kepalanya.


Kepalanya mendongak, "Abang maafin aku?" Hembusan nafasnya terasa di bagian leherku.


Aku mengangguk, "Jangan ulangi lagi! Kita obrolkan, kalau memang tak sreg di hati. Jangan kek gini, jangan kau ceritakan ke orang-orang. Maluku, malu kau juga, Nov. Begitupun sebaliknya." Aku menunduk lalu menatap matanya.


"Maaf juga, sampai hari ini buat kau masih dalam kondisi suci. Aku bukan suami yang baik, aku masih perlu banyak belajar." Aku membingkai wajahnya, kemudian menghapus air matanya.


"Jangan ngomong gitu, Bang. Aku makin merasa bersalah." Novi malah meloloskan kembali air matanya.


Aku membawanya dalam pelukanku kembali. Biarlah seperti ini dulu, sampai keadaan hati kami membaik.


Aku akan mencoba terus memperbaiki kualitas diriku, juga membimbing Novi yang menurutku benar. Aku tak ingin melepaskannya, karena bagaimanapun juga ia sudah memiliki tempat di hatiku, meski tetap masih Canda penghuni abadi di sana.


Aku berjanji akan memperbaiki hubunganku dengan istriku dan juga menata masa depanku sendiri. Aku pun memiliki tekad ini, sejak dulu. Tapi entah mengapa, aku begitu sulit untuk mengusir Canda dari keabadian di hatiku.


Aku tak akan menyalahkan orang lain, karena akulah yang salah karena gagal melupakannya. Perempuan sederhana, yang begitu polos dan lugu. Perempuan yang begitu percaya padaku, sampai ia mau aku apakah saja asal jangan ditinggalkan olehku. Namun, perpisahan itu hadir dengan sendirinya tanpa kami kehendaki.


Ceritanya singkat, tapi melekat. Sekedar hadir, tapi bukan takdir. Hanya momen, bukan komitmen.


Canda Pagi Dinanti. Nama unik, menyimpan banyak kenangan.


~


"Dek…. Ikut tak?" Seruan papah begitu menggema.


Alhamdulillah, mereka masih sehat wal'afiat sampai hari ini. Meski pemilik hipertensi turunan itu, beberapa kali drop dan masuk rumah sakit. Ditambah lagi, cedera tulang yang dialami mereka berdua sering membuat drama keromantisan.

__ADS_1


"Mau ke mana sih, Mah?" Aku tengah duduk di meja makan yang berada di dapur dan menikmati sarapan pagi ini.


"Tak tau, papah kau berisik aja." Mamah meninggalkan dapur.


Meskipun sudah menjadi nenek-nenek, mamah tetap dipanggil 'dek' oleh suaminya. Sayangnya, aku tidak bisa mengeluarkan kata itu dari mulutku. Lantaran, Candalah yang memiliki sematan itu. Aku tak ingin membiasakan panggilan itu untuk orang lain, karena akan semakin membuatku sulit untuk memahami bahwa Canda adalah kakak iparku. Bukan 'dek' yang selalu aku sebutkan dulu.


"Kopi apa teh, Bang?" Novi menyajikan masakan lain yang sudah siap.


Jika memilih kopi, perutku bisa perih. Jika memilih teh, aku teringat teh tubruk buatan Canda.


"Air putih anget aja." Aku harus membiasakan diri dengan kebiasaan baru.


"Oke, Bang." Novi kembali ke rak dapur.


Aku menggulirkan pandanganku pada anak-anakku. Mereka makan sendiri dengan lahap, mereka sepertinya rindu dengan masakan neneknya.


"Anaknya mak wa Aca, siapa namanya, Kal?" tanyaku dengan memperhatikan sulungku yang tengah menggigit ayam goreng krispi itu.


"Nahda. Kenapa memang, Pa?" Mata Kin itu selalu terlihat sempurna di mata Kal.


"Biasa bangun siang, Bang. Waktu aku belum nikah pun, kaget liat Nahda bangun siang terus. Kak Aca istirahat makan siang itu, si Nahda baru bangun tidur." Novi menyambungi perbincangan pagi ini.


Sepertinya, moodnya sudah membaik.


"Kok bisa ya?" Aku menyatukan alisku.


"Bisa, tidurnya dini hari."


Aku langsung memutar kepalaku, untuk mencari sumber suara. Tidak enaknya hati ini, ketika empu dari anak itu masuk ke area dapur.


Kak Aca jarang terlihat, begitu pula dengan anaknya. Meski memang rumah orang tuaku dekat, aku akui jarang berkunjung ke rumah. Karena, sering kali bertemu mereka di area lingkungan kami. Kami pun bertegur sapa dan mengobrol di luar rumah.


"Maaf, Kak." Aku tersenyum canggung.

__ADS_1


"Tak apa, memang Nahda begitu. Dulu pun, waktu aku belum kerja juga kebawa bangun siang terus. Karena ya Nahda tak bisa dilepas, jam empat subuh itu masih melek. Padahal tak tidur siang, tapi entah kenapa dia susah tidur cepat, bangun ya siang terus." Kak Aca langsung menyeduh sesuatu dengan air panas.


Aku pengantin baru, termasuknya. Bagaimana ini? Ada janda muda di sini. Aku khawatir ada salah paham. Semoga aku dan Novi cepat saling mengerti, agar cepat kembali ke rumah.


"Nahda memang tak apa ditinggal begitu, Kak?" tanyaku kembali.


"Ya makanya pindah ke kamar bawah, pas aku mulai kerja. Biar terkontrol sama mak cek, jadi tau Nahda udah bangun apa belum." Ia berjalan ke arah meja makan.


Jika aku, aku mungkin sudah sungkan karena merasa merepotkan orang lain. Namun, kak Aca terlihat santai saat menyendokkan nasi dan lauk pauk yang tersedia. Ia seperti Giska yang tidak tahu canggung menurutku.


"Makan, Novia." Aku menoleh pada Novi kembali.


Aku lebih suka menyebutnya dengan nama itu, meski sedikit panjang. Karena aku merasa ada kehangatan, dalam nama itu. Aku akan membiasakan memanggilnya Novia saja, karena Novi adalah sepupuku. Ya, aku pikir itu adalah dua hal yang berbeda. Agar aku bisa menerima Novi, kemudian melanjutkan masa depanku dengan Novi.


"Iya ini, Bang. Nanggung nih, lagi matengin tumis kembang pepaya."


Kenapa harus kembang pepaya? Aku teringat akan tindakanku yang sering mencuri masakan Canda. Kembang pepaya buatannya, adalah makanan favoritku. Ia bisa memasaknya dengan tidak remuk, meski rasa pahitnya kadang masih sedikit terasa.


Kin saja tidak tahu makanan favoritku. Aku tak pernah mengatakan, bahwa favoritku adalah mencuri masakan Canda dari dapur bersejarah ini. Aku akan memakan apapun masakan Kin, kemudian aku selalu mengatakan bahwa semua masakannya adalah favoritku.


"Nih, Bang. Cobain." Novi menyajikan di sebelah piring nasiku yang tinggal setengah.


Aku menoleh ke samping kiri, mendapatinya yang tersenyum lebar dengan mengusap bahuku.


Romantisnya. Seperti di sinetron Andin.


Wujudnya remuk, bentuknya pun tidak seperti kembang pepaya. Ini lebih terlihat seperti abon, tetapi basah.


"Aku coba ya? Makasih udah dibuatkan." Aku membalas senyuman Novi.


Lalu aku menyendokkan sepucuk sendok kembang pepaya itu dan meniupnya. Saat aku yakin ini tidak terlalu panas lagi, aku memasukkannya ke mulut dengan perlahan.


Aku memejamkan mata, mencoba meresapi rasa masakan buatan istriku ini. Rasanya…..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2