Istri Sambung

Istri Sambung
IS300. Mengobrol dengan Novi


__ADS_3

"Bang, ini aku."


Eh, iya. Aku lupa bahwa kami sedang menunggu Novi yang tengah sakit di rumah sakit.


"Ish! Kau ini!" Bang Givan berjalan ke arah Novi. "Baru sadar kau? Abang panggilkan dokter dulu ya?" Bang Givan membenahi hijab dan selimut yang Novi kenakan.


"Udah sadar sejak Abang nanya kembalian." Suara Novi masih lemas.


"Bentar, Abang keluar dulu. Tak ada bell-nya rupanya." Bang Givan melipir keluar ruangan.


"Bang minta minum." Novi melirikku.


Aku berjalan membawa botol air mineral. "Nanti ya, tunggu perintah dokter." Karena Kin pernah bercerita tentang aturan pasien yang baru sadar dan tidak boleh diberikan minuman atau makanan, meski dalam kasus ringan sekalipun.


Aku menaruh botol minuman ini di nakas. "Apa yang dirasa, Nov?" tanyaku kemudian.


Aku tidak berani menyentuhnya seperti bang Givan. Aku sadar, aku memiliki batasan dengannya dan sebaiknya harus dijaga.


"Pusing, Bang. Entah mata aku yang minusnya bertambah kali ya?" Novi memijat p*****l hidungnya.


"Anemia, darah rendah." Aku memberitahu tentang kondisinya.


"Kenapa bisa anemia ya?" Novi seperti memikirkan sesuatu.


"Tak tau, mungkin kau begadang terus. Aca kemarin sakit, karena dibawa begadang sama aku." Aku menarik salah satu kursi yang masih terlipat. Seperti kursi pada hajatan.


"Sekarang begadangnya sama orang lain ya?"


Pertanyaannya kenapa seperti itu?


"Ya sama istri yang sekarang." Aku bingung ingin menjawab apa.


Bang Givan datang cepat, dengan berbondong-bondong bersama dua tenaga medis. Keadaan Novi dicek seluruhnya, hingga akhirnya Novi diberi suntikan lagi. Kalian pasti tidak mengira, tekanan darahnya sampai ke 70/60. Sangat tidak baik bagi keadaan tubuhnya, Novi diserang lemas, letih lesu dan tidak bertenaga juga. Selain itu, keadaan kepalanya pasti akan sering berputar.


"Perbanyak istirahat, Bu," pesan dokter, ketika selesai mengecek keadaan Novi.


"Iya, Dok." Novi hanya mengukir senyum samar.


"Boleh minum tuh tadi. Nih, minum." Aku membukakan tutup botol ini.


"Sini bangun, Abang bantu." Bang Givan memeluk Novi untuk membawanya bangun.

__ADS_1


Novi sudah minum, ia sekarang tengah makan roti tawar.


"Nikah, Nov. Biar ada yang urus, Abang suami orang, istrinya cengeng lagi." Bang Givan duduk di tepian brankar, sedangkan aku di kursi.


"Nikah sama siapa, Bang?" Novi kembali menggigit roti tersebut.


"Sama Vicky itu, siapa lagi memang?" Bang Givan pun menyomot roti tawar dari bungkusnya.


"Dia ninggalin aku, soalnya aku tak bisa bawa dia masuk ke kantornya Ghifar. Ghifar minta jalur umum, pak wa pun minta ikut aturan Ghifar aja. Dia bilang, aku udah jadi pengangguran demi satu kantor sama kau, tapi malah dipersulit katanya." Novi terlihat sedih.


"Ya dari situ pun kelihatan, Nov. Kalau memang mau satu kantor dengan kau, jalur umum pun ditempuh. Dengan dia minta kau usahakan kan, berarti dia punya kesadaran bahwa kalau jalur umum dia tak masuk."


Ketika logika bang Givan bermain, rasanya selalu benar.


"Terus sekarang kau lagi ngandung tak?" Aku langsung menutup mulutku.


Aduh, kadang mulut ini tidak sopan.


Novi menoleh padaku, kemudian ia menggeleng. "Aku tak sampai begituan."


"Ah, belum ada waktu aja itu. Ada waktu, malah ketauan Abang duluan," ledek bang Givan dengan nada menyudutkan Novi.


Aku terkekeh geli, melihat Novi yang langsung manyun saja.


"Segan, keluarga teungku. Jangankan kau, guru Chandra aja tak berani negur Canda. Rambut dia gondrong, tak pernah ada yang berani guru yang nyukur. Ditambah lagi, itu anak malas cukur rambut." Bang Givan melempar bekas bungkus roti yang sudah kosong ke arahku.


Aku langsung mengepalnya, kemudian memasukkan ke dalam bajunya. Bang Givan tertawa geli, dengan mulut penuh dengan roti.


Jika aku berani, aku ingin sekali membanting tubuhnya ke atas ranjang. Sayangnya, aku takut dimarahinya. Bang Givan galak sejak kecil, tidak salah pun dimarahi, apalagi jika salah.


"Rusuh kau!" Bang Givan mengeluarkan kantong bekas roti tawar tersebut dari dalam kaosnya.


"Kau yang rusuh, Bang!" Aku membalikan ucapannya.


"Besok ke salon yuk? Warnai rambut, biar pas pulang istri kita kaget." Bang Givan mengalihkan topik, dengan menata rambutnya.


"Kau tau kulit aku hitam, Bang. Jangan sampai, aku dikira panas-panasan di ladang."


Bang Givan dan Novi malah tertawa lepas.


"Kek rambut kau warna apa, Nov?" Bang Givan menunjuk kepala Novi.

__ADS_1


"Golden brown x ash blonde, nyala di bawah sinar matahari aja. Tapi aku berkerudung, ya tak ada nyala-nyalanya."


Bang Givan terkekeh geli kembali. Kini ia malah melempariku dengan remukan ciki.


"Kalau kau Ghavi, udah aku cekik kau, Bang!" Aku menggeser kursiku lebih dekat ke selang infus.


"Aku tidur ya? Nanti rolling tengah malam deh. Aku capek betul, Far. Masih junub ini pun."


Hm, hm, hm. Pamer. Sering sekali ia pamer junub.


"Junub lagi?! Di novel kau, kau junub juga." Aku menggosok pangkuanku sendiri.


"Suka-suka dong." Ia berjalan dan langsung berguling ke single bed.


Wah, aku harus menemani Novi.


"Mau minum lagi tak, Nov?" Aku menempatkan kursiku di tempat semula.


"Nanti, belum habis." Novi masih menggigit roti tawarnya.


"Hmm…." Aku mengeluarkan ponselku dari pada mengantuk.


Belum lama berselancar di sosial media, dengkuran bang Givan sudah terdengar menggema. Gayanya tengah malam rolling. Novi pun akan tidur, sudah pasti bang Givan tertidur juga.


"Bang…. Menurut Abang, aku ini mesti gimana kedepannya?" Novi mengajakku mengobrol.


"Ya tergantung niat kau. Kalau kau mau nikah, ya bisa mulai dengan buka hati. Kalau kau mau jalur yang lebih aman, ya minta papah untuk carikan. Menurut aku, ini yang paling aman." Aku paham dengan para laki-laki yang segan untuk mendekati keluarga papah.


"Keknya nanti aja, Bang. Aku mau fokus ke hal yang lain aja dulu. Tapi, aku bingung harus fokus di mana. Di posisi kerjaan aku sekarang, aku kurang sreg. Apalagi, dulu aku atasan tertinggi dan sekarang makan jadi bawahan."


Aku mengerti gengsinya untuk itu.


"Mau keluar dari kantor kah? Terus terang aja." Aku ingin memastikannya sendiri.


"Iya, Bang. Aku tau, meskipun aku tak kerja pun. Pak cek tetap mampu biayai aku, mak cek pun tetap ngasih aku makan. Tapi, aku pengen punya kegiatan begitu."


Aku manggut-manggut, aku mengerti. "Terus, pengennya buka usaha atau kerja?"


"Kerja, Bang. Aku pengen dikasih pegangan usahanya bang Givan, tapi bang Givan tak mau aku pergi jauh. Aku udah ngomong langsung, katanya udah aja di kantor Ghifar." Ia nampak murung.


"Lanjut aja coffee shop milik orang tua kau, Nov. Kan ada yang di Bener Meriah juga," usulku kemudian.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2