Istri Sambung

Istri Sambung
IS277. Tentang pengalaman


__ADS_3

"Nah, asal kau tau juga. Penyebab utamanya kontraksinya itu, adalah karena kau yang kl*maks. Otot kau meregang, nah itu memancing kontraksi palsu. Yang buat sakit di bagian pinggul kau pun, karena hentakan Ghifar yang berulang. Mana kan dia punya itu kek lagi untuk mancing biar pembukaan lengkap, jadi memperburuk kontraksi palsu yang terjadi karena regangan otot itu."


Aca melongo saja, ketika bang Givan menjelaskan seperti itu. Apa ia baru percaya, jika orang lain yang menjelaskannya?


"Jadi jalan keluarnya gimana?" Aca masih saja mencari jalan pelepasan yang lain.


"Pakai mulut Ghifar atau jarinya pun tak disarankan juga deh. Karena kontraksi palsu terjadi saat kau kl*maks itu. Kalau Ghifar kan, bisa dibantu pakai mulut kau, atau tangan dia sendiri. Jalan keluarnya satu-satunya, ya libur dulu. Tahan-tahan, sampai kondisi aman lagi. Untuk kebaikan kau juga kok, bukan untuk orang lain. Kau tenang aja, modelan Ghifar tak mungkin selingkuh. Kecuali penggodanya modelan Canda, ya mungkin dia bakal selingkuh."


Aku mencoba menahan tawa di sini. Namun, langsung mendapat sindiran.


"Sebenarnya sih, dari tadi itu dengerin," sindir Aca kemudian.


Aku menggeleng, kemudian berjalan ke arah mereka. Aku duduk di tepian brankar Aca, yang dekat dengan kursi yang diduduki bang Givan.


"Tapi nih, Bang. Pas di rumah tuh, pasti nasehat dan saran yang diberikan ini, keknya percuma aja." Aku melirik Aca dengan terkekeh.

__ADS_1


"Yaaa gimana ya? Memang sih, Far. Kalau perempuan yang minta itu, kita laki-laki ini jari serba salah. Apalagi, kondisi medisnya kek gini. Bukan maksud untuk mengecewakan kan? Tapi otak mereka tak mau ngerti. Aku pun pernah begitu, tapi situasinya lagi tak dapat kamar. Minta coba si Cendol, karena lama tak ketemu, ditambah hormon kehamilannya. Udah nolak, tapi mikirnya malah jelek. Berpikir aku ada perempuan lain, berpikir bahwa dia tak menarik lagi karena hamil, berpikir bahwa aku rutin di keluarkan di sana. Alhasil, malah ke-gap karena begituan di ruang tamu."


Benarkah cerita ini? Aku dan Aca sampai terbahak-bahak. Aku tidak bisa membayangkan rasa canggungnya, aku tidak bisa membayangkan ketanggungan yang terjadi karena mendadak panik itu.


"Terus gimana itu, Van?" Aca penasaran dengan ceritanya.


"Ya terus dikasih selimut sama mamah, buat nutupin bagian kami yang masih nyatu. Terus lanjut lah, daripada aku yang gila. Mamah pun ngerti kalau kita udah sah dan lama tak ketemu. Mungkin kejadiannya beda, kalau aku sama Canda belum nikah. Tapi malah disuruh lanjut dan berhenti pas mamah mau lewat lagi."


Ya ampun, ketahuan orang tua sendiri? Aduh, pasti rasa malunya amat sangat setelah itu.


"Setelah itu gimana pandangan mamah ke kau sama Canda, Bang?" Aku penasaran di bagian ceritanya yang ini.


"Biasa aja sih, makan, sarapan bareng, ngobrol biasa. Dimarahin aja pas ketahuan itu tuh, katanya tuh suruh ambil selimut dulu aturannya. Meski pakaian kita tak semuanya melayang juga kan, tapi dilakukan di ruangan yang cukup terbuka gitu. Apalagi, gorden ruang tamu mamah yang di rumah Lhokseumawe itu cuma secarik kerudung segi empatnya mamah. Jadi kan tipis, khawatir dilihat orang lain. Setelahnya sih biasa aja, bahkan ada sedikit cerita bahwa mamah pun pernah ke-gap oma Meutia."


Oh, ternyata ketahuan orang tua itu adalah cerita klasik yang di mana akan terjadi juga jika masih satu atap dengan orang tua. Inilah yang menjadi ketidaknyamananku, jika memiliki pengasuh anak dan asisten rumah tangga. Untuk bu Tami, aku sampai menyampaikan agar dirinya tidak naik ke lantai atas ketika matahari belum tinggi. Biarkan dia membersihkan lantai bawah saja, karena ketika pagi aku sering mendapat serangan fajar.

__ADS_1


"Aku pun waktu sama ayahnya Nahda, pernah ketauan sama adik ipar. Aku udah tak pakai atasan, ayahnya Nahda udah tinggal CD aja. Masuk dia ke ruangan penghubung balkon, niat mau angkat jemuran. Nah, kita hampir main di ruangan penghubung itu. Karena hawa pengantin baru, ditambah mendung dan sepi juga. Biarpun dia masih kecil, masih sekitar kelas lima SD. Tapi kan pikirannya udah tercemari tuh dengan kegiatan dewasa kita. Harap-harap cemas, takut dia cerita ke mertua. Mesti tak begitu juga, tapi tetap ada khawatir pasti adik ipar aku itu jadi dewasa sebelum waktunya."


Aku pun pernah ketahuan papah waktu bersama Kin. Saat itu aku dan Kin belum menikah dan aku divonis terkena DE. Aku ceroboh, karena tidak merapatkan pintu dan tidak mengunci pintu kamar. Alhasil, papah langsung mendiamiku dalam beberapa hari ke depan setelah kejadian itu. Aku dituduh berbohong, tentang DE itu. Cerita ini, ada di novel Belenggu Delapan Saudara.


"Pasti dia ngenal se*s lebih dini jadinya. Aku ingat betul, waktu kecil aku liburan sama mamah dan papah yang baru nikah keknya itu tuh. Aku di hotel dan kebangun dengan posisi papah yang ada di atas mamah, aku langsung tanya papah ngapain, panik mereka. Sekalipun mereka jawab, bahwa papah lagi sayang-sayang mamah, tapi aku tak percaya, karena tau keadaan mereka lagi tak berpakaian. Mikirin aja, meski pura-pura percaya. Sampai akhirnya jadi laki-laki yang ngenal se*s lebih dini, dari masa SMA. Cerita ini pun, sebenarnya bukan cuma pengalaman aku aja. Tapi aku yakin, banyak anak kecil di luar sana yang lihat adegan dewasa orang tuanya. Aku sih yakin, tak semua dari mereka tumbuh dengan pengenalan atau pengalaman se*s lebih dini. Tapi udah pasti pikiran mereka teracuni dan rasa keingintahuan mereka ke se*s itu lebih cenderung. Aku pun orang tua, yang pengalaman juga ketahuan anak sendiri tuh. Aku sedikit paham ilmu parenting, aku coba pahami dari sudut pandang mereka. Jalan keluarnya itu, ya dikasih tau yang sebenarnya, tapi dengan tarik alasan yang jelas. Jadi mereka paham dengan wawasan, tau juga dan mengerti apa yang terjadi itu. Dari tingkah polah dan interaksi yang sering aku lakukan ke salah satu anak aku, yang nampak di mata mereka lihat aku lagi berhubungan itu. Ya mereka tak penasaran ke arah aktivitas itu, apalagi umur mereka udah beranjak ke remaja, ya aku perhatikan sih memang tak ada pikiran mereka untuk ingin tau aktivitas itu." Bang Givan tidak mempublikasikan nama anaknya.


"Apa mereka tak makin penasaran?" tanya Aca yang memperhatikan bang Givan dengan penuh.


Bang Givan menggeleng. "Jawaban yang dia dapat cukup lengkap dari orang tuanya sendiri. Apalagi sifat anak-anak aku ini terbuka, cuma Ces yang tertutup. Jadi aku paham gimana mereka semua. Aman aja kok, apalagi mereka dua puluh empat jam diawasi pengasuh."


"Cara jelaskannya gimana? Ini ilmu nih, Bang." Aku menantikan untuk bekalku nanti, jika sampai terjadi hal yang serupa juga.


...****************...


Jangan dikira ngobrol kosong aja ya, ada sedikit ilmu yang aku sampaikan. Tentang kontraksi palsu itu. Kek misalnya kandungan udah besar itu, disarankan untuk sering berhubungan suami istri. Itu karena untuk memancing adanya kontraksi, karena kl*maks yang terjadi pada perempuannya. Kl*maks itu pun, menciptakan suasana tenang dan menghilangkan stress menghadapi persalinan.

__ADS_1


__ADS_2