Istri Sambung

Istri Sambung
IS260. Cek kandungan


__ADS_3

"Iya." Istriku keluar dari dalam rumah.


"Paket udah diterima mbak Ida di toko, belum uangnya." Laki-laki itu tersenyum amat manis.


Siapa dia? Terlihat caper pada Aca.


"Oke, bentar." Aca masuk kembali.


Kami melewatinya begitu saja, ia masih menunggu di ambang pintu. Tak lama kemudian, Aca kembali dan melakukan transaksi sebesar lima jutaan. Entah transaksi apa, karena Aca tak menerima barang apapun.


"Ayah udah ke datang kah tadi, Mak Cek?" Aca duduk di samping mamah.


Mamah menyerongkan posisi duduknya. "Udah, Ca. Kau maunya pengesahan aja, atau resepsi?"


Nih, pasti jawabannya di luar pilihan itu. Aca suka yang aneh-aneh.


"Foto studio aja, Mak Cek. Pengesahan, terus foto studio pakai adat sana sama adat sini. Tak usah resepsi lah, buang-buang biaya besar aja."


Tuh, kan? Sudah kuduga. Pilihannya lain dari dua opsi yang diberikan.


"Tapi Pak Cek tak yakin, kalau ada ukurannya."


Aku lekas menoleh ke arah papah, mulut papah sungguh menampar ibu hamil tersebut.


"Aku tak gemuk, Pak Cek." Aca langsung manyun saja.


Aku tidak mengerti, kenapa perempuan tidak mau disebut gemuk? Apa mereka akan bahagia, jika pengganti kata gemuk itu disebut dengan semok atau montok? Memang apa perbedaannya? Aku pikir, itu sama-sama over dari ideal. Tapi kan tidak masalah juga sih, yang penting orangnya tetap sama meski fisiknya berbeda.


"Iya, iya. Jadi, kau maunya foto studio gitu? Kau mau balik ke sana? Atau Ghifar yang di sini?" Mamah aktif bertanya pada menantunya itu.


Masalahnya satu, Aca masih terbiasa menyebutkan mak cek. Mamah pun, terbiasa menyebut dirinya mak cek.


"Ibu kau mana, Ca?" Papah menyerobot pertanyaan, sebelum mamah mendapatkan jawaban.


"Bunda ke warung, beli sayur untuk masak siang nanti." Ia menoleh sejenak pada papah.


Apa aku pun harus terbiasa menyebutkan ibunya dengan sebutan bunda? Tapi aku canggung sekali.


"Kalau Ghifar ke sini, kerjaannya gimana? Masa baru resmi, langsung diganjar ekonomi oleng lagi?"


Aku tertawa tanpa suara, mencoba tidak mengundang tawa papah yang berada di sebelahku. Namun, nyatanya papah malah langsung tertawa lepas.


"Udah menantikan, nyabarin yang beruang ya, Ca? Giliran sah, malah jadi pengangguran," balas papah di sela tawanya.

__ADS_1


"Iya, apa-apaan itu namanya! Aku tak nolak kok diajak pulang ke Aceh."


Mamah sampai memukul pelan lengan menantunya.


Aca melirik sinis bibinya yang menjadi ibu mertuanya sekarang. "Aku curiga Mak Cek yang malu punya menantu aku," tuduhnya kemudian.


"Heh! Bukan malu punya mantu kau, tapi malu karena perut kau udah besar. Awalnya Mak Cek kira kau belum nikah, jadi kan malu kalau misalkan baru tiga bulan menikah terus melahirkan." Mamah menjelaskan pun sambil terkekeh geli.


Mereka adalah kumpulan bukan orang munafik.


"Kan sekarang udah ketahuan kalau aku udah nikah siri, apa Mak Cek masih malu juga?" Seperti, ibu hamil memang sensitif.


"Tak aja lah. Nanti Pak Cek yang urus di ketua RT, sampai ke pengesahan. Siang ini kita USG dulu, biar tau kondisi bayinya siap tak dibawa penerbangan."


"Aku temani Aca ke dokter ya, Mah?" Aku langsung mengajukan diri.


"Iya, nanti aja mampir ke hotelnya. Cuma ke dokter ya?" Papah yang menyerebobot jawaban itu.


Aca terkekeh malu. " Iya, Pak Cek." Ia hormat pada papah.


Kami berbaur dan banyak mengobrol dengan budhe May juga. Aku pun dikenalkan ke beberapa tetangga, juga bersilaturahmi ke saudara yang berada di sini. Beberapa dari mereka, banyak yang tercengang mendengar kami telah menikah.


Wajar, karena pernikahan antar sepupu jarang dilakukan. Katanya, anaknya bisa cacat. Semoga saja, anak kami mulus mujur dan fisiknya sempurna.


"Pa, aku masih merokok," aku Aca dengan masih memegangi lenganku.


Aku jadi teringat dengan Canda, jika ia terus berpegangan pada lengan suaminya.


"Cek kandungan rutin tak? Apa saran dokter?" Melepas rokok itu sulit, ditambah lagi tak ada yang menemaninya berjuang untuk berhenti dari merokok.


"Rutin kok, Pa. Aman aja, Pa. Alhamdulillah, sehat dan tak kurang apapun. Tapi, kan tak baik juga." Nada suaranya langsung rendah.


Ia tahu itu tidak baik, tapi melepas kebiasaan merokok itu bukan hal yang mudah. Akan aku coba ia untuk lebih jarang merokok, setelah satu atap denganku.


"Ya udah, kita cek lagi sekarang. Terus, kita siap-siap ke Jakarta. Tanggal lima, ada acara tahlilan tahunan di rumah lain punya pak cek Edo di Jakarta." Kami berencana pulang setelah tanggal lima saja.


"Beli bajunya kapan, Pa?"


Umumnya perempuan.


"Ya di Aceh aja ya? Nanti Winda bantu carikan." Aku menggenggam tangannya.


Kami akan segera masuk, untuk mendaftarkan Aca USG. Biayanya sekitar dua ratus ribu, sudah termasuk vitamin ibu hamil. USG biasa, bukan 3D atau 4D.

__ADS_1


Mengantri, cukup lama. Karena kami tidak mendaftar sejak pagi.


"Yang tadi laki-laki datang itu siapa? Kok akrab?" Aku membuka obrolan kami, agar tidak terlalu jenuh menunggu.


"Itu kurir, Pa." Ia melirikku dengan tersenyum manis. Kemudian, ia memperhatikan sekitarnya lagi.


Kurir kok bisa sedekat itu?


"Kenal kah?" Aku merasa heran dengan kedekatan mereka.


"Kenal, karena udah langganan nganterin barang untuk di toko. Akhir-akhir ini dia malah ke rumah, buat minta uang. Barangnya ditaruh langsung di toko, jadi aku tak usah ngunjal. Aku kasih tips gitu kan? Dari pada aku yang repot."


Hanya sebatas itu ya? Ya sudah, aku mempercayainya. Aku tak akan mempermasalahkan lagi akan hal itu.


"Gimana Novi? Masih ganggu kah?"


Apa Novi adalah musuh terbesarnya?


"Novi udah punya pacar. Aneh loh, laki-laki kerja di Bireuen. Kan jaraknya sekitar tiga jam, tapi dia bisa antar jemput Novi setiap hari. Aku pikir sih, laki-lakinya ada bohong di sini." Aku membahas seperti biasa, tidak bermaksud membuatnya panas hati.


"Awas tuh, Pa. Dijaga dari jauh aja. Karena ada apa-apa, Papa sama pak cek lagi yang repot. Sama siapa coba dia? Tak ada keluarga lain kan? Cuma dekat sama keluarga pak cek." Aca pun menanggapi seperti biasa.


Aku manggut-manggut.


"Iya sih, nanti deh ditanya lagi laki-lakinya kalau main. Gelagatnya itu mencurigakan." Aku tidak bisa menebak sifat asli seseorang.


Lagi pun, dari mana Novi mengenal laki-laki tersebut.


"Udah dipanggil, yuk?"


Aku langsung mengekorinya.


Ternyata, dokternya cukup tegas. Aca dimarahi, karena dalam keterangan buku kehamilannya pun Aca adalah pecandu rokok.


Bukan aku tidak suka, jika istriku dimarahi. Aku hanya tidak suka, karena cara penyampaiannya malah bisa membuat ibu hamil stress. Kan dia berkata sendiri, bahwa ibu hamil tidak boleh stress.


"Pa, ke minimarket yuk?"


Aku mengiyakannya. Aku mampir ke sebelah rumah sakit, yang kebetulan sekali adalah minimarket berwarna biru.


Lihatlah, apa yang ia cari. Bukan susu kehamilan, minuman yoghurt, es krim atau ciki-cikian. Melainkan…..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2