Istri Sambung

Istri Sambung
IS38. Tamu liburan


__ADS_3

"Far, Nov…. Itu disambut dulu, ada Aca datang." mamah terburu-buru menuju ke dapur.


Siapa Aca? Jangan bilang tokoh baru lagi.


Aku bangkit, hendak melangkah ke depan. Namun, Kaf merengek kembali.


Hadeh, beginilah ketika si bungsu tengah manja.


"Papa gendong."


Aku segera berbalik, kemudian mengangkat tubuhnya.


Aku menciumi kembali pipinya, "Anak Papa manjanya pollll." aku membawa Kaf menuju ke ruang tamu juga.


"Hai, Anasya."


Aku bisa melihat Novi yang tengah bercipika-cipiki ria dengan sepupuku dari mamah. Aku mengenalnya, tapi tidak begitu akrab.


Ia Anasya, anaknya pakdhe Arif. Anak dari kakaknya mamahku. Ia memiliki adik kecil, yang berusia sembilan tahun kalau tidak salah.


Aku langsung bersalaman dengannya. Biasa saja, hanya berjabat tangan. Tidak sampai bercipika-cipiki ria, apalagi berpelukan.


"Sehat, Kak?" aku berbasa-basi.


"Alhamdulillah." ia cantik, dengan bentuk tubuh seperti buah pir.


Bisa dibilang, berperut datar dengan pinggul dan part belakang yang besar. Aku pernah tinggal di rumahnya, tepatnya di rumah orang tuanya kak Anasya ini.


Di detik-detik perjalanan menuju ke rumah kak Anasya, aku mengenal Canda di kendaraan umum. Ah, sudahlah. Jangan dibahas kembali.


"Hai Cantik." aku menyapa anak kecil yang menggandeng tangan kak Anasya itu.


Pasti ini adalah adiknya, "Adek Ranti ya?" sapaku dengan memandang anak dengan hijab besar itu.


Tapi Meyranti kan berusia sekitar sembilan tahun. Tapi, gadis ini terlihat begitu kecil. Ia seperti anak di bawah lima tahun.


"Ini anak aku, Far." ujar kak Anasya dengan tertawa geli.


Hah? Jadi ia sudah punya anak?


"Siapa namanya, Nak?" tanyaku dengan mencolek dagu anak perempuan itu.


"Nahdatillah Rahman, Om." kak Anasya yang menjawab.


Perasaan saat beberapa tahun silam aku berkunjung ke Cirebon, ia belum menikah. Kenapa sekarang, ia malah sudah memiliki buntut saja?


"Mana suami kau, Kak?" aku menggulirkan pandanganku pada kak Anasya.


"Udah wafat." senyumnya terlihat begitu kaku.


Aku jadi tidak enak hati, "Maaf ya, Kak?" aku menepuk bahunya pelan.


Kak Anasya mengangguk, "Gak apa, Far."

__ADS_1


"Duduk dulu dong. Sini Adek, duduk di sini." Novi mempersilahkan kak Anasya dan anaknya untuk duduk.


Aku pun memilih duduk di sofa single, dengan memangku Kaf yang rewel ini.


"Berapa tahun ini?" Novi mencolek pipi anak kak Anasya.


"Tiga tahun sekarang." ujar kak Anasya, dengan membuka kerudung anaknya itu.


Cantik dan putih. Mirip seperti Caera, terlihat alim dan kalem. Tapi tidak tahu pasti juga. Bisa jadi kan, seperti tuyul juga?


Berarti saat aku berkunjung ke sana itu, bisa jadi kak Anasya baru menikah. Ditambah dengan usia anaknya itu, yang baru tiga tahun.


"Mau kerja di sini kah?" tanya Novi.


Novi terlihat akrab dengan kak Anasya.


Kak Anasya menggeleng, "Mau liburan aja, nenangin diri. Soalnya, baru empat puluh hari kemarin."


Ya Allah, masih baru ternyata. Pantas saja, wajahnya terlihat berselimut sendu.


"Liburan di rumah mak cek Dinda? Serius?" mata Novi bulat sempurna.


Aku mengerti. Aku pun mengetahui tabiat ibuku.


"Itu bukan jalan yang bagus. Mending liburan di rumah aku aja."


Senyumku langsung hilang. Karena aku baru menyadari, bahwa ucapanku sedikit tidak sopan.


Namun, Novi tertawa lepas. Alhamdulillah, suasana mencair.


"Ngeledek kau?" aku ikut membaurkan tawaku.


"Ngeledek gimana sih, Far? Kan normalnya laki-laki begitu." tukas kak Anasya.


Aku mulai tersinggung di sini. Aku ingat dan aku tahu keadaanku. Masalahnya, aku tak mungkin bisa menghamili perempuan manapun. Obatku sudah tiada di dunia ini. Pawangku telah tiada. Mana mungkin aku bisa bangkit, kemudian menjadi laki-laki yang berfungsi kembali.


"Pak cek kau mana, Ca?" tanya mamahku, yang muncul dengan gelas yang mengepul.


Sepertinya, itu teh hangat. Hari sudah malam, ditambah udara yang begitu menusuk tulang. Wajar, disuguhi teh hangat.


"Tadi sih ada ayah Jefri, ngobrol di depan pagar tuh. Aku diminta masuk duluan aja katanya." jelas kak Anasya, dengan menunjuk ke arah luar rumah.


Oh, jadi ia dijemput papah?


Mamah langsung berjalan ke luar. Maklum, mereka pernah merenggang hebat. Bahkan, mamah sudah keluar dari rumah. Membuat mereka sekarang, seperti saling mengekang satu sama lain.


"Ma…."


Aku menoleh cepat pada anak perempuan yang bersuara tersebut. Ia merengek, dengan mengucek matanya.


Aku teringat Kinasya, mendengar anak itu menyebut 'ma' pada ibunya.


"Minum ya? Nahda udah ngantuk ya?" kak Anasya mengambil salah satu gelas, kemudian menyodorkan pada anaknya.

__ADS_1


Namun, anak perempuan itu menggeleng. Ia merengek pelan, dengan memukuli ibunya.


Kebiasaan itu seperti Kal kecil. Sampai akhirnya, ia mendapat teguran tegas dari ibunya. Agar ia tidak memukul, setiap kali merengek seperti itu.


"Udah ngantuk ya? Bentar ya, Tante siapin kamarnya dulu." Novi melenggang pergi, meninggalkan aku dan kak Anasya, beserta anak-anak.


"Kamu tinggal di sini, Far?" tanya kak Anasya, dengan memperhatikan Kaf yang tangannya tidak mau anteng ini.


Ia asyik bermain kancing kemejaku. Meski berulang kali, aku menahan tangannya. Kaf anteng itu berbahaya.


"Aku tinggal di rumah seberang. Kaf abis kecelakaan kecil, jadi tinggal sama neneknya. Karena siang aku kerja, Kaf tak ada temennya. Kalau Kal sih, udah bisa main sendiri. Jadi tak bisa jagain adiknya terus. Udah ngerti main." jawabku dengan tersenyum manis.


Aku merasa canggung padanya. Karena dulu, aku sering berpikiran mesum tentang bentuk tubuhnya.


"Oh, iya. Kinnya udah gak ada juga sih ya?"


Aku hanya tersenyum, dengan mengangguk mengiyakan. Karena seperti itulah kebenarannya.


"Kan udah lama, Far. Memang gak pengen nikah lagi? Kasian anak-anak." orang baru saja kasihan. Jelas, aku pun merasa kasihan dengan anak sendiri.


Mau bagaimana lagi? Mencari ibu sambung itu susah. Apalagi, dengan keadaanku yang tidak bisa menjadi suami yang tidak bisa memenuhi kebutuhan batinnya nanti.


"Nungguin aku dia, Ca."


Aku langsung menoleh ke belakang. Benar-benar Novi ini.


Gelak tawa terdengar kembali. Aku hanya menatap gemas pada Novi, rasanya aku ingin mengunyel-ngunyel kepalanya.


Ia diajak menikah, malah ia yang ragu. Tapi ia berkata, seolah aku bagaimana padanya.


"Gih istirahat dulu, Ca." mamah masuk, dengan menggendong si Ra.


Ra ini sebetulnya anak siapa? Aku merasa iri melihat Ra Tuyul, yang selalu nemplok pada orang tuaku.


Kak Anasya menggendong anaknya, ia berjalan ke arah mamah yang berdiri di ambang pintu.


"Ini anaknya bang Givan ya, Mak cek?" tanya kak Anasya kemudian.


"He'em. Lagi hamil trimester kedua si Cendolnya." jawab mamah, dengan menggandeng masuk kak Anasya ke ruangan lain.


Mungkin, akan mengantar kak Anasya ke kamar.


"Pulang aja ya? Tuh, banyak tamu." aku menggendong anak bungsuku kembali.


"Nanti sendirian lagi, kek hari itu."


Memang kami pernah pulang ke rumah. Namun, Kal heboh main saja. Membuat Kaf kembali ketakutan sendirian di rumah. Membuatnya kini susah dibujuk untuk pulang, karena takut di rumah sendirian.


Ya mau bagaimana lagi? Seusia Kal, memang tengah suka bermain bersama temannya.


"Nanti Papa kerja, Kaf sama nenek lagi." aku melangkah ke luar dari rumah.


"Eh, Far! Tunggu dulu." baju bagian belakangku, ditarik oleh seseorang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2